Kita Berbeda

Kita Berbeda
Di Pecat


__ADS_3

“Permisi sus ..” Sapa meida kepada wanita cantik bername tage zahra


“Ada yang bisa saya bantu bu?” Tanya suster itu ramah


“Gini sus ... saya mau daftar, sekaligus bayar administrasi pasien yang barusan di tangani,” ucap meida menatap wajah suster tersebut.


“Maaf bu, pasien yang mana yah? Soalnya disini pasien banyak,” ucap suster dengan dahi mengernyit menatap meida.


“Pasien barusan sus ... yang pake baju kuning celana pink,” ujar meida menyebut ciri-ciri pakaian yang melvin kenakan.


“Kalau boleh tahu, atas nama siapa bu?” Tanya suster itu heran dengan ucapan meida, ia lalu mengambil formulir.


“Emmm ... saya gak tau namanya sus, soalnya dia korban pengeroyokan, maka nya saya tolongin. Gini aja sus ... pendaftarannya  bisa pake identitas saya? Soalnya saya penanggung jawab nya?” Meida mengeluarkan KTP di tas selempang nya, menyodorkan ke tangan suster tersebut.


“Kalau bisa pake data pasien bu.” Sahut suster sambil mengambil KTP meida.


“Mana data nya sus? Gimana mau tanya, pasiennya juga pingsan! Ini pake KTP saya aja sebagai jaminan. Sekalian saya bayar DP nya dulu sus, kurangnya nanti nyusul,” ucap meida sambil mengeluarkan uang dari dompet lusuh nya.


-


“Gimana keadaan pasien Dok?” Tanya meida menghampiri dokter laki-laki yang keluar dari ruang perawatan melvin.


“Pasien kelelahan dan mengalami dehidrasi, lukanya tidak terlalu parah, dan tidak ada luka dalam. Untuk lukanya dalam beberapa hari akan kembali normal.” Terang dokter mengenai keadaan melvin.


Padahal malem dia makan banyak, kenapa dehidrasi?  Ucap meida dalam hati.


“Untuk pasiennya sudah siuman Dok?” Tanya meida menatap sang dokter.


“Untuk sekarang belum, biarkan pasien istirahat. Saya permisi dulu!” Ucap dokter meninggalkan meida menuju ruang kerjanya.


“Baik dok, terima kasih”


Meida masuk ke ruang perawatan melvin, ia menatap melvin dengan perasaan bersalah. Andai melvin tak menolongnya, keadaan melvin tidak akan seperti ini.


Meida mengambil kursi, lalu duduk di samping melvin. Meida menangis dengan kepala tertunduk.


Walaupun diluaran meida terlihat kuat, tapi nyatanya hatinya rapuh. Terlalu banyak luka yang ia sembunyikan diwajah pura-pura bahagia nya.


Perlahan-lahan melvin membuka mata, ia diam terpaku melihat ke arah meida yang sesenggukan. Meida tak menyadari kalau melvin sudah sadar.


Wanita perkasa ini ternyata bisa nangis juga. Ucap melvin dalam hati.


Melvin tak tega melihat meida menangis, ia mengusap lembut kepala meida yang terhalang hijab.


“Jangan nangis, saya gak papa ...” ucap melvin dengan suara lemah. Sontak meida mendongkak kan wajah menatap melvin. Suara tangis meida semakin keras.


Gak papa gimana? Orang kamu pingsan oon. Bikin orang khawatir aja! Sungut meida dalam hati. Ia gengsi mengungkapkan kekhawatirannya pada melvin, ia mengutarakan lewat sebuah tangisan.


Melvin di buat serba salah karena tangis cempreng meida semakin keras.


“Saya gak papa, liat ... saya sudah bisa bangun,” ujar melvin memperagakan bangun dari tempat tidur, walau tubuhnya masih terasa ngilu.


Tangis meida semakin pecah, memenuhi ruangan itu.


“Kamu kenapa?” Tanya melvin frustasi, tangisan cempreng meida membuat kepalanya cenat cenut.


Aku yang sakit, kenapa dia yang nangis. Sebegitu nya dia mengkhawatirkan ku. Batin melvin, refleks bibirnya tersenyum.


“Aku ngutang buat bayar administrasi mas, baru DP lagi ...  aku belum gajian.” Terang meida menatap melvin tanpa rasa bersalah.


Yaa Tuhan ... aku kira dia menangis mengkhawatirkan ku, tapi ternyata memikirkan ... Ahh sudahlah! Ternyata wanita ini menyebalkan! Malahan aku sudah terbang ke awang-awang, ehh ... tiba-tiba di hempaskan. Sungut melvin dalam hati.


Melvin menarik napas panjang, memasang wajah masam.

__ADS_1


“Jangan mengkhawatirkan masalah biaya, santai aja. Kalau pun gak ke bayar dan mereka menahan kita, itu kabar baik bukan? Kita bisa tinggal disini, kita bisa tidur disini. Enak kan gak perlu ngekos?” Sahut melvin dengan wajah santai. Ia kesal karena meida tak mengkhawatirkan nya.


Hanya orang gendeng yang mau tinggal di rumah sakit! Umpat meida dalam hati.


“Otak saya pinterkan?” ujar melvin menggoda meida.


“Cangkem mu mas, aku gak mau tidur disini! Lagian aku sehat, ngapain harus tinggal disini! Nanti kalau aku di suruh jadi penjaga kamar jenazah gimana hah! Mau tanggung jawab?” Meida mendelikan mata ke arah melvin.


Suasana kembali hening


Mereka terdiam, memikirkan solusi, mencari alternatif ...


“Sini saya pinjem ponsel kamu.” Melvin menyondorkan tangannya ke wajah meida


“Buat apa?” Tanya meida membulatkan mata nya.


“Buat nelpon lah masa buat di jual!” Kesal melvin


“Ponsel aku rusak mas, kan mas yang lempar ke jus strawberry. Jangan pura-pura lupa deh! Sampe sekarang pun belum mas ganti!” Ucap meida bersedekap dada, dengan bibir manyun.


“Bilang dong dari tadi, jangan bertele-tele, banyak alasannya lagi!” Ujar melvin greget ingin memakan meida bulat-bulat.


Yaa Tuhan ... lama-lama aku bisa gila menghadapi wanita ini! Sungut melvin pelan, memegang kepala dengan sebelah tangannya.


-


“Mas makan dulu yah, minum obat, abis itu langsung istirahat.” Tawar meida dengan senyum dipaksakan.


“Tangan saya di infus, saya gak bisa makan sendiri.” Jawab melvin memalingkan wajah menghindari meida, karena masih kesal.


“Yaudah ... biar aku suapin yah.” Suara meida melunak, ia membantu melvin duduk bersandar di ranjang.


Meida meyuapi melvin bubur yang disediakan rumah sakit dengan telaten. Melvin dengan senang hati menerima suapan meida, walau awalnya menolak.


Setelah selesai, meida mengambil gelas di nakas dan menyondorkan ke mulut melvin.


“Mas habis ini aku keluar yah, gak papa kan aku tinggal sendiri?” Tanya meida sambil merapikan bekas makan melvin


“Emang mau kemana? Penting apa enggak?”


“Mau ke cafe, mau izin kalau hari ini gak bisa masuk kerja. Gak papa kan kalau aku tinggal? Jangan takut, aku gak bakalan kabur, lagian KTP aku udah di tahan ... kabur juga percuma! Sekalian aku mau ngutang. Jangan kangen, nanti aku juga balik lagi kesini.” Ujar meida menggoda melvin dengan sedikit nyinyiran.


“Ckckck kepedean. yaudah ... hati-hati. selalu siap dan waspada, karena kejahatan mengintai dimana-mana. Jangan berkelahi karena pangeran berkuda putih tak bisa menolong mu, dia terbaring disini.” Ucap melvin mengejek meida, yang sedang menatapnya kesal.


“Aku pergi dulu mas.” Pamit meida sambil meninggalkan melvin.


“Semangat, semoga ngutangnya sukses.” Ucap melvin sambil mengangkat satu tangan di udara, yang sontak mendapat pelototan dari meida.


-


Meida meninggalkan rumah sakit dengan penuh harap.


Mudah-mudahan mas heri bisa bantu aku, buat ngasih pinjaman. Doa meida dalam hati.


-


Sementara di parkiran seorang wanita dipapah lelaki muda menuju lobby rumah sakit.


“Mom dokter ane sudah nunggu di lantai 3, kita langsung kesana aja yah, jangan ke ruang daddy dulu, soalnya daddy udah stay disana,” ujar sang anak menuntun sang mommy masuk ke dalam lift.


“Yaudah ...  mommy langsung ke lantai 3 kalau daddy udah disana.” Ucap sang mommy dengan wajah pucat yang tersamarkan oleh make up.


“Iya ... Andress dan daddy akan pantau perkembangan kesehatan mommy, kami ingin yang terbaik buat mommy.” Senyum hangat sang anak memandang wajah mommy nya.

__ADS_1


“Makasih sayang, padahal mommy baik-baik aja”


-


-


“Ckckck yang punya cafe baru dateng. Ini udah jam berapa hah?” Pak dani sang Supervisor berkaca pinggang di pintu masuk menyambut kedatangan meida, dengan wajah masam.


Meida hanya menunduk tak berani menjawab pertanyaan pak dani, karena ia tahu ia yang salah, tak ada kabar sampai jam segini.


“Saya tunggu kamu di ruangan saya sekarang!” Perintah pak dani menyuruh meida menemui nya di ruangannya.


“Baik pak”


Meida mengekor langkah pak dani yang sedang tak bersahabat itu.


“Duduk!” Tatapan tajam pak dani membuat meida tak berkutik.


“Kamu niat kerja gak sih? Masuk keluar seenaknya! Jam segini baru datang! Emang ini perusahaan nenek moyang mu! Udah bikin banyak masalah, udah dapat teguran, bukannya berusaha lebih baik, malah sakarepmu! Kalau gak niat kerja yaudah keluar aja! Saya gak keberatan! Masih banyak kok yang pengen kerja disini! Saya gak bakal kekurangan karyawan! Ngapain harus mempertahankan karyawan seperti kamu! Bukannya untung malah rugi!” Ucap pak dani marah sambil menggebrak meja. Dengan bola mata merah ia memandang tajam meida yang menunduk karena takut.


“Mohon maaf pak, sebenarnya saya kesini bukan untuk masuk kerja. Tapi saya hari ini izin tidak bisa masuk, karena ada keperluan. Saya tidak punya ponsel untuk menghubungi bapak, makanya saya datang kesini, untuk minta izin langsung ke bapak,” jawab meida dengan suara bergetar menahan tangis.


“Kalau mau izin harus jam segini gitu datangnya? Kenapa gak dari pagi?  Sayaa tak ingin menerima alasan apapun dari kamu! Saya kecewa dengan kinerja kamu yang seenaknya! Mulai sekarang dan seterusnya kamu tak perlu masuk kerja lagi! Saya membebaskan kamu dari pekerjaan ini!” Ucap pak dani masih berdiri, dengan tangan bersedekap di dada.


“Maksud bapak?? Saya mohon pak, saya masih butuh pekerjaan ini, saya masih ingin kerja disini.” Dengan berderai air mata meida menangkupkan kedua tangan di depan dada, ia memohon agar tak dikeluarkan dari tempat kerjanya.


“Saya pecat kamu! Kamu jangan kerja disini lagi! Ini uang gaji mu untuk bulan ini!” Pak dani menyondorkan amplop coklat kehadapan meida.


Meida langsung bersimpuh di lantai ....


“Saya mohon pak jangan pecat saya ... saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh ... saya tidak akan mengecewakan bapak ... saya mohon pak ... saya butuh pekerjaan ini ... saya tidak akan melakukan kesalah lagi ... tolong maafkan saya pak.” Tangis meida pecah, dengan kepala menunduk menatap lantai.


“Maaf meida, keputusan saya sudah bulat tak bisa di ganggu gugat! Walaupun kamu memohon sampai nangis darah pun, itu tak akan mengubah keputusan saya!”


“Saya mohon pak ... tolong ... jangan pecat saya.” Meida menangkup kedua tangan memohon agar pak dani tak memecatnya.


“Segera keluar dari ruangan saya! Karena kamu bukan karyawan saya lagi!” Usir pak dani tanpa melihat meida, ia duduk di kursi kebesarannya.


Meida menyusut air mata dengan ujung hijabnya, dengan suara isak tangis, meida berdiri mengambil amplop coklat dan memasukkan ke dalam tas selempangnya.


Percuma meida kamu memohon ... hati pak dani sangat keras, sampai menangis darah pun tak akan mengubah keputusannya. Kamu harus berbesar hati, pekerjaan ini bukan terbaik untukmu. Mungkin Allah sedang mempersiapkan pekerjaan yang lebih baik dari ini. Ingat ... sampai kapanpun, Allah tidak akan pernah meninggalkan mu. Bathin meida menyemangati.


“Mohon maaf atas kesalahan saya selama ini, terima kasih atas bimbingan nya. Saya permisi pak."


-


-


Bersimbing..


Aduh meida di pecat kerja, mana punya utang lagi...


Hayoo reader rembuk bikin donasi buat bantu meida bayar utang😂


Jangan lupa


vote sama hadiah nya yah..


Biar author semangat up nya😜


Love buat reader yang masih stay di cerita receh ini♥️


Hatur nuhun😘

__ADS_1


 


__ADS_2