Kita Berbeda

Kita Berbeda
Dia Tak Bersalah


__ADS_3

“Berdiri kalian! Jangan malu-maluin mami! Pake acara nangis segala! Anak kayak gitu jangan di tangisi!” Ketus Grace sambil menepuk-nepuk bahu Gilbert dan Zaina karena mereka menjadi pusat perhatian.


“Sadarlah! Beberapa kamera mengintai kita! Kau ingin menghancurkan citra mu! Kau ingin ditertawakan rival mu! Kau mau perusahaan kita hancur hah!” Bisik Grace penuh penekan setelah melihat kearah beberapa orang yang sedang merekam mereka.


“Jaslin mih! Dia jaslin anakku ...”  Gilbert terus menangis. Ia berdiri dengan di bantu grace yang berwajah masam.


“Belum tentu dia anak kandung mu! Jangan bersikap bodoh seperti ini kau sudah tua. Kau seorang Direktur, jangan menghancurkan wibawa mu! Kau ingin ditertawakan johan? Mulai sekarang kita harus waspada! Ancaman johan tidak main-main! Di tambah ancaman dari keluarga Nagara!” Gilbert tak menanggapi ucapan grace. Ia memikirkan anaknya yang kini membencinya.


“Zaina! Kau ingin seperti ini, atau saya tinggal! Bisanya cuma menyusahkan!” Zaina memandang mertuanya dengan tatapan menyedihkan.


“Anakku membenci ku mi!”


“Anak-anak saja yang kau bicarakan! Ayoo kita pulang! Penampilan kalian sangat berantakan! Kalian ingin ditertawakan oleh mereka! Lihatlah wajah kalian!” Kesal grace merapikan sanggulnya dengan wajah merah. Gilbert menundukkan kepalanya, ia tak mempedulikan pandangan orang lain, yang ia pikirkan kini adalah anak perempuan yang telah dihinanya.


Dengan sempoyongan, zaina berdiri dari posisinya. Ia berjalan mengikuti langkah Grace ke parkiran. Mereka berdua berjalan dengan langkah lesu, berbeda dengan grace ia yang melangkah gontai.


Ya Tuhan, aku harus apa untuk menebus salahku? Menebus segala dosaku terhadap anakku? Aku harus apa Tuhan? Aku tidak ingin dia membenciku! Aku tidak ingin Tuhan. Ya Tuhan, aku menyesal! Aku sangat menyesal telah memperlakukannya dengan tak manusiawi! Selalu menghina bahkan merendahkannya ... Tuhan, bantu aku ... agar dia memaafkan segala kesalahanku. Gilbert mengusap wajahnya kasar dengan air mata yang selalu mengalir.


Jaslin, jangan membenci mommy nak! Mommy memang bersalah padamu, tapi mommy mohon kamu jangan membenci mommy ... rasanya mommy tak sanggup. Batin Zaina yang menangis sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil.


-


“Ko, cici meida mana?” Tanya bergetar jonathan sambil menepuk bahu melvin yang sedang diam menunduk. Melvin menghapus air matanya lalu mengangkat wajahnya pelan. Melvin memandang jonathan, johan, dan bi ina bergantian.


“Biarkan meida sendiri ... dia butuh waktu untuk menerima ini ... jangan mencarinya ... nanti dia akan pulang sendiri ... dia meminta kita untuk tidak mengganggunya  ... dia berjanji akan kembali.” Tutur Melvin dengan suara bergetar. Andress yang berada di belakang Johan menyugar rambutnya frustasi, ia memikirkan meida yang entah pergi kemana.


Kemana kamu pergi dek? Pasti kamu kecewa dengan ini semua. Koko berharap, kamu tak membenci koko. Batin andress dengan mata berkaca-kaca.


“Maaf, saya pulang lebih dulu. Silahkan kalian menikmati kembali pesta ini! Bu Ina, Jonathan saya pulang duluan, nanti kalian pulang di antar driver saya. Maaf saya tak bisa mengantar kalian nanti!” Melvin menatap kearah orang-orang yang berada di depan dan di sampingnya. Ia memutuskan untuk pulang, karena perasaannya memang sedang tak karuan.


“Untuk semuanya! Saya pamit pulang lebih dulu!” Melvin meninggalkan mereka, berjalan kearah basement mobil. Hati nya benar-benar kosong ketika meida tak ada di sampingnya, hati nya di liputi dengan perasaan tidak tenang.


Melvin melajukan mobilnya membelah malam menuju apartemennya. Perasaannya kacau, membuatnya tak ingin melakukan sesuatu apapun. Ia langsung merebahkan dirinya di ranjang tanpa membuka sepatu dan tuxedonya. Pikirannya berkelana memikirkan meida, moment yang ia cita-citakan romantis, malah berakhir dengan pertumpahan air mata. Niat awalnya ingin memberikan kejutan untuk meida dengan memberi seikat bunga, tapi kenyataannya bunga itu tidak mendarat di tangan wanita yang ia tuju. Padahal ia bersusah payah membeli bunga itu sendiri. Hal indah yang berada dalam pikirannya seketika hilang melebur, ketika ia melihat wanita yang dicintainya menangis. Langkah awal ingin menunjukkan perasaan serius di depan keluarganya, malah berakhir dengan kepergian nya. Pandangan mata melvin kosong menatap kearah langit-langit kamarnya dengan terisak.


Meida, saya lemah ... saya lemah karena mencintaimu. Perasaan saya tak karuan, saya takut kamu memilih pergi dan meninggal saya! Saya memang  pengecut, saya bukan lelaki baik, saya tak bisa membuatmu bahagia dan malah membuat mu terus menangis.


Meida, kenapa mencintaimu sesakit ini ... rasanya saya tidak bisa bernafas bila berjauhan dengan mu. Rasanya tak bisa meida, dada saya sesak. Meida, kenapa kau membawa hati saya pergi? Kenapa meida, saya benar-benar tidak bisa jauh darimu.


Meida, kau hidup saya! Kau milik saya! Saya akan memperjuangkan mu, walaupun nyawa saya menjadi taruhannya. Lirih melvin membiarkan air mata membasahi wajahnya.


Kenapa saya jadi cengeng seperti ini? Lihatlah meida, karena kamu saya menjadi secengeng ini. Hanya kamu orang yang bisa membuat saya menangis ketakutan seperti ini. Hanya kamu ... Kekeh getir melvin sambil menghapus air matanya. Dengan posisi yang masih tertidur, ia mengambil ponsel dari saku tuxedonya. Ia mengerutkan kening mengamati ponsel itu, karena itu bukan ponsel miliknya. Yah, ponselnya tertukar dengan ponsel meida.


Tuhan, apa ini petunjuk agar saya mencarinya? Lirih melvin dengan tersenyum. Ia menyalakan ponsel itu, yang tak menggunakan sandi.

__ADS_1


Kau cantik sekali meida, saya selalu jatuh cinta pada mu di setiap pertemuan kita. Melvin mengamati wallpaper yang menampilkan foto Meida dan Jonathan yang sedang bergandengan tangan. Foto yang mereka ambil ketika sedang berbelanja di mall.


Melvin memeriksa nomor kontak di ponsel meida yang hanya menampilkan beberapa nomor kontak sajq. Ia tersenyum, ketika nomor kontak nya tersimpan dengan nama Bos Tengil.


Hahaha ternyata kau menyimpan kontak saya dengan nama itu, sangat memalukan. Melvin mengubah nama kontaknya menjadi My Husband, dan ia langsung tertawa bahagia. Tangis nya kini berganti dengan senyuman. Ia dengan semangat membuka galeri ponsel meida. Ketika ia sedang melihat-lihat foto meida, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Dion. Melvin mengerutkan keningnya, dan langsung mengangkatnya.


“Hello Meida, kamu dimana sekarang? Apa Tuan Melvin bersama mu? Saya sudah berusaha beberapa kali menghubunginya, tapi tetap tak tersambung! Apa kau tahu keberadaan Tuan melvin?” Tanya suara di seberang sana dengan nada yang ngos-ngosan.


“Ini saya Dion. Ada apa?” Jawab Melvin sambil bangkit dari posisi tidurnya.


“Tuan di cari Tuan Besar, katanya penting! Ada putri dari Perusahaan Sinopec Group dari Tiongkok yang ingin bertemu dengan tuan. Dan sekarang menunggu Tuan sisini!” Melvin mengerutkan keningnya. Mengingat putri dari rekan bisnisnya


“Siapa Dion?”


“Nadien Wang Tuan . Wanita yang suka mengejar-ngejar tuan, jika kita sedang ada pertemuan di perusahaan ayahnya yang di Beijing, China.” Melvin langsung mengedikkan badannya. Ia paling malas jika bertemu dengan wanita itu, wanita centil dan seksi yang hobi merayunya.


“Bilang sama papih, saya tidak bisa menemuinya! Ada sesuatu yang harus kerjakan. Tolong hubungi Mr. Robert Bagian IT, untuk melacak nomor saya. Saya tunggu sekarang gak pake lama!”


“Ponsel tuan kemana? Ada yang nyopet?” Melvin di buat kesal dengan pertanyaan tak berbobot Dion yang ingin segala tahu.


“Lakukan apa yang saya perintahkan! Saya tunggu dalam waktu 5 menit, Mr. Robert harus sudah menghubungi saya! Jika tidak ...”


“Ba..baik Tuan! Tahu gini saya gak bakal menghubungi anda!” Dengus kesal Dion terdengar oleh melvin. Jika Dion berada di depannya mungkin ia sudah menampol wajah pas-pasan nya.


“Enggak Tuan. Saya kerjakan sekarang!” Melvin langsung mematikan sambungan telpon itu.


-


Meida memberhentikan taksi di masjid yang  pernah ia kunjungi minggu-minggu lalu. Ia berdiam diri di pelantaran masjid dengan waktu lumayan lama. Perasaan nya sangat kacau balau, setelah mengetahui siapa orang tuanya. Rasa marah dan benci kini mendominasi hatinya, karena ulah orang tuanya banyak orang tak bersalah menjadi korban.


Aku benci mereka!! Aku tak akan memaafkan segala perbuatannya! Sungguh tak akan memaafkannya!! Mereka jahat, mereka telah membuangku!! Mereka membenci kehadiran ku!! Lirih pelan meida sambil memukul-mukul tas yang ada dipangkuannya.


“Berhentilah bersikap seperti orang frustasi! Malu di lihat orang!” Jack menjinjing sepatunya lalu duduk di samping meida. Meida menolehkan wajahnya kearah jack dengan kesal.


“Kau sedang apa disini Jack?” Sewot meida sambil membuang mukanya.


“Shalat isya lah masak Karokean!” Jawab jenaka jack sambil menyugar rambutnya kebelakang. Meida menyipitkan mata kearah jack.


“Bukannya kamu  ada jadwal operasi di rumah sakit?” Selidik meida.


“Sudah selesai 1 jam yang lalu. Lagian itu cuman operasi kecil kok. Saya shalat isya sambil rehat disini, ada jadwal operasi sebentar lagi. Kenapa kamu ada disini? Mau minggat lagi??” Ledek jack sambil memakai sepatunya. Meida membulatkan matanya malas mendengar ejekan jack.


“Ishh jangan meledek saya jack! Saya sedang tak bernafsu membalas ledekan mu.! Saya sedang menenangkan diri disini! Kejadian tadi cukup mengagetkan saya. Dan yang membuat saya shock kamu yang menyebalkan ini adalah sepupu saya.” Meida memegang kepalanya frustasi. Melihat ekspresi meida, Jack malah tertawa.

__ADS_1


“Saya juga pas awalan tahu shock meida. Gadis cengeng yang saya antar pulang ternyata sepupu saya. Saya minta maaf atas sikap om Gilbert sama kamu, saya tahu kamu pasti sakit hati.” Kekeh jack sambil menepuk bahu meida.


“Kenapa harus kamu yang minta maaf jack? Kamu gak salah! Lagian saya gak marah sama kamu!” Terang meida sambil memilin hijabnya.


“Bagus deh, kalau kamu gak marah sama saya. Kamu juga jangan marah sama Ko Andress, dia nyari kamu keliling kota di negeri ini, dan menemukan mu di kota Bandung. Pas tahu kamu adiknya hati ko andress sangat hancur, karena adik yang selama ini di carinya berada didekatnya. Saya mohon kamu jangan marah sama dia, dia nyari kamu sampai pernah koma dan depresi. Saya mohon kamu menghargai perjuangannya,”  Terang jack dengan wajah menghiba.


“Jack, ini terlalu tiba-tiba untuk saya. Saya butuh waktu!” Jawab meida dengan wajah sendu.


“Saya tahu! Saya ingin memberitahu mu bahwa ko Andress tak bersalah, yang bersalah adalah orang tua mu. Asal kamu tahu meida, keluarga mu hancur setelah kepergian mu. Mommy mu  depresi, Daddy mu menyesal, andress yang di hantui rasa bersalah, dan Jonathan kekurangan kasih sayang. Itulah keadaan keluarga mu setelah kepergian mu.” Meida mendengarkan ucapan jack dengan menundukkan kepalanya.


“Tapi saya masih kecewa jack, saya butuh waktu untuk mengobati hati saya.”


“Itu kembali pada mu meida. Kamu yang merasakan, kamu yang menjalani. Saya harap kamu mengambil langkah terbaik. Saya do'akan semoga kamu bahagia,” ucap tulus dengan tersenyum hangat.


“Terima kasih jack.” Senyum tulus meida.


“Meida, maaf saya tak bisa menemani mu lebih lama. Saya harus kembali ke Rumah Sakit, sebentar lagi jadwal operasi saya. Jika kamu butuh tempat curhat, datanglah ke Rumah sakit, ruang saya ada di lantai 5. Saya siap mendengar curhatan dari kamu.” Jack berdiri dari posisinya. Ia merapikan penampilan nya. Lalu mengelus hijab meida pelan.


“Saya pergi dulu. Kamu langsung pulang!” Meida menganggukkan kepalanya lemah. Antara menuruti dan menolak.


“Assalamualaikum.” Pamit jack sambil berjalan ke parkiran mobil.


“Waalaikumsalam.”


-


“Thank you Mr. Rober for the information. Sorry to disturb your rest. Have a good rest!”


“No problem Mr. Melvin. You can contact me again, if you need anything.”


-


Maafnya otor lama up nya, akhir tahun banyak kegiatannya 🥺🙏


Tadinya otor hari ini mau up 2 bab, tapi kayaknya gak bisa🥺


Hampura pisan 🙏🙏🙏


Ini belum otor edit, palingan nanti di revisi ulang🤭


Hatur nuhun kasadayana♥️♥️♥️🤗🤗🤗


 

__ADS_1


__ADS_2