
“Meida cepatlah sembuh! Sebentar lagi Anniversary perusahaan loh! Kamu harus ada, duduk bersama kami.” Melisa memijit pelan tangan kanan meida yang masih terpasang selang infus
“Kapan mbak?” Meida mengerutkan keningnya kearah melisa. Melisa terkekeh lalu menghitung hari dengan jarinya,
“5 hari lagi dek. Kamu, bi ina, dan jonathan harus berada disamping kami. Papih dan mamih mengundang kalian semua untuk datang, menikmati pesta nanti.” Meida membelalakan matanya mendengar ucapan melisa.
“Mukanya gak usah kaget kayak gitu. Ini mamih loh yang ngundang langsung. Oh yah, tadi ko melvin bilang, katanya maaf dia gak bisa nemenin kamu disini. Dia harus mempersiapkan konsep buat anniversary nanti, karena dia yang langsung turun tangan memanage acara itu sendiri.”
“Gak papa mbak. Tuan Melvin sudah banyak membantu saya. Saya selalu merepotkan nya. Mbak gak marah kan?” Melisa menautkan kedua alisnya menatap aneh kearah meida.
“Kenapa mbak harus marah?”
Meida menjawab pertanyaan melisa dengan menundukkan wajahnya.
“Karena mbak pacarnya Tuan melvin." Jawab pelan meida. Mendengar jawaban itu, melisa dibuat tercengang.
“Apaaaa?? Hahahaha.” Wajah kaget melisa berubah menjadi tawa. Meida dibuat heran dengan respon melisa yang malah menertawakannya.
“Kenapa mbak ketawa? Aku cuman gak enak aja sama mbak.” Melisa mengusap air matanya. Lalu ia memandang meida dengan mengembungkan pipinya,
“Hahahahaha.” Tawa melisa kembali pecah.
“Emang kita terlihat seperti pasangan?” Melisa menunjuk dirinya sendiri yang diangguki kepala oleh meida.
“Iya mbak. Kalian itu pasangan yang serasi loh.”
“Jadi dari dulu kamu menganggap mbak pacarnya ko melvin?” Tanya melisa yang kembali menahan tawanya.
“Mbak aneh banget ihh.” Sungut meida sambil mengerucutkan bibirnya.
“Tapi faktanya, kami cuman adik kakak hahaha.” Tawa pecah melisa yang mendapat pelototan dari meida.
“Mbak serius?”
“Itulah kenyataannya. Oh iya, tadi ko melvin sudah menghubungi jo kalau kamu tak bisa pulang malam ini.” Melisa memegang tangan meida setelah menghapus air mata disudut matanya.
“Apa dia tahu aku dirawat disini mbak?” Tanya meida dengan wajah sayu. Melisa menganggukkan kepalanya lemah.
“Pasti jonathan sangat mengkhawatirkan ku mbak,” ucap sedih meida yang mengingkari janjinya pada jonathan. Padahal niatnya tadi, ia akan pulang cepat-cepat, tapi sekarang dia malah terjebak di rumah sakit ini.
“Jangan sedih, besok juga kamu sudah boleh pulang dek,” kata melisa sambil memegang tangan meida.
-
Dian dan zyan membawa johan pulang ke kediamannya yang berada di kota malang. Johan lebih memilih di rawat oleh dokter pribadinya daripada di Rumah Sakit keluarga nya.
Jam 22:00. Johan masih terjaga, hatinya gelisah memikirkan kejadian yang terjadi di panti asuhan tadi. Ia masih terbayang dengan tanda lahir bulan sabit yang berada di telapak tangan meida. Johan memikirkan berbagai kemungkinan, bahwa keponakan yang dicarinya selama ini adalah meida. Karena hatinya semakin gelisah, ia membangunkan dian yang tertidur disampingnya.
__ADS_1
“Dian ... bangun sayang. Tolong antar saya ke taman belakang.” Johan membangunkan dian dengan menoel-noel pipinya. Dian menggeliat, menyipitkan matanya kearah johan.
“Kamu masih sakit mas. Kamu harus banyak istirahat, supaya cepat pulih. Lagian ini sudah malam, udara malam tidak baik untuk kesehatan kamu.” Jawab pengertian dian sambil mengelus lembut wajah johan.
“Please, antar saya ke taman belakang Dian! Saya ingin ingin mencari udara segar. Terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Berdiam diri disini malah membuat hati saya gelisah, dan semakin menambah pusing kepala saya,” ucap johan dengan gurat wajah yang terlihat gelisah. Dian menatap suaminya dengan perasaan iba.
“Baiklah.” Dian bangun dari tidurnya. Ia menjepit rambutnya, lalu mengambil tongkat pyramid kaki tiga yang terletak disamping nakas nya. Tongkat yang sering johan gunakan ketika sedang beraktivitas di rumah. Tongkat itu sengaja dian simpan disampingnya, agar johan membangunkannya ketika membutuhkan sesuatu.
Dian membantu johan bangun, karena keadaan johan yang masih terlihat pucat dan lemas. Setelah johan berdiri dengan menompang tubuh memeluknya. Dian berjalan menggandeng lengan johan menuju ke taman belakang.
“Dian terima kasih, kamu masih setia di samping saya. Menemani saya dalam keadaan senang maupun susah. Terima kasih, kamu telah memberi saya Putra-putri yang sangat pintar dan lucu,” ucap johan setelah duduk di gazebo di taman belakang. Ia memandang wajah dian dengan mata penuh cinta. Dian tersenyum lalu memegang tangan johan.
“Jangan bicara seperti itu. Saya tulus mencintai mu mas. Saya sangat-sangat mencintai mu.” Dian menjawab ucapan johan dengan mata berbinar penuh ketulusan. Johan menyentuh pipi istrinya lalu mencium keningnya lama. Dian menutup matanya menikmati perlakuan romantis dari suaminya yang biasanya tidak terang-terangan seperti ini.
Setelah mencium lama kening dian, johan memandang wajah istrinya dengan gurat wajah menenangkan.
“Love you more. Jangan pernah meninggalkan saya sampai kapanpun! Kamu adalah hidup saya! You are my Everything.” Dian berkaca-kaca mendengar ungkapan perasaan johan. Ia tersenyum menganggukan kepalanya dan langsung memeluk johan.
“Aku tidak akan meninggalkan mu mas, dan tak ada niatan sedikit pun untuk meninggalkan mu. Apalagi sudah ada Biru dan jingga di kehidupan kita. Aku akan selalu bersama mu, hanya kematian yang memisahkan kita.” Dengan suara bergetar penuh penghayatan, dian mengucapkan kesungguhan hatinya dipelukan suaminya. Johan tersenyum penuh haru mendengar penuturan istrinya.
“Terima kasih Dian. Terima kasih ... Kalian adalah hidup saya.” Johan mencium lama rambut dian.
“Mas, kamu tak biasanya seperti ini. Apa yang terjadi? Katakanlah apapun itu, aku siap mendengarkan nya.” Dian melepaskan pelukan diantara mereka. Ia memandang wajah suaminya dengan wajah penasaran. Johan menghapus air matanya, ia memandang dalam wajah dian dengan memegang tangannya.
“Dian, saya bertemu dengan seorang gadis. Dia perantauan dari Bandung ke kota Surabaya untuk mencari orang tuanya. Gadis itu dibuang di kota itu oleh keluarganya ketika bayi. Hidup gadis itu sangat prihatin, dia sudah banyak melewati kepahitan hidup, dan akhirnya terdampar disini. Tapi yang membuat saya iba, sampai sekarang dia belum menemukan keluarganya.” Tutur johan menceritakan tentang kehidupan meida yang baru beberapa kali ditemuinya. Dian mendengarkan ucapan johan dengan seksama. Ia mengelus tangan suaminya dan menatapnya,
“Gadis itu bernama meida kan?” Johan tercengang mendengar pertanyaan dian, yang mengetahui nama meida. Johan menganggukkan kepalanya pelan, dengan mata yang masih setia memandang wajah istrinya.
“Mas zyan tadi menceritakan pada ku mas.” Jawab dian yang masih mengelus tangan suaminya. Johan mengalihkan pandangan dari istrinya, ia menatap kearah hamparan bunya yang ada didepannya.
“Dian, tadi saya bertemu dengan gadis itu di panti Asuhan. Kami saling bercerita, gadis itu mengingatkan saya akan sosok jaslin. Tapi yang membuat saya shock, gadis itu memiliki tanda lahir bulan sabit ditelapak tangan kanannya, tanda yang yang tidak dimiliki oleh sembarang orang, jarang sekali orang yang memiliki tanda seperti itu. Saya takut dian, saya takut gadis itu adalah jaslin, saya takut gadis itu kecewa. Saya sudah menceritakan bagaimana dulu kita kehilangan jaslin. Bagaimana hidup jaslin tak dianggap. Saya takut dian ...” ucap johan dengan suara bergetar. Inilah ketakutan yang tadi ia rasakan sampai ia jatuh pingsan. Dian terkejut dengan apa yang johan ucapkan. Ia memegang tangan suaminya, agar menatap nya,
“Kamu serius mas? Meida memiliki tanda lahir itu?” Tanya dian dengan mata yang tak berkedip menatap dalam mata suaminya. Johan membalas pegangan tangan istrinya, lalu menciumnya.
“Saya serius dian. Meida benar-benar memiliki tanda itu. Jika meida tahu kenyataannya, saya takut dia membenci saya, karena telah memisahkan dia dari keluarganya.” Tangis pilu johan dengan suara ketakutan. Dian mengerti perasaan yang dialami suaminya sekarang, ia buru-buru memeluk johan lalu mengelus pelan bahunya.
“Berdoalah semoga dia tak seperti itu mas. Dia tak akan membenci mu mas. Tidak akan ... percaya padaku. Dia tak mungkin melakukan itu padamu, karena dia pasti tahu, kamu melakukan itu karena terpaksa oleh keadaan,” ucap dian dengan mata berkaca-kaca menenangkan hati johan dengan terus mengelus bahunya. Agar johan tak memikirkan segala sesuatu yang malah memperburuk kondisinya sekarang.
“Kamu bisa mempertemukan gadis itu dengan ku mas? Aku ingin melihatnya ... aku ingin memeluknya ... aku ingin melihat baby jaslin yang ku rawat dulu.” Tangis dian di bahu suaminya.
“Saya akan berusaha mempertemukan kalian. Saya janji akan membawanya ke rumah kita.” Janji johan meleraikan pelukan mereka.
“Kamu harus mempertemukan kami. Aku ingin menebus kesalahanku dulu padanya.” Lirih dian dengan mengelus wajah suaminya.
“Berdoalah, semoga saya cepat menemukannya."
“Aku selalu mendoakan mu mas.”
__ADS_1
-
“Melvin konsepnya seperti ini?” Tanya Nagara menunjuk gambar yang melvin buat. Setelah melvin mempersentasikan rancangan yang dibuatnya dihadapannya. Kebetulan di ruang meeting itu hanya ada mereka berdua. Karena meeting yang akan mereka pimpin berlangsung sekitar 1 jam lagi.
“Iya pih. Daripada kita mengundang artis-artis dari ibu kota, lebih baik kita memanfaatkan kreativitas yang dimiliki karyawan kita disini. Agar mereka bisa menunjukan talent mereka masing-masing, biar acara ini menjadi opportunity sekaligus challenge untuk mereka. Dan bisa menjadi wadah untuk mengembangkan skill mereka, itung-itung buat nambah imun pih. Konsep tahun ini sengaja koko buat beda, karena bosen setiap tahun konsepnya itu-itu mulu.” Terang melvin sambil menunjukkan konsep yang ia buat di iPad nya. Nagara hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan anaknya.
“Yaudah, untuk konsep terserah kamu ko. Asal jangan bikin malu papih di depan kolega-kolega kita. Buatlah mereka terkesan dengan acara ini.” Nagara menepuk pelan pundak melvin yang duduk disampingnya.
“Tenang saja pih. Pasti perfect, asal suntikan dananya gede hehe,” Kelakar melvin yang mendapatkan jepretan tangan didahinya. Melvin langsung mengaduh dan memegang dahinya.
“Uang uang aja yang ada diotak mu. Nanti papih kasih kamu cek, jika acara ini benar-benar memuaskan papih.” Kesal nagara setelah menjepret dahi anaknya menggunakan tangannya.
“Huhh itu namanya ngutang dulu pih. Mana ada kayak gitu.” Sungut melvin dengan mencebikkan bibir kearah papihnya.
“Lokasi partynya nanti masih di hotel Green Indah dekat balai kota kan?” Nagara mengalihkan pembicaraan setelah melihat wajah cemberut melvin. Ia tahu, yang ada dalam otak anaknya tidak jauh dari uang.
“Enggak pih. Koko sengaja gunakan Gedung serba guna yang ada di belakang kantor kita. Sayang kan kalau gak di pakai? Biar multifungsi gitu pih.” Tunjuk melvin kearah gedung serba guna yang dimiliki keluarga Nagara.
“Papih ok ok aja sih. Emang gedung itu sudah dirapikan?” Tanya nagara menyelidik kearah melvin. Melvin menjawab pertanyaan papihnya dengan santai.
“Sudah pih. Kemarin koko udah nyuruh orang buat ngerapihin sekalian ngedekorasi ulang ruangannya. Tenang, pasti aman pih. Dion yang turun tangan langsung disana.”
“Terus, yang buat pengisi acaranya sudah siap kan? Waktu kita mepet nih.” Nagara melihat kearah kalender yang terletak disampingnya.
“Sudah pih. Lihat aja dilantai 3 mereka sedang latihan. Koko sengaja memberi mereka waktu luang banyak untuk latihan dan koko membebaskan mereka dari pekerjaan kantor. Agar pekerjaan kantor tidak membebani dan mempengaruhi performance mereka nanti.” Jawab santai melvin melirik wajah papihnya.
“Ya itu gimana kamu aja! Yang penting gak merugikan perusahaan papih.” Melvin mencebikkan bibir nya mendengar ucapan nagara.
“Yeayy papih mah perhitungan. Mau acara sukses, tapi gak mau rugi.” Nagara langsung membelalakan matanya, setelah mendengar sindiran halus dari melvin.
“Siapa yang perhitungan? Jika nanti acara kita ini sukses, papih dengan sukarela akan memberi mereka semua bonus.” Sungut nagara mendelik kearah melvin
“Nah gitu dong, ini baru bos idaman.” Kekeh melvin menatap nagara dengan senyum kemenangan.
“Kata Melisa kamu sedang ngedeketin wanita kan?” Melvin langsung diam seketika, ketika mendengar pertanyaan dari nagara.
Dihh ember banget mulut si lisa. Pake acara bilang ke papih segala. Sungut Melvin dalam hati dengan wajah yang memerah
“Eng-gak pih.” Jawab melvin dengan wajah gugup.
“Jangan bohong! Gak usah malu-malu, wajar kali. Usia kamu itu sebentar lagi menginjak 27 tahun. Teman sepantaran kamu sudah banyak yang nikah! Kamu juga harus sudah punya pegangan untuk dijadikan pendamping hidup mu nanti. Gak malu apa diledekin terus sama adik kamu? Pesan papih, Jadilah lelaki sejati, yang memperjuangkan dan mencintai hanya satu wanita, dan jangan sekali-kali kamu menyakitinya. Karena keluarga kita sangat menjungjung tinggi sebuah kesetiaan dan kehormatan wanita."
-
-
Bersimbing
__ADS_1
Kuyylah like, vote, komen sama hadiahnya ♥️ hampuranya maruk😂
Hatur nuhun ka pembaca anu masih satia tina novel iyeu😘🥰