
“Mas bagaimana keadaan Louis?” Tanya pelan Dian kearah zyan yang sedang duduk disamping belangkar johan. Zyan menggelengkan kepalanya sambil berdiri, ia menyuruh dian untuk duduk di kursi yang barusan ditempatinya.
“Dia masih belum sadar.” Dian menarik napasnya panjang. Lalu duduk disamping johan, dengan mengelus tangannya yang terpasang infus.
“Ya Tuhan. Kenapa mas membawa Louis ke rumah sakit ini?” Tanya dian menatap mata zyan dengan mata penuh kecewa.
“Karena rumah sakit ini yang paling dekat dengan lokasi kami tadi.” Jawab pasrah zyan dengan suara pelan.
“Aku takut Louis marah. Jika dia tahu sedang berada ditempat yang sangat dibencinya,” ucap pelan Dian sambil menatap dalam wajah suaminya yang masih terpejam.
“Semoga saja Louis tidak marah. Ini demi kebaikan dia, kalau saja tadi dia tak cepat ditangani, mungkin nyawanya sudah melayang.” Terang pelan zyan yang masih berdiri disamping sepupu perempuannya.
“Apa kondisi dia separah itu mas?” Zyan menganggukan kepalanya, menatap sendu kearah dian.
“Dia terkena Panic Attack, buntut dari pancatraumanya dulu.” Dian melototkan matanya sambil menutup mulut dengan tangannya. Ia kaget mendengar penjelasan dari zyan.
“Kok bisa? Padahal keadaan Louis sudah pulih dari pascatrauma itu! Itu sudah lama mas.” Terang dian menatap kearah zyan, lalu memandang dalam wajah Ayah dari anak-anaknya.
“Entahlah dian. Ada sesuatu hal yang membuat dia seperti ini. Aku tak tahu apa penyebabnya! Tadi sebelum dia pingsan, dia menyebut nama jaslin dan meida. Aku tak tahu apa maksud dari ucapannya.” Dian membelalakan matanya, mendengar nama perempuan yang disebut sepupunya itu.
“Siapa itu meida? Aku baru pertama kali mendengar namanya.” Tanya menyelidik dian, menatap tajam kearah zyan.
“Dia gadis muda yang beberapa kali bertemu dengan Louis. Dulu dia bekerja di kafe milik suami mu.” Terang zyan tanpa melihat wajah cemburu dian.
“Apa mereka terlihat dekat?” Zyan terkekeh pelan mendengar pertanyaan dari dian yang pikirannya sudah terkontaminasi dengan ucapannya.
“Kamu jangan salah paham. Dia gadis yang baik dan cantik, tapi kehidupanya tak semulus wajahnya. Louis merasa bersimpati pada gadis itu, apalagi dia jauh-jauh kesini untuk mencari keluarganya.” Terang zyan, membuat wajah dian terlihat bingung.
“Emang orang tuanya pergi kemana? Sampai dia mencari kesini?” Tanya dian yang masih menatap wajah zyan.
“Dia pernah cerita pada kami. Bahwa dia dibuang oleh keluarganya di kota ini.”
“Kasihan sekali gadis itu. Hidupnya seperti Louis ketika kecil.”
“Yah begitulah, itulah alasan suami mu berempati padanya! Tapi wajah gadis itu mirip dengan anak bungsunya si Gilbert itu loh,” ucap Zyan yang membuat dian menatapnya dengan serius.
“Serius mas? Anak itu mirip Jonathan?” Zyan menganggukan kepalanya sambil memperbaiki letak kacamatanya.
“Iya. Anak itu mirip sekali dengan jonathan keponakan suami mu itu!” Dian semakin dibuat penasaran dengan ucapan zyan.
“Sekarang dimana gadis itu? Aku ingin menemuinya mas.” Zyan menggelengkan kepalanya. Ia melepas tangan dian yang sedang menarik-narik sebelah tangannya.
“Aku tak tahu dimana dia tinggal, yang aku tahu sekarang dia bekerja di Perusahaan Nagara.” Jelas zyan yang membuat wajah dian kecewa dan langsung mengerucutkan bibirnya.
-
Dihamparan savana hijau, di halaman sebuah istana indah nan megah, yang dikelilingi beton-beton tinggi yang kuat nan kokoh. Dua orang manusia sedang duduk berdampingan melihat kearah hamparan danau biru yang berada di depan mereka.
“Meida ... kadang banyak sesuatu yang terjadi tak sesuai dengan keinginan kita. Tapi syukuri! Abi yakin kamu mampu menerima itu semua, walaupun rasanya pasti sakit. Abi mohon, kamu berlapang dada lah, atas takdir Tuhan yang telah tergaris ditangan mu,” Nasehat lelaki paruh baya dengan paras bercahaya, yang mengenakan jubah berwarna putih. Ia menatap lembut kearah meida dengan senyum yang menenangkan.
“Apa maksud abi berbicara seperti itu pada meida?” Tanya meida menatap aneh kearah lelaki yang disebutnya dengan sebutan abi. Lelaki itu mengusap kepala meida dengan lembut.
“Meida gadis cantik putri Abi, selamanya akan tetap jadi putri abi. Jika kamu mengetahui kebenaran hidup ini, harapan abi, kamu harus kuat dan jangan sampai terpuruk.” Meida semakin tak mengerti dengan ucapan lelaki itu. Ia memegang tangan lelaki itu, menatapnya dengan wajah bingung.
“Meida semakin tak paham dengan ucapan Abi!” Lelaki itu hanya tersenyum. Lalu ia memegang kedua bahu meida untuk melihat kearahnya.
“Lihatlah mata Abi Nak! Jika kamu terluka, hati mu sakit, cukuplah Allah yang berada dihatimu! Mohonlah pertolongan pada-Nya, Karena Dia adalah sebaik-baiknya penolong kita!” Meida menatap sorot mata itu dengan berkaca-kaca.
“Abi bicaralah! Apa yang ingin abi sampaikan pada meida.” Lirih pelan meida dengan suara bergetar menahan tangis. Lelaki itu menatap dalam meida dengan sorot mata sendu.
“Abi hanya ingin bilang, kuatkan hati mu karena sebentar lagi kamu akan bertemu dengan keluarga mu. Bukankah kamu ingin bertemu dengan mereka dari dulu? Ingat! Jika hati mu sedang terluka, ingatlah kasih sayang dari Abi dan Ummah, agar kamu tak merasa sendirian.” Meida memandang wajah lelaki itu dengan tetesan air mata diwajahnya. Antara sedih dan bahagia, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarga yang dicarinya selama ini.
“Abi serius dengan apa yang abi ucapkan?” Lelaki itu hanya tersenyum sambil mengusap tetesan air mata diwajah meida.
“Abi serius nak. Abi mohon, kamu memaafkan segala kesalahan orang yang sudah menyakiti mu! Karena tak baik kau menyimpan dendam di hati.” Petuah lelaki itu mengusap kepala meida dan menyandarkan dibahu sebelah kanannya.
“Biarlah waktu yang memaafkannya bi. Karena tak mudah memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti hati kita.” Lirih pelan meida sambil menatap hamparan danau yang berada didepannya. Angin sepoi-sepoi memainkan hijab putihnya.
“Jangan begitu Nak! Tak boleh kamu isi hati mu dengan menyimpan penyakit hati, karena itu tak baik untuk mu dan tak ada faidahnya.” Meida hanya mencerna ucapan lelaki itu, tanpa menjawabnya.
__ADS_1
“Nak lihatlah kesana!” Perintah lelaki itu menunjuk kearah seorang laki-laki yang sedang duduk di taman yang menghadap ke pintu gerbang istana itu. Posisi lelaki itu membelakangi mereka.
“Siapa lelaki yang duduk disana itu Bi?” Tanya meida menatap bingung kearah lelaki itu. Lalu ia menatap laki-laki yang berada didepannya yang berjarak beberapa ratus meter darinya.
“Itu Adib nak. Dia dengan setia, selalu menunggu mu di gerbang itu. Abi kagum dengan cintanya, yang selalu dia jaga untuk mu.” Lirih lelaki itu sambil menunjuk kearah lelaki yang membelakanginya. Meida dibuat berkaca-kaca mendengar ucapan dari lelaki itu.
“Abi, meida ingin mengunjunginya kesana! Meida ingin bertemu dengannya!” Jawab lirih meida bercampur tangis bahagia, karena ia akan bertemu dengan kekasih hatinya. Meida berjalan kearah adib yang berada didepannya, tapi sebuah cekalan tangan memberhentikannya.
“Kamu belum bisa mengunjungi dan bertemu Adib nak, belum saatnya. Yang perlu kamu tahu, dia selalu menjaga cintanya untuk mu.” Meida semakin menangis mendengar ucapan lelaki itu. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan Adib, lelaki yang sangat dirindukannya. Meida memegang tangan lelaki paruh baya itu dengan bersimpuh.
“Meida mohon bi, pertemukan meida dengannya. Ada yang ingin meida katakan padanya,” ucap meida dengan menghiba, agar lelaki itu mengantarnya bertemu dengan Adib.
“Adib sudah mengetahui kalau kamu juga mencintainya. Ini lah alasannya, kenapa adib menunggu mu disana nak.” Lelaki itu mengelus kepala meida, dan membantunya berdiri. Ia mengantarkan meida ke sebuah lorong yang kiri kanannya dihiasi oleh berbagai macam bunga yang sedang bermekaran, bunga itu terlihat sangat indah.
“Meida pulanglah! Ini bukan tempat mu nak, belum waktunya kamu tinggal disini!” Perintah lelaki itu mengantar meida sampai di sebuah gerbang besar. Gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya.
“Abi, meida ingin tinggal disini. Meida gak mau pulang!” Tangis meida pecah sambil memegang tangan lelaki itu. Ia memohon agar lelaki itu mengizinkannya tinggal disana.
“Jangan nak! Masih banyak orang yang membutuhkan mu disana. Jika sudah waktunya, kami akan menjemputmu, kita akan tinggal disini. Sekarang pulang lah!” Meida semakin menangis, ketika lelaki itu mengusap lembut wajahnya dengan tersenyum.
“Tapi bi ... meida ingin bersama kalian.” Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum dan melepaskan tangannya yang berada di wajah meida.
“Pulanglah! Banyak orang yang menunggu mu disana. Pesan abi, dekatkan selalu dirimu pada-Nya, agar kita bisa berkumpul nanti disini. Kerjakan apa yang Allah perintahkan, jauhi segala sesuatu yang Allah larang!” Wajah lelaki itu tiba-tiba menghilang dari hadapan meida, dan pintu gerbang itu tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Meida menangis histeris, karena lelaki itu meninggalkannya.
“Abiii ... jangan pergiii!!! Jangan tinggalkan meida disini sendiri!!!” Teriak meida dengan bercucuran air mata. Tubuhnya merosot ke bawah, kepalanya menyandar di pintu gerbang itu.
“Pulang lah nak ... kami akan menunggu mu disini ...” ucap suara lembut yang tak terlihat wujudnya itu.
“Abii ...” Meida menangis sambil mengelus pintu gerbang itu.
Setiap saya bertemu dengan mu! Pasti saya selalu terkena sial! Enyalah! Saya muak melihat wajah mu! Tiba-tiba suara itu memenuhi rongga telinga meida yang sedang menangis.
Huh hidup mu sangat menyedihkan! Hidup dari belas kasihan orang lain! Hidup seperti benalu! Meida memegang kepala dengan kedua tangannya. Perkataan lelaki itu berputar-putar dikepalanya. Keringat dingin membasahi hijab meida, tubuhnya bergetar hebat, dengan napas tak beraturan.
Arrgghhhhhh
Teriak meida dengan mata yang tiba-tiba terbuka, dengan keringat membanjiri wajahnya, dan napasnya yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton.
“Meida ... “ Meida memandang kearah suara yang memanggilnya. Ia memandang wajah melisa yang sedang menangis.
“Haus mbak ...” Lirih pelan meida, yang diangguki kepala oleh melisa. Melisa mengambil minum diatas nakas, dan membantu meida untuk meminumnya.
“Biarkan Meida beristirahat dulu! Ia terlihat masih shock. Biarkan dia sendiri dulu selama 30 menit, setelah itu baru kita masuk lagi kesini, untuk melihat keadaannya. Semoga keadaannya nanti sudah lebih tenang,” ucap dokter itu setelah melihat meida yang kembali terdiam dengan pandangan kosong. Semua orang yang berada di dalam ruang perawatan itu pun keluar.
“Sus, tolong awasi pasien ini! Jangan ganggu dia, biarkan dia tenang dulu.” Perintah dokter tampan itu, meninggalkan suster itu sendirian di ruang perawatan meida.
“Baik dok.” Jawab suster itu berdiri di sofa yang berada di ujung ranjang meida.
-
“Anda mengenal meida?” Tanya melvin penuh selidik kearah dokter yang barusan memeriksa meida. Dokter itu menutup pintu lalu menjawab pertanyaan melvin dengan tersenyum.
“Ya, saya mengenalnya. Ada yang salah?” Tanya Dokter yang bername tag Andress itu.
“Tidak sama sekali. Saya terkejut saja, soalnya anda bukan dokter yang menangani meida tadi. Takutnya anda dokter gadungan.” Jawab asal melvin yang membuat melisa mencubit tangannya pelan.
“Saya diminta oleh dokter sam yang menangani meida tadi untuk menggantikannya, karena dia ada keperluan mendadak. Saya Andress salah satu Dokter di rumah sakit ini. Ini Id Card saya, bahwa saya bukan dokter gadungan disini!” ucap tengil andress mengambil Id Card yang menggantung di saku jas kerjanya.
“Tak perlu memperkenalkan diri! Saya sudah tahu nama mu dari name tag itu!” Jawab sinis melvin sambil melepas cubitan melisa yang berada diperutnya. Andress mengalihkan pandangan kesamping melvin,
“Kamu Melisa kan? Adik kelas saya waktu sekolah di Internasional School?” Tanya Andress kearah melisa yang sedang mencubit perut melvin. Melisa langsung melepas tangannya dari perut melvin dengan tersenyum manis.
“Iya kak. Dulu kita satu sekolah sampai satu universitas.” Jawab malu-malu melisa dengan wajah memerah. Melvin dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya.
“Iya yah. Saya sampai lupa. By the way kita sudah lama gak bertemu yah?” Tanya Andress tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih rapinya.
“Iya kak lama sekali. Kakak kemana aja aku baru lihat?” Tanya melisa dengan salah tingkah.
“Sepulang kuliah dari Swiss, saya langsung tugas di Jakarta. Dan sudah 6 bulanan saya bertugas di rumah sakit ini. Lelaki ini siapa kamu?” Tunjuk Andress, menatap tak bersahabat kearah melvin. Melisa menggaruk tengkuknya karena gugup
__ADS_1
“Ini koko aku kak. Namanya melvin.” Jawab melisa dengan senyum terpaksa.
“Ohh koko kamu. Sifat kalian sangat jauh berbeda! Bagai bumi dan langit!” Melvin menatap sinis kearah andress yang terang-terangan menyindirnya.
“Kau ...” ucap tajam melvin yang ucapannya tiba-tiba dipotong Andress.
“Saya pergi dulu, 20 menit lagi saya kesini. Permisi.” Pamit Andress setelah membuat kesal melvin. Melvin dibuat tercengang dengan sifat tengil Andress yang melebihi sifat tengilnya. Melvin tidak mengetahui bahwa Andress adalah anak dari pemilik rumah sakit ini.
“Kenapa kamu senyum-senyum? Seperti orang gila!” Kesal melvin melihat kearah melisa yang sedang senyum-senyum sendiri.
“Kak Andress semakin kesini semakin tampan aja yah ko.” Puji Melisa yang tak menyadari wajah kesal melvin. Melvin hanya mencebikkan bibirnya mendengar ocehan adiknya.
“Tampang buaya darat kayak gitu kau sebut tampan? Katarak mata mu? Apa perlu koko belikan detergent untuk membersihkan mata mu?” Melisa menatap tajam kearah melvin. Seperti ingin memakannya bulat-bulat.
“Sembarangan kalau ngomong! Kak Andress memang tampan dari dulu! Sirik yah?” Bela melisa yang membuat melvin membulatkan matanya malas.
“Ngapain harus sirik? Orang tampanan koko daripada dia.”
“Narsis! Itulah alasan sampai sekarang aku tak bisa berpaling darinya!” Jawab jujur Melisa yang membuat melvin menjitak kepalanya pelan.
“Bucin! Suka sama cowok kayak gitu! Makan tuh cinta pertama.” Melvin mengacak-ngacak rambut melisa dengan terkekeh
“Koko nyebelin ih.” Kesal melisa menonjok pelan perut melvin.
-
“Dian, ini dimana? Kenapa saya berada disini?” Tanya Johan yang baru siuman dari pingsannya. Dian mengelus kepala johan dengan penuh cinta.
“Kita sekarang berada di Rumah sakit, tadi kamu pingsan cukup lama. Zyan membawa kamu kesini.” Jawab Dian tersenyum. Johan menatap dian penuh tanya,
“Rumah sakit apa ini?” Tanya johan yang membuat Dian dan Zyan saling pandang. Zyan menganggukan kepalanya agar dian menjawab jujur pertanyaan johan.
“Emmmm. Rumah sakit Hospital Internasional Centre.” Jawab pelan Dian yang membuat johan membelalakan matanya.
“Apa?? Kenapa kau membawa saya kesini?” Johan menyelidik tajam kearah zyan yang sedang menundukkan kepalanya. Dian mengelus dada johan agar ia tenang, tak tersulut emosi.
“Maaf louis. Saya membawa mu ke rumah sakit ini, karena lokasinya paling dekat dengan posisi kita tadi. Saya tak punya tujuan macam-macam membawa mu kesini, saya hanya mengkhawatirkan keadaanmu, tak lebih dari itu.” Terang zyan tertunduk tak berani mengangkat kepalanya.
“Apa kau pernah mendengar ucapan saya? Lebih baik saya mati daripada di bawa ke rumah sakit ini! Zyan kau orang pertama yang membuat saya menelan ludah saya sendiri. Kau tahu betapa saya benci dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Atmaja? Kau tahu kebencian saya pada mereka seperti apa? Saya sedang berusaha berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri saya, walaupun masih tersimpan banyak kebencian. Inilah kenapa saya menjauhi segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga ini? Agar saya terlepas dari bayang-bayang kekejaman mereka, agar hati saya tak semakin terluka.”
“Berada disini bukannya membuat saya sembuh, tapi membuat saya semakin sakit! Urusi administrasi saya sekarang! Saya ingin cepat-cepat pergi dari sini!”
-
-
Kalian sudah melihat berita yang lagi booming minggu ini? Salah satunya tentang kasus yang menimpa Alm. Novia😥
Otor Turut berduka cita atas hilangnya keadilan di Negeri ini. Hukum baru tergerak setelah korban bunuh diri.
Kembali lagi dan lagi menjadi catatan hitam permanen yang tak pernah hilang dalam ingatan kita,dimana "OKNUM" yang jumlahnya banyak sekali itu, yang harus nya menjadi penegak hukum, tempat mencari keadilan, malah kerap kali menjadi pelakunya.(Maykel)
Dari kasus ini memberitahu kesemua orang bahwa kematian novia adalah hasil dari persekongkolan jahat keluarga pelaku dan lembaga negara yang seharusnya melindunginya. (SN)
Dan Alm. Novia kembali menambah daftar catatan hitam tentang korban Penegakan Hukum di Negeri ini.😥
Yang bikin otor marah yah. Cuman di hukum 5 tahun setelah kasusnya tak dianggap.
Yah kalau begini, hidup harus banyak-banyak duidd biar aman dari hukum wkwkw.
#JUSTICEFORNOVIAWIDYASARI
(Ini isi hati otor yah, maaf kalau ada yang tersinggung)
Kuyylah vote, like, komen, sama hadiahnya 🤗♥️
Mumpung hari senin hehe
Otor sengaja up banyak, biar kalian puas bacanya🤗
__ADS_1
Biarkan cerita ini mengalir mengikuti arusnya wkwk♥️🤗
Hatur nuhun♥️