Kita Berbeda

Kita Berbeda
Saya Harus Pulang


__ADS_3

“Papih kenapa?” Tanya panik Melvin sambil menggigit punggung tangannya.


“Papih .... papih sudah mengetahui semuanya! Papih marah besar mengetahui koko menjadi seorang muslim.” Melvin membelalakkan matanya sambil mengusap kasar wajahnya. Ia mondar-mandir di ruang keluarga Atmadja yang nampak kosong dan lengang itu.


“Darimana papih bisa tahu Dek? Ini bisa kacau! Koko gak nyangka papih bisa tahu secepat ini.” Melvin kembali menggigit punggung tangannya dengan kepala menyandar kedinding ruang itu.


“Apa koko belum melihat berita? Foto dan video koko yang sedang berada di masjid kemarin sudah beredar dikalangan para pembisnis papih. Mereka semua sudah tahu, bahwa koko telah memeluk agama Islam. Berita koko sedang ramai diperbincangkan, banyak rekan bisnis papih yang datang kerumah menanyakan kebenarannya, mereka menunggu koko mengklarifikasi semua berita ini. Maaf, aku gak bisa bantu koko ... koko harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Aku dan Mamih di kurung seharian dengan kamar yang terpisah, rumah kita sekarang sedang ketat penjagaan.” Lirih Melisa sesenggukan. Melvin menjambak rambutnya, ia baru tahu bahwa berita tentang dirinya masuk islam sudah beredar di kalangan rekan dan rivalnya. Sejak semalam ia tak mengaktifkan data seluler, karena terlalu fokus menyelesaikan permasalahan meida.


Ya Allah, kenapa bisa jadi seperti ini? Apa ini ujian pertama hamba? Ya Allah, kuatkan dan teguhkan hati hamba dalam menghadapi semuanya. Do'a melvin sambil memejamkan matanya.


“Tapi, keadaan kamu dan mamih gak papa, Kan?” Tanya khawatir Melvin sambil mengusap sudut matanya. Ia berjalan kekursi kayu lalu duduk.


“Kami gak papa ko. Papih hanya menghukum kami untuk tidak keluar kamar selama sehari ini. Papih marah, karena kami menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Koko pasti tahu, kalau papih marah pasti meledak-ledak, tapi gak bakalan lama kok. Aku berdo'a semoga Tuhan selalu memberkati jalan koko untuk melewati masalah ini. Semoga papih bisa menerima keputusan koko dengan tangan terbuka.” Melvin mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang bodoh. Kini kegelisahan mulai melandanya, mampukah ia melewati semua masalah ini. Apalagi Papihnya orang yang paling menentang keputusannya untuk menjadi seorang Muslim.


“Koko buruan kesini, sebelum papih menjemput paksa koko disana! Barusan aku mendengar mereka akan menjemput paksa koko,” ucap pelan melisa yang sedang mondar-mandir di kamarnya.


“Baik Dek. Terima kasih telah memberitahu koko. Koko otw kesana!” Melvin menyeka hidungnya lalu menghapus sudut matanya.


“Hati-hati ... Do'a kami selalu bersamamu!”


“Terima kasih dek.”


Melvin mengakhiri sambungan teleponnya dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Dengan langkah pelan, ia berjalan kearah Bi Ina dan Zaina yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar yang ditempati Gilbert. Ketika ia akan membuka pintu, meida lebih dulu membuka dari dalam. Mereka pun saling menatap dengan pikiran berkelana. Meida menatap aneh wajah melvin yang nampak gelisah tak seperti biasa, mata dan hidung melvin terlihat memerah seperti tengah menahan sesuatu. Melvin mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam, ia malah memegang tangan meida untuk mengikuti langkahnya menuju ruangan yang barusan disinggahinya.


“Kamu kenapa?” Tanya aneh Meida mengikuti langkah melvin yang membawanya keruang keluarga yang nampak sepi dengan terburu-buru. Melvin melepaskan pegangan tangannya, menatap dalam wajah Meida.


“Saya pamit pergi! Tolong sampaikan salam pada Bu Ina, Jonathan, dan Orang tua-mu. Karena saya tak bisa  berpamitan dengan mereka satu persatu,” ujar pelan Melvin. Meida menyipitkan pandangannya kearah melvin sambil merapikan sweater yang kenakannya.


“Kamu mau pergi kemana? Jangan lama-lama!” Melvin tersenyum getir sambil membelai kepala Meida yang mengenakan pashmina berwarna dusty.


“Saya harus pulang! Ada banyak masalah yang harus saya selesaikan. Do'akan saya, semoga saya bisa cepat mengatasinya!” Meida menangkap raut tak biasa dari wajah Melvin, ia seakan menemukan ketakutan sekaligus kegelisahan di sorot matanya.


“Kamu baik-baik saja, Kan?” Melvin mengalihkan pandangannya kesamping. Ia sengaja membuang muka, agar meida tak menangkap raut wajah gelisahnya yang kentara.


“Saya baik-baik saja! Tak usah mengkhawatirkan saya!” Jawab pelan Melvin sambil tersenyum dipaksakan.


“Kamu bohong! Saya tahu kamu sedang tak baik-baik saja! Jangan membohongi saya! Bukankah kita harus saling terbuka?” Melvin mengalihkan pandangannya keatas langit-langit  dengan menggigit bibirnya. Ia memasukkan kedua tangan kedalam kantong celananya, guna untuk menahan air matanya yang tiba-tiba ingin terjatuh.


Saya memang sedang tak baik-baik saja Meida. Papih kini sudah mengetahui semuanya. Tentang keislaman saya dan hubungan kita. Kamu tak akan pernah tahu, bahwa papih saya sangat menentang hubungan kita dan keislaman saya. Saya harus benar-benar berjuang untuk kamu. Semoga Papih dapat menerima keputusan saya dan menerima mu sebagai calon menantunya. Do'a melvin dalam hati sambil menggenggam kedua tangan meida.


“Kamu sudah lama berjuang. Kini tinggal saya memperjuangkanmu! Do'akan, semoga semuanya dimudahkan. Selama saya tidak ada di sampingmu, jangan pernah meragukan cinta saya!” Meida membulatkan matanya mendengar perkataan melvin. Ia aneh mendengar ucapan melvin yang seperti akan pergi jauh meninggalkannya, padahal dia hanya pulang sebentar kerumahnya.


“Apa ini berkaitan dengan Papihmu?” Tanya meida mengingat Nagara yang sudah beberapa hari ini tak dekat dengan putra nya. Karena ia tahu, melvin lebih banyak menghabiskan waktu di apartemennya.  Mendengar pertanyaan meida, melvin pun menganggukkan kepalanya lemah.


“Apa kamu akan kembali?” Tanya pelan Meida dengan memegang kedua lengan melvin yang sedang menatapnya dengan raut wajah takut kehilangan. Yah, kelemahan melvin sekarang adalah Meida. Entahlah ... setiap melihat meida seperti ini, ia tak bisa menahan air matanya.


“Saya pasti kembali Meida. Kamu adalah cinta saya! Kamu adalah rumah saya! Sejauh apapun saya melangkah, kamu adalah tempat saya kembali. Meida, maukah kamu menunggu saya?” Meida menggangukkan kepala dengan tersenyum lalu ia menghapus sudut mata melvin yang sudah basah.

__ADS_1


“Saya pasti menunggu mu! Semoga Allah memudahkan segala urusan mu. Cepatlah kembali! Karena kamu adalah jalan hidup saya. Saya tak bisa jauh-jauh darimu!” Kekeh meida menggoda melvin agar tidak bersedih.


“Saya pasti kembali, cepat ataupun lambat!” Melvin mengelus kepala Meida lalu memeluknya erat. Ia merasa ini seperti ucapan perpisahan dan janji antara dirinya dan meida. Meida membalas pelukan Melvin, ia merasa seakan separuh hatinya hilang ketika Melvin mengucapkan kata pulang. Jika ia boleh memilih, ia ingin selalu berada di samping melvin, yang akhir-akhir ini selalu menemaninya kemanapun dirinya pergi. Melvin telah berhasil mengisi seluruh kekosongan  hatinya setelah kepergian adib. Entah firasat atau bukan, hati mereka sama-sama gelisah, seperti akan terjadi sesuatu yang besar pada mereka kedepannya.


“Jadilah kekuatan saya! Jangan mengkhawatirkan saya! Semua akan baik-baik saja. Saya sangat mencintai kamu! Terima kasih selalu mendengar perkataan saya, semoga kamu bahagia. Jika kamu bahagia, saya pun ikut bahagia meida.” Melvin menenggelamkan wajahnya di pundak meida. Kegelisahannya seakan menyatu dengan perasaan tak enak yang menyergap hatinya. Hatinya seakan berat meninggalkan meida, tapi dia tak bisa diam saja. Konflik dengan ayahnya harus segera diselesaikan dan diakhiri.


“Jangan bicara seperti itu! Kamu seperti ingin pergi jauh saja! Ingat, pernikahan kita satu bulan lagi. Kamu harus cepat-cepat melamar saya pada keluarga saya.” Kekeh Meida sambil menghapus sudut matanya. Ia pun merasakan kegelisahan yang melvin rasakan.


“Saya janji! Setelah pulang nanti, saya akan langsung melamarmu.” Melvin melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap meida dan menghapus air mata yang terjatuh di ujung matanya.


“Saya pergi! Jaga dirimu baik-baik! Saya pasti kembali!” Pamit Melvin sambil berjalan terburu-buru meninggalkan meida yang masih diam terpaku menyaksikan kepergiannya. Ia memegang sebelah dadanya yang berpacu sangat cepat tak seperti biasanya.


Ya Allah, semoga dia baik-baik saja! Ya Allah, kenapa dengan perasaanku ini? Aku merasa ucapannya tadi seperti sebuah perpisahan, dan kami seperti tidak akan bertemu lama. Ya Allah, semoga itu hanya prasangkaku saja. Meida mengelus dadanya berulang-ulang untuk menetralisir kegelisahan dihatinya akibat kepergian Melvin.


Saya pasti menepati janji untuk menunggumu kembali!


-


Di kamar Gilbert.


Meida menyuapi Gilbert makan sambil bercengkrama. Keadaan canggung itu kini telah mencair, tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Sesekali terdengar tawa renyah memggema dari bibir mereka. Baru kali ini gilbert makan, setelah seminggu tak makan apapun. Meida menyuapi Daddy-nya dengan telaten, sesekali candaan keluar dari mulut mereka. Walaupun tertawa, tapi yang ada dipikiran meida hanyalah melvin.


“Kamu kenapa bengong Nak? Ada apa?” Tanya Gilbert menepuk pelan anaknya  yang sedang melamun mengaduk-aduk mangkuk bubur yang sudah kosong. Meida tersentak kaget lalu mengelus-ngelus dadanya.


“Aku gak papa Dad,” Jawab pelan meida sambil berusaha menghalau bayangan melvin. Sudah beberapa jam melvin pergi, tapi tak mengabarinya sama sekali. Tidak biasanya melvin seperti itu.


“Dia udah pergi dari tadi, sepertinya buru-buru. Tadikan Meida udah bilang sama Daddy, kalau ia pamit pergi.” Gilbert terkekeh melihat wajah cemberut anaknya yang terlihat lucu.


“Daddy lupa sayang! Maklum Daddy sudah tua. Daddy lihat sepertinya kalian memiliki hubungan spesial, tapi kalau ada juga gak papa sih. Daddy lihat, dia lelaki baik dan bertanggungjawab. Daddy merestui kalian, karena Daddy tak melihat kecacatan sedikit pun pada diri Melvin. Baik luar maupun dalamnya.” Meida tersenyum dengan wajah malu-malu. Ia meletakkan mangkuk diatas nakas lalu duduk berhadapan dengan daddy-nya.


“Daddy tahu aja. Kami berencana menikah 1 bulan lagi. Dia sudah melamar Meida pada Bi Ina dan Jonathan. Dia tinggal melamar Meida pada Daddy dan Mommy, niat dia sih akan secepatnya melamar kesini.” Gilbert dibuat terkejut dengan perkataan meida. Ia langsung tersenyum sambil mengelus kepala putrinya.


“Daddy merestui kalian. Jika dia memang lelaki baik pilihanmu, daddy akan menerimanya. Daddy akan menyetujui segala keputusanmu Nak. Yang penting kamu bahagia. Karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan daddy.” Meida tersenyum lalu kembali memeluk Daddy-nya.


“Terima kasih Dad.” Mereka berpelukan hangat dengan penuh kebahagiaan.


Tok tok tok


Selamat siang Om! Teriak suara lelaki di balik pintu.


Ceklek


Pintu itu terbuka menampilkan seorang lelaki muda berstelan jas putih sambil menenteng tas dinasnya yang  berwarna hitam. Di belakang lelaki itu terlihat andress berjalan sambil menundukkan wajahnya. Melihat itu, betapa bahagianya gilbert, bisa bertemu dengan Putra sulung sekaligus keponakannya.


“Jack, Andress ... Sini Nak!” Ucap sumringah Gilbert sambil menepuk-nepuk ranjang agar mereka duduk di dekatnya di samping putrinya.


“Pantesan Om langsung sembuh, ternyata ada pawangnya. Hallo Meida, senang bertemu dengan mu lagi.” Kekeh Jack sambil memeluk Gilbert dan mencubit gemas pipi Meida. Gilbert tersenyum kearah mereka dan langsung memeluk putranya yang sedang duduk disamping sebelah kirinya.

__ADS_1


“Andress terima kasih sudah pulang Nak. Tolong maafkan sikap Daddy yang dulu! Daddy benar-benar banyak dosa padamu. Terima kasih telah kembali Nak!” Andress menganggukkan kepalanya sambil menghapus ujung matanya yang sudah membasah.


“Iya dad, maafin aku juga!” Andress melerai pelukan daddy-nya lalu melihat kearah adiknya yang berada di samping daddy-nya


“Meida, maafin saya yang tak bisa melindungi mu. Terima kasih telah kembali.” Andress langsung memeluk adik perempuannya erat. Gilbert tersenyum melihat kedua anaknya yang nampak rukun dan menerima satu sama lain, ia pun langsung ikut berpelukan.


Andress dia adikmu! Selamanya tetap adikmu! Tak akan berubah sedikitpun! Batin andress sambil memejamkan matanya.


“Iya mas. Semoga mas Andress bisa menjadi kakak yang baik untukku dan Jonathan. Semoga kita bisa menjadi keluarga harmonis, saling menyayangi dan menjaga.” Jawab Meida sambil tersenyum di bahu kakak lelakinya.


Ya Allah, semoga hati Andress baik-baik saja bertemu meida. Semoga dia sadar, meida adalah adiknya bukan wanita yang patut dicintainya.


-


Melvin melajukan mobilnya cepat menuju rumahnya. Air mukanya pias dengan bulir-bulir keringat yang membasahi wajahnya. Rumah berlantai 3 itu nampak dipenuhi oleh penjagaan yang ketat, dengan pakaian seragam serba hitam. Walaupun tangannya bergetar, Melvin berusaha percaya diri untuk bertemu Papih nya, ia  memarkirkan mobilnya di garasi milik orang tuanya. Nampak beberapa orang bertubuh tinggi besar sudah menunggunya,  mengawalnya untuk mengantar ke dalam rumahnya sendiri. Di dalam rumah itu terlihat beberapa pengawal walaupun tak sebanyak di luar. Ia terus berjalan mengikuti beberapa pengawal untuk masuk keruang tamu atas yang bersebelahan dengan ruang kerja Papihnya.


“Bismillah.” Lirih melvin sambil menaiki anak tangga menuju ruang kerja Papihnya. Anak demi anak tangga ia lewati sampai tak sadar sudah sampai di ruang papihnya. Ia menelan ludahnya kasar melihat tatapan sangar papihnya.


Nagara menatap Putra sulungnya tajam. Walaupun dia darah dagingnya sendiri, ia tak bisa menyembunyikan kemarahan pada anaknya yang berani membangkangnya. Nagara berjalan kearah anaknya dan langsung menampar kedua pipinya bergantian.


“Apa-apaan kamu! Jelaskan semua ini pada Papih hah!” Teriak Nagara sambil melempar koran dan ipad nya ke tubuh melvin.


-


Detik-detik menuju puncak masalah yah, abis itu penyelesaian dan langsung End.


Niat otor sih bikin ceritanya gak lebih dari 150 episode, tapi kalau lebih juga gak papa kali yah😂


Part kedepannya, berkaitan dengan perjuangan melvin mendapatkan restu papihnya. Karena kalian pasti tahu, tak mudah bagi orang tua menerima keyakinan baru anaknya, yang tiba-tiba keluar dari keyakinan lama yang mereka ajarkan sejak kecil. Pastilah banyak pertentangan, dan tak langsung menerima begitu aja. Banyak cara yang dilakukan oleh si orang tua, agar anaknya kembali ke keyakinan lamanya. Seperti itulah yang dirasakan Nagara. Sudah banyak kok contoh kejadiannya di Negeri kita tercinta ini.


Intinya ini bukan sara yah, otor hanya menceritakan pengalaman otor aja😁 jadi jangan di judge yah🤗


Dan part selanjutnya berkaitan dengan penyelesaian masalah keluarga Atmadja, tentang harta warisan+ Johan dan Jaslin+ Akhir hidup Mak lampir(grace)😂😂😂


Jangan lupa ☕☕☕☕ sebodag nya😂


Tong hilap Vote, like, komen, rate sareng hadiahnya ♥️


Diantos pisan😘😘


Wilujeng dinten minggu🤗


Al-Mulk day♥️


Hampura yah kalau up nya lama🙏 Soalnya kalau berkaitan sama (☝️) suka lama reviewnya. Yang biasanya 1 jam/2 jam, bisa sampai 8 jam/seharian.


Waiting ... wkwkwk

__ADS_1


 


__ADS_2