Kita Berbeda

Kita Berbeda
Menjebloskannya Ke Penjara!


__ADS_3

Jonas, Jaslin anak Gilbert masih hidup! Dia benar-benar masih hidup! Ini akan menambah ancaman saya selain Johan! Apa kita perlu membunuhnya?


Mereka pun semakin terkejut membaca isi pesan grace berikutnya,


Sial! Sepertinya Max tahu rencana saya selama ini. Jonas apa kau tahu isi surat wasiat itu? Ternyata Max mewasiatkan harta warisan kepada Putra kandungannya dari wanita bodoh itu sebesar 75% dan kepada Jaslin cucu kurang ajar itu sebesar 25%. Ia tak sedikitpun mewariskan hartanya untuk saya maupun untuk Gibert. Kurang ajar! Saya yang menemaninya selama ini, tapi tak mendapatkan harta itu sepeserpun. Kau tahukah rencana awal saya masuk ke keluarga itu seperti apa? Sampai saya harus menjebak Atmadja agar menikahkan saya dengan putra semata wayangnya.


Kau tahukan dendam saya sedari dulu? Saya ingin menguasai seluruh hartanya dan menghancurkan keluarganya sampai keakar-akarnya. Semua mata terbelalak membaca pesan itu. Meida dan Johan saling pandang, sementara Andress menatap nanar kearah pesan itu.


Ya Tuhan, jahatnya oma ingin menghancurkan keluarganya sendiri. Apa saya pantas memanggilnya dengan sebutan Oma. Apa dia benar-benar Nenek saya? Tanya Andress dalam hati dengan perasaan tak percaya pada niat buruk oma-nya.


Ya Tuhan, ternyata Daddy mewariskan hartanya hanya untuk saya dan Jaslin. Apa dia ingin menebus kesalahannya dengan memberi saya harta sebanyak itu? Apa dia sangat menyesal? Tapi sayang, harta itu tak bisa mengembalikan nyawa ibu saya! Penyesalannya tak setara dengan penderitaan saya selama ini. Ujar Johan dalam hati sambil menghapus sudut matanya.


Apa gara-gara harta warisan ini dia sampai menculik Putra saya? Padahal, tanpa harta warisan itu sedikitpun, saya dan anak saya masih bisa hidup layak! Batin Johan.


Ternyata Opa mewariskan hartanya pada paman dan Jaslin. Wajar opa melakukan itu, karena mereka memang berhak menerimanya. Harta itu tak senilai dengan penderitaan yang mereka alami selama ini. Batin Andress sambil terus membaca isi pesan yang lainnya dengan pikiran yang berkelana pada rencana oma-nya.


Ya Allah, ternyata kakek yang tak pernah kukenal mewariskan seperempat hartanya untukku. Apa gara-gara ini wanita itu sampai menculik Jonathan? Padahal, jika dia minta dengan baik-baik, aku pasti memberikannya dengan sukarela. Karena Jonathan jauh lebih berharga daripada harta warisan itu. Lirih Meida menatap kearah layar itu dengan mata berkaca-kaca.


Untuk sejenak ruang itu tampak hening. Mereka berkelana dengan pikiran masing-masing. Mereka kini mengetahui siapa pewaris sebenarnya dari keluarga Atmadja yang terkenal kaya itu, walaupun harta kekayaannya tak melebihi harta yang di miliki keluarga Nagara.


Jadi sasaran mereka sebenarnya hanyalah aku dan Paman Johan. Karena Jonathan dan Biru hanyalah pancingan untuk kami berdua. Jadi ini alasan, kenapa mereka hanya menerorku dan paman Johan. Lirih pelan Meida yang suaranya terdengar oleh Jack yang berada di sampingnya.


Ya Tuhan, kenapa masalah keluarga ini tak pernah kelar-kelar. Ternyata orang kaya itu ribet juga! Hidupnya banyak konflik! Perebutan harta antar keluarga sampai menggadaikan nurani. Benar-benar kejadian di luar nalar. Gumam pelan Jack yang mendapat pukulan pelan dari Zyan yang ada dibelakangnya.


*


Isi pesan itu pun merencanakan perampokan serta pembakaran kantor Notaris terkenal milik Tuan Albert. Rencana pembunuhan Gilbert sampai Penculikan Jonathan dan Biru. Dan isi pesan terakhir memperlihatkan gambar Biru dan Jonathan dengan wajah yang sedang ketakutan.


Tapi sayang, dalam pesan itu tak menyebutkan alamat dimana grace  menyekap mereka. Isi pesan nya hanya memberi petunjuk, tentang markas besar yang merupakan rumah lama Grace yang tidak diketahui oleh keluarga Atmadja.


“Kita copy isi pesan ini untuk di jadikan bukti! Setelah ini, kita laporkan wanita tua itu ke kantor polisi! Dia bisa mendapat pasal berlapis, karena banyak melakukan kejahatan!” Semua yang berada di ruang itu menganggukkan kepalanya menyetujui usulan Johan. Karena kejahatan Grace sudah tak bisa dibiarkan lagi. Mereka sudah tak memikirkan umur Grace yang sudah tua, mereka sudah yakin akan menjebloskannya ke penjara. Tak peduli apapun resikonya.


“Ini bukti besar kejahatan wanita tua itu! Kita memang harus menyimpannya!” Sahut Andress. Setelah mengcopy semua isi pesan dari kontak Jonas, mereka langsung melihat daftar panggilan yang banyak menampilkan nama Grace.


“Jadi selama ini mereka saling terhubung! Dan ini nomor Rahasia Nenek tua keriput itu yang tidak diberikan kepada siapapun! Hanya lelaki ini yang mengetahuinya. Sungguh luar biasa kejahatan yang dilakukan nenek tua bau tanah ini. Bukannya mikirin mati, tapi malah fokus mengejar harta! Belum kena azab kali yah seperti di film-film!” Kekeh Jack dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ucapannya yang ceplas-ceplos. Andress langsung  menjitak pelan dahi jack yang ucapannya tak bisa di filter. Suasana yang tegang itu kini berubah menjadi cair, ketika mendengar celotehan Jack yang terkesan blak-blakan tanpa tendeng aling-aling, walaupun ada Andress dan Meida yang notabenenya merupakan cucu dari Nenek tua bau tanah itu.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Menghubungi nomor wanita tua itu atau menunggunya menghubungi ke nomor ini?” Tanya Andress mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali serius seperti semula.

__ADS_1


“Tugas kalian sekarang, tolong lacak nomor wanita tua ini!” Perintah Andress kembali pada anak buahnya. Johan pun diam sejenak, lalu menjawab pertanyaan keponakannya.


“Tunggu saja! Saya yakin sebentar lagi Wanita tua itu pasti menghubungi nomor ini!” Putus Johan yang langsung diangguki kepala oleh Andress dan Meida.


-


Jauh di ujung sana. Di sebuah perkampungan di pesisir pantai nan jauh dari kota.


Siang itu, pondok Pesantren Al-Muttaqin cukup ramai, seluruh para santri sedang bekerja bakti membersihkan seluruh tempat yang berada di pesantren tersebut, tak terkecuali Ilham dan Hanif.


“Ham, abang-abang yang pingsan minggu lalu apa sudah sadar? Aku belum pernah melihatnya keluar dari rumah Buya? Apa lukanya cukup parah?” Tanya Hanif kearah temannya yang sedang membersihkan parit. Ilham mengangkat beberapa batu yang menghalangi saluran air, lalu menjawab pertanyaan hanif sambil keluar dari parit itu.


“Kata Umi kemarin, ketika aku memasang gas di dapurnya. Kalau abang itu masih tak sadarkan diri Nif. Dan yang membuat Buya dan Umi bingung, abang itu tak membawa kartu pengenalannya sama sekali. Niatnya Umi dan Buya mau membawanya ke Rumah Sakit, tapi jauh Nif. Tahu sendiri kan rumah sakit disini paling dekat itu adanya di kota. Kalau di bawa kesana itu tak memungkinkan, jadi Umi dan Buya memutuskan untuk merawatnya disini di bantu dengan kebatinan.” Tutur pelan Ilham sambil membawa cangkulnya menuju kearah gudang untuk menyimpan peralatannya


“Kasian banget abang itu. Semoga dia cepat sadar! Aku gak tega dengernya Ham.” Ilham pun menganggukkan kepala. Mereka pun jalan bersisian menuju kearah kamar mandi.


“Sama aku juga. Aku gak bisa bayangin berada di posisi abang itu. Abang itu kuat, makanya ia bisa menahan rasa sakitnya sampai sekarang.”


*


Di rumah Buya Hanafi


“Cepatlah sadar Nak! Kami menunggu mu disini! Kami tahu hidup mu pasti berat sampai seperti ini! Tapi kami mohon, sadarlah! Hadapi semuanya! Banyak orang yang menunggu mu kesadaran mu Nak!” Lirih Umi Fatimah sambil mengelus wajah putih Melvin yang masih terlihat pucat. Ia mengambil obat herbal dari tangan suaminya lalu mengoleskan pada luka lebam yang berada di bawah mata Melvin.


“Nak, sadarlah! Jangan takut! Ada kami disini! Kami tidak akan meninggalkan mu!” Tutur pelan Buya Hanafi yang kini sedang berjongkok di samping ranjang Melvin. Lalu ia membisikkan do'a ke telinga Melvin dengan cukup lama.


Melvin mulai merespon ucapan Buya Hanafi dengan air mata yang menetes di sudut matanya yang masih terpejam. Sedikit demi sedikit bibirnya bergerak, namun tak jelas apa yang diucapkannya.


“Buya lihatlah! Pemuda ini merespon ucapan Buya!” Seru Umi Fatimah dengan sumringah sambil melihat kearah Melvin yang mulai menggerakkan bibirnya.


Meida ... Meida ... Meida ... saya ... pergi ... saya ... mencintai mu ... tunggu saya. Gumam pelan Melvin yang terdengar tak jelas. Buya berinisiatif mendekatkan telinganya kearah mulut Melvin agar bisa mendengar gumaman nya.


“Apa yang diucapkannya Buya?” Tanya Umi Fatimah memandang wajah suaminya dengan serius. Buya Hanafi hanya diam, ia masih mencerna apa yang diucapkan Melvin dengan mengerutkan dahinya.


Meida? Siapa Meida? Apa Meida istri dari pemuda ini? Batin Buya Hanafi sambil kembali menegakkan tubuhnya.


-

__ADS_1


Meida membuka matanya perlahan-lahan, ia di buat terkejut dengan kehadiran Melvin yang sedang menyandarkan kepalanya di headboard ranjangnya dengan senyum manis yang membuat aura ketampanannya bertambah menjadi 10x lipat. Meida menatap melvin dengan berkaca-kaca, lalu  dengan secepat kilat ia menutup wajah dengan selimut nya.


“Meida kamu kenapa? Kenapa wajahmu malah di tutup? Kamu gak papa, Kan? Ayoo buka selimutnya!” ucap lembut Melvin sambil berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh calon istrinya.


“Gak mau! Kamu jahat! Saya benci kamu!” Jawab pelan Meida sambil menangis. Melvin malah terkekeh. Dengan sekali tarikan, ia bisa membuka selimut yang menutupi wajah meida. Wajah Melvin persis berada di atas wajah Meida. Pandangan mereka pun bertemu, tatapan mata melvin berhasil menghipnotis meida hingga tak melakukan perlawanan sedikitpun.


“Kamu kemana aja selama ini? Kenapa tak menghubungi saya? Kenapa malah menghilang? Kamu sudah tak mencintai saya?”  Tanya lirih meida sambil menangis. Melvin hanya tersenyum sambil menghapus air mata di wajah istrinya dengan lembut.


“Saya sangat mencintaimu Meida! Saya tak kemana-mana! Saya selalu ada di dekat mu! Saya tak bisa berpaling sedikitpun darimu! Dimana pun saya berada, hanya kamulah satu-satunya wanita yang saya cintai!” Mata Meida kembali berkaca-kaca. Ia merubah posisinya hingga membelakangi Melvin.


“Kamu bohong! Buktinya kamu malah pergi dan menghilang! Kamu pendusta!” Sahut Meida sambil menghapus air matanya. Ia melanjutkan ucapannya dengan terbata-bata.


“Saya seperti orang gila menunggu mu! Saya mencintai mu lelaki bodoh! Saya takut kamu pergi dan meninggalkan saya!” Melvin malah terkekeh sambil memegang bahu Meida dari belakang lalu membalikkan lembut tubuhnya agar menghadapnya.


“Kamu mencintai saya? Saya pun sangat mencintai kamu lebih dari dunia ini. Saya tak akan meninggalkan mu selangkah pun! Jika pun saya pergi, itu karena terpaksa meida! Tapi yakinlah hanya kamu wanita yang saya cintai!” Ujar lembut Melvin sambil mengelus pelan wajah Meida dengan penuh cinta. Air mukanya nampak sendu dengan mata berkaca-kaca. Meida mengangkat sebelah tangannya lalu membelai wajah Melvin dengan lembut, dengan tatapan mata  penuh cinta. Ia sangat bahagia, karena bisa melihat wajah lelaki yang sangat dicintainya setelah sekian lama.


“Jangan pernah meninggalkan saya! Saya sangat mencintai kamu ... rasanya hidup saya hampa tanpa kehadiran mu. Dan saya sadari, kamu memang sangat berarti dalam hidup saya.” Melvin menganggukkan kepalanya dengan air mata yang menetes. Ia menggenggam tangan Meida yang ada di wajahnya lalu menciumnya lama.


“Saya Janji Meida! Saya tak akan pernah meninggalkan kamu! Kemanapun saya pergi, tunggu saya! Saya pasti kembali! Karena kamu adalah hidup saya! Kamu pemilik jiwa raga saya!” Tutur lembut Melvin yang dibalas senyuman haru oleh Meida. Meida menutup matanya ketika Melvin mencium keningnya lama. Mereka pun saling pandang dengan bibir yang sama-sama tersenyum. Jantung Meida berdetak kencang dengan wajah yang memerah ketika Melvin mendekatkan wajahnya kearahnya, tubuhnya pun menjadi panas dingin ketika nafas Melvin mulai menerpa wajahnya.


Tiba-tiba ...


Bruggghhhh


Meida terjungkal ke belakang dengan kursi yang menimpa tubuhnya. Jack yang melihat kelakuan sepupunya hanya bisa tersenyum mengejek dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Meida menatap dalam kearah wajah Jack.


Kenapa wajah Melvin berganti dengan wajah jelek Jack? Gumam pelan meida sambil mencubit pipinya.


Astaghfirullah ... ternyata itu cuma mimpi! Ya Allah ... Meida, barusan kau mimpi apa? Mentang-mentang rindu dengan Melvin, sampai-sampai terbawa ke alam mimpi! Batin Meida yang wajahnya memerah, ia menoyor kepalanya sendiri untuk menghalau bayangan Melvin.


“Makanya kalau makan yah makan! Jangan sambil tidur! Mana tidurnya ecesan lagi! Untung gak dikerubungi lalat ijo!” Ledek Jack sambil membantu meida berdiri. Meida langsung mengusap sudut bibirnya, lalu menatap tajam kearah Jack.


“Aku gak ecesan! Ngeledek mulu! Orang aku gak tidur, cuman meremin mata doang!” Ketus Meida sambil menatap kearah makanannya yang belum di sentuhnya sama sekali. Jack pun berdecih kearah meida dengan mencubit pipinya gemas.


“Hiiiissshhhh dasar errorr!"


-

__ADS_1


☕☕☕☕☕☕☕☕ sama Votenya ntong hilap🤗😘😘😘♥️♥️♥️


Wilujeng wengi🤗😘


__ADS_2