Kita Berbeda

Kita Berbeda
Melawan Delapan Preman


__ADS_3

“Heii brengsekk!! Lepasin tangan wanita itu!!! Jangan macem-macem!! Jangan beraninya sama perempuan!! Sini lawan gue!" Teriak seorang lelaki menggunakan celana training dan hoodie berwarna abu-abu dengan suara menggelegar mengejutkan ke delapan preman itu.


“Mas jas.” Guman meida pelan, ia menatap tak percaya ke arah lelaki itu. Iya menyebutnya dengan sebutan mas jas, karena lelaki itu yang menolongnya ketika ia melakukan penyamaran untuk mengetahui rencana maya.


Lelaki itu sudah dua kali menolongnya.


“Jangan ikut campur! Jika loh masih pengen hidup!” Ancam preman itu mengacungkan jari telunjuk ke arah mas jas itu yang tak lain adalah melvin.


“Pengecut loh!! Sini hadapin gue!” Tantang melvin menggulung lengan hoodie nya sampai siku, padahal dalam hatinya ia ketar-ketir karena ia tak menguasai ilmu beladiri.


Ke enam preman itu berjalan ke arah melvin dengan tangan mengepal, mereka mengelilingi posisi melvin. Tubuh melvin bergetar,  keringat menetes didahinya, tapi ia berusaha tenang dan bersikap cool.


Melvin kebingungan, otak dan nuraninya berperang. Jika ia tetap diam disini, bisa dipastikan wajah tampannya jadi taruhan, dia harus pasrah antara muka babak belur atau nyawa melayang, dia tak mungkin meninggalkan wanita itu sendirian. Dan kalau pun kabur, kesempatan selamatnya tipis, dia pasti dikejar ke enam preman itu, dia tidak ingin image dan wibawanya hancur gara-gara kabur, ia takut preman itu mencapnya sebagai pengecut.


Dengan bermodal tekad dan do'a dia memasang kuda-kuda, entahlah kuda-kuda apa yang dia pasang.


Tanpa aba-aba satu pukulan mendarat di wajah melvin, sontak tubuh melvin tersungkur ke belakang. Melvin tak bisa melakukan perlawanan ia hanya bisa pasrah. Ke enam preman itu mengeroyok melvin dan memukulnya sampai babak belur, melvin pun terkapar di atas aspal. Dia meringis mendongkak kan wajah ke langit, melihat langit hitam yang berkabut. Rintik hujan pun membasahi wajahnya.


Melvin tersenyum kecut, seorang raja bisnis terkapar tanpa daya, gara-gara menolong seorang wanita. Dan yang membuatnya malu, ia kalah sebelum melakukan penyerangan.


Kesempatan itu tidak disia-siakan meida, ketika kedua preman yang memegang tangan nya sedang fokus melihat ke arah teman-temannya. Meida menginjak keras kaki keduanya dengan sekuat tenaga, hingga mereka mengaduh kesakitan, dan reflek melepaskan genggaman tangan di tangannya.


Ke enam preman itu menatap tajam ke arah temannya yang sedang berjongkok mengelus-ngelus kaki nya lalu menatap tajam meida. Dengan rahang yang mengeras, mereka berjalan ke arah meida.


Meida pun berjalan ke arah tengah-tengah, berdiri diantara dua preman yang memegangnya, dan enam preman yang mengeroyok melvin. Ke delapan preman itu menatap meida dengan mata merah penuh amarah.


“Sini bang hadapin saya, jangan main keroyokan! Jangan jadi pengecut! Sini lawan saya!” Ucap meida memandang preman itu bergantian, dan ia melirik sebentar ke arah melvin yang sedang terkapar mengaduh memegang perut.


“Rupanya cewe ini nantangin kita bos! Mau cari gara-gara sama kita rupanya ... emang kita takut hah! Jangan banyak gaya! Nyerah aja! Pilihannya, loh ikut kita gak bakal kita apa-pain! Atau nolak, tau-tau loh bangun di kuburan!" Ancam preman itu mengepalkan tangan, dia mengejek ke arah meida.


 “Itu bukan pilihan bambang! Pilihan saya yah ngelawan abang-abang yang gak punya malu ini! Biar abang sadar gak baik nyulik-nyulik orang! Abang punya bini kan?? Punya anak?? Emang abang mau bini sama anak abang di culik orang? Cari kerja yang halal bang, biar berkah! Jangan kerja kayak gini! Emang abang rela bini sama anak, abang kasih nafkah mereka dari uang haram! Uang hasil gini hah!” Ucap meida menasehati ke delapan preman itu.


Bukannya menerima, ke delalan preman itu makin emosi.


“Jangan banyak bacot! Gue gak butuh nasehat loh! Udin kardi lawan dia, buat dia patah tulang dalam waktu 2 menit!” Perintah sang  bos yang berbadan tinggi dan berkulit hitam.

__ADS_1


“Siap boss” Ucap dua preman cungkring itu bersamaan.


Udin dan kardi berjalan lebih dekat ke arah meida, jarak mereka hanya 2 langkah. Baru saja kardi memasang kuda-kuda, dia sudah tergeletak dengan darah bersimbah keluar dari mulut nya, ternyata empat gigi depan kardi ompong terkena tonjokan meida. Udin di buat kaget, ia sontak melawan meida, dengan sekuat tenaga meida menendang pusaka nya. Udin mengaduh kesakitan, posisi tubuhnya menungging, dengan tangan memegang pusaka nya.


Ke enam preman itu menjadi geram, mereka menghadang meida bersamaan, satu lawan enam. Perkelahian sengit di bawah rinai hujan itu tak terelakkan. Dalam waktu 20 menit, meida mengakhiri perkelahian dengan menendang perut sang bos preman, dan semua preman itu terkapar di aspal.


Para preman itu mengaduh pasrah, apa yang akan meida lakukan padanya. Mereka sudah tak punya tenaga untuk melawan meida.


Melvin di buat bengong dengan kemampuan meida, ia tak berkedip menyaksikan meida melumpuhkan ke enam preman itu secara bersamaan. Tiba-tiba di hatinya muncul rasa kagum pada wanita mungil itu.


-


“Hancur sudah harga diriku, di depan wanita itu.” Gumam melvin melihat meida mengikat ke delapan preman itu menjadi satu. Dan kini posisi preman itu menghalangi jalan.


Untuk menetralisir rasa malu, melvin pura-pura pingsan, ketika meida berjalan ke arahnya.


“Mas kamu gak papa kan?” Tanya meida menepuk pelan wajah melvin. Ia menyandarkan kepala melvin di pahanya.


“Jangan pingsan mas, saya gak punya uang buat bawa mas ke rumah sakit, saya belum gajian. Sadarlah ... saya gak kuat kalau gendong mas, mas nya kegedean.” Terang meida dengan wajah panik. Sontak ucapan meida membuat melvin menahan tawa, dengan keadaan yang masih pura-pura pingsan.


Tiba-tiba dering ponsel berdering,


“Srekkkk dugggg ....” Suara kepala melvin membentur aspal.


Meida tiba-tiba melepas kepala melvin di pahanya, karena ia mendengar suara dering ponsel di kantong baju para preman yang terikat itu.


“Aduhhh ....” Sontak melvin mengaduh memegang kepalanya.


Wanita bar bar gak punya akhlaq! Sungut melvin dalam hati.


Meida berjalan ke arah preman itu, ia mengedarkan pandangan dan pendengaran untuk mencari asal-usul suara ponsel yang berdering itu. Dia menemukan dering suara panggilan yang berasal dari ponsel bos preman itu, yang terletak di kantong bajunya.


“Boss besar.” Gumam meida pelan menatap nama yang muncul di ponsel itu, ia mengangkat panggilan dan meloudspeak nya


“Lohh pada dimana hah? Gue lelah nunggu loh dari tadi! Ini udah jam berapa tolol! Bisa kerja gak sih? Cuman nyulik wanita aja kagak becus! Gue udah bayar mahal loh pada, awas jangan sampai gagal!” Teriak seorang lelaki yang suara nya memekikan telinga meida di sebrang sana.

__ADS_1


Meida cukup kaget, karena ada orang yang merencanakan penculikannya. Tapi siapa? Dia mulai berpikir keras, masalahnya dia tak punya musuh seorang lelaki.


“Kenapa honey? Dimana anak buah mu? Awas saja kalau anak buah mu tak bisa menangani wanita tolol itu!” Ucap suara wanita di ponsel itu.


Meida kaget, ia mengenal suara itu. Yah ... itu adalah suara maya, sang teman yang belum berhasil menipunya.


“Hallo ... loh dengar ucapan gue kan! Loh budeg apa? Dari tadi gak nyaut-nyaut!” Ucap emosi lelaki itu. Karena sedari tadi meida diam khusu mengamati suara di balik ponsel itu.


Karena kesal disebut budeg, meida menyauti ucapan lelaki itu.


“Anak buah anda tidak bisa menjawab telpon anda! Mereka pingsan semua! Mau liat mereka? Sini.. sekalian kita ketemuan! Sekalian reunian sama anak buah anda! Lain kali gunakan otak kalau mau nyulik orang! Dasar bodoh! Beraninya nyuruh orang! Tunggu surat cinta dari polisi! Selamat menikmati jadi buronan ....” Ancam meida dengan senyum sinis.


Meida sebenarnya ingin melihat ekspresi wajah yang ingin menculiknya ketika mendengar suaranya, pasti shock kalau enggak kaget.


“Sialaannn ... brengsekkkk ... siapa loh hah?” Umpat kasar lelaki itu.


Meida langsung menutup panggilan itu, dia yakin dalang penculikannya adalah maya.


Meida langsung menelpon polisi menggunakan ponsel preman itu, ketika polisi menuju ke tempatnya sekarang. Meida meninggalkan preman itu, ia memapah melvin untuk pergi.


-


-


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di novel receh ini🤗


Biar tau kelanjutan meida membawa melvin kemana😁


Di tunggu next part nya🥰


Makasih reader yang masih stay nunggu kelanjutan meida ♥️


Hatur nuhun

__ADS_1


__ADS_2