
Di apartemen.
Meida, Bi Ina, dan Jonathan sudah siap dengan penampilan nya. Meida menggunakan gaun tertutup yang di lapisi brukat berwarna abu-abu selaras dengan gaun yang bi ina gunakan, walaupun desainnya terlihat berbeda. Meida terlihat cantik dengan memakai kerudung pashima yang sudah ia reka sendiri.
Jonathan berdiri di samping meida yang sedang mengambil jam tangan dari lemari kaca, ia membantu meida untuk mengambil jam nya itu.
“Ci. Barusan ko melvin nelpon, katanya kita di suruh nunggu jemputan darinya. Dia bilang, kita jangan sampai naik taksi karena ko melvin yang akan menjemput kita langsung kesini,” meida menganggukkan kepalanya sambil memakai jas tangannya. Sementara bi ina sedang duduk di sofa sedang merapikan penampilannya.
“Padahal kita bisa berangkat menggunakan taksi online jo. Cici gak enak sama Tuan Melvin, kita selalu merepotkan nya. Dia selalu menyempatkan waktu untuk kita walaupun dia sedang sibuk,” ucap Meida dengan lesu. Jonathan merespon ucapan meida dengan mengedikkan bahunya.
“Mungkin itu pengorbanan seorang Lelaki terhadap wanita yang dicintainya! Rela melakukan apa saja, asal wanita yang dicintainya selalu aman, nyaman dan bahagia.” Kekeh jonathan sambil berjalan kearah sofa. Ia mengenakan tuxedo berwarna abu-abu dengan sapu tangan dikantong jasnya. Sesekali ia merapikan kemeja yang dikenakan nya, karena ia sengaja tidak memakai dasi.
“Kamu sok tahu dek! Cici jadi gak enak, Tuan melvin selalu saja menolong kita. Padahal prioritas dia kan banyak.” Jonathan membuka kancing atas kemejanya dengan tersenyum. Bi ina hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan adik kakak yang berada di sampingnya.
“Jo, tahu alasan nya ci. Wong jo sama-sama lelaki! Insting jo, itu prilaku lelaki yang menaruh perasaan pada wanita! Yah, perilakunya kayak ko melvin gitu. Apapun keadaan nya, ia pasti memprioritaskan orang yang dicintainya, contoh nya cici.” Terang jonathan melipat kedua tangannya lalu tertawa. Meida menatap kesal kearah adik nya. Ia berjalan ke lantai dua menuju kamarnya, karena ponselnya tertinggal disana.
“Cici mau kemana? Jangan ngambek! Nanti cepet tua loh!” Ledek jonathan dengan tertawa, melihat wajah cemberut meida yang sedang menaiki tangga.
“Kamu sih jo, ngeledekin cici kamu terus. Ngambek kan dia,” ujar bi ina sambil memasukan dompet ke tasnya. Di saat meida memasuki kamarnya, suara bell berbunyi, pertanda ada tamu yang akan berkunjung ke apartemen mereka.
“Biar Jo yang buka bu! Itu pasti ko Melvin!” Jonathan berjalan kearah pintu yang hanya beberapa meter dari ruang tamu. Bi ina berdiri memanggil meida yang masih berada di kamarnya.
“Meida ... Melvin sudah datang nak!” Teriak bi ina memanggil meida yang tak merespon ucapannya. Melvin masuk dengan di gandeng jonathan, mereka tampak tersenyum berceloteh sambil berjalan.
“Cici mana bu? Udah turun belum?” Tanya jonathan sambil celingukan kearah pintu kamar meida. Bi Ina menggelengkan kepalanya.
“Apa meida belum selesai berias?” Tanya melvin yang mengenakan tuxedo yang warnanya sama dengan jonathan.
“Sudah selesai vin. Tapi barusan dia kembali ke kamarnya, mungkin ada barang yang tertinggal disana.” Jelas Bi ina sambil menengok kepalanya kearah pintu kamar meida.
“Oh ... yaudah kalau gitu. Ibu sama jonathan duluan aja ke lobby, biar saya yang tunggu meida disini!” ujar melvin dengan santai. Bi ina melirik kearah jonathan meminta pendapat, jonathan pun menganggukkan pelan kepalanya.
“Yaudah. Jo sama Bu Ina duluan ke lobby ko. Good luck!” Jonathan berjalan menggandeng lembut bi ina. Ketika melewati melvin ia menepuk bahunya pelan.
“Selamat Berjuang! Pepet terus jangan sampai kendor!” Bisik jonathan sambil mengedipkan sebelah matanya. Melvin tersenyum sambil mengangkat satu jempol tangan nya kearah Jonathan. Ia bahagia, karena telah mendapat dukungan dari jonathan yang merupakan adik kandung sekaligus orang terdekat meida.
Jonathan dan bi Ina menghilang di balik pintu. Melvin duduk di sofa menunggu kedatangan meida, ia memejamkan matanya letih, karena beberapa hari ini ia sibuk mempersiapkan acara untuk perusahaan nya, sampai lupa waktu istirahat.
“Tuan sejak kapan ada disini? Bi Ina sama jonathan mana?” Tanya meida sambil menepuk lengan melvin pelan. Melvin membuka matanya perlahan, ia terkejut melihat meida berada di depannya memakai gaun panjang yang ia desain sendiri. Mulut melvin menganga menyaksikan kecantikan meida dari jarak dekat.
“Tuan gak papa, Kan?” Meida mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah melvin, yang masih dalam mode ekspresi terkejut.
__ADS_1
You are so Beautiful. Lirih pelan melvin yang tak di dengar meida. Matanya masih menatap dalam meida.
“Tuan kesambet apa? Apa apartemen ini ada hantunya?” Tanya meida yang tidak di respon melvin sedikit pun. Ia mengambil air kemasan yang ada di meja, lalu memercikkan sedikit air ke wajah melvin, agar melvin segera tersadar.
“Meida kamu apa-apaan?” Melvin terkejut dengan ulah meida yang memercikkan air putih ke wajahnya. Meida menghentikan aksinya, ia menyimpan air itu kembali ke meja lalu mengusap dadanya pelan.
“Alhamdulillah. Akhirnya tuan sadar juga? Untung setannya minggat sebelum saya sembur!” ucap polos meida sambil menyondorkan tisu ke wajah melvin.
“Ngomong apa sih! Jangan ngaco! Disini gak ada setan!” Kesal melvin sambil melap wajah basahnya menggunakan tisu.
“Saya nungguin kamu disini! Bi ina sama Jonathan udah nunggu kita di lobby!” Kesal melvin dengan bibir cemberut. Niatnya ia akan berdekatan dengan meida, tapi malah terkena apes. Alhasil pendekatannya malah berakhir zonk.
Gedung serba guna itu kini di sulap menjaga ballroom mewah nan megah dengan dekorasi warna putih dan mocca yang mendominasi. Meja bulat tertutup kain mocca melingkar di kelilingi kursi kayu berwarna coklat muda. Panggung yang lumayan besar berbentuk segi empat di khususkan untuk tempat tampil pengisi acara, panggung itu di dekorasi dengan semegah mungkin, bak panggung perhelatan akbar, yang kiri kanan depannya di kelilingi oleh meja para tamu undangan. Persiapan selama beberapa hari itu, kini tidak sia-sia. Lewat tangan terampil karyawan Nagara, kini menghasilkan dekorasi indah yang memuaskan setiap mata yang melihatnya.
Melvin, Meida, Bi Ina dan Jonathan masuk ke gedung itu secara bersamaan. Jonathan berjalan bersisian dengan bi ina, sedangkan meida berjalan bersisian dengan melvin hingga mereka berdua jadi pusat perhatian tamu yang sudah memenuhi ballroom itu. Banyak pasang mata menatap kearah meida dan melvin, dengan wajah penuh teka-teki. Rata-rata tamu itu terkejut melihat putra mahkota kerajaan bisnis Shinwa berjalan bersama wanita, yang di gosipkan tidak dekat dengan wanita manapun. Tapi kenyataan nya kini, Putra Mahkota itu berjalan berdampingan dengan seorang wanita cantik dan anggun.
Melvin tidak memperdulikan tatapan mereka, ia dengan santai mengajak meida, bi ina dan Jonathan melihat-lihat ballroom itu, memperkenalkan tempat-tempat yang berada di ballroom . Kebetulan sekali Melisa dan dan kedua orangtuanya belum datang, ia lebih leluasa berada di samping meida lebih lama. Melvin mengajak Jonathan dan bi Ina duduk di kursi terhormat yang berada pas di depan panggung. Ia sengaja memilih meja itu karena meja itu berdekatan dengan meja keluarga nya.
“Bu, jo, nikmati hidangan yang tersedia! Saya pamit dulu untuk mengecek karyawan saya! Saya izin bawa meida, karena disini dia merupakan salah satu karyawan saya!” Melvin meminta izin kepada Jonathan dan bi Ina untuk membawa meida bersamanya. Sebisa mungkin, ia ingin meida selalu ada di sampingnya.
Tuh kan, dia menganggapku sebagai karyawan nya, tidak lebih! Jonathan salah mengartikan segala kebaikan tuan melvin. Dia memang baik, karena saya merupakan karyawan nya yang sudah terikat kontrak. Batin meida sambil mengetuk-ngetuk high heels nya pelan karena kakinya mulai terasa pegal.
Melvin berjalan menjauh dari meja bi ina, dengan meida yang setia berjalan di sampingnya.
Melvin melihat gedung itu dengan wajah sumringah melihat semua dekorasi tertata dengan sempurna, tanpa ada cela sedikitpun. Ia mengelilingi gedung itu bersama meida, senyum lebar yang selalu menghiasi bibirnya, ia puas dengan hasil kerja karyawan nya yang seperti sudah profesional.
Tiba-tiba senyum melvin meredup, ketika dion memanggil namanya dengan berlari terpogoh-pogoh kearah nya.
“Tuan gawat tuan!” Panik Dion yang kini berada di hadapan melvin. Melvin mengerutkan alisnya dengan wajah penuh tanya menatap dion sambil melipat tangannya di dada. Meida masih setia berdiri di samping melvin. Ia pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka, dengan mengalihkan pandangannya.
“Maksudnya? Jangan bikin saya penasaran!” Ketus melvin sambil melonggarkan dasi kupu-kupu nya. Malam ini ia sengaja mengenakan tuxedo berwarna abu-abu sama dengan jonathan. Melvin terlihat tampan dengan rambut yang di sisir rapi ke samping, aura nya terpancar hingga orang betah melihat wajahnya. Hingga ia jadi pusat perhatian semua wanita yang menghadiri acara malam ini.
“Angel penyanyi utama yang akan tampil nanti dari divisi keuangan tidak bisa tampil Tuan! Orang tuanya meninggal barusan, karena kecelakaan!” Terang dion dengan wajah ngos-ngosan. Ia mengelap keringat yang ada di wajahnya dengan lengan bajunya.
“Apa?? Serius kamu?? Kamu sudah mencari penggantinya?” Tanya kaget melvin sambil menggigit punggung tangannya pertanda dirinya sedang gelisah. Meida menyimak ucapan mereka sambil menimbang sesuatu.
“Itu masalahnya Tuan! Apa tuan punya kenalan seorang penyanyi? Acaranya sebentar lagi akan di mulai! Susunan acaranya sudah di buat, tidak mungkin kita menyusun ulang gara-gara ketidakhadiran angel!” Melvin mengacak-ngacak rambutnya. Meida melihat wajah melvin dengan pandangan iba, ia memutuskan untuk menolong melvin, karena melvin selalu menolongnya.
“Saya bisa bernyanyi? Cuman tidak pandai dalam bermain musik! Apa saya bisa membantu tuan?” Tawar meida santai sambil melipat tangan di dadanya Melvin dan Dion menatap tak percaya kearah meida. Meida menangkap keraguan di wajah kedua pria yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Saya tahu kalian meragukan kemampuan saya! Tapi saya bisa bernyanyi kok. Waktu saya sekolah SMA, saya juara 1 solo vokal. Ilmu bernyanyi saya masih menempel, walaupun hanya sedikit di otak.” Terang meida sambil menggaruk-garuk dagunya. Melvin menatap meida dari bawah keatas, untuk menimbangnya.
“Saya percaya pada mu!” Putus melvin tanpa ada keraguan. Dion pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Mereka setuju meida tampil solo malam ini menggantikan angel yang tidak bisa hadir karena kematian orang tuanya. Lalu melvin menepuk keras bahu dion.
“Dion, kamu tetap standby disini! Jangan beritahu papih saya, jika dia menanyakan keberadaan saya!” Setelah dion berkata ya, melvin langsung menatap kearah meida.
“Ayoo ikut saya ke ruang meeting! Kita tak punya banyak waktu, kita latihan disana.” Melvin memegang tangan meida spontan, mengajak nya berlari kearah ruang meeting yang berada di belakang gedung itu.
-
Jonathan dan Bi Ina menikmati acara itu, apalagi setelah kehadiran melisa dan keluarganya. Melisa sengaja duduk di samping jonathan dan bi ina terpisah dari meja keluarganya. Ia memperkenalkan bi ina dan jonathan kepada keluarga besarnya yang terkesan baik dan ramah. Dress yang Melisa kenakan sama dengan yang dikenakan mamihnya, dari warna sampai motif nya. Dress itu berlengan pendek, yang memperlihatkan punggung mulus melisa dan leher jenjangnya, dan panjang dressnya sampai menjuntai ke lantai.
“Ko melvin sama cici kenapa gak balik-balik yah kak?” Tanya jonathan kearah melisa yang berada di sampingnya. Melisa mengeluarkannya ponsel nya dari dompet channel nya lalu memperlihatkan pesan dari melvin. Setelah membaca pesan itu jonathan langsung memperlihatkan kearah bi Ina.
“Pantesan mereka gak balik-balik dari tadi!” Sahut bi ina setelah membaca pesan itu.
“Iya bu. Katanya tadi ada sedikit kendala, padahal persiapan nya udah matang 100%. Melisa juga tidak tahu kendalanya apa, koko tidak menceritakan sama sekali. Koko hanya bilang seperti ini.” Jelas melisa sambil memasukkan ponselnya kembali pada dompet. Tak sengaja mata melisa menangkap bayangan seseorang yang pernah memarahinya dan meida ketika di swalayan.
“Jo lihat ke sebelah situ!” Bisik melisa kearah jonathan sambil menunjuk kearah satu orang pria paruh baya, yang sebelah tangannya di ampit oleh wanita yang sepantaran namun terihat awet muda. Dan di samping pria itu berdiri seorang wanita tua namun masih menampakan aura kecantikan nya.
Jonathan mengikuti arah telunjuk melisa. Ia menelan salivanya kasar, ketika melihat kedua orang tua bersama neneknya yang datang menghadiri pesta itu.
“Itu orang tuan mu, Kan?” Bisik melisa. Bi ina memperhatikan interaksi kedua orang yang ada di sampingnya dengan aneh. Jonathan menganggukkan kepalanya lemah. Bi ina menangkap raut gelisah dari wajah jonathan.
“Jo kenapa?” Tanya pelan bi ina sambil merubah posisi duduknya yang kini berada di samping jonathan. Jonathan membisikkan sesuatu ke telinga bi ina.
“Orang tua jo menghadiri acara ini! Mereka berada disana bersama Oma jo. Jo takut mereka melihat jo dan bertemu dengan cici meida.” Bisik lemah jonathan tatkala melihat kedua orangtuanya berjalan ke meja yang berada di belakangnya. Untung posisi Jonathan memunggungi mereka, hingga orang tua nya tak mengenali sosoknya.
Di ujung sana, terlihat johan baru saja datang bersama istri dan anaknya.
-
Happy Monday
Selamat beraktivitas ♥️ Semoga kegiatan kita di hari ini selalu ada dalam keberkahan. Aamiin.
Jika suka dengan Novel ini jangan lupa like, komen, vote, sama hadiahnya 🤗
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang masih setia di novel ini ♥️