
“Mas bisa berdiri gak?” Tanya meida jongkok di samping melvin. Ia mengamati wajah melvin. Dalam hatinya terbersit rasa bersalah melihat kondisi melvin seperti ini.
“Keliatan nya!”Sungut melvin kesal, mengingat perlakuan meida yang membuat tempurung kepalanya nyut-nyutan. Alhasil melvin pun masih tergeletak di aspal.
Ia meratapi keadaannya sekarang, muka benyok, kepala benjol, uang tak punya, mana ponsel ketinggalan di rumah, menghubungi keluarga pun tak bisa.
Malang sekali nasibmu melvin, ucap melvin dalam hati.
Niat awal melvin ingin makan mie ayam di pinggir jalan di tempat langganannya, dan malah berakhir dengan kondisi mengenaskan seperti ini. Kebetulan malam ini ia berkendara menggunakan motor, di tengah jalan motor yang dikendarai nya bocor karena menginjak paku. Terpaksa ia jalan menuntun motor nya melewati beberapa rumah untuk mencari bengkel.
Kondisi cuaca yang gerimis dan sepi, di tambah sudah tengah malam ia tak menemukan bengkel, malah melihat seorang wanita yang di seret beberapa preman.
Dengan tampil bak ksatria ia ingin menjadi pahlawan, tapi malah berakhir menjadi samsak. Ending yang tak sesuai dengan ekspektasinya.
“Bisa ... asal di paksa.”
Sontak jawaban meida mendapat pelototan dari melvin, melvin pun berdiri dibantu meida.
Sepasang manusia berjalan terseok-seok dibawah guyuran hujan, keadaan jalan yang sepi, pertanda tak ada aktivitas yang manusia lakukan. Karena malam hari waktunya manusia beristirahat, terlelap di alam mimpi.
Malam ini tak ada satu pun kendaraan yang lewat mengarah ke arah mereka, pertanda mereka harus berjalan sampai tempat yang dituju.
Melvin pasrah ketika tangan kanannya dikaitkan meida ke bahunya.
“Mas berat banget ih, kebanyakan dosa kayaknya,” omel meida sambil memapah melvin yang tinggi menjulang.
“Jangan banyak omong, saya kayak gini juga gara-gara nyelamatin kamu.” Sungut melvin cemberut, dengan rasa ngilu di sekujur tubuhnya.
“Lagian mas, tau gak bisa beladiri ... malah sok sok an nantangin, kan jadi gini.” Ejek meida meledek melvin. Yang sontak mendapat pelototan dari melvin.
“Kata siapa saya gak bisa beladiri? Taekwondo, silat, saya bisa. Karate saya sudah sabuk hitam. Tadi saya kalah karena kurang persiapan, mereka mainnya keroyokan!” Bual melvin menutupi rasa malu nya. Ia tak ingin meida mengetahui kalau ia tak pandai beladiri.
“Lagu lama mas ... wajah mu tak meyakinkan.” Meida terkekeh pelan.
“Pas mas datang tadi, aku pikir mas pangeran berkuda putih penolong ku ... tapi, yasudah lah .... ini faktanya.” Ujar meida menahan tawa.
“Berisik! Jangan ngomong mulu kuping saya panas!" Tatapan tajam melvin menatap wajah meida malas.
Wanita ini rese juga, mana bawel lagi! Melvin sabar ... kendalikan dirimu ... kalau tak ingin babak belur lagi! Jika marah, wanita itu bisa membantingmu melvin, menjadikan mu sop tulang. Lihat kondisi mu sekarang, kamu harus sadar diri ... buat jalan pun tertatih-tatih, apalagi melawan. Kamu masih muda, jangan sampai berakhir di kuburan. Ucap melvin dalam hati.
“Aku anterin mas kemana? Ke rumah mas atau ke rumah sakit?” Tanya meida yang masih memapah melvin dengan satu tangannya.
“Rumah saya jauh, dan saya gak bawa uang! Saya terserah kamu, mau bawa saya kemana! Inti nya kamu harus tanggung jawab! Karena menolong kamu wajah tampan saya jadi babak belur gini!” Ujar melvin dengan narsis, padahal mukanya sekarang sudah tak berbentuk lagi.
“Kok gitu sih! Siapa yang nyuruh mas nolongin saya hah! Kok saya yang harus tanggung jawab!” Ucap kesal meida mendelik ke arah melvin.
“Kalau gak di tolong saya, nasib kamu pasti mengenaskan. Untung Pangeran kuda putih menolong mu." Ledek melvin ke arah meida.
“Ckckck kepedean”
“Mas bawa uang gak?” Meida menghentikan langkah, dan menatap melvin.
“Saya gak bawa apa-apa, ponsel saya aja ketinggalan di rumah. Tuhh ada motor kempes, jual aja kalau butuh uang!” Melvin menunjuk ke arah belakang.
“Huhh jujur aja kalau kere, gak usah banyak alasan.”
“Cangkem mu! Tak sobek- sobek bibir mu” Jawab melvin mendelik dengan bahasa jawa medok.
“Mas jangan sakit yah, saya gak punya uang lebih, stok uang saya habis, tadi dibelikan gas elpiji sama token listrik.”
__ADS_1
“Saya gak janji!” Sungut melvin kesal, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Emang sakit bisa diprediksi? mana ada orang yang pengen sakit! Oon nya gak ketulungan. Batin melvin
-
-
Setelah izin dengan Ibu kos, meida membawa melvin ke kosannya. Tak lupa meida meminjam baju milik pak kos karena pakaian melvin yang basah kuyup.
“Kenapa harus izin segala, ribet amat!” Sungut melvin bersedekap dada di halaman kosan meida.
“Harus lah, kalau gak izin nanti kita di grebek warga. Emang mau grebek?” Ucap meida sambil membuka kunci pintu.
“Ogah lah ... “
“Lagian mas bawel banget ih, kayak ibu-ibu rempong! Padahal tinggal ngikut aja, apa susahnya!"
“Saya cuman nanya, kok kamu sewot sih!” Sewot melvin sambil membuka sepatu, ia masuk ke kosan meida.
Ini pertama kalinya ia masuk ke tempat wanita yang tak ia kenal.
“Nih ganti bajunya di kamar mandi biar gak masuk angin. Kamar mandinya di sebelah dapur!” ujar meida sambil menyodorkan plastik berisi pakaian yang dipinjamnya dari bapak kos.
Melvin mengambil plastik dari tangan meida dan membukanya, matanya terbelalak melihat isi plastik itu ...
“Ini celana apaan?? Kok gambar helllo kitty sih!” Ucap melvin mengangkat sebuah kolor warna pink ke arah meida.
“Dan ini apaan? Baju apa ini? Kok ada gambar partainya sih” melvin menjiwir baju berwarna kuning.
Ini untuk pertama kalinya, ia melihat jenis pakaian seperti ini.
Sang pemilik brand ternama harus memakai setelan seperti itu, hancurlah wibawaku. Umpat melvin dalam hati.
“Nggih doro ....” Ledek melvin sambil berjalan ke kamar mandi.
Meida sedang memasak, ketika melvin sedang berganti pakaian di kamar mandi. Jam 2 dini hari, disaat orang terlelap dalam mimpi, meida masih berperang dengan wajan.
“Sudah matang masakannya? Perut saya lapar nih.” Ucap melvin berdiri di samping meida, sambil memegang perutnya. Walaupun badan nya sakit, tapi perut lapar wajib di isi.
“Ckckck tamu tak tahu malu ... nyelonong ke dapur minta makan.” Umpat meida.
“Itu telor kan? Kok warna hitam.” Tunjuk melvin kearah telor yang sudah di kasih kecap oleh meida.
“Ini telor negro puas!” Meida kesal, mulut melvin bawel melebihi ibu-ibu komplek.
“Yakin ini makanan sehat dan higienis?” Tanya melvin dengan wajah polos. Sontak meida ingin menampol mukanya.
“Yang penting empat sehat lima kenyang!” Teriak meida kesal dengan ocehan melvin. Ia memukul wajan keras menggunakan spatula.
Melvin kaget ia pun langsung diam tak berkutik sama sekali.
Setelah drama panjang, akhirnya mereka makan dengan seadanya. Melvin tampak lahap, walaupun hanya makan dengan telor, sambal, dan kerupuk. Ciri khas makanan anak kos.
Setelah selesai makan, meida membantu melvin untuk mengobati luka diwajahnya.
Karena sudah dini hari, dan tak ada perdebatan. Setelah mengobati melvin, mereka pun langsung tertidur. Melvin tidur di pojok sebelah kiri, meida tidur di pojok sebelah kanan. Terhalang laci plastik yang sengaja meida letakan di tengah-tengah mereka.
-
__ADS_1
-
“Mas bangun jangan mati dulu, bangun mas udah siang ... ” Meida membangunkan melvin dengan tangan mengipas-ngipas di wajahnya, karena tak ada sahutan. Meida memberanikan diri memegang tangan melvin. Suhu tubuh melvin sangat panas.
“Mas bangun ... gak lucu becandanya, malem juga masih bisa ngomel-ngomel.” Ucap meida panik, menepuk-nepuk pelan wajah melvin yang tak sadarkan diri.
Meida keluar dari kosnya menuju rumah ibu kos untuk minta bantuan, dengan bantuan ibu kos meida membawa melvin ke Rumah sakit di pusat kota itu.
-
-
“Mom, sekarang jadwal kontrol mommy ke rumah sakit, andress antar yah.” Ucap andress sambil menyuapi sang mommy.
“Jam berapa nak?” Tanya sang mommy dengan mata berkabut tak ada gairah.
“Jam 10 nanti mom, mommy harus makan dulu yah ... “ Andres menyuapi bubur ke mulut zaina.
“Mommy harus sehat, mommy harus kuat. Karena untuk mencari keberadaan jaslin itu butuh tenaga. Kalau mommy sakit gimana nyarinya??” Ucap andress menyemangati sang mommy.
Zaina tak menyauti ucapan anaknya, ia hanya melamun dengan tatapan mata kosong lurus ke depan. Dia asik dengan dunianya sendiri.
-
-
“Suster... tolong tangani mas ini, badannya panas tinggi, dia pingsan dari tadi.” Teriak meida di lobby rumah sakit.
Meida memapah melvin di bantu ibu kos menuju suster yang sedang membawa belangkar ke arahnya.
“Baik bu akan kami tangani, harap tunggu. Silahkan ibu urus biaya administrasi nya dulu di sebelah sana.” Senyum suster itu menunjuk ke sebelah kanan, sambil menaikan tubuh melvin ke belangkar dan membawanya ke ruang perawatan.
“Ibu ... boleh meida pinjam uang untuk DP rumah sakit, nanti meida ganti setelah gajian,” ucap meida memelas ke arah ibu kosan.
Dan meida pun baru sadar, bahwa ia tak masuk kerja hari ini, akibat terlalu panik memikirkan keadaan melvin.
Biarlah ... nanti aku izin ke cafe, karena tak bisa masuk hari ini ... gumam meida pelan.
“Tapi ibu cuman bawa uang 500 ribu nda, gak papa kan?” jawab ibu kos sambil mengeluarkan uang merah 5 lembar dari dompet nya. Ia menyodorkan uang itu ke tangan meida.
“Gak papa bu ... makasih banget udah bantu meida, kalau ibu mau pulang ... silahkan ... biar meida yang nunggu mas mas tadi disini."
“Yaudah ibu pulang dulu yah ... hati-hati kamu disini.”
“Iya bu ...”
Meida mengantar ibu kosan sampai ke parkiran. Setelah ibu kosan naik kendaraan, meida kembali ke ruang pendaftaran, guna untuk membayar DP Rumah sakit.
-
-
Bersimbing
Kira-kira meida sama mommy-nya andress ketemu gak yah?
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Biar Author semangat up nya.
__ADS_1
Terima kasih untuk reader yang masih stay di novel receh ini♥️
Hatur nuhun🥰