Kita Berbeda

Kita Berbeda
Panic Attack


__ADS_3

Hospital Internasional Centre


Setelah mengunci mobilnya, melvin langsung menghubungi melisa untuk menanyakan keberadaannya dimana sekarang. Ia langsung berlari menuju ruang UGD, setelah mendapat kabar dari melisa, bahwa meida sedang ditangani disana.


“Meida dimana dek?” Tanya melvin dengan wajah ngos-ngosan. Ia langsung memeluk melisa yang sedang mondar-mandir di depan pintu ruang UGD. Melisa terlihat sedang menggigit ibu jarinya, dengan wajah tertunduk pertanda ia sedang dihinggapi rasa khawatir. Melisa langsung menangis dipelukan melvin, setelah cukup tenang, ia baru menjawab pertanyaan melvin.


“Meida sedang ditangani di dalam ko. Dokternya belum keluar dari tadi.” Melvin langsung melihat kearah pintu kaca yang berada disampingnya sambil mengusap pelan kepala melisa yang berada dipeluknya.


“Ya Tuhan. Kita berdoa saja, semoga meida baik-baik saja.” Melisa melepaskan pelukan melvin. Ia memandang wajah Koko nya dengan pandangan buram dengan ekspresi wajah yang seperti takut kehilangan.


“Aku takut dia kenapa-kenapa ko,” ucap melisa dengan berderai air mata. Melvin menuntun adiknya agar duduk dikursi panjang yang berada di rumah sakit itu.


“Tenanglah! Dia pasti baik-baik saja. Ayoo kita duduk dulu disana!" Melisa mengikuti langkah melvin dan duduk disampingnya. Setelah duduk, Melvin langsung menyandarkan kepala melisa dibahunya.


“Apa yang meida lakukan selama di panti dek?” Tanya melvin sambil menghapus air mata diwajah oval melisa.


“Meida gak ngapa-ngapain ko. Kita cuman happy-happy doang sama anak panti. Cuman tadi dia sempet ngobrol sama Pak Louis. Ia sampai nangis mendengar cerita pak Louis. Aku gak tahu pak Louis cerita apa? Sampai meida bisa nangis kayak gitu.” Terang melisa sambil menghapus sisa-sisa air mata diwajahnya.


“Siapa pak Louis?” Tanya bingung melvin, menuntut jawaban dari Melisa.


“Aku kurang tahu ko. Aku cuman ngobrol sama pak Zyan, bawahannya pak Louis. Pemilik kafe tempat meida kerja dulu, sebelum kerja sama koko. Mereka terlihat dekat sekali, seperti orang yang sudah lama kenal.” Terang melisa dengan suara yang mulai tenang. Rasa takutnya kini hilang setelah kedatangan melvin.


“Apa pak Louis itu masih muda?” Tanya melvin memandang serius wajah melisa dengan air muka menyelidik.


“Pak Louis sudah lumayan tua ko. Sepantaran dengan daddy. Emang kenapa?” Jawab santai melisa, yang mampu menenangkan hati melvin.


“Enggak, cuman koko penasaran aja.” Melisa terkekeh mendengar jawaban melvin. Ia hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah posesif melvin pada meida.


“Koko cemburu yah?” Mendapat pertanyaan melisa, wajah melvin memerah. Ia menjawab pertanyaan melisa dengan memalingkan wajahnya kesamping, agar melisa tak melihat wajah merahnya.


“Eng-gak! Siapa yang cemburu? Udah-udah! Sekarang bukan waktunya untuk ngebahas yang kayak begituan. Kondisi meida yang jadi fokus kita sekarang!” ucap melvin mengalihkan pembicaraan. Ia malu jika melisa mengetahui perasaannya pada meida, walaupun sebenarnya melisa sudah mengetahui perasaan kakaknya itu.


Melisa menyandarkan kepalanya di kursi tunggu sambil menunggu dokter keluar, setelah selesai memeriksa kondisi meida. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.


“Ko, gimana hasil pencarian keluarga meida? Apa sudah menemukan petunjuk?” Tanya melisa memandang wajah melvin dari arah samping. Melvin menolehkan kepalanya kearah melisa yang sedang memandangnya.


“Sudah dek. Koko dan dion sampai kaget mengetahui kebenarannya.” Jawab lirih melvin sambil memegang sebelah tangan melisa. Ia melanjutkan ucapannya,


“Kamu ingat keluarga Atmaja kan? Pemilik rumah sakit ini! Yang anaknya hilang 20 tahun lalu?" Melisa mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan aneh melvin. Ia dibuat bingung dengan pertanyaan melvin, padahal ia menanyakan keluarga meida bukan tentang anak yang hilang.


“Lisa gak tahu. Tapi pernah denger dari selentingan orang, kalau anak perempuan mereka hilang dan belum ditemukan sampai sekarang.” Jawab melisa sambil menatap bingung kearah melvin. Melvin tahu melisa sedang bingung dengan pertanyaan nya sekarang.


“Dan dari hasil pencarian koko selama ini, ternyata anak dari keluarga Atmaja yang hilang itu adalah meida. Meida adalah bayi perempuan keluarga Atmaja yang hilang 20 tahun lalu.” Bisik pelan melvin ke telinga melisa ketika seorang perawat melintas didepan mereka. Melisa dibuat kaget dengan ucapan melvin.


“Apa??” Melvin menganggukan kepalanya, dan meletakan satu jari telunjuknya dibibir melisa. Agar melisa tidak bicara terlalu keras.


“Koko juga kaget setelah membaca data itu.” Lirih pelan melvin ketika beberapa orang berjalan melewati kursi mereka.


“Koko tahu darimana tentang itu? Koko jangan asal menyimpulkan, karena ini berkaitan dengan hidup seseorang!” Bisik melisa dengan wajah serius. Melvin merespon ucapannya dengan mendekatkan bibirnya ke telinga melisa.


“Koko mendapat data itu dari 3 sumber. Pertama, dari cerita bibi meida ketika kami masih berada di Bandung. Data yang kedua, dari Mantan ART yang pernah bekerja lama di keluarga Atmaja. Dan yang ketiga, dari cerita om-nya jonathan yang membuang bayi itu.” Terang melvin pelan. Ia takut ada orang yang menguping pembicaraan mereka.


“Dari cerita bi Ina ko?” Tanya melisa mengingat nama yang sering diceritakan kakaknya.


“Iya. Koko mengetahuinya dari bi ina.” Melvin menganggukan kepalanya. Ia melihat kearah sekitar. Setelah dirasa cukup aman, dia melanjutkan ceritanya.


“Menurut cerita dari bi ina, meida ditemukan di pelantara masjid di kota Surabaya sekitar jam 7 malam. Ketika mereka akan beristirahat untuk melakukan sembahyang setelah perjalanan panjang dari kota Malang. Dari cerita mantan ART keluarga Atmaja, ia pernah mendengar obrolan keluarga Atmaja, Johan pernah mengatakan bahwa bayi yang diculiknya itu di buang di pelantara masjid yang ada di kota ini. Dan menurut cerita jonathan, yang bersumber dari om nya, bahwa bayi itu memiliki tanda lahir bulan sabit di telapak tangan kanannya, tanda hitam di bawah telinganya, dan bayi itu memakai kalung berlian berliontin biru." Melvin menjeda ucapannya, lalu ia memandang serius kearah melisa.

__ADS_1


"Meida memiliki tanda itu dek. Lihatlah di telapak tangan kanannya, ia benar-benar memiliki tanda lahir bulan sabit itu. Dan koko pun pernah melihat dia mengenakan kalung berlian berliontin biru. Apa itu kebetulan? Koko rasa tidak! Tapi ada satu lagi yang belum koko pastikan, tentang tanda hitam yang berada dibawah telinganya. Koko sulit melihatnya, karena ia selalu mengenakan hijab.” Terang pelan melvin yang membuat wajah melisa shock seketika.


“Serius itu ko?” Tanya serius Melisa yang masih membulatkan matanya.


“Mana pernah koko bohong! Coba kamu kaitkan cerita hidup meida yang pernah kamu dengar, dengan kehilangan bayi dari keluarga Atmaja? Itu semua berkesinambungan dek, ada kaitan satu sama lainnya.” Terang serius melvin sambil menyugar rambutnya ke belakang. Kebetulan sekali di ruang itu hanya ada beberapa orang yang sedang memainkan ponselnya. Jadi melvin lumayan tenang, karena tak ada orang yang mendengar pembicaraan pelan mereka.


Melisa mengangkat kedua tangannya, lalu ia letakkan dikepalanya sambil berpikir.


“Bentar ... bentar ... bentar! Aku mau mencerna cerita ini pelan-pelan, ini semua lumayan membuatku kaget. Jika memang meida dari keluarga Atmaja, terus dia anak siapa?” Tanya pelan melisa mencondongkan kepalanya ke telinga melvin.


“Bukankah anak kandung dari Almarhum Maxime Atmaja yang terekspos cuman satu? Yaitu Gilbert Atmaja, yang wajahnya sering terlihat wara-wiri di majalah Forbes?” Jawab pelan melvin sambil mengangkat sebelah alisnya. Melisa semakin terkejut dengan jawaban melvin.


“Berarti yang sering terlihat di majalah Forbes itu adalah Gilbert Atmaja? Orang yang sangat berkemungkinan menjadi Ayahnya meida?” Tanya serius melisa dengan wajah tegang. Ia mengingat wajah itu yang baru tadi memarahi meida.


“Iya. Besar kemungkinan itu ayahnya meida. Menurut beberapa data yang koko kumpulkan!" ucap melvin yang membuat kaget wajah melisa dan terlihat semakin tegang.


“Apa?? Berarti bener orang itu adalah ayahnya meida?" ucap lesu melisa dengan wajah pucat.


“Iya benar. Emang kenapa? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?” Melvin dibuat heran dengan wajah melisa yang tiba-tiba pucat seperti itu. Melisa menarik napasnya secara teratur, ia mengungkapkan kegelisahan hatinya pada melvin.


“Tadi, sebelum aku dan meida pergi ke Panti Asuhan, kami sempat pergi ke swalayan untuk membeli kebutuhan buat anak-anak panti. Tadi kami bertemu dengan Dengan lelaki itu. Lelaki itu memarahi dan menghina meida, sepertinya meida sering terlibat percekcokan dengan lelaki itu?” ucap pelan melisa menceritakan kejadian tadi tanpa menyebut nama laki-laki paruh baya yang menghina meida.


“Laki-laki itu siapa maksudnya dek?” Kini Melvin yang dibuat bingung dengan ucapan melisa


“Gilbert Atmaja ko. Orang ini yang tadi menghina meida! Bagaimana ini ko? Tadi aja meida sampai tertunduk menahan tangis mendengar hinaan dari lelaki ini. Bagaimana perasaan meida jika tahu lelaki yang menghinanya adalah Ayahnya sendiri,” Terang melisa dengan wajah sendu. Melvin mengelus wajah adiknya dengan mimik muka pasrah.


“Entahlah dek, keluarga Atmaja benar-benar berantakan. Kau tahu jonathan kan? Anak laki-laki yang beberapa minggu ini tinggal di apartemen koko?”


“Iya tahu. Adik baru koko itu, sampai koko jarang pulang ke rumah.” Jawab cemberut melisa sambil memanyunkan bibirnya.


“Dia adalah anak bungsu dari Gilbert Atmaja, dia diusir oleh daddy nya sendiri. Dia rela meninggalkan kehidupan mewah nya dan lebih memilih tinggal ditengah-tengah kami.” Melisa dibuat kaget kembali dengan perkataan melvin. Ia baru tahu, anak dari salah satu orang terkaya di Indonesia, tinggal di apartemen kakaknya.


“Jika jonathan anak bungsu dari keluarga Atmaja. Berarti dia adik kandungnya meida? Berarti mereka kakak beradik?” Tanya melisa setelah kesadarannya pulih kembali.


“Iyaps tepat sekali. Meida dan jonathan adalah kakak beradik yang sudah lama terpisahkan. Walaupun jonathan baru beberapa kali bertemu dengan meida, ia sudah nempel kemana pun meida pergi. Yahh, mungkin karena mereka memiliki ikatan batin yang kuat, dan memiliki kesamaan emosional. Makanya sampai sekarangpun, jonathan tak bisa tinggal jauh-jauh dari meida,” ujar melvin sambil melepaskan ikatan dasi dilehernya. Lalu ia menyimpan dasi itu di saku jasnya.


“Pantas saja wajah mereka terlihat mirip. Yah, jelaslah bahwa mereka berasal dari orang tua yang sama,” sahut melisa setelah menggetok kepalanya pelan.


“Iya. Jonathan sudah tahu bahwa meida adalah cicinya, tapi meida belum mengetahui kalau jonathan adalah adiknya. Koko mohon, rahasiakan ini semua dari meida. Karena koko harus benar-benar memastikannya! Koko harus mengumpulkan data valid untuk dijadikan bukti, tentang keterkaitan keduanya. Karena kamu pasti tahu, inti permasalahannya adalah bayi itu hilangnya sudah lama, dan meida baru muncul sekarang. Jadi koko harus menyatukan segala keterkaitan keduanya, supaya tidak ada masalah ataupun perselisihan kedepannya.” Melisa mencerna seksama ucapan melvin sambil menganggukkan kepalanya.


“Baiklah ko. Aku janji akan menjaga rahasia ini dengan sebaik-baiknya.” Melvin tersenyum kearah melisa sambil mengacak-ngacak rambutnya.


“Good girls.” Kekeh melvin setelah melihat wajah cemberut melisa.


-


Jack duduk di sofa ruang kerja andress, ia memperhatikan mimik wajah andress yang terlihat murung. Jack dibuat aneh dengan perubahan mimik wajah andress, yang terbilang cepat berubah.


“Ko, sikap mu beberapa hari kemarin terlihat ceria, kenapa sekarang kembali murung? Tumben-tumbenan jam istirahat koko masih stay disini, biasa nya juga udah capcus pergi nongkrong ke kafe,” ucap jack menatap wajah andress dengan mengerutkan dahinya. Andress melirik sebentar kearah jack, lalu ia meletakkan ponsel di meja kerjanya.


“Satu masalah aja belum kelar, datang lagi masalah yang baru. Saya bingung harus apa?” Keluh Andress tanpa melihat wajah jack. Jack dibuat bingung dengan jawaban andress yang tak nyambung dengan pertanyaannya.


“Ada masalah apa ko? Perasaan kerjaan gak ada masalah sama sekali deh.” Jawab bingung jack sambil menaikan satu alisnya.


“Bukan masalah pekerjaan jack, tapi masalah personal. Ini tentang keluarga saya!” ucap andress dengan lesu.


“Apa tante zaina baik-baik saja ko?” Tanya khawatir jack menanyakan keadaan tantenya.

__ADS_1


“Keadaan mommy sekarang sudah lebih baik. Dia 95% sudah normal, tinggal pemulihan saja jack. Mommy sudah membaik, tapi sekarang jonathan yang pergi!” Jawab lesu andress sambil menangkupkan wajahnya diatas meja.


“Jonathan pergi? Kenapa dia bisa pergi?” Tanya bingung jack sambil berjalan menghampiri andress.


“Dia diusir daddy! Saya gak tahu apa permasalahannya?” Jack duduk di depan andress sambil menompang kepala dengan satu tangannya.


“Yang benar saja ko? Gak mungkin om Gilbert setega itu?” Andress mengangkatkan kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan yang jack utarakan.


“Tapi itu kenyataannya jack. Daddy tak memperdulikan keadaan jonathan sama sekali. Ia tak merasa bersalah sedikitpun setelah mengusir jonathan pergi,” ucap lirih andress dengan wajah sendu.


“Ya Tuhan, koko sudah tahu keberadaan jonathan sekarang dimana?” Andress hanya menggelengkan kepalanya,


“Tidak jack, saya tidak tahu keberadaan jonathan sekarang dimana. Saya sempat mengunjungi jonathan kesekolahnya, tapi dia malah meminta saya untuk tidak mencarinya. Dia lebih memilih pergi dari kehidupan kami, dia meminta kami untuk merenungi segala perbuatan yang telah kami perbuat padanya!” ucap jujur andress sambil menundukkan wajahnya.


“Apa yang pernah kalian perbuat pada jonathan, sehingga ia pergi? Pantas saja, sudah beberapa minggu ini aku tak pernah melihatnya.”


“Kami telah melakukan kesalahan fatal jack, hingga membuatnya terluka.” Jack dibuat terkejut dengan pengakuan andress. Walaupun ia sudah tahu perilaku keluarga itu terhadap jonathan.


“Apa kalian telah melukai hatinya? Seharusnya kalian berkaca dari kejadian jaslin dulu, bukan mengulanginya lagi!” Kesal jack sambil mengacak-ngacak rambutnya, setelah mendengar ucapan andress. Andress hanya menundukkan kepalanya, ia sadar akan kesalahannya.


“Yah, saya dan mommy menyesal sekarang. Apa boleh buat? Semuanya telah terjadi,” ucap lirih andress sambil memijit dahinya pelan.


“Itulah kenapa dulu aku sering menasehati koko! Bukan apa-apa, aku melihat jonathan terlihat seperti anak yang sedang kesepian. Setiap aku mengunjungi rumah Koko, aku selalu melihat dia termenung sendiri di samping kolam renang, ia seperti orang yang sedang menanggung banyak beban. Kenapa dulu aku sering meminta koko untuk meluangkan waktu bersama jonathan? Agar kejadiannya tidak seperti ini!” ucap panjang lebar jack, menasehati andress.


“Percuma jack kau menasehati saya sekarang. Jonathan sudah pergi! Bantu saya untuk menyadarkan daddy, agar sikap dia tak egois. Agar dia bisa melunakkan hatinya, dan menyayangi kami semua.” Harap andress sambil menangkupkan kedua tangan diwajahnya. Tiba-tiba ponsel di depannya berdering. Terlihat ada panggilan masuk dari rekan kerjanya.


“Hallo dokter sam. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya andress setelah panggilan itu tersambung


-


“Oh baiklah dok, nanti saya bantu.”


-


“Baik dok,” ucap andress mengakhiri panggilan itu.


-


“Ada apa ko?” Tanya kepo jack kearah andress.


“Dokter sam minta bantuan saya, untuk menghandle kedua pasiennya yang menderita Panic Attack. Dia menyuruh saya untuk visit mereka di jam 16:00 dan 17:00.  Katanya sore ini dia izin, mau menjemput orang tua nya ke bandara.” Terang Andress dengan wajah lesu. Padahal istirahat sore ini, akan ia gunakan untuk tidur.


“Oh ... Panic Attack biasanya dialami oleh orang yang terkena gangguan mental yah ko?” Tanya jack kemudian.


“Tergantung jack.” Jawab singkat Andress, menatap kesal kearah jack.


-


Kira-kira Andress ketemu sama Johan dan Meida gak yah??


Seperti biasa, buat besok otor libur up yah🤗


Kembali up lagi hari senin😁


Kuylah like, vote, komen sama hadiahnya di tunggu 🤭🤗♥️


Hatur nuhun buat yang masih stay di novel receh ini♥️

__ADS_1


Happy Weekend Guys🥳🥳🥳


__ADS_2