
Disinilah Johan dan Meida berada sekarang.
Meida mendorong kursi roda Johan menuju tempat yang Grace perintahkan, dengan wajah dingin dan aura intimidasinya. Sedangkan tatapan dinginnya seperti singa lapar yang siap menguliti hidup-hidup siapa saja yang berniat mengusiknya. Tidak ada lagi wajah meida yang imut nan lugu, kini wajahnya berubah dalam sesaat.
Beberapa anak buah Grace yang berjaga di depan pintu masuk di buat ragu ketakutan kala mengiring langkah Meida dan Johan bertemu dengan bos nya. Karena mereka tahu, keempat temannya dapat dilumpuhkan oleh gadis itu hanya dalam waktu beberapa detik.
Senyum senang terlihat di wajah Grace yang sedang menyilangkan kakinya. Ia bangkit dari kursinya, menanti tamu yang sejak tadi dinantikannya.
“Selamat datang cucuku tercinta ... Anak tiriku tersayang. Johan dan Jaslin!” Grace merentangkan kedua tangannya kearah Meida dan Johan seolah ia memiliki hubungan dekat dan harmonis pada mereka. Walaupun nyatanya bertolak belakang.
Raut wajah Johan dan Meida berbanding terbalik dengan kesenangan yang terlihat di wajah Grace. Mereka terlihat begitu marah, dan siap memuntahkan segala kemarahannya saat itu juga.
“Dimana Putra dan Keponakanku?” Tanya Johan dengan wajah dingin dan tangan mengepalnya. Jika ia mampu, ia ingin sekali membunuh iblis berkedok manusia yang ada di depannya. Grace berjalan kearah Jack sambil mengibaskan kedua tangannya dengan senyum culasnya.
“Jangan terburu-buru! Biarkan saya menerima lebih dahulu kesepakatan kita sebelumnya.” Grace kembali duduk di kursinya dengan kaki bersilang dan wajah angkuhnya.
Johan menyentakkan berkas yang berada di pangkuannya tepat di meja Grace,
“Cepat selesaikan ini! Nyawa anak dan keponakan saya lebih berharga dari pada harta ini! Saya bukan sosok gila harta sepertimu!” Teriak Johan. Meida dengan lembut mengelus bahu pamannya, agar tidak terlalu terpancing dengan tingkah provokatif grace. Grace mengambil berkas itu dengan senyum sumringah.
“Dengan senang hati saya akan segera mengalihkannya!” Senyum Grace kembali melebar ketika dia memberi syarat kepada anak buahnya untuk memeriksa berkas itu.
Grace tak bisa menahan senyum lebarnya, ketika berkas pengalihan harta warisan yang diwariskan oleh Max untuk Lily, Jaslin, dan Johan kini telah menjadi miliknya secara legal. Dan lagi laporan tindak kriminalnya telah di cabut dari kantor polisi, hingga namanya kini kembali bersih. Itu semua semakin melengkapi kebahagiaannya, semua berjalan sempurna sesuai rencananya.
“Kau sudah menerima semuanya Nenek Tua! Sekarang bawa Adik dan sepupu saya kemari! Harta itu tak berharga bagi saya dan paman Johan! Ambil semua harta itu, jika harta itu membuatmu puas!” Geram Meida dengan suara tak sabarannya. Ia ingin segera melihat adik dan sepupu lelakinya yang sudah beberapa hari ini tak dilihatnya.
“Kau sangat tidak sabaran sekali cucu manisku!” Ujar Grace yang kemudian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Biru dan Jonathan ke tempat mereka, kehadapan Johan dan Meida.
Tak lama kemudian, anak buah Grace datang mengapit Jonathan dan Biru di tengah penjagaan mereka, yang tak jauh dari posisi Meida dan Johan.
Keheningan pun kembali datang ketika Meida tak bersuara dan memusatkan perhatiannya dengan mengawasi Jonathan lekat-lekat. Hatinya tiba-tiba sakit melihat keadaan adiknya sedang tidak baik-baik saja dengan kedua mata kepalanya sendiri.
Mata Meida memerah dengan menggertakkan gigi dengan tangan mengepal marah ketika melihat wajah adik dan sepupunya yang memar dan darah tampak membeku di ujung matanya. Tangan mereka masih sama-sama terikat dengan bibir yang masih di tutup lakban laksana seorang tawanan yang akan di hukum mati.
Sekuat tenaga Meida menahan ledakan kemarahannya yang berkobar dan berusaha bersikap tenang.
“Berikan mereka padaku!” Titah Meida dingin dengan pandangan yang tak lepas pada wajah pucat adik dan keponakannya.
Grace malah terkekeh, lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa Jonathan dan Biru ke belakangnya.
“Tak semudah itu sayang! Kau dan Johan harus menandatangani berkas ini! Sebagai bentuk kesepakatan kita bersama!”
“Jangan membuang-buang waktu kami! Kami sudah memberikan apa yang kau pinta! Sekarang bebaskan Putra dan Keponakanku wanita sundal!” Teriak Johan sambil melempar asbak yang ada di depannya kearah Grace. Grace malah kembali melepar sebuah berkas kearahnya.
“Ayoo tanda tangani! Jika kalian ingin semuanya cepat usai!” Perintah Grace dengan penuh penekanan sambil melipat tangannya. Kemudian dia tersenyum dengan dinginnya.
“Padahal saya ingin bermain-main dulu denganmu sebagai bentuk ucapan perpisahan kita.” Kekeh Grace sambil menghisap cerutunya. Asapnya ia tiupkan ke udara dengan wajah mengejeknya.
Meida dan Johan langsung menandatangani Berkas itu yang tak lain adalah perjanjian bahwa Seluruh Aset keluarga Atmadja adalah miliknya.
“Cepat lepaskan mereka Nenek tua! Kami tak memiliki energi lebih untuk meladenimu!” Grace langsung mengambil berkas itu dan tertawa.
“Sebentar lagi cucuku! Aku ingin memberi sesuatu pengakuan pada mu! Kau tak perlu berbuat banyak, hanya perlu melihatnya saja!” Grace menyuruh anak buahnya untuk memegang kedua tangan Meida dan membiarkan Johan duduk di atas kursi roda di tengah-tengah mereka.
“Lepaskan keponakan saya berengsekk?” Murka Johan yang melihat keponakannya di seret. Meida tidak bisa melakukan perlawanan karena cekalan itu amat kuat. Ia menunggu kedua lelaki itu lengah untuk membanting tubuhnya.
“Tenang saja! Nanti saya akan melepaskannya! Kau tak perlu takut anak tiriku sayang!”
“Lepaskan kami!! Kau mengingkari janjimu! Berhentilah berbuat kejahatan! Umurmu sudah tua! Kulitmu sudah keriput! Nafasmu sudah bau tanah! Seharusnya kau banyak berbuat baik agar meringankan dosa mu! Ingat, kau tak akan hidup selamanya! Kau akan mati Nenek Tua!” Teriak Meida yang tubuhnya di seret ke belakang tubuh Grace. Sementara Jonathan dan Biru hanya bisa menangis karena mereka tak memiliki kekuatan untuk melawan dengan kondisinya yang seperti itu.
Grace langsung berjalan kearah Meida dengan tangan mengepal lalu menampar pipinya dengan keras, hingga sudut bibir meida pecah dan berdarah.
“Jaga ucapanmu! Jika kau tak ingin benar-benar mati disini! Atau kau ingin di kuburkan disini bersama paman kesayangan mu itu?!” Meida meludah ke samping Grace dengan wajah mengejeknya.
“Saya tidak takut dengan ancaman mu Nenek tua! Apa yang harus saya takutkan darimu? Umurmu saja sudah tua, satu kali sentilan mungkin tulangmu sudah patah semua.” Kekeh Meida dengan senyum meledeknya kearah Grace yang wajahnya benar-benar sudah memerah dan terlihat sangat menyeramkan.
“Apa ini hasil didikan orang tua mu? Memalukan! Kau tak punya etika sama sekali!” Sungut Grace memandang wajah cucunya dengan sinis.
“Apa saya harus punya etika untuk menghadapimu? Kelakuanmu saja lebih buruk dari pada binatang! Apa yang harus saya hormati dari mu?” Decih Meida sambil meludah kembali ke samping Grace yang langsung di hadiahi tamparan olehnya.
“Jangan kau menyakiti keponakan ku wanita biadab! Saya sudah memenuhi segala keinginan mu! Sekarang lepaskan mereka! Apa yang kau mau sebenarnya hah!” Teriak Johan sambil melempar sepatunya kearah grace, dan mengenai kepalanya. Dengan wajah yang masih memerah Grace membalikkan tubuhnya kearah Johan. Ia menatap tajam mata Johan dan menamparnya keras seperti apa yang dilakukannya pada Meida.
“Jangan kau sakiti Pamanku nenek tua! Atau saya akan membunuhmu! Dan melempar Jadas-mu kelautan!!” Meida berusaha melepas cekalan tangannya dari dua orang lelaki yang berpostur tinggi besar itu. Grace menolehkan kepalanya kearah Meida dengan senyum iblisnya.
__ADS_1
“Jangan harap! Mark putar video itu!” Perintah Grace dengan suara melengkingnya. Ruang itu tiba-tiba gelap dan sunyi dan terlihat jelas putaran video beberapa tahun silam.
“Johan kamu harus hidup Nak!”
“Ibu sangat mencintaimu!”
“Berjuanglah!”
“Maafkan ibu ... meninggalkanmu sendirian!!"
Mata Johan memerah dengan air mata yang berlinang, mendengar ucapan lirih ibunya yang wajahnya di telungkup bantal oleh Grace dengan sekuat tenaga. Ia melihat perjuangan hidup ibunya di tengah kondisinya yang sudah lemah akibat ulah biadab grace.
“Jadi kau yang membunuh ibuku? Ibuku mati bukan karena kurang penanganan, tapi karena ulah mu! Kau manusia, tapi perbuatanmu seperti iblis!” Murka Johan sambil memukul pelan dadanya yang sesak. Fakta bertahun-tahun kini telah terungkap, ibunya mati bukan karena penyakitnya, tapi ulah dari wanita yang sangat dibencinya.
Ya Tuhan, kenapa kau buka tabir ini sekarang? Kenapa tidak dari dulu! Jika aku tahu dia yang membunuh ibu, sudah kubunuh dia dari dulu. Gumam pelan Johan melihat nanar rekaman video ibunya yang terkulai tak bernyawa dalam tekanan erat tangan Grace.
Meida, Jonathan, dan Biru terkejut menyaksikan video itu. Mereka tak menyangka dengan perbuatan yang dilakukan oleh Neneknya sendiri. Meida menatap Johan dengan pandangan iba, ia tahu pamannya pasti terluka mengetahui fakta tentang kematian ibunya yang baru terbongkar sekarang.
“Bagaimana Johan, apa kau terkejut? Saya hanya ingin memberitahumu di balik kematian ibu mu. Dan Bodohnya kamu hanya menerimanya tanpa menyelidikinya. Malang sekali nasibmu! Di saat kau sedang mengemis bantuan pada keluarga saya, dan disana saya membantumu untuk melepaskan nyawa ibu mu. Agar kau tak kerepotan. Kurang baik apa saya? Saya membatumu mengurangi beban yang ditanggung mu. Seharusnya kau berterima kasih pada saya! Karena saya kau bisa hidup terbebas hahaha!” Johan menatap nyalang kearah Grace yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan puasnya. Perasaann Johan campur aduk sekarang. Api amarahnya berkobar, ia ingin sekali membunuh wanita tua yang ada dihadapannya sekarang.
“Wanita laknat! Pantas saja kau tak pernah hidup bahagia, karena perilakumu seperti iblis! Kau membunuh ibuku karena kau iri padanya, Kan? Daddy lebih mencintai ibuku daripada mencintaimu? Perbuatanmu sangat murahan! Seharusnya kau berkaca diri! Sudah mengambil suami orang dengan paksa, dan sekarang kau ingin menguasai hartanya! Dasar tak tahu malu!” Geram Johan yang mendapat delikkan tajam dari Grace. Grace melempar keras cerutunya kearah Johan. Dan berjalan kearahnya sambil mendorong tubuhnya keras hingga Johan jatuh dari kursi rodanya.
“Tutup mulutmu! Saya tak iri dengan perempuan miskin dan bodoh seperti ibumu! Dan harus kau tahu, Max lebih memilih saya daripada ibumu!” Geram Grace sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Johan malah terkekeh dengan ucapan grace, ia berusaha memperbaiki posisi duduknya di lantai dan memandang kearah nya dengan mengejek.
“Hahaha kau tak salah bicara? Jika Daddy lebih memilihmu daripada ibu saya, kenapa dia lebih memilih hartanya diwariskan pada kami bukan padamu? Seharusnya kau sadar, kau hanyalah pengganggu di kehidupan rumah tangga orang! Sampai kapanpun kau akan tetap jadi pengganggu! Buktinya sekarang, seharusnya kau menghabiskan waktu bersama anak cucumu di rumah, bukan malah keluyuran menculik anak orang lain demi harta yang bukan milikmu! Grace, sadarlah kau sudah tua! Kau sudah tidak muda lagi! Buang sikap egois dan ambisiusmu! Jika kau ingin menghancurkan keluarga Atmadja sampai ke akar-akarnya, itu hanyalah hayalanmu. Asal kau tahu, keluarga Atmadja tak mudah dihancurkan! Malah toxic yang kau lancarkan pada anak, cucu dan menantumu sekarang sudah tak berpengaruh lagi! Bukan keluarga Atmadja yang hancur, tapi dirimu sendiri yang akan hancur!” Tutur kata Johan dengan santainya. Jika menghadapi grace dengan amarah itu hanya merugikannya. Grace semakin menatap nyalang kearah Johan, rahangnya mengeras dengan gigi yang bergemulutuk, matanya merah. Ia benar-benar marah dengan perkataan Johan mengenai dirinya. Ia mengambil pistol di balik jaket hitamnya, lalu mengarahkannya pada Johan.
Meida, Jonathan, dan Biru membelalakkan matanya kearah Johan. Mereka menggelengkan kepalanya kearah grace.
“Mari kita akhiri kebencian dan dendam ini dengan kematian mu! Saya dengan senang hati akan mengirimmu untuk bertemu dengan orang tuamu! Saya tak pernah menyesal telah membuat ibumu menderita! Dan saya tak menyesal sekalipun telah membunuh ibumu! Karena kalian berdua adalah penghalang bagi saya!” Johan menelan salivanya kasar. Ketika pistol itu benar-benar mengarah pada kepalanya. Inilah resiko yang dihadapinya sekarang, ketika menghadapi terang-terangan seorang wanita psikopat.
“Lakukan semaumu! Saya tak peduli! Jika memang saya harus mati di tanganmu, it's ok itu bukan masalah besar. Karena orang terdekat saya tak akan pernah tinggal diam setelahnya! Karena sekarang ataupun nanti, saya akan tetap mati!” Tutur dingin Johan dengan wajah santainya. Melihat itu meida tak bisa tinggal diam lagi, ia menginjak keras kedua kaki lelaki yang memegangnya, hingga tangannya terlepas.
“Wanita tua jangan sampai kau membunuh Paman ku! Atau akan kuhabisi kau!” Teriak Meida berlari kearah Johan. Ia melihat grace sudah menarik pelatuknya.
“Jika itu mau mu! MARI AKHIRI SEMUANYA!!” Teriak Grace menggelegar sambil menekan pelatuknya.
“Pamann Awassss!!!!” Meida langsung menjatuhkan tubuhnya memeluk erat Johan yang berada di depannya.
Dorr ... Dorr ...Dorr ..
🎵Cinta.... tegarkan hatiku
🎵Tak mau sesuatu merenggut engkau
🎵Naluriku berkata
🎵Tak ingin terulang lagi
🎵Kehilangan cinta hati
🎵Bagai raga tak bernyawa
🎵Aku..... junjung petuahmu
🎵Cintai dia yang mencintaiku
🎵Hatinya dulu berlayar
🎵Kini telah menepi
🎵Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia
“Jaslin ... “ Lirih Johan dengan mata berkaca-kaca ketika keponakan perempuannya limbung dipelukannya. Jonathan dan Biru menangis histeris melihat keadaan cici-nya. Mereka tak bisa berbuat apapun, karena tubuh mereka masih diikat oleh tali.
“Siall! Gadis bodoh itu malah menghalangiku! Tunggu saja Johan, sebentar lagi giliran mu!” Geram Grace yang kembali menarik pelatuknya. Ia kembali mengarahkan pistolnya kearah Johan yang masih terhalang oleh tubuh Meida.
“Paman ... Jangan pernah menyalahkan diri paman ... ini semua sudah menjadi takdir saya ... jika saya harus mati di tangan wanita itu ... Saya mohon setelah ini ... paman berbaikanlah dengan Daddy ... karena Daddy pun sangat menyayangi paman ... maafkan kesalahan Daddy yang dahulu paman ... “ Lirih Meida dengan suara terbata-bata. Air matanya mengalir di wajah putihnya yang nampak seputih kapas. Lalu ia menolehkan kepalanya kearah Jonathan dan Biru yang sedang menangis kearahnya, dengan senyum yang menyayat hati.
Ci ... Jo mohon bertahanlah!! Mari kita rangkai keluarga bahagia yang saling melengkapi seperti mimpi kita dulu ... Jo mohon!! Gumam Johan dengan suara tak jelasnya.
Meida menatap kearah Jonathan, ia seakan melipat wajah melvin pada diri adiknya.
Lelaki bodoh ... maaf, saya mengikari janji kita ... maaf saya tak bisa menunggumu lebih lama lagi ... jika kematian itu datang, tolong ikhlaskan saya ... lanjutkan hidupmu walaupun tanpa saya. Saya mencintai mu, kan selalu saya bawa nama mu di hati saya. Terima kasih untuk hari-hari yang indah itu, terima kasih telah mengajarkan saya arti cinta sesungguhnya. Menikahlah ... walaupun tidak dengan saya ...
__ADS_1
Daddy ... Mommy, mungkin pertemuan kita memang singkat, tapi saya sangat menyayangi kalian. Dan saya akui sekarang, saya tak menyesal terlahir dari keluarga kalian ... Terima kasih telah berubah ... Terima kasih untuk kasih sayang yang singkat ini ... Tolong sayangi Koko dan Jo dengan baik, tolong jaga mereka ...
Bi Ina, mungkin saatnya sekarang meida menyusul Ummah dan Abi ... menyusul Kak Adib yang lebih dulu menunggu Meida disana ... Maaf, Meida belum bisa membalas semua kebaikan bibi... cukuplah Allah yang membalasnya ... Jangan pernah merasa sendirian lagi, karena sekarang akan ada Jonathan ... Daddy ... Mommy ... Ko Andress .. Jack dan paman yang akan menjaga bibi ... Mereka sangat menyayangi bibi ...
Ummah ... Abi ... Kak Adib ... Meida datang. Jemput Meida sekarang ...
Meida kembali menolehkan lemah kepalanya kearah Johan dengan senyum manisnya, seperti senyum sebuah perpisahan. Johan semakin erat memeluk keponakannya dengan bercucuran air mata.
“Jaslin, paman mohon bertahanlah! Bertahanlah sayang! Paman janji akan memaafkan Daddy mu! Tapi paman mohon, kuatlah ....” Meida tersenyum dengan sorot matanya yang mulai meredup. Darahnya membasahi pakaian yang dikenakan pamannya.
“Paman ... Meida pergi ... sampaikan salam Meida pada mere..kaa...” Meida menutup kedua matanya dengan tersenyum, membuat jantung Johan berhenti seketika.
“JASLIN SADARLAHH!! PAMAN MOHON!!! BERTAHANLAH ARRGGHHHHHH!” Teriak Johan pilu dengan air mata bercucuran membelah keheningan malam di ruang itu.
Johan dengan pandangan nyalang menatap kearah Grace. Ia mengepal tangan dengan amarah yang memuncak. Ia meletakkan kepala Meida di lantai dan langsung berdiri menghadang kearah Grace yang sudah siap dengan pistol yang kapan saja akan menembus otaknya.
Dorr ... Dorr ... Dorr
Kaca yang berada di ruang itu tiba-tiba pecah dari segala arah.
Gilbert muncul diarah depan dengan mata yang sudah memerah. Sementara Andress dan Jack dan anak buahnya baru saja datang dari arah belakang setelah menghabisi semua anak buahnya.
“PUAS SEKARANG KAU TELAH MEMBUNUH ANAK PEREMPUANKU!!! TELAH MERACUNI KU!!! DAN SEKARANG KAU AKAN MEMBUNUH ADIKKU!!! DIMANA NURANI MU HAH!! DIA CUCUMU!!!” Teriak Gilbert dengan kalapnya menghadang kearah Grace. Sementara Andress dan Jack membantu melepaskan ikatan pada tubuh Jonathan dan Biru. Setelah melepas lakban yang ada di mulutnya, Jonathan dan Biru langsung berlari kearah Meida. Ia langsung mengangkat kepala meida dan diletakkan di pangkuannya. Sementara Biru langsung membuka seragam sekolahnya untuk menutupi luka tembak meida, menahan agar darahnya tak banyak yang keluar.
“Ci.. cici ... Jo mohon bertahanlah ... jangan pergi ... jo belum siap kehilangan cici ... Cici wanita kuat ... cici wanita hebat yang pernah Jo kenal ... Jo mohon, kuatlah ... banyak orang yang menunggu cici ...” ucap pilu Jonathan sambil mencium wajah pias Meida. Air matanya membasahi hijab instan yang meida kenakan. Biru tak bisa berucap sepatah katapun, tenggorokannya terasa tercekik, dadanya terasa sesak melihat keadaan meida yang lemah tak berdaya. Ia hanya bisa menangis dengan tangan bergetar sambil berusaha menekan luka meida.
“Jo, cepat bawa Jaslin ke mobil! Dia butuh segera penanganan!” Teriak Andress yang kini berhasil membekuk Grace dari arah belakang.
Jack langsung berlari kearah Jonathan dan Biru, ia membantu mereka untuk membawa sepupunya ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.
“Dasar anak kurang ajar! Lepaskan saya!” Teriak Grace yang berusaha melepas kungkungan tangan Andress pada tubuhnya.
“Apa menurutmu saya akan melepasmu setelah membunuh adik saya hah? Dasar wanita Iblis!” Geram Andress sambil membawa Grace kehadapan Johan dan Gilbert. Semua orang yang berada di ruang itu tak menyadari, bahwa kini Johan sudah mampu berdiri dengan kedua kakinya.
“Johan, lakukan semau mu! Saya tidak akan menghalang-halangi walaupun dia ibu kandung saya! Lakukan seperti apa yang dia lakukan pada keluarga mu!” Johan menolehkan kepalanya kearah Gilbert lalu menatap tajam kearah Grace. Dengan sekuat tenaga ia menampar bergantian pipi Grace.
“Rasa sakit ini tak seberapa dengan apa yang dirasakan ibu saya!” Johan kembali menampar Grace dengan air yang berlinang di wajahnya.
“Saya ingin sekali membunuhmu! Tapi saya tak bisa mengingkari janji saya pada ibu untuk tak membunuh orang! Dan kau benar, mari kita akhiri semua ini dengan kematianmu!” Grace menatap Johan dengan ketakutan. Johan terus berjalan kearah Grace dengan mengambil sebuah suntikan yang ada di tangannya.
“Kematian itu terlalu mudah bagi mu Grace! Kau harus merasakan kesakitan orang-orang yang pernah kau sakiti. Mungkin dengan suntikan ini kau akan sadar dengan kesalahanmu! Saya tak akan membiarkanmu terlalu cepat pergi! Kau harus merasakan sakit yang teramat sakit, hingga kau sendiri yang memilih untuk mati!” Gumam pelan Johan dengan dinginnya. Ia menyuntikan suntikan itu ke lehernya.
Grace langsung membelalakan mata, dengan mulut yang mengaga. Ia tak bisa melawan ataupun meronta ketika tubuhnya benar-benar terasa lemah dan sesuatu seakan menggerogoti tubuhnya dari dalam.
“Sekarang kita serahkan dia ke kantor polisi! Kumpulkan semua bukti yang ada disini, agar menambah berat hukumannya!” Johan menghapus sudut matanya.
“Ayo kita susul Meida!!” Ucap pelan Johan sambil menepuk pelan bahu Gilbert. Gilbert memandang sendu kearah Johan dan langsung memeluknya.
“Maafkan kesalahan saya ... Maafkan kesalahan keluarga saya ... Maaf, kami telah membuat keluargamu menderita. Maafkan kesalahan saya adikku!!!” Tangis Gilbert pecah di bahu Johan. Ia menyesali semua perbuatannya dulu pada adiknya. Johan menghapus air matanya dan melerai pelukannya.
“Sudah ... sudah ... Kondisi Jaslin yang terpenting sekarang! Ayoo kita susul mereka! Saya takut terjadi apa-apa dengannya!”
-
End
Lanjut jangan wkwkwk🤭
☕☕☕☕☕☕☕☕
Ini katanya 3k lebih, tangan otor sampe kramm😂
Jangan lupa like, komen, vote, rate, sama hadiahnya ♥️♥️♥️
Otor sengaja endingnya di bikin ngegangtung, biar kalian gak bisa tidur wkwkw.. (Jahat dikit) Biar penasarannya maksimal😂
Karena niat awal cerita ini, endingnya sampai sini hehe.
Lanjut atau tidaknya tergantung kalian yah🤭 Otor tunggu masukannya🤗 untuk jawabannya nanti otor umumin hari senin 🤗
Wilujeng Weekend 🤗
Wilujeng malem Minggu 🤗♥️
__ADS_1
Hatur nuhun pisan, buat yang udah mantengin novel ini sampai akhir😘 Hatur nuhun buat yang udah gak bosen ngelike, ngomen, ngevote, ngegift, ngasih koin, ngasih hadiah, pokoknya hatur nuhun pisan🤗♥️♥️♥️
Apalah arti karya otor tanpa kalian 🤗♥️ Peluk sayang otor buat kalian🤗♥️😘😘😘😘😘😘😘😘😘