
“Ko, Mamih sama Melisa pulang dulu yah! Papih kamu terus nelponin mamih! Mamih takut papih kamu curiga, apalagi siang ini mamih ada janji dengan papih kamu! Gak papa Kan?” Helena menunjukkan ponselnya pada Melvin, memperlihatkan nama yang tertera di layar ponselnya. Melvin tersenyum dengan menggigit bibirnya.
“Yaudah. Mamih duluan aja! Koko masih betah disini, ada sesuatu yang ingin koko tanyakan pada Ustadz Zhaf. Mamih sama Melisa hati-hati di jalan, kalau sudah sampai kabari koko!” Helena menganggukkan kepalanya mencium pipi melvin lalu berpamitan kepada semua orang yang berada di ruang itu. Meida dan Melvin mengantar Helena dan Melisa sampai parkiran,
“Kalau ada apa-apa kabari Mamih! Meida tante pulang dulu yah!” Setelah berpamitan. Helena mencium dan memeluk meida lalu memeluk melvin kembali. Ia dan Melisa masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan.
“Meida, kamu tak ingin mengatakan sesuatu pada saya?” Tanya Melvin setelah melihat mobil Mamihnya sudah hilang dari pandangan matanya. Meida merapikan kerudungnya untuk menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba datang jika berdekatan dengan Melvin.
“Katakan apa yah?” Tanya pura-pura meida sambil berjalan lebih dulu untuk menghindari melvin. Melvin mengikuti langkahnya di belakang, ia gemas melihat tingkah Meida yang malu-malu padanya.
“Yaudah kalau kamu gak mau bilang apa-apa. Padahal saya sangat berharap loh kamu mengatakan sesuatu pada saya.” Lirih pelan Melvin yang berjalan di samping Meida, yang langsung membuat meida menghentikan langkahnya dan ia tersenyum kearah melvin.
“Saya gak bisa berkata apa-apa pada Tuan. Saya terlalu bahagia, sampai tak bisa mengungkapkan isi hati saya.” Mendengar ucapan meida, melvin tersenyum sambil merapikan peci hitamnya.
“Terima kasih sudah memilih Islam untuk jalan hidup Tuan. Saya berdoa semoga Tuan tetap Istiqamah dengan pilihan Tuan. Dan semoga Tuan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ini setelah ini, menjadi seorang lelaki yang Sholeh.” Meida menatap aneh kearah melvin yang tadi tersenyum tiba-tiba sekarang cemberut. Ia tak mengetahui, melvin tengah kesal karena dia masih memanggilnya dengan sebutan Tuan.
“Jangan panggil saya Tuan! Saya bukan Tuan kamu meida! Kamu bukan karyawan sama, tapi calon Istri saya. Saya tak ingin kamu memanggil saya dengan sebutan itu lagi! Kamu bisa panggil saya sayang, baby, honey, apa kek, asal jangan Tuan!” Pinta melvin sambil menyusuri jalan yang pinggir nya di penuhi oleh pohon palem yang terawat dengan baik.
“Saya pikir-pikir dulu yah, harus panggil kamu dengan sebutan apa.” Meida mensejajarkan langkahnya dengan Melvin yang tersenyum mendengar meida menyebutnya dengan sebutan kamu.
“Panggil sayang aja?” Kekeh Melvin sambil menyampingkan kepalanya kearah Meida yang sedang menimbang-nimbang ucapannya.
“No no no! Saya geli manggil kamu dengan sebutan itu.” Kekeh meida.
“Yaudah terserah kamu manggil saya apa, yang penting kamu jangan manggil saya Tuan. Emm ... Meida, saya ingin bicara sesuatu sama kamu mengenai pernikahan kita, saya minta pendapat kamu setuju apa enggaknya. Rencananya, pernikahan kita akan saya gelar 1 bulan lagi, apa kamu tidak keberatan meida?” Tanya Melvin menghentikan langkahnya, ia menyandarkan tubuhnya pada pohon palem. Ia memandang kearah meida yang sedang berpikir sambil menggigit bibirnya.
“Apa itu tidak terlalu cepat?” Melvin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Ia ingin cepat-cepat menghalalkan meida agar tidak diambil orang, karena ia tahu banyak orang yang mengagumi calon istrinya itu.
“Kalau menurut saya sih enggak. Saya sengaja memilih bulan depan karena bertepatan dengan awal pertemuan kita di kafe itu. Saya sengaja memilih tanggal dimana kita bertemu. Satu tahun lalu saya bertemu kamu disana (kafe) karena kebetulan, dan tahun sekarang saya bertemu kamu disini (pelaminan) karena takdir. Kamu gak perlu mikir apa-apa! Biar saya yang mengatur semuanya.” Terang Melvin sambil mengusap hijab Meida lalu ia memasukan kedua tangan ke kantong celananya.
“Kamu tenang saja, walaupun kamu masih belum bisa menerima keluarga kamu. Saya yang akan meminta restu pada mereka. Gak papa kan? Tapi saya ingin kita bersama-sama meminta restu pada mereka. Walaupun kamu belum ingin menemui mereka, tapi mereka tetap keluarga mu. Kita butuh do'a dan restu dari mereka, agar niat kita kedepannya tidak ada kendala.” Meida diam termenung mendengar perkataan Melvin. Ia merespon ucapannya dengan diam, membiarkan hati dan nuraninya berperang menemukan jalan.
“Udah jangan sedih! Mulai sekarang kamu adalah bagian hidup saya! Saya akan memberikan yang terbaik semampu saya. Do'akan saya semoga menjadi suami terbaik untuk kamu. Di apartemen nanti, gak papa kan saya mengutarakan niat saya pada Bu Ina dan Jonathan?” Meida memandang melvin dalam. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan, pertanyaan yang mengganjal hatinya akhir-akhir ini.
“Apa Papih kamu sudah merestui hubungan kita? Saya tak ingin menikah tanpa restu papihmu. Jika terlalu memaksakan kehendak, saya takut sesuatu terjadi pada hubungan kita.” Meida mengungkapkan kekhawatirannya. Melvin pura-pura tersenyum untuk menutupi kekhawatiran Meida. Padahal permasalahan utamanya adalah terkendala restu papihnya.
“Don’t worry! Semua akan baik-baik saja. Jangan mikirin yang aneh-aneh! Saya cuman minta sama kamu jangan pernah pergi meninggalkan saya, itu aja! Saya orangnya setia! Dan jangan pernah meragukan kesetian saya! Karena kehidupan saya, baru di mulai sekarang. Masalah papih biar saya urus sendiri, ok!” Melvin mengajak meida kembali berjalan, karena orang di dalam pasti menunggu kedatangan dari mereka.
“Bukankah kita sudah berjanji akan melewati semua masalah bersama-sama? Jangan tanyakan kesetiaan saya! Kamu jangan pernah kecewakan saya, saya janji akan loyal sama kamu.” Sahut meida memandang dalam wajah calon suaminya dari samping.
“Entahlah, rasa takut itu tiba-tiba datang meida. Kenapa saya setakut ini kehilangan kamu. Rasanya saya tak bisa melanjutkan hidup saya, jika kamu pergi meninggalkan saya.” Lirih Melvin dengan wajah sendu. Rasa takut yang menghantuinya sekarang adalah kehilangan meida. Ia tak mampu membayangkan bila meida benar-benar pergi meninggalkannya.
“Jangan seperti itu! Gimana kalau saya mati duluan? Gak mungkinkan kalau kamu gak melanjutkan hidup kamu! Mintalah sama Allah, karena hidup mati saya berada dalam genggamannya,” Ucap bijak meida sambil tersenyum kearah Melvin yang sedang menatapnya dalam.
“Shutt jangan ngomong kayak gitu! Saya paling gak suka membahas itu. Saya ingin Allah mencabut nyawa saya terlebih dahulu baru kamu. Karena saya tak mungkin bisa melanjutkan hidup saya tanpa kamu. Rasanya hidup saya membosankan tanpa kehadiran kamu meida.” Meida terkekeh mendengar ucapan Melvin. Ia membalikkan posisinya berjalan di depan melvin dengan berhadapan. Ia menatap Melvin dengan berjalan mundur
“Jangan seperti itu. Walaupun ada ataupun tidak ada saya, kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu. Karena waktu terus berjalan, roda terus berputar, lambat laun kamu akan melupakan saya dengan sendirinya. Hiduplah walaupun tanpa saya, saya akan selalu ada disini, menemanimu, saya tak akan membiarkan kamu sendirian.” Tunjuk Meida kedada bidang melvin. Ucapannya mampu menenangkan kegelisahan di hati melvin.
__ADS_1
“Ayoo kita masuk! Jangan bahas-bahas itu lagi!” Melvin membalikkan posisi meida dengan memegang bahunya. Ia mendorong tubuh meida pelan agar segera sampai di rumah Ustadz Zhaf.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah minimalis yang terdengar obrolan hangat. Kedatangan mereka sudah di tunggu oleh semua orang yang sedang duduk di ruang itu.
“Silahkan duduk!” Meida memilih duduk di samping Bi Ina dan Ustadzah Ningrum, sementara melvin duduk di samping Jonathan. Ustadzah Zhaf melirik sebentar kearah meida lalu kearah Melvin dengan tersenyum.
“Mbak ini siapanya Mas yah? Saudaranya apa adiknya?” Melvin tersenyum renyah mendengar pertanyaann Ustadz Zhaf yang menganggap meida saudaranya. Berarti selama mengobrol disini, bi ina tak menceritakan status mereka.
“Ini Meida Khanza Ustadz, calon Istri saya.” Senyum manis di bibir ustadz zhaf tiba-tiba lenyap, berganti dengan mulut mengaga membentuk huruf o dengan manggut-manggut kepala.
“Oh calon istrinya, saya kira masih saudara Mas. Kapan Mas akan menghalalkan mbak Meida?” Melvin tersenyum kearah meida dengan mengagukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ustadz Zhaf.
“Inn Shaa Allah 1 bulan lagi Ustadz. Do'akan saya, semoga dimudahkan dan dilancarkan. Karena Ustadz tahu sendiri keluarga kami masih banyak yang non muslim.” Bi Ina dan Jonathan saling pandang dengan mata melotot. Mereka kaget dengan keputusan melvin yang akan menikahi meida 1 bulan lagi.
“Serius ko?” Tanya jonathan dengan wajah serius memandang kearah melvin dan meida. Ia menunggu penjelasan dari keduanya.
“Koko serius Jo. Lebih cepat lebih baik. Do'akan terus koko sama cici mu yah, agar niat kami dimudahkan oleh Allah.”
“Semoga Allah memudahkan hajat kalian,” Doa tulus Ustadz Zhaf tersenyum menutupi rasa kecewanya.
“Mohon maaf pertanyaan saya lancang. Apa Mas masuk Islam karena akan menikahi Mbak ini?” Tanya Ustadzah itu sambil menunjuk kearah meida. Melvin meminum air kemasan yang berada di depannya lalu ia berdehem. Ustadz zhaf dengan seksama memperhatikan wajah melvin tanpa berkedip, ia ingin mendengar jawaban melvin tentang asal muasal niatnya masuk Islam.
“Sebenarnya tidak. Saya sudah memikirkannya jauh-jauh hari sebelum kenal Meida, tapi Allah belum menggerakkan hati. Waktu itu saya punya rekan bisnis keturunan Korea Selatan namanya Mr. Kim, Alhamdulillah dia lebih dulu menjadi mualaf dari pada saya. Waktu itu saya dan dia sharing-sharing mengenai kultural umat beragama disini, karena dia sedang meneliti agama tersebut satu persatu. Kebetulan waktu itu keyakinan saya dan dia sama.” Melvin menarik napas dalam lalu melanjutkan ceritanya.
“Suatu ketika, Mr. Kim mengajukan suatu ayat dalam Alkitab pada saya, yang mengatakan, ”Jangan sampai kita sudah setiap hari menyeru ‘Tuhan-Tuhan,’ tetapi tidak selamat seperti yang tertulis dalam kitab Injil.” Waktu itu dia galau setelah membaca ayat tersebut dan curhat pada saya.
“Entahlah Kata-kata ini seakan terpatri dalam benak saya. Malam hari, saya mencari ayat itu dalam Alkitab dan menemukannya, yaitu pada Matius 7:21, yang isinya, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-ku yang di sorga.” Melvin menghapus air matanya yang sudah berkaca-kaca. Semua orang yang mendengar cerita Melvin terpana, tak terkecuali Jonathan. Ia ingin mendengar lebih lanjut perjalanan spiritual calon kakak iparnya tersebut dalam menemukan Islam.
Sepertinya ayat ini sangat berkaitan dengan apa yang telah saya lakukan selama ini, dan saya takut ternyata saya termasuk yang pada akhirnya tidak masuk surga. ” Ruang itu nampak hening. Hanya helaan nafas Melvin yang terdengar.
“Tapi waktu itu saya belum bisa menyimpulkan apa yang saya rasa. Saya masih dalam fase kegamangan, dalam fase pencarian. Mungkin hidayah Allah belum datang menghampiri saya.” Melvin mengusap air matanya.
Yang berada di ruang itu seakan tertarik oleh cerita Melvin. Mereka dibuat takjub sekaligus terharu, sampai tak sadar mereka sudah meneteskan air mata.
“Tapi keyakinan itu semakin kuat ketika saya mengantar meida pulang ke kampungnya di Bandung. Setiap sore dan malam saya dan Jonathan sengaja mendengarkan suara adzan, seperti ada ketertarikan dalam hati kami yang tak mampu diungkapkan. Hati saya nyaman dan damai ketika mendengarnya. Saya tak bisa melukiskan perasaan saya setiap kali mendengarnya.” Melvin menjeda ucapannya
“Masya Allah karunia Allah sungguh luar biasa pada mu Nak. Kamu adalah salah satu orang terpilih untuk menerima hidayah-nya.” Lirih Ustadzah Ningrum sambil menghapus air mata.
“Alhamdulillah Bu, Allah memberikan hidayahnya pada saya. Saya merasakan keajaiban itu. Padahal tadi malam, saya masih meragukannya, masih merasa sombong, tapi Allah menunjukan sesuatu pada saya dengan kuasa-Nya.” Lirih Melvin sambil menerawang kepada kejadian malam.
“Maksud Mas? Ceritalah! Agar kami bisa mengambil ibrah dari cerita mas. Agar cerita mas bisa menambah kadar keimanan kami.” Ustadz Zhaf memandang serius kearah Melvin begitupun yang lainnya. Mereka tertarik dengan kelanjutan cerita melvin yang memotivasi mereka untuk menjadi pribadi lebih baik lagi.
“Saya membawa pulang Al-Qur’an yang ada terjemahannya (Tafsir) yang saya pinjam dari salah satu Assisten rumah tangga saya yang berada di Malang, Kebetulan saya punya rumah disana. Apa yang saya temukan ketika sedang membaca Al-Qur’an tidak seperti ketika saya sedang membaca sebuah cerita. Itu terasa seperti seseorang memberi saya perintah atau petunjuk.
Malam kemarin, ketika saya pulang ke apartemen. Saya memutuskan untuk mencoba dan membuat suasana rohaniah, saya menyalakan lilin, membiarkan jendela dan gorden terbuka, mematikan lampu. Saya mencoba untuk benar-benar merasakan nuansa rohani itu. Saya duduk disana lalu berpikir “Ini dia! Inilah malamnya! Inilah saatnya!”
Saya telah menyelidiki semua bukti rohani, semua bukti ilmu pengetahuan tentang fakta bahwa gunung adalah penyangga bumi, tentang bagaimana embrio berkembang dalam janin wanita, semuanya adalah bukti yang menakjubkan tapi saya masih butuh sedikit motivasi lagi. Ini terasa seperti saya berada di pinggir sebuah tebing, saya siap melompat, saya hanya butuh sebuah dorongan saja.
__ADS_1
Saya duduk di sana, dalam nuansa yang sangat sunyi. Saya membaca aksara latin Alquran dan berhenti. Saya mengatakan, “Allah, inilah saatnya. Inilah waktunya saya memasuki Islam, apa yang saya butuhkan hanyalah sedikit tanda kebesaran-Mu, sedikit saja, tidak usah yang besar, mungkin sebuah kilat, mungkin setengah lemari itu ambruk, mungkin kaca itu retak. Atau yang Kau tahu, yang kecil, kecil untuk-Mu, Kaulah yang menciptakan bumi, ayolah.” Melvin mengusap air matanya dengan tisu lalu ia menatap kearah langit-langit ruang itu. Ruang itu kini hening, yang terdengar hanyalah suara isakan mereka.
“Jadi saya duduk disana, saya menunggu kemungkinan api di lilin itu melompat 4 meter di udara seperti yang terjadi di film-film. Dan saya berkata, “Oke, ayolah!” Dan subhanallah, tidak terjadi apa-apa. Benar-benar tidak terjadi apapun.
Sebenarnya saya sangat kecewa. Saya masih duduk disana dan saya ulangi perkataan saya, “Allah, ini kesempatan-Mu. Saya di sini. Saya tidak pergi kemanapun. Saya akan memberi-Mu kesempatan kedua.
Mungkin Kau sedang sibuk. Ini malam hari, mungkin Kau sedang mengatur dunia karena ada banyak hal yang terjadi. Kali ini mungkin hanya penampakan karpet terbang, Kau tahu sesuatu yang kecil. Lupakan saja tentang lemari atau lilin tadi, kaca apartemen retakpun aku tak peduli. Apapun itu! Oke, ayolah.
Dan subhanallah, benar-benar tidak ada apapun yang terjadi, bahkan saya tidak bisa berkata “Oh itu dia, temboknya jadi retak, itu dia!” Benar-benar tidak ada yang terjadi. Saya sangat kecewa, keraguan itu kembali datang. Perasaan saya kembali mengambang.
Saya duduk di sana dan berpikir. Sudahlah! ini kesempatan terakhir saya masuk Islam dan benar-benar belum menemukannya. Namun Saya ambil lagi Al-Qur’an dan saya baca lagi.
Subhanallah, ayat berikutnya di halaman selanjutnya, “Untuk kalian yang meminta petunjuk, tidakkah telah Kami tunjukkan? Lihatlah di sekitarmu, lihatlah bintang-bintang, lihatlah matahari, lihatlah air. Inilah tanda-tanda untuk orang yang mengetahui.” Subhanallah… Saya menutupi kepala saya dan berpura-pura sedang tertidur, setakut itulah saya. Semalu itulah saya pada Allah.” Melvin menangis tergugu mengingat sikapnya tadi malam.
“Masya Allah, Allahu Akbar!” Kalimat takbir itu kembali terlontar di bibir Ustadz Zhaf. Ia menangis haru mendengar bukti kebesaran Allah yang datang pada Melvin. Melvin melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata.
“ Saya tak percaya betapa sombongnya saya menginginkan tanda yang saya inginkan, padahal sudah ada sekian lama tanda-tanda kebesaran Allah di sekeliling saya. Fakta adanya dunia, adanya ciptaan, inilah tanda-tanda bagi kita, tapi kadang kita tak sadar sama sekali. Ustadz, saya mohon bimbing saya menjadi Muslim Sejati. ” Melvin mencium tangan Ustadz Zhaf yang usianya lebih tua 3 tahun darinya. Ia menangis mencium tangan Ustadz itu lama.
“Inn Shaa Allah. Dengan izin Allah, saya akan membimbing Mas. Saya juga masih dalam tahap belajar, kita sama-sama belajar yah Mas.” Ustadz Zhaf mengangkat tubuh Melvin untuk berdiri dan duduk di sampingnya.
“Terima kasih Ustadz, terima kasih.”
-
-
Perjalan spiritual Melvin, otor ambil dari kisah perjalanan Sahabat otor memeluk Islam. Otor sempilkan disini biar para pembaca bisa mengambil ibrah di dalamnya.
Tolong bijak dalam membaca🙏 Ini bukan ujaran kebencian, ataupun ingin mempecah belah agama. Ini hanya cerita yah hehehe hanya Fiksi guyss🤗🤗
Untuk para reader yang Non Muslim, jangan tersinggung yah 🙏 Ini hanya story..
Jangan lupa like😘😘😘
Komen♥️♥️♥️
Vote🥰🥰🥰🥰
Hadiah😍😍😍
Kopi♥️♥️♥️😘😘😘🥰🥰🥰😍😍😍
Happy Monday..
Otor up banyak, katanya mencapai 3K
Semoga reviewnya gak lama, biasanya kalau berkaitan (...) suka lama😢
__ADS_1
Gak tahu ini keluar jam berapa, mudah-mudahan keluarnya masih siang🤲
Hatur nuhun buat yang masih setia pada Novel amatiran ini♥️♥️♥️