Kita Berbeda

Kita Berbeda
Apa mereka kakak beradik?


__ADS_3

“Ko, tumben sekarang rajin keluar pas jam kosong? Biasanya juga paling anti ninggalin rumah sakit.” Tanya jack menepuk pelan bahu andress, yang sedang merapikan berkas di atas mejanya. Ia di buat aneh dengan sikap andress yang berubah minggu-minggu ini.


“Ada sesuatu yang harus saya kerjakan jack. Sekalian cari udara segar, bosen di rumah sakit terus.” Jawab andress santai sambil melepas jas dinas nya, lalu ia menggantung jasnya di stand hanger yang terletak di samping sofa ruangan nya.


“Kalau mau nyari udara segar, di taman juga bisa ko! Gak perlu jauh-jauh keluar.” Ucap jack mengikuti langkah andress yang keluar dari ruang kerjanya.


“Masa di taman jack, gak asik banget. Satu jam ke depan kamu  jangan ganggu saya! Saya mau nongkrong di cafe,” ujar andres memberi perintah pada jack sambil mengunci pintu ruangannya.


“Tumbenan nongkrong, biasanya juga jadi kutu buku haha.” Ledek jack sambil jalan bersisian dengan andres.


“Hidup itu butuh perubahan jack, masa jadi kutu buku mulu. Sekali-kali jadi yang lain lah,” ucap  Andres tersenyum sambil menepuk pelan bahu jack. Lalu ia meninggalkan jack menuju lift, karena tujuan andress sekarang adalah ke basement rumah sakit untuk mengambil mobil Ferrari merah miliknya.


Andress mengendarai mobil Ferrari merah nya menuju cafe Lilyhan. Cafe tempat dimana meida kerja dulu. Ia tidak mengetahui kalau meida sudah tidak bekerja disana lagi.


Meida, ini hari ke tujuh saya menunggu mu di cafe ini, tetap saja saya tidak pernah menemukan keberadaan mu disini. Kemana kamu sebenarnya meida? Apa kamu menghindari saya? Atau kamu ingin menghilang dari kehidupan saya? Padahal saya baru beberapa kali bertemu kamu, setelah berbulan-bulan mencari mu meida. Masih banyak hal yang ingin saya katakan pada mu. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya, saya tertarik pada mu meida, hati saya nyaman ketika bersama mu. Batin andress sambil duduk di salah satu kursi cafe tersebut. Matanya menelisik ke segala arah, untuk mencari sosok meida yang dicarinya selama ini.


Lebih baik aku tanyakan pada waiters itu, tentang keberadaan meida sebenarnya. Apa dia masih kerja disini atau tidak. Gumam andres pelan, sambil memanggil salah satu waiters yang standby disamping meja kasir.


“Mau pesan apa mas?” Tanya waiter itu kearah andress yang sedang memegang buku menu.


“Saya pesan stick ukuran jumbo ini satu, sama minuman ini satu.” Ucap andress menunjuk sembarang arah buku menu tersebut. Karena tujuan awal kesini bukan lah untuk makan, melainkan mencari keberadaan meida.


“Baik mas. Di tunggu sebentar yah!”


“Mbak saya mau tanya? Apa meida masih kerja disini?” Tanya andress memanggil waiters perempuan itu, agar tidak beralih di depannya. Karena ia membutuhkan informasi tentang meida.


“Meida sudah tidak kerja disini lagi mas, dari minggu lalu.” Jawab waiters itu menatap andress sambil tersenyum.


“Kok bisa? Seminggu lalu, saya masih liat dia kerja disini.”


“Dia sudah di pecat mas, gara-gara tidak masuk kerja tanpa kabar." Terang waiters itu menatap tak enak kearah andress


“Ohh gitu yah mbak. Makasih banyak infonya.”


“Sama-sama mas,” ucap waiters itu pergi meninggalkan meja melvin.


Argggghhhh baru saja ketemu, saya sudah kehilangan jejak mu lagi meida. Dimana keberadaan mu sekarang meida? Kemana saya harus mencari mu? Apa pertemuan kita harus sesingkat ini? Mana mommy selalu menanyakan keberadaan mu, Bagaimana saya harus menjawabnya?? Saya harus apa meida?? Teriak andress dalam hati, ia frustasi harus kehilangan jejak meida lagi.


-


-


“Alhamdulillah, Akhirnya kamu sadar juga nak “ Bi ina mengusap wajah meida pelan yang sedang mengerjapkan mata nya.


“Bi ina ... meida haus bi,” ujar meida dengan suara lemah. Ia perlahan- lahan bangun lalu menyandarkan kepalanya di headboard ranjang.


Bi ina mengambil minum di atas meja kecil yang terletak di ujung ranjang, lalu menyondorkan ke mulut meida.


“Bi, jonathan dan melvin mana?” Tanya meida setelah meneguk air putih yang bi ina sondorkan.


“Mereka sudah pulang nda. Mereka bermalam di Villa Asri miliknya haji Karim. Tadinya mereka ingin menunggu mu sampai siuman, tapi sudah terlalu malam. Akhirnya mereka memutuskan pulang ke villa itu nda. Palingan besok mereka kembali lagi kesini.” Terang bi ina sambil membelai pipi meida dengan lembut.


“Syukurlah kalau mereka menginap disana, meida tenang mendengar nya. Meida takut mereka di usir dari sini bi, bibi pasti tahu alasan nya.” Jawab meida tersenyum. Ia bersyukur hal yang ditakutkan nya, akhirnya tidak terjadi.

__ADS_1


“Itu juga yang bibi takut kan nda. Tapi Alhamdulillah, tidak ada warga yang berani mengusik nya.” Senyum bi ina menghiasi wajahnya yang pucat.


“Bi ina sakit? Wajah bibi pucat sekali?” Tanya khawatir meida sambil mengelus wajah bi ina menggunakan tangan nya.


“Batin bibi yang sakit nda, makanya berimbas ke raga bibi.” Jawab bi ina dengan tersenyum getir. Ia menatap wajah meida dalam.


“Bibi harus sehat, jangan sakit terus. Kak adib pasti sedih melihat bibi seperti ini,” ujar meida sambil menatap lembut mata bi ina.


“Bibi sudah mengikhlaskan kepergian adib nda, tapi hati kecil bibi belum bisa. Bibi berusaha menerima takdir yang ditetapkan Allah pada adib, tapi bibi belum bisa ikhlas sepenuhnya. Meida bantu bibi ... bantu bibi untuk bisa menerima semuanya,” ucap bi ina dengan mata berkaca-kaca.


“Walaupun berat, kita harus bisa mengikhlaskan nya bi, walau secara perlahan-lahan. Meida yakin bibi pasti terluka, tapi berserah dirilah pada Allah, cepat atau lambat kita juga pasti akan seperti kak adib bi. Pergi meninggalkan dunia fana ini. Bibi bersabarlah atas musibah yang Allah berikan kepada keluarga kita, Mudah-mudahan Allah mengganti kesabaran bibi dengan beribu kebaikan,” ucap meida tersenyum sambil menghapus air mata di wajah bi ina.


“Aamiin ... semoga saja meida, mungkin ini jalan terbaik untuk hidup adib,” ujar bi ina dengan senyum tegar.


-


-


“Meida, dimana kamu bisa mengenal jonathan?” Tanya bi ina yang sedang selonjoran kaki di samping meida.


“Banyak orang yang bertanya seperti apa yang bibi tanyakan. Meida dan jonathan selalu bilang pada mereka, bahwa kami bertemu karena takdir. Emang kenapa bi?” Tanya meida sambil menghadap kearah bi ina.


“Gak papa nda. Cuman bibi perhatikan, wajah kalian itu mirip. Apa kamu merasakan sesuatu ketika berada didekat jonathan nda?” Tanya bi ina sambil memegang tangan meida.


“Perasaan yang meida rasakan, ketika berada di dekat jonathan itu nyaman bi. Meida seperti melihat diri meida pada jonathan. Lelaki itu sama seperti meida, sama-sama kurang kasih sayang orang tua.” Terang meida dengan pandangan menerawang, mengingat awal pertemuan dengan jonathan.


“Apa kamu merasa ada keterikatan dengan dia nda?” Tanya bi ina menelisik wajah meida.


Apakah ini pertanda bahwa mereka memiliki keterikatan batin? Sebab mereka dilahirkan dari rahim yang sama, dan orang tua yang sama pula. Yaa Allah ... aku berharap, semoga Kau segera membuka tabir ini. Do'a bi ina dalam hati sambil mengelus kepala meida.


-


“Bi, Kak adib disemayamkan dimana? Meida ingin berziarah ke makam nya,” ucap meida sambil menuang sayuran ke piring nya.


“Adib disemayamkan di pemakaman keluarga kita meida. Ia dimakamkan di samping kuburan ayahnya. Di dekat kuburan ummah dan abi mu. Maaf bibi gak bisa antar kamu kesana nda, bibi selalu sedih bila melihat pusara adib.” Jawab bi ina setelah minum air putih yang berada di depannya.


“Gak papa bi, meida sendiri aja kesana. Meida masih hapal jalannya kok. Bibi istirahat aja di rumah, jangan lupa minum obatnya. Biar bibi cepat sembuh.”


“Bi, apa kak adib menitipkan sesuatu pada bibi?” Tanya meida menatap bi ina dengan menyuapkan nasi ke mulutnya.


“Ada. Dia menitipkan sesuatu untuk kamu nda. Nanti bibi akan berikan, setelah kamu pulang dari pemakaman.”


“Baiklah bi.”


Mereka makan dengan khidmat, dengan lauk pauk seadanya. Tiba-tiba suara pintu diketuk dari arah luar,


Tok tok tok


“Selamat pagi.” Sapa suara lelaki yang tidak asing di telinga meida.


“Biar bibi buka pintunya. Kamu duduk disini aja!” Bi ina berdiri dari kursinya, lalu ia berjalan kearah pintu depan melewati ruang tamu.


Ceklek

__ADS_1


“Pagi juga. Silahkan masuk! Apa kalian sudah sarapan?” Tanya bi ina kearah dua laki-laki tampan yang berdiri didepannya.


“Belum bu. Kami sengaja datang kesini pagi-pagi, untuk melihat kondisi meida.” Jawab melvin tersenyum kearah bi ina.


“Meida sudah mendingan, sekarang dia sedang makan. Ayoo masuk! Kita sarapan dulu.” Setelah melepas alas kakinya terlebih dahulu, dua laki-laki itu masuk kedalam rumah bi ina.


-


“Cici mau kemana? Sudah rapi begini?” Tanya jonathan melihat kearah meida yang sudah memakai baju setelan warna putih.


“Cici mau ke pemakaman, mau ziarah ke makam kak adib. Mau ikut?” Jawab meida sambil tersenyum.


“Ko melvin mau ikut gak?” Tanya jonathan kearah melvin yang sedang duduk di sofa di ruang tamu bi ina.


“Mau jo. Kamu mau ikut?” Tanya Melvin kembali kearah jonathan.


“Kalau ko melvin ikut ke pemakaman, jonathan gak bisa ikut ko. Kasian gak ada yang nemenin bu ina disini. Kita bagi-bagi tugas aja, ko melvin jagain cici meida, aku jagain bu ina. Gimana ko, setuju gak?” Tanya jonathan kearah melvin sambil tersenyum.


Jonathan lumayan pengertian. Walaupun usianya masih muda, pikiran nya sudah dewasa. Dia sudah mengerti akan rasa tanggungjawab. Ucap melvin dalam hati, melihat kagum kearah jonathan.


Semoga ko melvin menyetujui rencana ku. Agar aku lebih mudah menanyakan tentang cici meida kepada bu ina. Ya Tuhan mudahkan jalan ku. Batin jonathan melihat kesekeliling ruang tamu bi ina.


-


“Bi, boleh jonathan bertanya sesuatu?” Tanya jonathan kearah bi ina yang sedang memasak di dapur. Jonathan setia mengikuti kemana bi ina pergi.


“Kamu mau tanya apa nak?” Tanya bi ina sambil duduk di samping jonathan. Posisi mereka saling berhadap-hadapan.


“Jonathan ingin tahu seputar kehidupan cici meida dulu. Apa ibu bisa ceritakan sesuatu?” Tanya jonathan memandang dalam wajah bi ina.


“Apa yang ingin kamu ketahui nak? Tanyakan pada ibu sekarang.” Tanya balik bi ina menatap tajam Jonathan.


“Ibu kemarin bilang, cici meida ditemukan 20 tahun lalu di kota Surabaya. Apa ibu memiliki foto cici meida waktu bayi?”


“Sangat disayangkan, Ibu tak memiliki foto meida waktu bayi nak. Foto meida ada banyak di rumah orang tua angkatnya, semoga amel kakak angkatnya tidak membuang foto nya. Kenapa kamu menanyakan foto meida ketika bayi nak?” Tanya bi ina menelisik wajah jonathan dalam.


Semoga anak ini mengatakan sesuatu.


“Kata orang tua saya, cici saya hilang 20 tahun lalu. Tapi saya tidak tahu hilang nya dimana? Saya tidak tahu cerita detail kehilangan nya seperti apa. Tapi melihat cici meida, saya dapat merasakan sesuatu." Jawab jonathan menatap dalam wajah bi ina yang sedang kaget.


Apa jonathan adalah adik meida? Apa mereka kakak beradik? Yaa Allah kenapa hatiku seyakin ini, bahwa mereka memiliki darah yang sama.


“Kamu bisa tunjukkan foto cici mu jonathan? Ibu ingin melihatnya?” Tanya bi ina dengan wajah kaget, memegang erat tangan jonathan.


-


Bersimbing


Kuyylah like, vote, sama hadiahnya ♥️


Love buat reader yang masih stay di novel amatiran ini🤗


Hatur nuhun🤗

__ADS_1


__ADS_2