
“Kamu kenapa nak?” Tanya sang ibu menangis pilu sambil memegang bahu zidan.
“Bu hati zidan sakit bu ... sakit sesakit-sakitnya ... penantian zidan selama ini sia-sia bu ... “ Tangis zidan pecah dipangkuan sang ibu.
“Sabar ... ikhlaskan ... tenangkan hati mu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk mu. Allah maha baik nak, mungkin Allah ingin kamu berhenti mengharapkan dia, mengharapkan sesuatu yang akhirnya menyakiti diri mu sendiri. Allah ingin kamu hanya berharap pada-Nya, bukan berharap pada makhluk ciptaannya. Itu tandanya Allah cemburu pada mu nak, karena kamu lebih mencintai makhluk daripada penciptanya.” Sang ibu memberikan petuah kepada zidan. Agar sang anak berhenti menangis, untuk tak menangisi pujaan hati yang menolak cintanya.
“Hati zidan sakit bu ... melebihi rasa sakit ketika zidan harus menikahi amel.”
“Ibu sudah bilang nak. Jika kamu mencintai dia, yang ada kalian akan sama-sama terluka. Masyarakat disini masih teguh memegang adat istiadat nak, pikiran mereka masih kolot. Apalagi kalian pernah menjadi ipar, pandangan masyarakat disini akan jelek pada kalian, mereka pasti menghakimi kalian tanpa peduli alasannya apa. Bukannya ibu mendukung keputusan meida, tapi dia sudah memikirkan dampak kedepannya seperti apa. Kamu tahukan hidup meida disini seperti apa? Dia sangat menderita nak, jangan kamu tambah penderitaan dia dengan perasaan yang kamu miliki itu. Walaupun sekarang hati mu sakit, itu hanya sebentar nak ... nanti hati mu akan membaik dengan sendirinya. Ingat! Rencana Allah lebih baik daripada rencana kita. Berserah dirilah pada-Nya, mintalah yang terbaik.” Nasihat bu zian dengan membelai kepala sang anak yang berada dipangkuannya. Ia pun menangis, meratapi nasib percintaan sang anak yang tak pernah mulus.
-
-
“Ko, aku merasa nyaman tinggal disini. Bagaimana dengan koko?” Tanya jonathan yang duduk di balkon sambil menyeruput susu coklatnya.
Kebiasaan baru jonathan setiap sore adalah diam di balkon untuk mendengarkan suara adzan yang menggema di sekeliling villa.
“Koko juga nyaman disini jo. Hidup koko berasa aman, jiwa koko berasa tentram, hati koko berasa damai. Jadi gak mau pulang hehe.” Jawab melvin santai sambil tersenyum. Ia duduk selonjoran dilantai yang beralaskan papan.
“Ko kenapa yah hati jo selalu bergetar ketika mendengar suara ini. Jo suka sekali mendengarnya, jo tiba-tiba ingin menangis setiap mendengar suara ini. Suara ini mampu menenangkan hati jo dari kekosongan yang membelenggu jiwa jo selama ini,” ucap lirih jonathan seiring dengan suara adzan ashar berkumandang.
“Koko juga sama jo. Koko kira cuman koko aja yang ngerasain ini, tapi ternyata kamu juga sama. Lihatlah bulu tangan koko sampai merinding mendengar nya.” Sahut melvin sambil menunjukkan bulu ditangannya yang berdiri ketika mendengar suara adzan.
Entah apa yang kurasa? Dulu aku pikir tidak memiliki agama itu jauh lebih baik, hidup ku netral tanpa sebuah keterikatan pelaturan satu agama pun. Tapi apa yang kurasa sekarang, aku tertarik dengan agama ini. Mungkin ini terdengar konyol, tapi ... aku jatuh cinta dengan Islam. Batin jonathan sambil memegang jantungnya yang berdetak cepat.
“Ko, walaupun keluarga jo identitas agama di KTP nya adalah Katholik. Tapi jo tak mempercayai adanya Tuhan. Jo penganut atheis dari zaman SMP. Tapi jo sering manggil nama Tuhan, jo bingung nama Tuhan mana yang sering jo panggil dan sebut itu,” ucap jonathan sambil memandang ke depan, ke tempat pemukiman penduduk yang sedang ramai-ramai berjalan ke arah masjid.
“Serius jo kamu seorang Atheis?” Kaget melvin menatap dalam jonathan yang berada didepannya.
“Serius ko. Jo belajar dari perilaku keluarga jo. Keluarga jo hanya sibuk mengumpulkan kekayaan tanpa menghiraukan adanya Tuhan, yang ada dalam pikiran mereka, bahwa harta segalanya bukan Tuhan, tuhan ntah nomor ke berapa. Jo pikir, jika mereka mempercayai adanya Tuhan, mana mungkin mereka mengabaikan jo seperti ini. Bukankah Tuhan mereka mengajarkan manusia untuk saling menyayangi, saling mengasihi, saling mencintai, saling menjaga. Bukankah Tuhan mereka tidak mengajarkan manusia untuk saling mengabaikan dan membiarkan. Dari sana jo memilih untuk tidak mempercayai Tuhan sama sekali. Jika Tuhan memang ada, mana mungkin hidup jo menderita seperti ini. ” Jonathan bicara dengan suara parau dengan senyum getir yang menghiasi bibirnya. Ia melihat sebentar kearah melvin lalu menatap lagi ke depan.
“ Tapi kamu sering pergi ke gereja kan?” Tanya melvin menatap jonathan dari samping. Ia mengalihkan pembicaraan, karena tak enak dengan jonathan.
Aku yakin hati anak ini sedang tak baik-baik saja. Dia sedang terluka, dan ia memendamnya sendirian.
“Dulu waktu Elementary school jo rajin ikut sekolah Minggu, tapi semenjak duduk di bangku high school sampai sekarang jo tidak pernah pergi lagi ke gereja. Ketika Misa pun, ketika orang beramai-ramai pergi ke gereja, jo tetap berdiam diri di rumah.” Terang jonathan sambil menutup mata. Ia menikmati angin yang memainkan ujung rambutnya.
“Terus ketika hari natal kamu ngapain jo?”
“Jika natal, jo hanya diam di pinggir danau. Jo menghindari keramaian yang notabenenya membuat hati jo semakin kosong. Ketika di keramaian hati jo selalu berkata, "Ngapain loh disini? Buat apa ngumpul ditengah-tengah orang asing." So, jo selalu memilih memisahkan diri dari mereka, jo suka sendirian, karena sudah terbiasa sendiri. Kebiasaan jo hanya diam merenung, memikirkan ujung hidup jo yang tak tahu akhirnya seperti apa. Jo menjadi orang tertutup semenjak tinggal di korea,” ucap lirih jo dengan mata berkabut.
Ternyata benar. Kamu terluka jo, luka yang dibuat keluarga mu sendiri. Ternyata keluarga Atmaja tak seindah yang kubayangkan dan kulihat.
“Korea jo? Berapa lama kamu tinggal disana?” Tanya melvin setelah sadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Jo selalu pindah-pindah tempat ko.” Terang jonathan membalikkan tubuhnya. Agar ia lebih leluasa bicara dengan melvin.
“Ohh ... kenapa kamu jadi seorang Atheis jo?” Tanya melvin serius sambil melipat kakinya untuk bersila. Ia menatap jonathan tanpa berkedip.
“Yang pertama pengaruh lingkungan, yang kedua kurang didikan, yang ketiga faktor kesepian. Koko tahu sendiri kan, kalau di sana anak muda banyak yang tidak memiliki agama. Mungkin jo terbawa pergaulan disana, pergaulan bebas untuk menentukan hidup sendiri. Apalagi hidup jo kurang bimbingan dan kasih sayang dari orang dewasa, yahh beginilah jadinya ....” Jawab jonathan santai sambil memainkan tali sepatu yang dipakainya.
“Jo, koko pernah dengar selentingan tentang hilangnya cici kamu, apa itu benar?” Tanya melvin mengutarakan pertanyaan yang ingin ditanyakannya dari tadi.
“Cici jo memang hilang 20 tahun lalu, ketika jo belum dilahirkan. Perbedaan umur kita sekitar 5 tahunan, dan keberadaan cici jo sampai sekarang belum ditemukan,” ujar sendu jonathan duduk di lantai berhadap-hadapan dengan melvin.
“Apa keluarga mu tidak mencari cici mu jo? Masa sampai 20 tahun gak ditemukan, padahal keluarga kamu kaya loh!”
“Keluarga jo sudah mencarinya, tapi yah beginilah hasilnya ... sampai sekarang belum ditemukan.”
“Kenapa cici mu sampai hilang jo?” Tanya melvin sambil menompang dagu, menatap dalam wajah jonathan.
“Biasa ko, karena keegoisan keluarga. Koko pasti tahu keegoisan orang kaya itu seperti apa? Mereka ingin sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya, walaupun bertentangan dengan hukum Tuhan. Koko pasti ngertilah jalan pikirannya seperti apa? Dalam otaknya kan gak jauh dari kekayaan, punya penerus bisnis, banyak warisan, bisnis maju, jadi orang paling kaya.
Jo suka berpikir, mereka kan mempercayai adanya Tuhan. Bukan kah tuhan maha berkehendak? Tapi kenapa mereka tak menghargai apa yang Tuhan kehendaki,” ucap jonathan sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.
“Maksud kamu gimana jo?” Tanya bingung melvin mendengar ucapan jonathan.
“Jo gak mau ceritain ko, ini aib keluarga. Lagian jo takut, keluarga koko adalah rival perusahaan keluarga jo.”
“Yah koko gak selicik itu kali. Koko gak suka pakai cara kotor untuk menjatuhkan lawan. Koko sukanya bersaing secara sportif.” Senyum melvin sambil memukul pelan tangan jonathan.
“Kalau itu tergantung orangnya jo. Ilmu bisnis kamu pasti mumpuni, kamu keturunan dari keluarga pembisnis hebat loh,” ucap melvin mengalihkan pembicaraan dengan memuji keluarga jonathan.
Ia tersenyum kearah jonathan, untuk memberitahu bahwa tidak semua pembisnis seperti itu.
“Tapi sayang ko. Jo tidak berminat dengan perusahaan keluarga, bukan style jo disana. Jo hanya ingin jadi manusia biasa, dengan usaha yang jo miliki sendiri, yang bukan berasal dari keluarga ataupun warisan.” Jawab jonathan mengutarakan keinginannya.
“Terus bagaimana kamu bisa mengenal meida?” Tanya melvin memandang penasaran kearah jonathan.
“Awal pertemuan kami sangatlah konyol. Jo melihat cici sedang menangis di danau, jo samperin.. karena jo kira kita seumuran, tapi nyatanya umur cici jauh lebih tua dari jo. Malahan jo udah ajakin cici buat pacaran, jo udah nembak dia, karena muka cici masih unyu-unyu kayak anak SMA hahaha.” Tawa jonathan menggema walaupun dalam hatinya masih terasa kekosongan.
“Itu meida mau jadi pacar kamu?”
“Mana mau cici sama jonathan ko. Cici nolak jo mentah-mentah. Dia malah nyuruh jo buat fokus sekolah dan jangan main cinta-cintaan. Malahan jo dapat ceramah gratis dari cici meida. Tapi dari sana, kami saling berbagi cerita, dan kami sama-sama nyaman. Dan akhirnya keterusan sampai sekarang. Menurut jo, cici meida mempunyai daya tarik yang bisa mengikat jo, jo merasa terikat dengan dia. Jo nyaman bila dekat dengan cici meida, dengan sifat lembut dan mengayomi yang dimilikinya itu membuat jo merasakan arti sebuah kasih sayang yang tak jo dapatkan. Cici sudah jo anggap sebagai keluarga sendiri.” Jonathan menarik napas, lalu membuangnya. Ia pun melanjutkan ceritanya.
“Cici meida menganggap jo sebagai adiknya sendiri, begitu jo.. jo sudah menganggap cici meida sebagai kakak jo sendiri.” Jawab jonathan dengan senyum lebar setelah menceritakan tentang meida.
“Jo kamu ngerasa ada ikatan gak sih sama meida? Koko perhatikan kalian itu seperti ada hubungan spesial yang susah diartikan. Seperti hubungan kakak beradik yang sesungguhnya.”
“Yah sama ko. Itu yang jo rasakan sekarang. Kami merasa ada ikatan satu sama lain.”
__ADS_1
Karena cici meida adalah cici jo yang hilang ko.
“Koko sering merhatiin kalian, wajah kalian mirip loh, wajar kalau ada keterikatan. Apa jangan-jangan kalian emang sama-sama sudah terikat?” Tanya menyelidik melvin dengan menautkan satu alis, memandang wajah jonathan dalam.
“Bagaimana menurut koko jika kita memang kakak beradik yang sesungguhnya?” Tanya balik jonathan yang kini menatap tajam melvin.
Apa argumen ku benar bahwa mereka kakak beradik yang sudah lama dipisahkan? Tapi kenapa hatiku bisa seyakin ini, mereka benar-benar kakak beradik.
Setelah di Surabaya nanti, akan kutelusuri semua kejadian janggal ini satu persatu. Janji melvin dalam hati.
“Koko sih gak bisa berpendapat apa-apa. Jika kalian memang adik kakak, yahh koko hanya bisa bersyukur, setelah sekian lama akhirnya kalian dipertemukan. Tapi penghalangnya menurut koko cuman satu, yaitu
keyakinan kalian yang berbeda.”
“Kalau keyakinan bisa diatasi ko. Yang terpenting kita saling menyayangi satu sama lain.”
“Jo ponsel kamu berbunyi tuh ...” ucap melvin menunjuk kearah ponsel berdering yang terletak di depan jonathan. Jonathan mengambil ponsel itu menatap layarnya dan tertegun lama.
Daddy. Lirih jonathan membaca nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
“Bentar yah ko, jo angkat telpon dulu.” Ucap jonathan sambil mengangkat telepon itu.
Tumben-tumbenan daddy nelpon aku. Batin jonathan heran sambil meletakan ponsel itu di telinganya.
“Hallo Jonathan! Kamu dimana sekarang hah!" Teriak keras suara lelaki di ujung sana.
-
-
Lanjut lagi nanti malam yah 😁
Satu part setelah ini ceritanya back to Suroboyo lagi yah.
Tentang ...
Pencarian meida yang sesungguhnya.
Perjuangan cinta melvin meluluhkan hati meida.
-
Kira-kira bi ina di ajak gak yah ke Suroboyo? Soalnya cuman dia yang mengetahui kunci hidup meida setelah kepergian orang tua angkatnya.
Kuyylah jempolnya jangan pelit-pelit 🤗♥️
__ADS_1
Biar jadi amunisi buat cerita malam nanti hehe
Hatur nuhun sadayana😘♥️