
“Ko .. ko ... Koko ada di dalam Kan?” Tanya Melisa lirih, tanpa mengetuk pintu. Mendengar suara adiknya, tak urung air matanya kembali menetes.
“Ko ... jawablah! Koko di dalam, Kan?” Melvin menggigit bibirnya. Dengan bibir bergetar, ia menjawab pertanyaan adiknya.
“Iya Dek. Koko ada disini!” Mata Melisa berkaca-kaca ketika mendengar suara koko-nya yang terdengar lemah dan bergetar. Melisa mengelus pintu besi itu lalu meluruhkan tubuhnya ke lantai.
“Koko baik-baik saja Kan di dalam? Papih gak ngapa-ngapain koko Kan?” Tanya beruntun Melisa sambil mengelus-ngelus pintu itu dengan suara yang bergetar menahan tangis.
“Koko gak papa! Koko baik-baik aja! Ini konsekuensi yang harus koko tanggung Dek. Apa keadaan orang rumah baik-baik aja?” Tanya parau Melvin yang berusaha tegar.
“Sejak tadi siang, rumah kita sudah di kepung banyak wartawan ko. Kita gak bisa keluar rumah. Papih merampas semua alat komunikasi kami. Keluarga besar kita berkumpul lalu memarahi Mamih dan Papih. Mereka menekan Mamih dan Papih, agar koko kembali pada keyakinan kami. Yang paling marah itu Om dan Tante, mereka menyebut koko sebagai musuh dalam selimut.” Tutur Melisa sambil menggigit bibirnya, agar suara tangisnya tak terdengar oleh Melvin.
“Koko. Maaf aku gak bisa bantu koko. Papih menyita semua akses yang aku dan mamih miliki. Dia menyuruh kami untuk tidak keluar rumah. Mamih sudah membujuk keluarga besar kita, tapi mereka malah semakin marah. Kami tak bisa berbuat apa-apa sekarang, kami tak bisa membantu koko keluar dari masalah ini. Maafkan kami ko ....” Melvin kembali menangis mendengar suara parau adiknya yang semakin menyentuh sanubarinya. Ia menggigit punggung tangannya yang sudah mati rasa.
Yaa Allah, kuatkan hamba! Tambahlah kesabaran hamba! Hamba terima semua ujian ini. Karena hamba tahu, lewat ujian ini Engkau meningkatkan keimanan hamba. Hamba tahu, Kau tidak akan menguji hamba melebihi kadar kemampuan hamba. Yaa Allah, jangan biarkan hamba kalah oleh keadaan ini. Ujar pelan Melvin sambil membenturkan pelan kepalanya ke pintu besi tersebut.
“Ko, bersabarlah! Aku yakin masalah ini akan cepat berlalu. Lewati semua ini dengan tabah. Karena setelah ini masih banyak masalah yang harus koko hadapi. Koko harus kuat! Koko jangan menyerah!” Melvin kembali menghapus air matanya. Ia menyampingkan kepalanya ke pintu,
“Maksud kamu apa Dek?”
“Keluarga besar kita sudah menyepakati untuk menghukum koko dengan mengasingkan ke Pulau Terpencil. Mereka menganggap koko sebagai aib keluarga. Pagi ini koko akan diasingkan kesana! Tak ada yang mengetahui pulau mana-mananya. Yang tahu hanya Om dan Papih saja.” Melvin menutup mulutnya. Ia menjambak rambutnya dengan Frustasi.
Meida, saya harus apa? Mereka mengasingkan saya. Saya takut tak bisa menepati janji saya. Saya takut tak bisa bertemu dengan mu lagi. Saya tak bisa bayangkan hidup berjauhan dari mu. Meida, mampukah kamu menunggu saya kembali? Saya akan terus bersabar menerima ini semua. Karena saya yakin, setelah ini Allah pasti memberikan kado terindah untuk saya.
Yaa Allah, apa tadi firasat perpisahan ini? Pantas saja saya tak ingin pergi. Karena kenyataannya, saya benar-benar harus pergi. Ucap lirih Melvin sambil memejamkan matanya. Mendengar isak tangis kakaknya, tak urung hati melisa pun ikut menangis.
“Sekarang jam berapa Dek?” Melisa melihat kearah jam dinding yang berada di ruang itu.
“Sekarang jam 3 pagi ko. Waktu bersama kita sebentar lagi. Sekitar jam 5 pagi, koko akan di bawa pergi. Aku merasa seperti adik yang tak berguna. Aku tak bisa menahan kepergian koko. Maafkan aku ko... Maaf, aku hanya diam tak bisa berbuat apa-apa.” Melvin semakin mengencangkan suara tangisnya yang sangat menyayat hati. Melisa menangkup wajah dengan kedua tangannya, hatinya benar-benar sakit mendengar suara tangis menyayat hati kakaknya untuk pertama kali.
Yaa Allah, apa pengasingan ini adalah jalan terbaik untuk hamba? Apa hamba sanggup melewatinya? Hamba tahu, rencana mu lebih baik dari hamba. Ikhlaskan hati hamba untuk menerima semua ini Yaa Allah.
Melisa tak tahan mendengar tangisan kakaknya, ia memutuskan kembali ke kamarnya sebelum ada orang yang memergokinya. Setelah kepergian Melisa. Melvin masih menangis, merenungi semua kejadian yang merubah hidupnya begitu cepat.
Setelah beberapa jam, suara pintu terdengar di buka. Menampilkan sosok Mamihnya dan Melisa yang sedang mencari saklar lampu. Ketika lampu itu dinyalakan, mereka terkejut melihat kondisi melvin yang sangat memilukan. Darah masih mengalir di wajahnya, tangan dan kakinya nampak kaku karena penuh lebam. Helena langsung menangis melihat kondisi anaknya yang begitu menyesakkan hatinya.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa dengan mukamu ini? Kenapa dengan tangan mu ko?” Mata helena kembali berkaca-kaca melihat tubuh anaknya yang dipenuhi dengan lebam biru. Melvin tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mamihnya, ia malah semakin menangis.
“Mih ...” Tangis Melvin yang berusaha menggerakkan tangannya untuk memeluk Mamihnya. Helena tak kuasa melihat kondisi Putranya, ia langsung membalas lembut pelukannya.
“Ko, mamih tahu ini berat buat kamu. Tapi bersabarlah! Ini konsekuensi dari pilihanmu. Mamih yakin kamu lelaki kuat. Dimana pun kamu berada, jaga dirimu. Karena mamih tak bisa selalu ada di sampingmu. Ini masalah begitu berat yang menimpa keluarga kita, mamih harap kamu ikhlas menerima nya.” Melisa ikut memeluk Melvin dari belakang. Ia merasa sangat kehilangan, apalagi sebentar lagi kakaknya harus benar-benar pergi.
“Walaupun ini sangat berat bagi Mamih. Mamih harus menyetujui pengasingan mu Nak. Mamih sebenarnya menolak, tapi mamih tak punya kekuatan untuk melawannya Nak. Maafkan mamihmu yang tak berguna ini.” Helena menangis dipelukan Putranya. Ia harus mengikhlaskan kepergian putranya yang entah kapan akan kembali.
__ADS_1
“Sudah Mih. Ini salah Melvin! Melvin ikhlas menerima semuanya. Do'akan Melvin supaya kuat melewatinya. Do'akan Melvin supaya bisa kembali pada kalian.” Parau Melvin yang mengurai pelukan Mamihnya dengan lembut.
“Apa Meida tahu tentang ini? Dia berhak tahu semua ini! Ya Tuhan, padahal pernikahan kalian sebentar lagi.” Melvin menggelengkan kepalanya. Memegang tangan Mamihnya. Hatinya tak kalah pilu, karena sebentar lagi dia akan berpisah jauh dengan kekasih hatinya.
“Dia belum tahu mih. Melvin hanya berpamitan pulang ke rumah, itu saja. Melvin tak bisa memberitahu kepergian Melvin sekarang. Dek, tolong ambilkan kertas dan pena! Koko membutuhkannya sekarang!” Melisa langsung mengambil barang yang melvin pinta dari kamarnya, lalu ia langsung memberikannya pada Melvin. Melvin mengambil kertas itu dan langsung menulis. Helene dan Melisa kembali menangis getir, melihat melvin dengan sekuat tenaga menahan rasa sakitnya menulis surat untuk kekasih hatinya meida. Kata demi kata terurai rapi di tulisan itu, dengan disaksikan oleh air mata yang membasahi kertas itu.
Halaman kertas itupun telah penuh dengan tulisan Melvin. Ia melipat kertas itu dan memberikannya pada melisa.
“Dek, jika koko pergi. Sampaikan surat ini pada Meida. Kamu jangan pernah ceritakan masalah yang menimpa koko padanya! Bilang saja koko baik-baik saja. Dan bilang pada dia, tunggu koko kembali! Koko pasti menepati janjinya.” Melisa mengambil kertas itu lalu di masukan kedalam kantong piyama tidurnya. Setelah itu ia langsung memeluk kakaknya untuk yang terakhir kali.
“Koko harus janji untuk kembali! Kami disini menunggumu! Meida disana menantimu! Cepatlah pulang! Semoga Tuhan selalu memberkati setiap langkah koko.” Melvin menganggukkan kepalanya dengan mengusap pelan kepala adiknya.
“Jaga dirimu selama koko pergi! Dan tolong jaga Mamih untuk koko!” Melvin melepaskan pelukan lalu memeluk mereka berdua secara bersamaan.
“Waktu kalian habis! Saatnya Melvin pergi!” ucap tegas Bagaskara. Adik kandung Nagara yang merupakan aktivis Gereja. Beberapa pengawal sudah berada di belakangnya untuk mengawal Melvin.
Melvin dengan berat hati melepas pelukannya. Ia menatap sendu kearah Mamih dan adiknya. Seorang pengawal mengikat tangan melvin lalu menyuruhnya untuk berdiri. Hati Helena menjerit ketika melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Tapi ia tak bisa berbuat banyak, dan hanya mampu menangisinya. Melvin membalikkan tubuhnya kearah Helena dan Melisa dengan tersenyum penuh keikhlasan, walau tersimpan banyak duka.
“Mih, Dek. Koko pamit pergi! Jaga diri kalian baik-baik,” kata perpisahan Melvin yang menyayat hati orang yang mencintanya. Ia di giring keluar dari kamar itu seperti orang pesakitan. Seluruh keluarganya berjejer di sepanjang ruangan yang akan di lewatinya, mereka menatap melvin dengan raut wajah tak suka, dan tak sedikit menatapnya dengan raut wajah tak tega. Tapi yang membuat hati melvin terluka, ia tak melihat sama sekali kehadiran Papih-nya, yang ingin ia temui sebelum kepergiannya.
Sebegitu marahnya papih padaku ... Sebegitu bencinya. Maaf, aku mengecewakanmu pih. Aku pamit! Jaga diri Papih baik-baik. Lirih melvin dengan menatap seluruh ruangan yang berada di rumahnya untuk mencari sosok Papihnya. Ia mengucapkan kata perpisahan pada papihnya lewat isyarat matanya.
Sementara di ruang lain, nampak seorang lelaki paruh baya menyaksikan kepergian anaknya melalui layar monitor yang terletak di meja kerjanya. Ia tak bisa menyembunyikan tangisnya, ia menggigit punggung tangannya untuk menekan rasa kesedihannya. Ketika melihat kondisi Putranya yang begitu memprihatikan seperti seorang penjahat yang hendak di adili.
Melvin, maaf papih mengambil jalan ini. Papih lebih memilih kamu diasingkan, daripada keluarga besar kita mengusir mu. Papih tak ingin kehilanganmu Nak...
Maaf papih menyakitimu! Karena papih tak terima Nak, kamu anak yang sangat papih sayangi. Papih melakukan itu, karena rasa sayang papih padamu Nak...
Walaupun papih kecewa padamu yang tak menghargai papih. Tapi dari lubuk hati terdalam, rasa sayang itu masih ada Nak, rasa sayang itu telah menutupi rasa kecewa papih.
Papih tak bisa berbuat banyak, ketika kau teguh mempertahankan keyakinan-Mu. Dan seberapa keras papih menyakiti mu, kamu akan tetap teguh dengan pendirian mu. Papih menyerah memaksa mu Nak..
Semoga kamu bisa belajar hidup keras di luar sana. Berusahalah untuk kembali!
Papih akan memaafkan mu, jika kamu benar-benar kembali ...
Inilah konsekuensi yang harus kamu hadapi atas pilihanmu. Ini berat buat papih, tapi ini demi kebaikan keluarga besar kita.
Berjuanglah untuk kuat! Berjuanglah untuk bertahan! Papih disini menunggu kedatangan mu dengan restu papih. Lirih Nagara memukul dadanya ketika melihat mobil yang ditumpangi anaknya melaju meninggalkan kediamannya.
Sampai bertemu lagi Nak ...
Melvin yang berada di mobil itu, sengaja matanya di tutup kain oleh Bagaskara. Dia di ampit oleh pengawal yang berpostur tinggi besar di sampingnya. Tak urung air mata kepedihan menetes, mengingat sosok calon istrinya yang ia tinggalkan tanpa pamit.
__ADS_1
Meida, saya benar-benar pergi. Tapi saya pergi hanya untuk sementara. Saya janji, saya akan kembali, walaupun entah kapan. Maaf saya mengingkari janji-mu untuk pulang cepat-cepat, yang nyatanya saya harus pergi jauh.
Jaga diri mu baik-baik selama kepergian saya. Karena sekarang saya tak bisa selalu berada di sampingmu. Tapi sekarang ada keluarga mu, semoga mereka selalu menjaga mu menggantikan saya.
Sekarang saya hanya bisa menjagamu lewat do'a. Maaf jika saya mengingkari janji kita.
Kan saya bawa pergi nama mu di dalam hati sana, di setiap langkah saya, di helaan nafas saya.
Tapi saya janji meida, saya akan langsung melamarmu jika saya kembali nanti.
Meida, tunggu saya! Cepat atau lambat saya akan kembali. Kamu adalah hidup saya, kamu adalah cinta saya, kamu adalah rumah saya. Sejauh apapun saya pergi, saya pasti akan kembali padamu. Selalu ingat janji saya! I Love u one forever in the world my sunshine.
Meida langsung membuka matanya, suara melvin terasa benar-benar nyata. Padahal di kamarnya ia hanya tidur sendirian. Jantungnya berdetak begitu cepat, perasaannya tak karuan, dan kembali memikirkan Melvin. Tiba-tiba meida menangis, tapi tak tahu apa alasan tangisannya. Tiba-tiba hatinya sedih, seperti sesuatu yang berada di hatinya menghilang.
Lelaki menyebalkan, dimana kamu sekarang? Kenapa tak mengabari saya? Saya benar-benar mengkhawatirkan mu. Apa kamu baik-baik saja? Kenapa nomor telepon keluarga mu tak ada satupun yang bisa di hubungi? Jangan menghilang seperti ini! Jangan membuat saya takut! Jika kamu ingin meninggalkan saya, ingat janji-janji kita! Saya disini akan tetap menunggu mu, karena kamu yang memintanya. Meida bangun dari posisi tidurnya lalu berjalan kearah kamar mandi untuk berwudhu, karena jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
-
“Ci yang sabar yah! Ko Melvin pasti tak bisa menghubungi cici sekarang! Lihatlah! Rumahnya aja di kepung banyak wartawan, di jaga ketat oleh penjagaan. Ko Melvin pasti tak bisa datang kesini seperti biasanya. Semoga ko Melvin baik-baik aja disana!” Meida bangun dari posisi rebahannya, ia langsung melihat kearah televisi yang sedang memperlihatkan keadaan rumah Melvin yang sangat ramai dikerumuni banyak wartawan.
“Jangan galau! Nanti juga ko Melvin kesini! Percaya deh sama Jo! Ko Melvin orang yang bertanggung jawab, dan kata-katanya bisa di pegang!” Meida mempertimbangkan ucapan adiknya dengan mata yang masih fokus menatap ke layar televisi tersebut.
“Ci angkat telpon nohh! Berisik, berdering mulu!” Meida mengambil ponselnya lalu mengangkat telepon dari Mommy-nya.
“Pagi mom. Ada apa? Tumben-tumbenan nelpon pagi-pagi,” Meida kembali merebahkan tubuhnya di samping jonathan. Ia mengerutkan keningnya ketika mendengar suara Mommy-nya yang sedang menangis.
“Daddy-mu Nak. Daddy-mu tiba-tiba serangan jantung. Mommy dan koko mu sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kamu susul kami kesana!” Meida membelalakkan matanya mendengar ucapan Mommy-nya.
“Apa??? Kok bisa? Malem Daddy masih baik-baik aja. Dan Jack sudah memastikan Daddy tak memiliki penyakit apapun. Kenapa sekarang malah terkena serangan jantung,” ucap panik Meida. Jonathan memepetkan tubuhnya kearah meida untuk mendengarkan obrolannya.
“Entahlah Nak. Kejadiannya tiba-tiba. Ketika mommy meninggalkan Daddy-mu ke dapur untuk mengambil bubur. Mommy datang, Daddy-mu sudah kejang dan langsung tak sadarkan diri.” Meida dan Jonathan pun langsung saling pandang.
“Yaa Allah. Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini pada Daddy. Baiklah Mom. Meida, Bi Ina, dan Jonathan kesana. Tapi sebelum itu kami mampir dulu ke rumah Mommy, kita harus cepat-cepat mengamankan CCTV. Biar kita tahu pelakunya!”
-
Hampura yah otor telat up, kuota otor abis. Di tambah operatornya gangguan. Alhasil kuota baru nyampe sekarang 😁
Tong hilap, vote, like, komen, rate sareng hadiah na... Di antos pisan😘🤗
Love segede lapangan GBK buat para reader sadayana♥️♥️
Hatur nuhun pisan kange nu ntos ngalike, ngomen, ngavote, sareng anu masihan hadiah😘
__ADS_1
Di antos ☕☕☕☕☕☕♥️♥️♥️♥️