
Jonathan mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Ia mengumpulkan kesadarannya, lalu melihat kearah sekeliling ruang itu. Ia berusaha menggerakkan badannya, nyatanya tak bisa. Badannya sulit digerakkan karena terikat pada tiang besi yang menjulang tinggi. Ia mengedarkan pandangan ke samping, dan melihat keberadaan sepupunya yang kondisinya tak jauh sepertinya.
Ketika ingin memanggil nama sepupunya yang berjarak satu meter di sampingnya. Bibirnya terasa sakit dan kaku karena tertutup oleh lakban berwarna hitam. Ia memandang kearah Biru yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan berkaca-kaca.
Yaa Allah, ternyata mimpi itu benar. Aku kira penculikan ini hanya bunga tidurku, tapi nyatanya benar-benar terjadi padaku. Ya Allah, aku dimana sekarang? Sudah berapa lama aku disini? Cici, Koko, Mommy, Daddy, Bu Ina .. tolong aku .. Om Johan tolong kami disini. Ujar Jonathan dalam hati sambil melihat kearah sepupunya yang sedang berusaha membuka matanya.
Mata mereka saling pandang dengan mata berkaca-kaca, setelah menyadari kondisi mereka yang menjadi sandera. Air mata mereka menetes, ketika memikirkan nasib mereka ke depannya seperti apa. Adakah orang yang menolongnya? Atau mereka akan terkurung selamanya disini.
Sinar matahari mulai masuk ke gudang itu lewat jendela kuno yang setengah terbuka. Hati mereka mencelos ketika melihat keadaan sekelilingnya yang begitu menyesakkan hati mereka.
Tempat macam apa ini? Siapa yang mengurungku disini? Sungut Jonathan dalam hati.
Seorang wanita tua berjalan kearah mereka dengan seringai tipisnya. Wanita itu duduk di kursi di depan mereka dengan melipat tangannya.
“Well, pada akhirnya lelaki bodoh itu lengah dalam mengawasi-mu! Ah, bahkan saya sudah tidak sabar menanti kepahlawanan lelaki bodoh dan lumpuh itu untuk menyelamatkanmu! Hah, pasti menyenangkan!” Grace terkekeh sambil memandang lekat wajah Biru yang memerah. Lalu ia memandang kearah cucunya dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
“Aduh cucu manisku! Malang sekali nasib mu terkurung disini! Apa disini menyenangkan? Pasti menyenangkan! Untuk sekarang kalian berdua adalah mainanku hahaha.” Tawa kerasnya sambil mengelus wajah Jonathan dengan senyum mengejeknya. Jonathan dan Biru menatap tajam kearah Grace dengan sorot mata penuh kebencian.
Dasar wanita setengah Iblis! Sungut Biru sambil mengeraskan rahangnya.
“Jangan memandang saya dengan tatapan itu!” Grace menjambak rambut Biru sampai kepalanya tertarik ke belakang. Ia sedikitpun tak merasa kasihan, yang ada matanya menyiratkan banyak kebencian. Jonathan yang melihat itu mengepalkan tangannya begitu melihat kelakuan semena-mena wanita tua itu.
“Tunggulah! Apa yang akan mereka lakukan setelah melihat wajah babak belur kalian! Nikmatilah hidup di gudang ini!” Tawa grace yang kembali menggelegar sambil menampar wajah Biru dan Jonathan bergantian.
-
Baru saja Johan masuk dengan di dorong Zyan ke ruang Andress dengan nafas memburu setelah melaporkan Grace ke kantor polisi. Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Johan berhenti kemudian mengambil ponsel yang sejak tadi mengusiknya dari dalam tote bagnya.
Johan kembali mengerutkan keningnya, lagi-lagi nomor asing yang menghubunginya. Ini sudah ke lima kali nya nomor asing menghubunginya. Ia tak menyadari bahwa nomor yang menelponnya itu adalah nomor Grace yang sebenarnya.
Johan memperlihatkan nomor itu kearah Andress yang sedang menatapnya bingung. Johan menunjuk nomor yang ada di layar laptop Andress, lalu menunjuk kearah layar ponselnya. Ia memberi isyarat, bahwa nomor yang tertera di layar laptopnya, kini menghubunginya. Setelah mendapat persetujuan dari Andress, Johan akhirnya menerima panggilan video itu.
“Hallo anak tiriku tersayang, Louis Johan Atmadja.” Grace tersenyum miring dengan wajah di buat sebaik mungkin. Johan hanya menatap datar kearah Grace, walaupun dalam hatinya amarahnya sudah berkobar.
“Wah wah wah. Ada apa dengan wajah kusut mu? Kelihatannya kau sedang kehilangan sesuatu yang berharga!” Kekeh Grace dengan santainya. Senyumnya melebar dengan memperlihatkan deretan gigi kuningnya.
Johan dan Andress menggertakkan giginya menahan kemarahannya.
“Katakan! Dimana putra dan keponakanku sekarang! Saya tidak punya banyak waktu untuk meladenimu!” Teriak Johan dengan bibir berkedutnya. Andress sengaja tak menampakkan wajahnya kehadapan wanita itu, ia hanya mencerna ucapannya. Agar wanita tua itu tak mengetahui, bahwa mereka akan menyerangnya secara bersama-sama.
“Kalau saya tak ingin mengatakannya bagaimana?” Tantang Grace dengan wajah tanpa dosa nya.
“SAYA BUNUH KAU KEPARAT!!!” Johan melempar benda yang ada di dekatnya. Napasnya naik turun tak beraturan dengan tangan yang meremas kuat ponselnya. Sementara Grace malah tertawa puas.
__ADS_1
“Dimana anak dan keponakan saya sialan?” Grace mendesah. Matanya terpejam menghisap cerutunya. Lalu membuka matanya, sampai sepasang mata maniknya beradu pandang dengan milik Johan.
“Mereka ada bersama saya! Tak saya sangka, ternyata Putra dan keponakan mu sangat menyebalkan. Beberapa kali mereka membuat saya kesal , sampai saya terpaksa memberi mereka pelajaran.” Kekeh Grace yang kembali menghisap cerutunya.
Johan mengeratkan gerahamnya, rahangnya mengeras kokoh, sebelah tangannya semakin mengepal kuat.
“KAU MENYAKITI MEREKA, SAYA BUNUH KAU!” Ancam Johan dengan tajam dan menusuk. Grace malah kembali tertawa dengan memandang remeh kearahnya.
“Maka dari itu, mari kita buah segalanya menjadi mudah!” Grace menjeda ucapannya dengan menarik napas dalam. Lalu ia melanjutkan ucapannya
“Saya memiliki 2 permintaan yang harus kau penuhi. Yang pertama, tolong cabut laporan tindak kriminal saya di kantor polisi, karena saya tahu kalian sudah melaporkan saya. Yang kedua, kau dan Jaslin harus menandatangani berkas pengalihan harta warisan dari keluarga Atmadja. Seluruh berkas sudah di persiapkan oleh pengacara saya yang sangat kompeten. Saya memberimu waktu 2 kali 24 jam. Dan setelahnya, datanglah berdua dengan Jaslin ke lokasi yang saya yakin sudah kau lacak. Bagaimana?” Johan tersenyum miring. Yah, dugaannya benar. Grace sampai tega menculik anak dan keponakannya karena harta warisan itu. Harta kekayaan yang hampir seluruhnya miliknya.
“Saya tidak akan mengambil langkah apapun sebelum saya mengetahui anak dan keponakan saya baik-baik saja!” Jawab Johan dengan wajah dinginnya. Grace beranjak dari duduknya. Berjalan menjauh dari meja kerjanya, menuju ruang penyekapan Biru dan Jonathan. Kemudian layar itu menampilkan wajah Biru dan Jonathan yang sedang berdiri dengan tubuh yang terikat pada tiang besi, dengan mulut yang tertutup lakban warna hitam.
Mereka berdua tidak menangis, hanya saja matanya memerah sayu.
Keheningan membentang di udara ketika Johan tidak bersuara dan memusatkan perhatiannya dengan mengamati wajah putra dan keponakannya lekat-lekat. Jantungnya berdenyut pedih dan menciptakan rasa menyesakkan yang menyakitkan ketika menyaksikan kondisi Putra dan keponakannya yang sangat memprihatikan dari layar. Ingin sekali ia menarik Biru dan Jonathan ke dalam pelukannya seketika itu juga dalam dekapan erat-erat lengannya. Apalagi saat ini dia bisa dengan jelas menatap biru yang juga menatapnya dengan sorot mata yang tak terbaca.
Kemudian layar kembali mengarah pada Grace.
“Kau sudah melihat Putra dan keponakan mu, bukan? Mereka masih hidup. Tetapi saya tidak menjamin keselamatannya setelah ini. Apapun bisa terjadi padanya kalau kau tidak memenuhi keinginan saya dan melakukan proses akuisisi legal untuk menebusnya! Saya tunggu kalian berdua disini! Jika kau melanggar, jangan salahkan jika mereka berdua hanya tinggal nama!” Ancam Grace sambil menutup teleponnya.
-
Yang pertama kali Melvin lihat adalah sepasang paruh baya yang tak ia kenali sedang membaca ayat suci Al-Quran di sampingnya. Sepasang suami-istri itu masih melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan merdunya, mereka tak menyadari bahwa Melvin sudah sadar.
‘Meida Khanza' Lirih pelan Melvin menyebut nama itu. Nama yang pertama kali ia ingat, ketika kesadarannya datang. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca mengingat calon istrinya yang ia tinggalkan entah sudah berapa lama.
Buya Hanafi menyudahi bacaan Ayat Suci Al-Qur’annya lalu menyimpan Al-Qur’an itu di atas nakas di samping tempat tidur Melvin. Buya Hanafi tercengang ketika melihat kearah Melvin yang sedang menatapnya dengan pandangan berkabut. Buya pun memegang lengan istrinya dengan mata yang masih lekat memandang Melvin. Awalnya Umi Fatimah pun bingung, tapi ia menolehkan wajahnya kearahnya dengan mata tercengang.
“Ya Allah, Alhamdulillah. Akhirnya kamu sadar Nak!” Seru Umi Fatimah dengan harunya. Buya Hanafi pun mengucapkan Hamdalah lalu mengelus kepala Melvin. Melvin yang menerima perlakuan istimewa itupun menatap kearah mereka berdua dengan bingung. Orang asing yang baik, yang baru ia temui sekarang.
“Saya dimana?” Tanya lemah Melvin menatap pasangan suami-istri itu bergantian. Buya hanafi merubah posisinya dan kini duduk di ranjang di sampingnya.
“Sekarang kamu berada di rumah kami! Di kampung Sido Mukti, kampung yang berada di pedalaman Sulawesi.” Jawab Buya Hanafi sambil tersenyum. Melvin langsung membelalakan matanya ketika mendengar jawaban dari Buya Hanafi.
Ya Allah, saya berada di pedalaman Sulawesi! Tempat yang sangat jauh dari Surabaya! Ya Allah, apa ini merupakan salah satu rencana mu untuk hidup saya? Apa saya bisa kembali bertemu dengan kekasih hati saya? Batin Melvin mengusap wajahnya dengan menghapus air matanya. Umi Fatimah duduk di samping suaminya lalu mengusap lengan Melvin.
“Jangan sedih! Kamu aman disini Nak! Maaf kami tak bisa membawamu ke Rumah Sakit. Kami hanya mampu merawatmu disini seadanya! Rumah sakit sangat jauh dari sini Nak.” Melvin menggelengkan kepalanya. Ia berusaha mengingat kejadian hingga ia berada di tempat ini. Tapi semua ingatannya seperti menghilang. Yang ia ingat hanyalah Meida dan tanggal pernikahannya.
“Kenapa kamu bisa terdampar di kampung ini?” Tanya Umi Fatimah kembali karena ucapannya tak di balas oleh Melvin. Ia menyadari kebingungan yang kentara di wajah Melvin. Bukannya menjawab pertanyaan Umi Fatimah, Melvin malah mengajukan pertanyaan yang lainnya.
“Bu, sudah berapa lama saya disini?” Buya Hanafi mengambil kalender yang terpasang di dinding. Ia membawanya kearah Melvin.
__ADS_1
“Kamu tak sadarkan diri sudah 10 hari Nak! Kami menemukan mu minggu lalu di Gerbang pesantren kami dengan keadaan tak sadarkan Diri.” Melvin semakin kaget dengan ucapan Buya Hanafi. Ia meneteskan air matanya dengan menggigit pelan telapak tangannya.
Meida, ternyata sudah 10 hari saya disini. Inilah tempat pengasingan saya! Meida, ternyata saya memang pergi jauh darimu. Bagaimana dengan pernikahan kita? Batin Melvin yang kembali menghapus air mata di wajahnya.
“Sekarang tanggal berapa Pak?” Tanya Melvin kembali dengan wajah sendunya.
“Sekarang tanggal 30 Nak.” Melvin mengambil pelan kalender itu dari tangan Buya Hanafi dengan tangan bergetar. Ia melihat tanggal dimana ia di paksa pergi dari rumahnya, lalu melihat kearah tanggal sekarang. Ia menghapus air matanya menunjuk tanggal pernikahannya.
Meida, ternyata sudah 14 hari saya pergi. Apa selama ini kamu mencari saya? Apa kau merindukan saya? 2 minggu lagi kita menikah. Seharusnya sekarang saya bahagia mempersiapkan pernikahan kita. Tapi sekarang saya masih disini. Saya harus apa? Yaa Allah, Bagaimana dengan pernikahan kami yang sudah berada di depan mata ini. Batin Melvin dengan nelangsanya. Umi Fatimah mengelus lembut kepalanya, karena ia tahu melvin masih sedikit terguncang.
“Siapa kamu sebenarnya Nak? Kanapa bisa sampai di kampung kami?” Melvin mengalihkan pandangannya pada Buya Hanafi yang sedang menatapnya lembut.
“Saya Muhammad Melvin Al Farisi Pak. Panggil saya Faris saja. Saya sengaja diasingkan ke kampung ini oleh keluarga saya karena saya memilih menjadi seorang Muslim. 2 hari sebelum pengasingan saya kesini, saya sudah menjadi seorang mualaf. Saya bingung sekarang! Saya terdampar di kampung orang dengan tak membawa apapun. Apa yang harus saya lakukan sekarang?” Lirih Melvin dengan menangis tergugu. Di sisi lain ia ingin segera pulang ke Surabaya menemui Meida, di sisi lain ia tak memiliki apapun untuk pulang kesana. Ia hanya menunggu keajaiban yang akan Allah berikan padanya.
“Maa Shaa Allah, ternyata kamu seorang mualaf Nak. Kamu berasal dari mana?” Melvin menganggukkan kepalanya.
“Saya tinggal di Surabaya Pak. Saya .... “
Melvin menceritakan mengenai asal usulnya, mengenai tentang pengasingannya, tak lupa ia menceritakan tentang keluarganya pada Buya Hanafi dan Umi Fatimah tanpa ada yang di tutup-tutupi. Buya Hanafi dan Umi Fatimah tercengang dengan wajah piasnya.
“Jadi kamu orang yang selama ini diberitakan itu Nak?” Tanya Buya Hanafi tak percaya. Bahwa pemuda yang di rawatnya selama ini merupakan Putra dari orang terkaya di Negaranya.
“Iya Pak. Saya mohon Bapak dan Ibu merahasiakan identitas saya. Panggil saya dengan nama Faris, agar orang tak menyadari bahwa saya adalah Melvin.” Ucap mohon Melvin sambil memegang tangan Buya. Buya pun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum
“Panggil Bapak dengan sebutan Buya, panggil Ibu dengan sebutan Umi. Karena masyarakat disini sudah terbiasa memanggil nama kami dengan sebutan itu.” Melvin pun menganggukkan kepalanya.
“Baik Buya. Buya, boleh saya meminta bantuan Buya?” Buya Hanafi mengerutkan dahinya dengan memandang bingung kearahnya.
“Bantuan apa Nak?”
“Tadi saya mendengar bacaan Al-Qur’an Buya sangat Indah. Maukah Buya mengajari saya? Saya hanya seorang lelaki bodoh yang haus akan Islam. Maukah Buya mengajarkan saya menjadi seorang Muslim yang religius?” Buya Hanafi dan Umi Fatimah terharu mendengar permintaan Melvin. Buya menganggukkan kepalanya sambil menghapus sudut matanya.
“Inn Shaa Allah Buya akan membantumu Nak. Sekarang pulihkan dulu kesehatan mu. Jika malam nanti kondisimu sudah membaik, temui Buya di Masjid depan.” Tutur Buya Hanafi sambil mengelus lembut kepala Melvin.
-
☕☕☕☕☕☕
Jangan lupa jempolnya jangan pelit-pelit 🤭
Jika suka dengan Novel ini jangan lupa, like, komen, vote sama hadiahnya 🤗😘😘😘
Maaf baru nongol lagi hehe
__ADS_1