Kita Berbeda

Kita Berbeda
Janji!


__ADS_3

“Jaslin ... Jaslin ...” ucap lirih suara itu. Meida menghentikan langkahnya dengan meneteskan air mata. Ia ingin terus melangkahkan kakinya, tapi seperti ada sesuatu yang menahan tubuhnya untuk tetap berdiam diri di kamar itu.


“Jaslin ... maafkan Daddy Nak! Pulanglah ...” Meida membalikkan tubuhnya. Ia melihat kearah Daddy-nya yang sedang mengigau dengan kedua mata yang masih tertutup. Meida berjalan lebih dekat kearah Gilbert, ia berdiri di sampingnya.


“Jaslin ... Daddy merindukan mu ...” Mata Meida kembali berkaca-kaca melihat air mata yang kembali terjatuh di sudut mata Gilbert. Ia ingin menghapus air mata itu, tapi tangannya sulit untuk digerakkan. Meida mengalihkan pandangannya kearah figura foto dengan pandangan yang begitu menyesakkan.


“Bangunlah! Saya disini! Melihat mu seperti ini, saya semakin membencimu! Bukannya berusaha meminta maaf pada saya, kau malah tidur enak seperti ini! Jika kau tak bangun sekarang, mungkin ini pertemuan terakhir kita! Saya akan menepati janji saya untuk menghilang dari hidup mu!” Meida kembali menatap Gilbert dengan melipat tangannya.


“Saya sangat membencimu, ketika kau merendahkan saya. Tapi itu diluar ekspektasi, kau ternyata Ayah saya! Ayah yang selama ini saya cari! Kau tahu bertapa kecewa saya menerima kenyataan ini? Jika saja kau tak menganggap saya musuh ataupun itu, mungkin sakitnya tak semenyakitkan ini. Ayah saya sendiri, membenci saya tanpa alasan yang jelas. Kau pasti tahu! Di setiap pertemuan kita kau selalu saja menghina saya, merendahkan saya, bahkan menyebut saya sebagai benalu.” Kekeh pilu Meida sambil mengambil foto yang sedang peluk Gilbert. Ia menatap foto itu lama, foto yang memperlihatkan dirinya yang sedang mengenakan seragam putih biru.


“Sebenarnya saya tak ingin menemuimu disini. Tapi nurani saya berkata lain, saya bukan seperti mu yang terbiasa hidup tanpa nurani, saya tak bisa seperti itu!”


“Walaupun hidup saya seperti ini, saya ingin berterima kasih padamu. Karena kau, saya bisa sekuat ini. Kau mungkin tak tahu sebanyak apa penderitaan yang saya alami selama ini. Tapi lewat penderitaan itu, saya menemukan orang yang tulus, orang yang benar-benar mencintai saya. Bukan orang-orang munafik yang hidup penuh kepalsuan.” Kamar itu kembali hening. Meida menghapus air matanya dan berjalan sedikit demi sedikit melihat semua Foto dirinya yang terpajang di kamar itu.  Ia kembali membalikkan tubuhnya menatap Gilbert dengan air mata bercucuran.


“Kenapa kau bisa sejahat ini hah? Mengabaikan saya dan membiarkan saya pergi! Apa salah saya? Asal kau tahu, saya tak ingin dilahirkan dari keluarga ini! Tapi apa daya, Tuhan yang menghendakinya. Kenapa kau begitu kejam? Kenapa kau bisa setega ini? Kenapa hah? Mungkin saya tak berharga di hidupmu, tapi tak adakah sedikit rasa kasihan di hatimu untuk saya? Kau membiarkan anak perempuan kecil di bawa pergi orang, tanpa bermaksud menahannya! Kau tahu! Hati saya sakit ketika mendengarnya ...” Teriak Meida seperti orang gila memarahi Gilbert yang hanya meresponnya dengan diam.


“Kau tahu! Selama ini saya tak bermimpi dilahirkan dari keluarga ini. Hidup saya normal sebelum bertemu denganmu. Kini semuanya telah berubah total! Dan parahnya, kau terlalu dalam menggores luka di hati saya! Orang tua macam apa kau ini hah?” Meida meluruhkan tubuhnya di samping kepala Gilbert. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok dengan membentur-benturkannya pelan. Meida menolehkan kepalanya kearah Gilbert dengan sorot mata terluka.


“Apa hidupmu bahagia setelah kepergian saya?” Lirih Meida sambil menekukan kakinya.


“Apa kau butuh kata maaf dari saya? Walaupun berat ...  saya akan mengatakan ... saya akan memaafkanmu, jika kau berjuang melanjutkan hidupmu. Saya memaafkan mu karena Tuhan saya! Saya tak ingin memupuk rasa ini terlalu lama! Saya tak ingin kita sama-sama berakhir dalam sebuah penyesalan dan luka.” Dengan tubuh bergetar Meida menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Gilbert. Ia memandang wajah Daddy-nya dari samping.


“Karena sebenci apapun saya, sekecewa apapun itu, sesakit ini, kau adalah Ayah saya! Statusmu tetap ayah saya! Tak bisa diubah sedikitpun! Jika saya tak mengakuimu sebagai Ayah saya, bagaimana pertanggungjawaban saya dihadapan Tuhan kelak! Saya tak ingin menambah dosa saya karena tak mengakuimu.” Meida kembali menghapus air matanya, memandang wajah Daddy-nya yang kini tirus dan pucat tak seperti pertemuan terakhirnya.


“Saya akan mempertimbangkan untuk memaafkan segala kesalahanmu, asal kau benar-benar menyesal. Karena dengan penyesalan itu kau dapat belajar.” Perlahan tapi pasti meida mendekatkan kepalanya ketelinga Gilbert.


“Sekarang, sadarlah! Dengarkan perkataan saya! Saya janji akan berusaha menerimamu menjadi Orang tua, ayah, sekaligus keluarga saya. Saya memberikanmu kesempatan menjadi Daddy saya! Tebuslah waktu 19 tahun itu! Perlakuan saya seperti putri kandung yang sangat kau sayangi. Kau pasti tahu, saya haus akan kasih sayang. Tukar waktu 22 tahun yang pahit itu menjadi sebuah kebahagiaan.” Bisik Meida dengan terbata-bata dan air mata bercucuran. Kini ia memberanikan diri menghapus air mata Gilbert dengan tangannya. Lalu ia meraih tangan Gilbert yang terpasang infus dan menggenggamnya erat.


“Mari kita berdamai dengan luka! Mari kita buka lembaran baru ....” Tangis Meida pecah sambil mencium tangan Gilbert lama. Air mata keikhlasan yang meida curahkan membasahi tangan Gilbert yang perlahan-lahan membuka matanya. Gilbert menangis tergugu, melihat putri yang sangat dirindukannya kini berada di depannya, menangis sambil mencium sebelah tangannya. Gilbert tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia menangis dengan menggigit bibirnya agar suara isaknya tak terdengar oleh anaknya. Rasanya ini seperti mimpi, kehadiran anak-anaknya benar-benar nyata. Gilbert mengangkat sebelah tangannya, lalu ia usapkan di kepala putrinya untuk pertama kali. Betapa banyak moment yang ia lewati secara percuma-cuma tanpa melihat tumbuh kembang semua anaknya.


“Jaslin ... kau benar-benar datang Nak ...” Lirih Gilbert dengan terbata-bata. Meida masih menundukkan kepalanya dengan menyandarkan kepalanya di punggung tangan Gilbert. Suara tangis nyaringnya kini semakin keras menyayat hati, membuat 3 orang yang berdiri di balik pintu itu ikut menangis haru. Yah benar, Meida adalah obat mujarab untuk Gilbert. Suara anaknya mampu menyadarkannya dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Ya Allah, terima kasih telah membuka hati meida untuk memaafkan Ayahnya. Terima kasih. Setelah ini, biarkan dia mengecap kebahagiaannya. Dia pantas bahagia. Lirih Bi Ina yang menyandarkan tubuhnya di pintu itu bersama Melvin dan Zaina.


“Jaslin, maafkan Daddy Nak ... Maafkan kesalahan Daddy selama ini ... Daddy benar-benar menyesal ... Terima kasih kau telah datang Nak, terima kasih ... kau adalah kebahagiaan daddy yang hilang ...” Meida semakin menangis tergugu ketika suara lirih Gilbert berhasil meruntuhkan ego-nya. Dengan lembut Gilbert terus mengelus kepala putrinya.


“Daddy tahu, dosa Daddy terlalu banyak untukmu. Dosa yang tak bisa daddy sebutkan satu persatu. Daddy tahu, Daddy selalu membuat hatimu terluka.


Dengan kesungguhan hati daddy disaksikan Tuhan, Daddy yang penuh dosa dan hina ini minta maaf Nak ... rasanya daddy tak bisa melanjutkan hidup daddy tanpa maaf darimu.” Kini giliran Gilbert yang menangis tergugu. Ia menghapus air mata dengan sebelah tangannya lalu menangkup wajahnya.


“Sebenarnya Daddy sudah menyerah dengan hidup ini! Daddy malu, hidup penuh dosa padamu. Sekiranya kata maaf itu ada, daddy benar-benar ingin mendengarnya Nak.” Meida mengangkat wajahnya sambil menghapus air matanya. Ia menatap Gilbert dengan mata berkaca-kaca, Gilbert membalas tatapan anaknya dengan air mata bercucuran. Ia berusaha bangun dari tidurnya, karena tubuhnya masih lemah tak kuat untuk duduk,  Gilbert menyandarkan kepalanya di headboard ranjang dengan menggenggam sebelah tangan Putri-nya.


“Jaslin, beri Daddy kesempatan untuk menjadi Ayah yang baik untukmu Nak. Walaupun itu terdengar mustahil, daddy akan berusaha Nak. Daddy akan mengganti waktu 22 tahun itu dengan kebahagiaan. Daddy janji Nak.” Meida hanya terisak mendengar permohonan Gilbert. Ia hanya ingin memandang wajah pucat Daddy-nya lama.


Apa dia benar-benar Daddyku? Wajah yang ingin kulihat dari dulu. Ummah, Abi, Kak Adib ... Akhirnya aku menemukan mereka, akhirnya aku menemukan orang tuaku. Terima kasih untuk pengorbanan kalian ...


Apa sekarang waktunya memaafkan mereka?


Kak Adib, pengorbanan mu sungguh tak sia-sia kak. Mereka semua kini berada di sekelilingku, mereka menyayangi ku.


“Jaslin, adakah kata maaf untuk pria bodoh ini? Daddy tahu kamu pasti sulit memaaafkan Daddy. Kamu pasti enggan, tapi daddy akan selalu menunggu untuk kata maaf itu sampai Tuhan mencabut nyawa Daddy.” Gilbert menarik napasnya dalam, menahan rasa sesak bercampur sakit di dadanya. Melihat itu, meida menggeser tubuhnya dan langsung memeluk Daddy-nya.


“Da..da..ddy ....” Pelan tapi pasti Meida memanggil Gilbert dengan sebutan Daddy. Gilbert tak mampu mengungkapkan perasaannya, ia terharu sekaligus bahagia dengan memeluk tubuh anaknya erat. Di belakang pintu, Zaina dan Bi Ina menangis tergugu. Mereka tak menyangka Meida akan memaafkan Gilbert dengan secepat ini.


Terima kasih meida, terima kasih telah memaafkan Daddy-mu. Saya bahagia, akhirnya kamu mendengarkan perkataan saya, membuka pintu maaf untuk mereka. Saya tahu, sejatinya hatimu tulus dan lembut, kamu paling tak bisa melihat orang terdekat mu terluka.


Ya Allah, setelah ini ... berilah saya dan dia kebahagiaan.


“Jas..lin.. put..ri..ke..cilku.. Da..ddy.. men..rin..du..kan..mu.. nak...” ucap Gilbert terbata-bata. Ia semakin erat memeluk putrinya yang sedang menangis dipelukannya seperti takut kehilangan.


“Da..ddy jan..ji akan menebus waktu 22 tahun itu. Jangan pergi dari hidup daddy, daddy tak sanggup Nak.” Meida melerai pelukannya dan menatap wajah Daddy-nya yang sedang menghapus air mata di wajahnya. Meida menyondorkan jari kelingkingnya kehadapan wajah Gilbert.


“Janji!” Gilbert menganggukkan kepalanya dengan menautkan jari kelingkingnya. Ia mencium kening putrinya lama dan langsung kembali memeluknya.

__ADS_1


“Terima kasih telah memberi kesempatan pada Daddy. Maaf, daddy selalu menghadirkan luka di hidup mu. Daddy janji, daddy tak akan pernah mengingkari janji daddy.”


-


“Bu, Tan, saya angkat telpon dulu yah!” Izin Melvin sambil mengambil ponsel dari kantong sweaternya. Ia berjalan keruang sebelah sambil tertegun melihat nama Melisa yang terpampang di layar ponselnya.


Tumben-tumbenan Melisa nelpon. Gumam pelan melvin sambil mengangkat telponnya.


“Ko, pulang sekarang! Lisa mohon!” Suara panik melisa yang pertama kali melvin dengar setelah mengangkat telponnya. Melvin di buat kaget dan langsung membulatkan matanya.


“Ada apa dek? Kenapa kamu panik? Apa kamu dan Mamih baik-baik saja?” Tanya panik Melvin dengan wajah pucat.


“Tolong pulang sekarang ko! Kami menunggu mu! Papih ...” Melisa tak mampu melanjutkan perkataannya ia malah menangis.


“Papih kenapa?” Tanya panik Melvin sambil menggigit punggung tangannya.


“Papih ....


-


Kira-kira papihnya Melvin kenapa yah?


Yang bisa nebak jago wkwkw


Besok Minggu,  up apa jangan yah🤭


Tong hilap ☕☕☕☕☕


Vote, like, komen, sama hadiahnya 😘😘😘


Hatur nuhun🥰🥰🥰

__ADS_1


Wilujeng Weekend 🤗


__ADS_2