Kita Berbeda

Kita Berbeda
Aku adalah Jaslin


__ADS_3

Andress sedang melamun di balkon rumah, setelah melihat-lihat kegiatan warga siang tadi. Ia belum mendapat informasi sedikitpun mengenai keberadaan adiknya jaslin, karena masyarakat disini menjaga jarak dengan dirinya, mereka banyak yang memandang aneh kearahnya. Mungkin wajah andress terlalu asing di mata mereka. Saking asiknya melamun, ia tak menyadari kehadiran anak buahnya yang sudah berdiri disampingnya.


“Permisi tuan!” Ucap keras anak buah andress yang menyadarkan lamunannya.


“Ehhh .. ada apa rick?” Tanya andress mengalihkan pandangan kearah anak buahnya yang bernama Erick.


“Tuan, gadis itu sudah pergi dari sini bersama bibi angkat nya. Rumahnya kini kosong tak berpenghuni. Bulan lalu gadis itu pulang kesini, minggu-minggu ini dia pergi lagi. Ia datang kesini hanya untuk menjemput bibi angkatnya. Masyarakat disini tak mengetahui kemana perginya gadis itu.” Terang Erick dengan posisi masih berdiri di samping andress. Andress mengerutkan dahinya, wajahnya terlihat gelisah.


“Apa kau tahu siapa nama gadis itu Rick?” Tanya dingin andress menatap tajam kearah erick. Erick mengeluarkan catatan di balik jaket hitam nya. Ia membuka catatan itu lalu membacanya.


“Dari sumber yang saya dapatkan dari warga sini, nama gadis itu adalah Meida Khanza Tuan,” ucap Erick membaca nama yang berada dalam buku note nya. Andress membelalakan matanya mendengar nama meida, nama itu sama seperti nama orang yang dicintainya.


Meida ... gak mungkin itu meida! Gak mungkin! Orang nama meida banyak di dunia ini! Nama meida bukan hanya satu! Saya harus melihat fotonya! Batin Andress dengan wajah gelisah memikirkan siapa nama meida di balik nama adiknya itu.


“Coba kau tunjukkan foto gadis itu!” Pinta Andress sambil berdiri. Ia menatap tajam Anak buah yang berada didepannya.


“Maaf Tuan, kami belum mendapat foto gadis itu! Orang di kampung ini tak satupun yang memiliki fotonya. Karena gadis itu diasingkan oleh warga sini. Masyarakat disini menyebutnya sebagai anak pembawa sial! Sudah banyak orang yang meninggal karena kesialannya, salah satunya adalah kedua orang tua angkatnya.” Jelas Erick sambil menundukkan wajahnya mengambil ponsel dari saku celananya. Ia memasang OTG di ponselnya lalu memutar video yang dia ambil tadi siang. Video itu menampilkan salah satu warga yang menceritakan tentang sosok meida, si anak buangan. Andress menonton video itu dengan wajah serius. Ia mencerna setiap perkataan yang diucapkan lelaki dalam video itu. Setelah selesai menonton video singkat yang berdurasi 2 menit itu, pikiran andress terus digelayuti dengan nama meida. Ia berjalan ke pagar besi sambil memegang kepala dengan kedua tangannya. Tubuhnya ia sandarkan di pagar besi itu.


“Masa kau tak mendapat satu pun foto gadis itu!” Andress membalikkan wajahnya menatap penuh menyelidik kearah anak buahnya.


“Besok kami akan berpencar mencari data gadis itu sekaligus mencari fotonya. Kami berencana akan menyelidiki data gadis itu di tempat sekolahnya dulu. 5 Tempat yang akan kami datangi besok, yang pertama adalah tempat dimana dia sekolah dulu, dari mulai SD sampai SMA, lalu ke kantor Desa kampung ini, dan yang terakhir kami akan pergi ke tempatnya mengajar dulu, di sebuah sekolah agama yang di miliki keluarga besar orang tua angkatnya,” ucap lugas Erick membeberkan rencananya.


“Kenapa kau tak mencari tahu dari keluarga angkatnya yang masih tinggal disini? Kenapa malah ribet-ribet mencari tahu ke 5 tempat itu?”


“Kami sudah mencobanya Tuan. Tapi mereka tak memberi kami  informasi sedikit pun, yang ada mereka malah mengumpat nama gadis itu. Sepertinya mereka tak menyukai gadis itu.” Jawab Erick menceritakan pencarian gadis itu di rumah saudara angkatnya.


“Baiklah! Cari bukti sebanyak-banyaknya! Good luck!” Andress menepuk pelan bahu erick, lalu duduk kembali di kursi nya.


“Baik bos terima kasih. Saya undur diri!”


“Ok!”


-


Di ruang tamu yang terhalang satu ruangan dengan kamar yang ditempati meida, mereka nampak duduk berkumpul. Bi ina dan melvin duduk berdampingan di sofa yang sangat besar, di samping mereka nampak Johan duduk bersisian dengan Dian, dan Jonathan duduk sendirian di single sofa. Di depan mereka terhidang banyak minuman dan cemilan kue yang Dian sediakan.


“Perkenalkan saya Louis Johan, pamannya Jonathan. Dan ini istri saya namanya Dian Tan.” Johan memperkenalkan dirinya dan istrinya dengan senyum ramah. Bi ina dan melvin menganggukan wajah mereka pertanda menghormati mereka. Melvin membuka kancing kemeja atasnya, dia hanya memakai kemeja biasa warna putih tanpa mengenakan jas. Jas ia tanggalkan di mobilnya ketika turun menuju rumah johan.


“Saya sering mendengar cerita anda dari Jonathan. Saya Melvin Nagara dan Ini Ibu ina, bibi nya meida.” Terang melvin sambil memperkenalkan bi ina dengan memegang tangannya. Johan manggut-manggut mendengar ucapan melvin, lalu ia mengarahkan pandangannya kearah bi Ina orang yang ingin dia temui dari tadi.


“Senang berkenalan dengan mu Tuan Melvin. Terima kasih telah menyayangi dan menjaga keponakan saya dengan baik.” Tutur johan pelan dengan wajah berbinar. Tangan nya menepuk lembut paha Jonathan. Melvin tersenyum kearah johan dan dian, ia mengangguk samar sambil menatap Jonathan penuh hangat.

__ADS_1


“Sama-sama Pak. Sudah kewajiban saya untuk menolong sesama. Saya sudah menganggap Jonathan seperti adik saya sendiri.” Johan dan dian dibuat terharu dengan ucapan tulus melvin. Ia tak menyangka Crazy Rich Surabaya ini memiliki jiwa sos dan seorang penyayang. Padahal stigma masyarakat terhadap orang kaya banyak yang terkesan negatif.


Johan merubah posisi duduknya, ia memandang bi ina dengan raut wajah penuh gurat kesedihan.


“Tujuan saya menyuruh Bu Ina kesini, saya ingin menanyakan sesuatu pada bu ina, selaku wali meida, setelah kepergian orang tua angkatnya.” Bi Ina menganggukkan kepalanya pelan.


“Saya ingin menanyakan sesuatu tentang meida, apa ibu berkenan?” Tanya hormat johan meminta izin untuk mengorek informasi meida pada bi Ina. Bi ina melirik kearah melvin dan Jonathan meminta persetujuan, mereka berdua serempak menganggukkan kepala dengan tersenyum.


“Silahkan Pak. Jika saya tahu, saya pasti akan menjawabnya.” Jawab bi ina setelah mendapat anggukan dari melvin dan jonathan.


“Tolong ibu ceritakan tentang penemuan meida dulu! Saya ingin mendengarnya dari ibu sebagai saksi hidup dari penemuan bayi meida.” Dian memegang tangan johan, agar johan siap dan kuat mendengar ucapan bi ina. Bi ina memandang kearah figura foto yang memperlihatkan potret jaslin ketika bayi.


Di kamar, meida tersadar dari pingsannya. Ia memegang kening lalu memijitnya perlahan, karena rasa sakit masih mendera kepalanya. Setelah rasa sakitnya berkurang, ia menatap kesegala arah kamar itu yang tak ada satu orang pun kecuali dirinya. Meida mengingat keras apa penyebab ia tidur di kamar ini. Ketika ia sedang berusaha mengingat, tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sedang berbincang tapi terdengar samar-samar. Meida menajamkan pendengarannya, menyimak apa yang sedang mereka obrolkan. Meida mendengar suara bi Ina diantara suara itu, ia bangun perlahan dari ranjang, lalu berjalan pelan menuju pintu, tangannya dengan setia menumpu ke dinding, karena keadaannya masih lemas. Meida membuka pintu itu pelan dan berjalan menuju keruang tamu.


“Saya menemukan bayi meida di pelantara masjid yang berada tepat sekali di samping universitas Negeri ternama disini. Saya lupa nama masjid itu, yang saya ingat, dulu disamping masjid itu masih jarang pemukiman penduduk, tapi sekarang diarea masjid itu sudah padat penduduk.” Meida menghentikan langkah kakinya lalu ia sandarkan tubuhnya ke dinding ruang itu. Meida yakin itu adalah suara bi ina, meida menunggu bi ina melanjutkan perkataannya.


“Saya dan rombongan menemukan meida dalam keranjang bayi yang sangat bagus. Kami menemukan meida, karena bayi itu menangis.” Meida tak mengerti arah pembicaraan mereka kemana. Bukannya berjalan kearah ruang tamu, meida malah menguping pembicaraan mereka dengan merosotkan tubuhnya ke lantai. Karena ia tak kuat berdiri terlalu lama.


“Boleh saya tahu ciri-ciri meida ketika ditemukan bu?” Tanya johan dengan dahi berkeringat. Walaupun ia sudah tahu jawabannya seperti apa, tapi ia hanya memastikan saja.


“Menurut surat yang orang tua angkatnya tulis, meida ditemukan dengan memakai kalung berlian berliontin biru.” Tutur bi ina. Meida meyentuh kalung berlian biru yang terpasang di lehernya, ia mengusap liontin itu dan mengeluarkan nya dari balik bajunya.


Johan menganggukkan kepalanya samar, matanya sudah berkaca-kaca.


“Keponakan saya memiliki tanda lahir bulan sabit di telapak tangan kanannya, ia memiliki tanda hitam di bawah telinganya.” Jawab johan dengan suara bergetar. Meida membalikkan tangannya, ia memandang tanda lahir yang ada di telapak tangannya dengan mata berkaca-kaca.


Bi ina mengusap air mata di wajahnya.


“Berarti benar ...” Lirih bi ina menahan tangis menatap kearah foto meida yang tergantung di dinding.


Jonathan menyembunyikan wajah di lengannya, ia menyembunyikan tangisnya. Johan menundukkan wajahnya, dengan mata berkaca-kaca dian mengusap lembut pundak johan.


“Ini mimpi atau bukan, akhirnya saya menemukan Jaslin. Meida adalah jaslin, bayi yang saya buang dulu.”


Degg


Ucapan johan di tengah tangisnya mampu mematahkan hati meida. Meida menutup mulutnya, agar suara tangisnya tak terdengar oleh orang lain. Ia terkejut mendengar perkataan johan.


Semua yang ada di ruangan itu menangis haru, antara tangis bahagia dan tangis penuh ketakutan. Mereka takut setelah meida mengetahui ini, meida pergi jauh dari hidup mereka. Padahal kenyataannya, meida pun sudah mengetahui kebenaran nya di balik dinding itu.


“Apa yang harus saya lakukan pada meida jika meida mengetahui semua ini? Saya takut meida membenci saya karena saya yang telah membuang nya.” Tangis johan pecah dipelukan dian.

__ADS_1


Meida memandang kearah ruangan itu dengan perasaan yang susah di artikan. Perasaan penuh kecewa dan terluka setelah mendengar kenyataan ini. Padahal, kebenaran ini adalah moment yang ia tunggu dari dulu.


Aku adalah jaslin, bayi yang tak dianggap itu .... Lirih meida dengan tersenyum getir


Aku bayi yang tak diinginkan itu ... meida memandang tanda lahir di tangannya dengan genangan air mata.


Aku bayi yang tak diharapkan itu ...


Aku bayi yang diabaikan itu ... Lirih pilu meida


Bodoh nya! Aku malah mengasihi bayi itu! Mengasihi diri sendiri! Aku bodoh! Baru menyadarinya sekarang. Kekeh pelan meida dengan gurat wajah penuh kesedihan.


Yaa Rabbi, ternyata garis hidup ku sangat menyedihkan .... Kehidupan tak pernah menerima ku sama sekali. Orang tua ku ternyata benar-benar tak menginginkan kehadiran ku, mereka tak menyayangi ku dari dulu. Inikah balasan pencarian ku!


Yaa Rabbi aku harus apa??


Ummah ... Abi ... beginilah akhirnya, ternyata hidup ku dimana-mana tak diinginkan! Untuk apa aku hidup?? Untuk apa aku bertahan? Aku tak punya tujuan ... aku tak punya tempat tuk pulang ... Aku tak punya tempat sandaran ...


Kak Adib, aku harus apa? Rasanya aku tak kuat menerima kenyataan ini. Kak adib datanglah ... aku mohon ... aku membutuhkan bahu mu ... aku membutuhkan dada bidang mu ... aku membutuhkan mu berada di samping ku ... aku membutuhkan mu kak ...


Kak, aku benar-benar terluka sekarang ... aku benar-benar kalah ...  Ternyata, keadaan dari dulu tak pernah berpihak pada ku ... Aku pecundang kak! Aku tak berhak hidup! Aku tak berhak bahagia! Kehidupan ini jahat kak!!! Kehidupan ini tak pernah membiarkan ku bahagia walaupun sebentar saja ...


Kak adib, aku mohon datanglah ... aku membutuhkan pelukan mu ... anak pembawa sial ini membutuhkan mu ... peluk aku kak ... kuatkan aku .... Ternyata, aku tak bisa pura-pura kuat ... aku lemah kak ... hidupku benar-benar sangat menyedihkan ...


Meida menghapus air matanya dengan tangan bergetar, air mata terus saja mengalir dari wajahnya.


Jika aku jaslin, jonathan adalah adik kandung ku, dia adik ku! Apa dia mengetahui aku adalah cici kandung nya?? Jonathan ... Lirih pelan meida sambil mengusap kasar wajahnya


“Jika saja Jonathan tak menceritakan tentang jaslin, saya tidak akan pernah tahu bahwa mereka saling berkaitan. Jonathan orang pertama yang mengetahui kebenaran ini, dia mencari kebenaran ini sendirian.” Terang bi ina dengan sesenggukan.


Jo, ternyata kau mengetahui ini, kenapa kau menyembunyikan ini dari cici, kenapa jo?? Hati cici sakit mendengar ini ... Hati cici sakit, di bohongi oleh orang yang sangat cici percayai ..


Ummah ... Abi .. mereka semua membohongi ku ... mereka menutupi semua ini dariku ... mereka tak menginginkan ku ...


-


-


Kuyylah vote like sama hadiahnya 🤗♥️


Kalau up nya malam, berarti riview nya lama wkwk ...

__ADS_1


Wilujeng dinten rebo 🤗♥️


__ADS_2