
Mobil Pajero sport itu melaju dari pelantaran masjid melenggang kearah jalan raya. Meida menuruti ucapan jack untuk diantar pulang keapartemennya. Walaupun awalnya ia menolak, tapi akhirnya dia mengikuti segala Ajakannya. Jack membuka sepatunya, lalu ia pasangkan di kaki meida, walaupun sepatu itu nampak kebesaran di kaki meida. Meida tak bisa menolaknya, karena jack dengan kekehnya agar ia mengenakan sepatunya. Jack mengantar meida sampai lobby apartemen, ia ingin memastikan meida selamat sampai tujuan nya. Mobil Pajero sport warna putih itu kini sudah terparkir di depan lobby apartemen yang menjulang tinggi sesuai dengan arahan meida.
“Kamu tinggal disini meida?” Tanya jack menatap kagum kearah apartemen yang terkenal mewah nan megah, yang konon katanya banyak di huni oleh anak -anak konglomerat Surabaya. Berbanding terbalik dengan respon meida, ia memandang biasa aja kearah apartemen itu.
“Iya jack, saya tinggal disini. Emang kenapa?” Meida merapikan hijabnya, karena ia akan keluar dari mobil itu. Jack mengambil kacamata hitam di dashboard mobilnya.
“Ini apartemen paling mahal di kota ini, hanya keluarga konglomerat yang mampu tinggal disini. Kamu pasti orang kaya meida?” Tanya jack sambil memakaikan kacamata hitam miliknya ke mata meida. Meida tak bisa menolak, karena jack menatap meida dengan wajah meledeknya sambil menunjuk mata sembabnya. Setelah selesai memakaikan kacamata di matanya, meida menjawab pertanyaan jack dengan nada setengah kesal.
“Kaya dari Hongkong! Bos saya yang menyewakan apartemen ini untuk saya! Bos saya emang orang kaya jack!” Jawab meida sambil merapikan kacamata yang dipakainya. Jack terkekeh pelan melihat sifat meida yang gampang kesal.
“Baik bener bos kamu meida, langka bos kayak gitu. Layak untuk dipertahankan! Apa jangan-jangan dia menyukai mu meida.” Ucap santai jack meledek kearah meida. Meida mendelikkan sebentar matanya kearah jack lalu membuka pintu mobil itu.
“Sembarangan! Aku pulang dulu jack. Terima kasih untuk tumpangan gratisnya.” Meida menutup pintu mobil jack lalu berdiri di sampingnya, karena pintu kaca mobil jack masih terbuka. Meida tak langsung pergi, ia menunggu jack untuk pergi meninggalkan apartemennya.
“Sama-sama meida. Lain kali, kalau ada masalah jangan kabur, tapi hadapi! Jangan kayak bocah! Bersikaplah dewasa!” Tutur jack menasihati meida. Meida menganggukkan pelan kepalanya sambil menundukkan wajahnya karena malu.
“Baik jack, terima kasih nasihatnya. Aku pergi dulu! Assalamualaikum,” Pamit meida menyembunyikan wajah merahnya dengan menundukkan kepalanya karena malu.
“Waalaikumsalam.” Jawab jack tersenyum sambil melajukan mobilnya.
Mobil Pajero sport itu pergi melenggang meninggalkan apartemen yang meida tempati. Tanpa meida sadari seseorang mengawasi dari arah belakangnya.
Meida berjalan kearah lobby apartemen dengan perlahan, sengaja ia memakai kacamata hitam pemberian dari jack untuk menyamarkan wajah sembabnya. Ia mengenakan sepatu putih jack yang kebesaran untuk alas kaki nya. Meida berjalan kearah lift, tiba-tiba teriakan seseorang menghentikan langkah nya.
“Meidaaaaaa!” Teriak suara lelaki menggema di ruangan itu. Meida membalikkan badannya melihat kearah sumber suara.
“Tuan Melvin ...” ucap kaget meida melihat kearah melvin yang berlari menuju arahnya dan langsung memeluknya. Melvin memeluk erat meida dengan sorot mata ketakutan, pakaian yang dikenakannya pun terlihat berantakan. Meida di buat tercengang dengan pelukan erat melvin, meida tak bisa menolak ataupun menerima pelukan itu. Kedua tangannya terdiam kaku di samping tubuhnya. Ia sampai tak sadar, kacamata yang dipakainya terjatuh entah kemana.
“Kamu darimana meida? Kami sangat mengkhawatirkan mu!” ucap parau melvin yang masih memeluk meida. Mata melvin berkaca-kaca dan menyembunyikan wajahnya di bahu meida.
“Saya mencari udara segar Tuan. Saya butuh waktu sendiri.” Jawab gugup meida berusaha melepaskan pelukan itu. Tapi melvin malah memeluknya semakin erat, ia tak ingin meida melihat wajahnya yang sedang menangis.
“Mencari udara segar? Seharusnya kamu bilang jangan main pergi aja! Apa kamu tahu, betapa paniknya kami mencari keberadaanmu! Bagaimana khawatirnya kami meida! Kami dari tadi kewalahan mencari mu! Kami takut kamu kenapa-napa meida! Jonathan tak berhenti menangis dari tadi, begitu pun dengan bi ina. Apa kamu tak memikirkan perasaan mereka? Apa kamu tak memikirkan sedikit pun perasaan kami?” ucap melvin dengan nada bergetar penuh penekanan. Mendengar ucapan melvin mata meida berkaca-kaca, ia menyesali sifat cerobohnya yang main pergi, tanpa memikirkan akibatnya.
“Maafkan saya ... saya tak bermaksud seperti itu ...”Dengan suara parau meida menangis di bahu melvin. Melvin mengusap air matanya, melonggarkan pelukannya ia menatap kedua mata meida.
__ADS_1
“Saya mohon jangan seperti ini lagi! Jangan buat kami khawatir! Kami disini semua menyayangi mu! Kami menutupi semua ini dari mu agar kamu tak terluka meida, karena kami ingin menjaga perasaan mu agar tak terluka lagi. Mungkin cara kami salah menyembunyikan hal sebesar ini dari mu, tapi kami tak punya pilihan lain. Kami mencari alasan yang tepat untuk memberitahu mu, memberi alasan yang tak menyakiti hati mu. Tujuan kami hanya itu! Menjaga perasaanmu, karena kamu berharga untuk hidup kami,” ucap melvin dengan suara parau, mata mereka saling bersitatap. Meida meneteskan air matanya mendengar perkataan melvin, bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu tapi ucapannya tak keluar. Melvin memeluk kembali meida dan menenggelamkannya dalam pelukannya.
“Yang harus kamu tahu! Kami semua menyayangimu! Kehadiran mu disini sangat berharga meida. Kamu bukanlah anak tak diinginkan! Apalagi anak buangan! Kamu adalah wanita hebat! Terima kasih sudah kuat, terima kasih sudah bertahan, terima kasih telah kembali kesini ... terima kasih (karena tak meninggalkan ku) ...” Tutur melvin dengan suara bergetar di tengah tangisnya. Meida terharu dengan ucapan melvin, ia semakin tergugu dipelukan melvin. Dengan perlahan meida membalas pelukan melvin.
Suasana di depan lift itu kini terasa haru, dua anak manusia saling berpelukan sambil menangis. Melvin dengan setia mengelus pelan pundak meida yang tengah menangis dipelukannya, mereka tak memperdulikan keadaan sekitarnya. Johan dan dian yang melihat keberadaan meida dan ingin memeluknya, memilih untuk memundurkan langkahnya. Mereka memilih menepi memberikan privasi kepada melvin dan meida untuk saling mengungkapkan perasaannya.
Setelah meida cukup tenang, melvin memapah meida menuju apartemennya. Disana sudah berkumpul Bi Ina, jonathan, johan, dian, dan biru yang menunggu kedatangannya.
-
“Tuan, terima kasih banyak. Maaf saya selalu merepotkan tuan.” Melvin memapah meida keluar dari lift itu sambil tersenyum.
“Saya bosan mendengar ucapan terima kasih dari mu meida. Simpanlah sebagai stok nanti.” Ledek melvin. Tangan kanannya mengelus lembut hijab meida. Meida tersenyum menerima sifat hangat melvin, yang berbanding 180 derajat dengan awal pertemuan mereka.
Melvin membuka pintu apartemen meida dengan kartu aksesnya. Setelah terbuka, meida di buat terkejut dengan kehadiran orang terdekatnya yang sedang menyambut kedatangannya.
“Ciciiii!” Teriak jonathan berhamburan kepelukan meida. Melvin menggeser posisinya, agar jonathan lebih leluasa memeluk kakaknya.
“Meida, kamu kemana aja nak?” Bi ina menangis haru memeluk meida dan jonathan. Meida menangis haru menerima pelukan hangat mereka. Pilihannya tak salah untuk kembali ke keluarga ini. Benar apa yang dikatakan jack, kemanapun kita pergi keluarga dan rumah adalah tempat kembali.
“Bi, terima kasih ... karena selalu ada di samping meida. Terima kasih, dari dulu sampai sekarang bibi selalu menyayangi meida. Terlalu banyak kebaikan bibi pada meida, hingga meida tak mampu membalas nya! Meida tak bisa marah apalagi benci pada bibi. Karena bibi adalah orang tua meida setelah kepergian Ummah dan Abi. Terima kasih telah menjaga meida sampai saat ini, terlalu banyak jasa bibi dalam hidup meida, yang tak bisa meida sebutkan satu persatu,” Lirih meida dengan mata berkaca-kaca. Ia mencium kedua pipi bi ina secara bergantian, lalu memeluknya. Semua yang berada di ruang itu menangis bahagia mendengar penuturan meida.
“Sama-sama meida. Bibi menyayangi mu lebih dari apapun, kamu sudah bibi anggap seperti anak bibi sendiri.” Meida mengurai pelukannya dan kembali mencium pipi bi ina. Setelah mencium pipi bi ina, meida berjalan kearah jonathan yang sedang menangis di samping Bi Ina. Meida menghapus air mata yang berada di wajah adiknya dengan tersenyum.
“Maaf cici telah membuat mu khawatir jo. Ternyata, kemanapun cici pergi, sejauh apapun, cici tak bisa jauh dari mu. Kamu adalah hidup cici, kamu adalah napas cici. Kamu adalah segalanya bagi cici, my sweet brother. Cici menepati janji cici untuk tak meninggalkan mu, cici menyayangi mu jo. Cici tidak bisa marah atau benci padamu atas hidup yang menimpa cici, karena itu bukan salah mu. Terima kasih selalu untuk cici, terima kasih untuk kebaikanmu selama ini. Terima kasih, ternyata bukan hanya Takdir yang mempertemukan kita, tapi ikatan darah dan persaudaraan. Jonathan adik ku, kamu memang benar-benar adik ku jo.” Tangis meida mengelus lembut wajah jonathan. Jonathan tak bisa menyembunyikan tangisnya, ia langsung memeluk meida erat.
“Cici jaslin, akhirnya Tuhan mempertemukan kita. Tuhan mengabulkan doa Jonathan. Cici adalah alasan jo bertahan di dunia ini. Terima kasih tak marah pada jo ... terima kasih tak membenci jo ... terima kasih tak pergi dari hidup jo. Maafkan jo menyembunyikan semua kebenaran ini dari cici, jo tak ingin cici terluka setelah mengetahuinya. Jo tak ingin cici kecewa dan pergi jauh dari hidup jo ... Jo serasa mimpi, cici jonathan yang hilang kini telah kembali.” Tutur jonathan diantara tangisnya. Senyum bahagia terpancar di wajahnya yang sedang menangis.
Tuhan, terima kasih telah membuat cici ku kembali. Terima kasih atas segala kebaikan mu padaku. Terima kasih untuk kebahagiaan ini. Bolehkah aku mengenal mu lebih dekat lagi? Batin Jonathan mengusap airmata nya.
“Cici menyayangi mu lebih dari dunia ini, kau adalah kebahagiaan cici jo. Jangan pernah meninggalkan cici sampai kapanpun!” Tutur meida sambil memegang kedua bahu jo. Ruangan itu memandang kearah mereka dengan haru, dua saudara yang telah berpisah bertahun-tahun lamanya kini telah dipertemuan, tanpa ada rasa dendam maupun kebencian. Melvin mengusap bahu bi ina yang tak berhenti menangis di sampingnya. Begitupun dengan biru, ia dengan setia mengelus bahu bundanya yang menangis bersandar di dadanya.
“Jo janji tak akan meninggalkan cici! Jo akan menepati ucapan Jo! Hanya kematian yang memisahkan kita.” Janji jonathan sambil mencium kening meida. Mereka saling bertatapan dengan tersenyum. Meida berjalan kearah Johan yang sedang menangis tergugu di kursi rodanya, meida menghampirinya dan berjongkok di hadapan johan dengan memegang kedua tangannya. Johan tak berani mengangkat wajahnya untuk melihat meida, ia menundukkan wajahnya karena malu akan kesalahannya pada meida.
“Paman, angkatlah wajah paman! Jangan seperti ini, meida tak suka!” Perintah lembut meida sambil menggenggam kedua tangan Johan. Johan menggelengkan kepalanya dengan posisi wajah yang masih menunduk, air matanya berjatuhan dari pipinya. Meida menyentuh lembut wajah johan lalu mengangkatnya agar melihat wajahnya.
__ADS_1
“Lebih baik begjni, dari pada paman menundukkan wajah.” Kekeh pelan meida sambil menangis. Johan menatap meida dengan bersimbah air mata. Meida kembali menggenggam kedua tangan johan.
“Meida tidak bisa marah apalagi benci pada paman. Meida tak akan menyalahkan paman atas garis takdir Tuhan yang telah ditetapkan pada meida. Karena meida tahu, paman juga hanyalah korban keegoisan keluarga kita! Kita berdua hanyalah korban! Paman tak salah mengambil jalan itu, jangan pernah menyesalinya! Jika meida berada diposisi paman, mungkin meida akan melakukan lebih dari apa yang paman lakukan. Meida berterima kasih pada paman, karena paman, meida bisa merasakan kasih sayang tulus dari orang tua, dicintai dengan tulus oleh orang yang kita cintai, merasa kehadirannya dihargai. Jangan pernah merasa bersalah pada meida! Karena meida tahu, paman pun menyayangi meida, melebihi rasa sayang dari orang tua kandung meida.” Lirih meida lalu mencium tangan johan. Johan dibuat tergugu dengan pernyataan tulus meida, ia mengeluarkan tangisnya dan memeluk meida.
“Terima kasih meida. Terima kasih tak membenci paman, terima kasih ... paman sekarang bahagia meida. Tuhan telah menjawab segala doa yang selama ini paman panjatkan. Kebahagian paman terasa sempurna, ketika kamu memaafkan segala kesalahan paman. Paman bahagia, kini bayi kecil yang sering paman timang, telah besar, telah menjadi wanita baik dan cantik, wanita tangguh yang berjiwa besar. Paman bangga padamu meida ...” Tangan meida menepuk pundak johan lembut, karena suara tangis johan semakin kencang.
“Terima kasih telah menyayangi meida paman, terima kasih. Karena paman orang baik dan tulus, meida tak sampai hati membenci paman.” Meida melerai pelukan johan. Ia mengusap lembut air mata johan dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Meida berdiri, berjalan kearah dian dan langsung memeluknya.
“Terima kasih tante, terima kasih telah mengurus meida ketika bayi ... terima kasih telah menyayangi meida ... terima kasih. Karena tangan tante, meida bisa hidup, meida bisa merasakan sebuah kasih sayang.” Dian menangis sambil memeluk erat meida. Biru mengusap wajahnya lalu memundurkan satu langkahnya ke belakang, agar wanita yang ada didepannya bebas berpelukan.
“Baby jaslin ku telah kembali, kami sangat merindukan mu jaslin. Tante tak bisa berkata apa-apa, selain rasa syukur tante pada Tuhan karena telah mempertemukan kita kembali.” Tangis Dian pecah. Ia melerai pelukannya, lalu menyentuh lembut wajah meida.
“Terima kasih telah kembali, terima kasih telah bertahan sejauh ini.” Meida hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dian. Ia meraih tangan dian dan menciumnya. Setelah mencium tangannya, ia berjalan kearah biru dan menyondorkan tangannya.
“Biru, ternyata kita bersaudara. Kamu sepupu ku. Mari kita menjadi saudara yang saling mengasihi!” Biru menjabat tangan meida dengan tersenyum haru.
“Iya ci, semoga persaudaraan kita kekal abadi.” Jawab biru sambil memeluk meida.
“Terima kasih telah memaafkan kesalahan Ayah dan Bundaku. Akhirnya mereka terbebas dari rasa bersalah yang membelenggunya bertahun-tahun ini. Mereka tak pernah tidur nyenyak setelah kepergian cici.” Terang biru menceritakan kondisi orang tuanya. Ia tak pernah melihat tidur orang tuanya tenang, selama 17 tahun ini.
“Iya biru, mereka tak bersalah. Cici sudah memaafkan segala kesalahan mereka,” ucap meida sambil melerai pelukannya. Ia berjalan kearah melvin dan berdiri di sampingnya.
“Aku pergi bukan karena marah pada kalian ataupun membenci kalian. Aku hanya shock dengan keadaan ini. Setelah mengumpulkan puzzle ingatanku, kenapa aku harus membenci kalian yang selalu ada bersama ku? Bukahkah yang salah itu orang tua kandungku bukan kalian? Aku mencintai dan menyayangi kalian, rasanya hampa bila hidup tanpa kalian. Toh semua nya sudah berlalu, saatnya buka lembaran baru. Terima kasih, karena kalian aku bisa bertahan sampai sekarang.” Tutur meida memandang semua orang yang berada diruangan itu bergantian. Ia mengalihkan pandangannya kearah melvin.
“Terima kasih Tuan, kau selalu membantuku! Terima kasih untuk segala kebaikanmu selama ini.” Melvin tersenyum hangat menganggukkan kepalanya menjawab ucapan meida.
-
Maaf hari senin otor gak up, otor terdampar seharian di kasur.🙏 Jam 12, malam Senin otor baru nyampe rumah, bab lalu pun belum otor revisi, karena belum sempet🙏 (Curhat wkwk)
Akibat badan kurang fit melakukan perjalanan jauh, akhirnya tumbang juga🥴
Insyaallah untuk besok up nya seperti biasa ...
Jangan lupa vote, like, komen, sama hadiahnya ...
__ADS_1
Hatur nuhun buat yang masih stay di novel amatiran ini♥️♥️