
“Bu lihatlah kesana! Di tempat pembakaran sampah terdapat banyak baju yang sudah hangus terbakar, dan banyak bercecer debu kertas, jonathan yakin debu itu bekas paper foto,” ujar jonathan dengan napas ngos-ngosan, dengan keringat membasahi dahinya.
“Serius jo?? Berarti benar, mereka telah membakarnya!” Ucap sendu bi ina dengan wajah kecewa.
“Bisa jadi bu. Mungkin itu pakaian dan foto cici yang sudah mereka bakar.” Sahut jonathan dengan wajah lesu sambil duduk disamping bi ina.
“Berarti dari rumah ini, kita tidak memiliki petunjuk sama sekali jo.” Lirih bi ina sambil memijit dahinya pelan.
“Benar bi. Semoga Tuhan memberi jalan yang lain.” Harap jonathan dengan optimis sambil berdoa dengan posisi kedua tangan di depan wajahnya, dengan memejamkan matanya khusu.
Tuhan, bantu aku! Tunjuk kan mukjizat mu! Tunjuk kan rasa kasih mu! Tunjuk kan keajaiban dalam hidup ku! Jika kau mengabulkan permintaan ku, aku akan menjadi jemaat setia mu. Maaf aku yang tidak pernah percaya akan diri-mu. Aku janji, aku kan rajin setiap minggu beribadah ke gereja ke rumah mu.
Jika kau tidak mengabulkan permintaan ku, maaf! aku tidak akan mempercayai mu lagi! Tolonglah aku, tunjuk kan kuasa mu! Segera bukalah tabir penghalang ini!
-
“Kalian sudah nunggu lama disini?” Tanya bi ina kepada meida dan melvin yang sedang duduk di teras rumah, menunggu kedatangannya. Bi ina membuka pintu itu dengan kunci yang berada ditangannya.
“Tidak bu, kita baru saja sampai disini.” Jawab melvin berdiri sambil tersenyum. Melvin melirik kearah jonathan dengan wajah bingung
“Jo kamu habis dari mana?”
“Jo habis jalan-jalan dari kampung ini ko.” Jawab jonathan dengan wajah kikuk sambil menggaruk tengkuknya.
“Ayoo masuk!” ucap bi ina sambil membuka pintu rumah itu dengan lebar.
“Silahkan duduk! Meida, bibi ingin berbicara sesuatu padamu.” Bi ina menatap meida dengan serius, lalu ia melanjutkan ucapannya memandang kearah jonathan dan melvin.
“Maaf saya tinggal kalian dulu, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan meida. Kalian istirahat saja disini, anggap saja seperti di rumah sendiri.”
“Baik bu.” Jawab jonathan dan melvin serempak
Bi ina mengajak meida untuk masuk ke kamar adib yang terhalang satu ruangan dari ruang tamu. Ia sengaja mengajak meida untuk masuk ke kamar itu, karena ingin menyampaikan amanah yang adib titipkan padanya untuk meida,
“Meida, bibi akan memberikan sesuatu yang adib amanah kan kepada bibi. Bibi sudah menunggu mu dari jauh-jauh hari, tapi Qadadullah baru sekarang bibi bisa memberikannya pada mu,” ujar bi ina membuka pintu kamar adib yang tidak terlalu luas. Kamar bernuansa putih abu-abu itu terlihat rapi dan terawat walaupun pemiliknya sudah tiada.
“Maafkan meida bi ...” Jawab meida mengikuti langkah bi ina menuju spring bed tempat tidur adib.
Di dinding kamar di atas meja kerja itu terdapat banyak potret adib dengan berbagai pose, dari mulai potret nya waktu SMA sampai waktu Wisuda nya 2 Tahun lalu. Ia terlihat tampan dengan senyum lebar menggunakan toga yang diampit oleh bi ina, meida, faiz dan ummah abinya. Dan terdapat beberapa potret adib tengah tersenyum bersama meida.
“Ini bukan salah kamu nda. Tapi waktu yang baru mengizinkannya sekarang,” ujar bi ina sambil berjalan kearah lemari adib, ia membuka pintu lemari itu dan mengambil kotak kayu yang berwarna coklat emas yang berukuran sedang, besarnya sekitar 20 cm², di atas pakaian adib.
Kotak itu ... Ternyata kak adib masih menyimpannya. Kotak yang ku berikan dulu, ketika dia lulus sekolah menengah dengan nilai terbaik. Padahal kotak itu sudah lama umurnya, aku sengaja membelinya untuk dia ketika aku masih SMP, waktu perjalanan study tour pertamaku ke kota Yogyakarta. Ternyata kotak itu masih terawat disini, warnanya masih sama seperti 7 tahun lalu. Batin meida sambil menatap kotak kayu itu dengan mata berkaca-kaca.
Kak adib.. terima kasih telah merawat kotak itu. Aku yakin, kau pasti tahu historis panjang kotak itu. Lirih meida mengusap sudut matanya, agar ia tidak kembali menangis.
“Meida, adib menitipkan ini sebelum keberangkatannya ke Surabaya. Bibi tidak tahu apa isinya, tapi adib meminta bibi untuk menjaganya, sampai kotak ini berada ditangan mu dengan selamat.” Bi ina membawa kotak itu kearah meida. Ia meletakkan nya di atas ranjang persis di samping meida.
“Kotak ini memakai sandi, kata adib hanya kamu yang mengetahuinya. Ia sengaja tidak memberi tahu bibi. Mungkin adib hanya ingin kamu yang boleh membukanya.” Terang bi ina mengusap kotak kayu itu dengan tangannya.
Kau belum mengubah sandi itu kak? Sandi yang kita buat berdua. Sandi penggabungan tanggal lahir kita, yang kita buat di rumah pohon itu. Yaa Allah ... berarti selama ini kau masih mengingat nya. Kau masih mengingat tanggal lahir ku. Entahlah tanggal lahir siapa? Karena aku tak punya tanggal lahir. Aku tak tahu kapan aku dilahirkan, begitupun ummah dan abi. Mereka tidak mengetahui nya sama sekali, kecuali orang tua yang telah membuangku. Gumam meida sambil mengusap air matanya.
“Bukalah nak...” Perintah bi ina sambil meletakkan kotak itu di atas paha meida.
Meida mengambil kotak kayu itu yang menggunakan gembok sandi, tidak memakai kunci. Perlahan-lahan meida memutar angka yang terdapat di dalam gembok itu lalu menggabungkan nya, hingga gembok itu terbuka.
Meida membuka tutup gembok itu. Pertama kali yang ia lihat adalah sebuah amplop putih yang tidak ada namanya sama sekali.
Meida mengambil amplop itu lalu membukanya. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat dan 1 foto. Dengan tangan bergetar meida langsung membaca surat itu tanpa melihat kearah foto yang berada di bawah surat itu.
Meida, maaf... kakak tidak bisa menyelamatkan barang-barang milik mu dari jarahan api itu. Kakak hanya mampu menyelamatkan satu foto ini, foto ketika kau masih kecil di pangku ummah dan abi mu, foto orang tua angkat setelah sebulan menemukan mu. Kakak harap kamu menyimpan foto ini, karena kakak yakin foto ini akan berguna untuk mu suatu hari nanti. Foto ini akan menjadi petunjuk untuk menemukan siapa keluarga kamu sebenarnya dek.
Meida, setelah kepergian mu. Wa Halimah sengaja membakar barang-barang milikmu yang masih tertinggal disana. Maafkan kakak dek, kakak sudah berusaha menahannya, tapi tetap saja wa halim membakarnya, ketika kakak lengah.
Meida, simpan lah album foto milik kakak yang berada di dalam kotak ini. Karena di dalam album ini terdapat banyak foto masa kecil kita, foto kaka, faiz, dan kamu. Anggaplah album ini sebagai pengganti dari foto mu yang hilang karena di bakar oleh wa halimah.
__ADS_1
Dimana pun kamu berada, kakak selalu menyayangimu dek. Maaf.. kakak tidak bisa memberikan mu kesan berharga di setiap pertemuan kita. Maaf kakak tidak bisa membantu mu lebih jauh lagi.
Yang perlu kamu tahu, Kakak sangat mencintaimu, melebihi dunia dan seisinya.
Meida melipat surat itu dengan tangan bergetar. Ia mencium surat itu lama, air mata nya bercucuran tanpa bisa ia tahan.
Kak adib, ternyata kau sudah mempersiapkan semua ini sebelum kepergian mu. Kau seakan tahu, bahwa kau tak bisa menemani ku lebih lama lagi. Kau sudah memiliki firasat, bahwa kau akan meninggalkan ku secepat itu.
Yaa Rabbi ... mulai sekali hati mu kak, kau selalu ada buat ku walaupun setelah kepergian mu. Semoga segala kebaikan mu di ganjar oleh Allah dengan beribu kenikmatan, dan surga sebagai jaminan nya. Gumam meida pelan sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Lalu ia mengambil foto yang berada di balik surat itu. Ia memandang foto itu lama sambil mengusap nya.
Yaa Allah.. foto itu! Foto yang ku cari sedari tadi bersama jonathan, sampai ku lelah memikirkannya. Terima kasih Yaa Allah... Kau telah memberi hamba mu petunjuk melalui perantara Almarhum anak hamba. Terima kasih atas segala keajaiban mu Yaa Rabbi...
Ternyata kau menyimpannya nak, kau sudah mempersiapkan ini dari jauh-jauh hari. Kau lelaki luar biasa.. Lelaki pemilik jiwa ksatria seperti Ayah mu, yang memperjuangkan kebahagiaan demi orang kau cintai.
Umi bangga pada mu nak. Umi ridho kamu menjadi anak umi. Umi ridho ... melepas kepergian mu. Batin bi ina memandang foto yang di pegang meida dengan air mata bercucuran. Ia terharu akan sikap tulus yang dimiliki oleh anaknya, yang rela mengorbankan apapun demi orang terkasih nya.
Ummah Abi, walaupun kalian bukan orang tua ku. Aku sangat menyayangi kalian lebih dari dunia ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian karena telah tulus merawat dan menjaga anak buangan seperti ku ini. Lihatlah anak cengeng mu ini! Ia tertikam dalam fase pendewasaan, terjebak oleh keadaan. Ia cengeng! Ia lemah! Tak tegar seperti kalian, ketika dihadang oleh gempuran ombak. Ia selalu kalah! Ia tak pernah menang melawan kehidupan ini! Maafkan aku ummah abi yang tidak bisa sekuat kalian, yang masih bisa berdiri kokoh ketika di terjang badai. Maafkan aku yang tidak bisa menghadang jurang terjal, yang tidak bisa setegar lautan. Maafkan aku, karena aku hidup kalian menderita.
Ummah Abi aku sangat menyayangi kalian melebihi orang tua kandung ku jika ku temukan nanti. Maafkan aku, jika tidak bisa memberi mereka cinta seperti pada kalian..
Terima kasih, kalian telah mengajarkan ku apa artinya cinta, apa artinya kasih sayang, apa artinya ketulusan. Terima kasih kalian telah memberi ku arti sebuah keluarga utuh yang saling mengasihi. Aku merasa benar-benar memiliki keluarga ketika hidup bersama kalian.
Kalian mentari ku, cahaya hidup ku dalam dunia yang kelam ini. Terima kasih telah memberi ku dengan sebaik-baiknya cinta, yang tidak aku dapatkan dari keluarga ku sendiri.
Semoga cahaya kalian selalu menerangi ku untuk melewati jalan hidup yang terjal ini. Sehingga aku mampu tersenyum dan merasakan kemenangan itu.
Meida kembali mengusap foto itu dengan lelehan air mata di wajahnya, ia mencium foto ummah dan abi nya secara bergantian. Ia seakan merasakan kehadiran ummah dan abinya yang berada disampingnya.
Ummah abi inilah hidup meida setelah kepergian kalian. Lihatlah hidup meida sangat memprihatikan seperti ini! Meida masih membutuhkan kehadiran kalian, walaupun itu terdengar mustahil. Lirih meida dengan senyum getir
Ummah abi, apa kalian sudah bertemu dengan kak adib? Kak adib pasti menceritakan kehidupan meida selama ini. Ia adalah saksi hidup perjuangan meida setelah kepergian kalian. Dia dan bi ina adalah orang yang selalu setia berada disamping meida, tanpa penuh kepura-puraan.
Jika ummah dan abi bertemu dengan kak adib, sampaikan salam meida, bahwa meida sangat merindukan nya..
Bahwa meida... sangat mencintai nya, melebihi rasa cinta yang ia miliki untuk meida.. Guman pelan meida yang menyayat hati bi ina.
Meida menyimpan foto itu disampingnya, lalu ia mengambil buku album, yang terdapat banyak fotonya.
“Bibi ingat? Foto ini bibi ambil dulu ketika kak adib ulang tahun yang ke 10 tahun, dan meida baru enam tahun. Lihatlah rambut meida yang masih pendek, dan kak adib memakai baju kemeja ini, yang tak sengaja terkena tumpahan jus oleh meida.” Ucap meida kepada bi ina sambil menunjuk foto dirinya dan adib waktu kecil dulu. Bi ina mengusap foto itu dengan tangan bergetar, dengan bersimbah air mata.
“Adib terlihat tampan nda, memakai kemeja biru ini. Baju yang kau pakai itu adalah hadiah dari bibi karena kau berhasil menjadi peringkat pertama di kelas mu, dengan umur yang semuda itu.” Ujar bi ina bernostalgia dengan menatap foto itu, sesekali lengan bajunya mengusap air matanya.
“Iya bi meida ingat, ketika meida peringkat pertama di kelas. Kak adib memberikan jepitan ini sebagai hadiah.” Jawab meida dengan suara bergetar menunjuk jepitan berwarna pink yang ia gunakan dalam foto itu, ketika menghadiri ulang tahun adib.
“Bibi tak menyangka, pangeran tampan bibi lebih dulu di ambil Allah daripada bibi. Masih bibi ingat, ketika dia marah karena tak bibi izinkan main ke rumah mu. Masih bibi ingat kalian sering bermain bertiga disini, seperti anak kembar.” Sahut bi ina dengan senyum kecut.
“Pangeran tampan kita sudah benar-benar pergi bi.” Sahut meida dengan air mata bercucuran, melihat potret ketika ia kecil bersama adib.
🎵Saat ku sendiri, kulihat foto dan video
🎵Bersamamu yang t'lah lama kusimpan
🎵Hancur hati ini melihat semua gambar diri
🎵Yang tak bisa kuulang kembali
🎵Kuingin saat ini engkau ada di sini ...
🎵Tertawa bersamaku seperti dulu lagi ...
🎵Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah ...
🎵Bukannya diri ini tak terima kenyataan ...
🎵Hati ini hanya rindu ...
__ADS_1
🎵Segala cara telah kucoba
🎵Agar aku bisa tanpa dirimu, hoo
🎵Namun semua berbeda
🎵Sulit ku menghapus kenangan bersamamu
🎵Kuingin saat ini engkau ada di sini ...
🎵Tertawa bersamaku seperti dulu lagi ...
🎵Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah ...
🎵Bukan diri ini tak terima kenyataan ...
🎵Hati ini hanya rindu, ooh ...
🎵Hanya rindu, ooh ...
🎵Kuingin saat ini engkau ada di sini ...
🎵Tertawa bersamaku seperti dulu lagi ...
🎵Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah ...
🎵Bukannya diri ini tak terima kenyataan, ooh ...
🎵Bukannya diri ini tak terima kenyataan ...
🎵Hati ini hanya rindu, ooh ...
🎵Hati ini hanya rindu, hmm ...
Aku rindu padamu kak adib..
(Waktu pas kangen seseorang, apalagi udah beda alam. Muter lagu ini.. wuishhh rasanya itu nyesek banget😥🥺😭)
-
“Jonathan apa kamu pernah melihat foto bayi ini di rumah mu?” Tanya bi ina sambil menyodorkan foto, yang ia ambil di kotak kayu milik meida.
-
-
Happy Monday ♥️ Selamat beraktivitas 🥰
Inn syaa Allah untuk hari ke depan otor up 2 bab perhari, siang dan malam, tapi gak janji yah hehe.
Do'a ini aja, mudah-mudahan otak otor yang lemot ini tidak oleng🤭🤣 Biar bisa terus up hihihi🤗
Nanti up lagi sore atau malam yah😊
Jangan lupa like, komen, vote sama hadiahnya mumpung hari senin wkwkwk.
Hatur nuhun buat kalian yang masih setia nunggu kelanjutan novel receh ini♥️
__ADS_1