Kita Berbeda

Kita Berbeda
Harga Diri


__ADS_3

“Sekarang waktunya saya memperkenalkan kamu pada orang tua saya!” Melvin mengajak meida menemui Helena dan Nagara yang berada di meja Terpisah. Meida mengikuti langkah melvin kemanapun mellvin melangkah.


“Mamih ...” Melvin merangkul tubuh mamihnya lalu mencium kedua pipinya.


“Mamih kira koko tak berani menemui mamih disini! Kita menunggu koko dari tadi!” Sewot Helena. Ia tak menyadari kehadiran meida yang berdiri di belakang melvin. Melvin cengengesan mendengar ucapan mamihnya, ia baru sadar jika ia tak melihat papihnya.


“Sewot amat si mih! Papih mana?” Melvin mengedarkan pandangan mencari sosok papihnya. Sedangkan meida mengetuk-ngetukan high heels nya ke lantai, pertanda pegal mulai mendera kakinya, karena terlalu lama berdiri.


“Tuhh papih mu! Papih mu sedang sambutan di depan!” Melvin mengikuti arah telunjuk mamihnya. Ia melihat papihnya sedang berada di atas panggung.


“Mih, sesuai janji melvin. Melvin ingin memperkenalkan seseorang pada mamih.” Bisik melvin ke telinga helena. Helena memutar matanya terkejut, lalu melihat sebentar kearah belakang melvin dan tersenyum.


 Melvin tersenyum melihat respon baik helena. Lalu ia membalikkan badannya kearah meida.


“Mamih ini meida, wanita yang selalu mamih tanyakan!” Meida tersenyum sambil menyondorkan tangannya. Helena menatap dalam wajah meida tak berkedip. Ternyata tebakannya benar, wanita yang berduet dengan anaknya tadi adalah meida.


“Saya Meida Nyonya!” Helena menerima uluran tangan itu. Ia di buat terkejut ketika meida mencium punggung tangannya.


Wanita ini sopan sekali. Batin Helena menatap wajah meida dengan berbinar.


“Saya Helena mamihnya Melvin. Senang bertemu dengan mu! Silahkan duduk meida!” Wajah melvin penuh binar bahagia. Mamihnya ternyata menerima kehadiran meida dengan baik, tidak membeda-bedakannya sama sekali. Apalagi memandang sinis pada meida yang berbeda kasta dengan nya.


“Silahkan duduk meida! Ngobrol-ngobrol dulu dengan mamih saya. Setelah ini kita baru ke depan, menyapa keluarga besar saya dan keluarga besar kamu.” Meida duduk di samping helena dengan sungkan.


“Tidak papa saya duduk disini Nyonya?” Tanya meida kearah helena. Yang di jawab helena dengan kekehan.


“Kenapa gak boleh meida? Duduklah disini! Saya tidak keberatan sama sekali, malah saya senang karena ada temannya.” Helena memegang tangan meida dengan ramah.


“Kamu jangan panggil saya Nyonya, karena saya bukan nyonya kamu. Panggil saya Tante saja, agar enak di dengar!” Meida tercengang dengan permintaan Helena yang sedang memegang tangannya. Tangannya dingin bergetar ketika matanya bertemu dengan mata teduh milik helena.


“Ba..ik tante. Saya akan usahakan memanggil anda dengan sebutan tante.” Melvin terkekeh melihat kecanggungan di wajah meida. Ia menatap mamihnya sambil mengedipkan sebelah matanya, dengan jari tangan membentuk huruf o.


“Santai aja, gak usah nervous. Mamih saya baik ko.” Bisik melvin menenangkan meida. Bukannya meida tenang, jantungnya semakin dag dig dug ketika melvin membisikan sesuatu ke telinganya. Tiba-tiba gelenyar aneh hadir di hatinya. Helena tersenyum melihat sikap sigap anaknya yang sedang menenangkan pujaan hatinya. Ia juga tahu, meida sangat malu duduk bersamanya, duduk bersama Istri bPemilik Perusahaan tempatnya bekerja.


“Ini mamih saya! Dan itu papih saya. Dia sering ke kantor kita, kamu pasti pernah bertemu dengannya.” Meida melihat kearah panggung lalu menggelengkan kepalanya. Pertanda ia tak pernah bertemu dengan sosok Nagara. Ia baru tahu Nagara sekarang, ketika melvin menunjuk kearahnya.


“Yang penting sekarang kamu udah tahu meida.” Tutur melvin dengan menopang dagu dengan tangan nya.


“Suara kamu sangat indah meida, saya sampai merinding mendengarnya. Kamu les dimana?” Tanya helena mencairkan kecanggungan di meja itu.


“Saya tidak les tante, saya belajar sendiri. Sebenarnya saya tidak terlalu suka bernyanyi?” Terang meida sambil melihat sebentar kearah helena. Tangannya Ia sembunyikan di bawah tasnya.


“Kenapa? Padahal suara kamu bagus loh! Tante juga suka.” Melvin menompang kepala menggunakan sebelah tangannya. Posisinya menyamping, menyimak obrolan meida dan mamihnya.


“Ada sesuatu hal yang membuat saya tidak suka beryanyi tante. Dulu saya sempat trauma, karena bakat saya tersebut, saya pernah dirundung oleh kakak kelas saya ketika sekolah. Dari sana saya berhenti bernyanyi dan tak suka bernyanyi.” Terang meida sambil tersenyum getir. Melvin terkejut dengan pengakuan meida. Ia mengangkat wajahnya memandang wajah meida dengan tak berkedip.


“Serius meida?” Meida menganggukkan kepalanya. Lalu menolehkan wajahnya kearah melvin.

__ADS_1


“Iya Tuan. Saya kan sudah pernah cerita sama tuan, kalau di sekolah saya tidak punya teman. Rata-rata teman saya tak menyukai saya. Aneh banget, Kan? Stigma mereka pada saya sangat buruk. Padahal saya tak pernah menggangu mereka sedikitpun.” Pandangan meida menerawang kearah langit-langit ruang itu.


“Yang membuat saya trauma. Mereka  pernah merundung saya secara beramai-ramai lalu mengurung saya di gudang sekolah semalaman. Saya menangis semalaman di depan pintu, menunggu pertolongan dari orang. Sementara di rumah, orang tua dan abang angkat saya sampai kelabakan mencari saya. Dan siangnya, saya ditemukan tak sadarkan diri oleh guru saya di gudang itu. Saya mengadukan perundungan itu pada guru saya, tapi saya, mereka semua malah menyuruh saya untuk menutup mulut atas kejadian itu. Dan parahnya, mereka malah mengancam saya untuk tidak membocorkannya. Karena pelaku utama perundangan itu adalah anak pemilik yayasan, anak kepala sekolah, dan anak camat di kampung saya. Mereka sama sekali tak memikirkan trauma yang saya alami seperti apa setelah kejadian tersebut. Mereka malah sibuk menjaga nama baiknya, dengan mengorbankan perasaan gadis tak bersalah. Ironi bukan?” Lirih meida dengan suara bergetar. Mengingat memori kelam ketika duduk di Bangku SMA. Helena dengan lembut mengelus pelan pundak meida.


“Saya kira di sekolah kamu tak ada pembullyan meida, tapi ternyata ada.” Melvin menatap meida yang menundukkan wajahnya sedih.


“Saya juga tak menyangka, saya pernah jadi korban pembullyan. Karena alasan klise yang menurut saya tidak masuk akal. Dari sana, abi saya mengajar saya untuk menguasai ilmu bela diri, agar saya mampu melindungi diri saya sendiri. Dengan bantuan saudara terdekat saya, secara perlahan-lahan saya bisa mengatasi trauma itu sampai sekarang. Tapi untuk bernyanyi, saya belum mampu sepenuhnya.” Terang meida sambil mengangkat kepalanya tersenyum. Wajahnya murungnya kini telah berubah menjadi ceria. Helena semakin kagum dengan kepribadian yang dimiliki meida.


“Mamih tahu gak? Meida orang yang nolong melisa ketika mengalami perampokan dulu, waktu dia seharian tidak ada kabar,” ucap melvin yang masih menatap meida. Helena membelalakkan matanya kearah melvin.


“Serius ko?? Meida wanita yang diceritakan melisa, yang menolongnya dari jeratan perampok dulu?” Meida hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


“Benar Tante. Dulu saya yang menolong mbak Melisa. Dan sekarang kami berteman baik.” Helena tersenyum kearah meida dan langsung memeluknya.


“Terima kasih meida telah menolong putri tante,” ucap Helena yang memeluk meida. Melvin menyugar rambutnya dengan tersenyum bangga kearah meida.


“Ternyata tak salah melvin memilih kamu meida!” Ceplos helena yang tak menyadari ucapannya. Melvin menatap helena dengan menepok jidatnya. Meida memandang helena dengan wajah bingung.


“Pilih apa yah tante? Saya bingung.” Tanya meida sambil menggaruk pelipisnya. Melvin menangkup wajahnya, takut mamihnya menjawab jujur atas pertanyaan yang diutarakan meida.


“Emm .. pilih kamu jadi karyawannya meida. Benerkan ko?” Tanya gugup helena sambil mengusap tengkuknya melihat kearah melvin dengan mata memberi kode.


“Iya bener meida. Kita ke meja sana yukk!” Tunjuk Melvin ke depan menunjuk kearah melisa.


“Kenapa buru-buru sih ko, mamih masih pengen ngobrol-ngobrol sama meida. Itung-itung pendekatan loh(Saya calon mantu),” ucap helena dalam hati.


“Gak bisa lama-lama mih. Meida harus menyapa keluarganya.” Sahut Melvin dengan wajah menghiba. Karena ia takut, mamihnya akan semakin keceplosan bila duduk lama-lama bersama meida.


“Baik tante. Inn Sya Allah lain waktu, kita bertemu lagi. Senang berbicara dengan tante, saya tunggu tante main ke apartemen saya.” Meida mengurai pelukan itu sambil tersenyum


“Baik meida. Nanti saya akan berkunjung kesana. Salam untuk keluarga mu!” Helena mencium pipi meida secara bergantian. Kesan yang dia berikan pada meida dipertemuan pertama mereka.


“Baik tante. Saya permisi dulu!” Setelah mencium tangan helena. Meida bangkit berdiri terlebih dahulu.


“Mih, aku ke depan dulu yah!” Pamit melvin sambil mencium sebelah pipi mamihnya.


“Ok ko. Mamih memutuskan kamu lulus dari penilaian mamih. Silahkan lanjutkan perjuanganmu, mamih merestui mu! Meida wanita yang baik, mamih menyukainya!” Bisik Helena sambil mencium kening anaknya.


“Xie-xie mih.” Melvin mencium kedua pipi helena bergantian, lalu menyusul meida. Wajah melvin penuh binar bahagia, karena mamihnya merestui pilihan hatinya.


“Meida lewat sebelah sini!” Meida membalikkan tubuhnya. Ia memutar arah mengikuti langkah melvin.


“Mamih tuan baik sekali. Ia sangat ramah. Saya menyukai kepribadiannya. Dia dapat merubah stigma saya terhadap orang kaya.” Lirih meida sambil berjalan.


“Iya meida. Semoga kalian akrab yah! Mamih saya orangnya asik ko.” Jawab melvin sambil memegang tas meida, karena ia tak berani menyentuh tangan meida. Melvin dan meida berjalan kearah meja yang ditempati jonathan. Mereka dengan santai melewati meja Gilbert, mereka tak mengetahui meja Gilbert berada di belakang mereka.


“Meida ...” Bi ina menunjuk Meida yang berdiri di belakang Melisa.

__ADS_1


“Selamat malam semua. Maaf aku baru bisa gabung.” Senyum meida yang di balas dengan raut wajah gelisah orang yang menempati meja itu.


“Silahkan duduk meida! Jangan berdiri, kamu diliatin banyak orang.” Melisa menunjuk kearah kursi kosong. Meida dan melvin berjalan kearah kursi kosong itu. Mereka duduk secara bersisian.


“Meida saya mau ambil ponsel saya.” Meida membuka tasnya, mengambil acak ponsel yang ada didalamnya. Lalu menyondorkan kearah melvin, tanpa mengecek ponselnya, melvin langsung memasukkan ponselnya ke saku tuxedonya.


“Saya izin ke toilet sebentar yah!” Melvin berlari kearah toilet. Di perjalanan ia berpapasan dengan gilbert, tapi ia tak menyadari nya.


-


Di meja


Mereka sedang berbincang dengan penuh keseruan, mereka memuji penampilan meida yang sangat memukau. Dan mampu menghipnotis mereka.


“Personil keluarga miskin nambah lagi satu nih!” Ejek gilbert kearah meida sambil duduk di kursinya. Meida menghentikan senyumnya lalu menatap gilbert dingin.


“Berhenti menghina orang lain, tuan sok benar!” Sinis Meida menatap tajam kearah Gilbert. Ia menatap dingin kearah orang yang berada di meja itu.


“Sudah dad jangan membuat keributan disini! Malu! Banyak rekan kerja daddy disini!” Zaina memegang tangan suaminya. Ia merasa ciut melihat tatapan dingin meida.


“Benar apa yang istri mu katakan Nak. Jangan berurusan dengan orang miskin jika tidak ingin tertular!” Gilbert terkekeh pelan sambil menatap meida dengan senyum mengejek.


“Saya hanya menyambutnya mi. Kasian kan? Tapi malam ini dress yang kau kenakan sangat memukau, kau punya target baru? Keluarga kaya mana lagi yang kau poroti?” Meida mengepalkan tangannya. Harga dirinya merasa di injak-injak oleh gilbert di hadapan banyak orang. Meida menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disekitarnya, mereka memandang meida dengan wajah menghina dan merendahkan.


-


-


Dag dig dug serrrrrr


Inn Syaa Allah nanti malam otor up lagi.


Butuh beberapa ☕ untuk menemani otor begadang malam ini🤭 Malaqq wkwkwk


Hatur nuhun loh buat yang udah ngasih☕♥️😘


Jika suka dengan novel ini, jangan lupa.


Like ♥️♥️♥️


Komen ♥️♥️♥️


Vote ♥️♥️♥️


Rate ♥️♥️♥️


Hadiahnya ♥️♥️♥️

__ADS_1


Untuk pencinta bola, jangan lupa malam ini final antara squad garuda vs Thailand 😍


Tong hilap nonton nya🤗😅


__ADS_2