Kita Berbeda

Kita Berbeda
Mengetahuinya!


__ADS_3

“Tanpa bantuan bu ina dan ko melvin, jonathan tak mungkin bisa membuka tabir yang sudah tertutup bertahun-tahun ini, apalah daya jo tanpa mereka.” Jonathan melanjutkan ucapannya


“Bagaimana perasaan Daddy dan mommy jika mengetahui kebenaran ini? Jo takut keluarga jo tak menerima cici. Karena cici hilang terlalu lama, dan mereka tak mengetahui ciri-ciri cici sama sekali. Jo takut ada kesalahpahaman antara mereka.” Tutur jonathan memandang sendu kearah Johan. Bi ina tergugu di samping melvin. Melvin hanya diam memijit pangkal hidung nya.


Orang tua macam apa yang tak tahu ciri-ciri anaknya! Kecuali orang tua yang benar-benar tak menginginkannya!


Yaa Rabbana ... apa aku terlahir karena sebuah kesalahan? Mungkin akulah kesalahan itu... mungkin aku aib bagi mereka. Siapa orang tua ku? Bolehkah aku membencinya? Tapi kenyataannya, aku memang sangat  membencinya!


Paman johan tak salah, begitu pun dengan jonathan dan bi ina. Tapi kenapa hati ku sakit Yaa Allah ...  mereka orang terdekat ku, mereka selalu ada di sampingku, tapi kenapa mereka menutupi semua ini dari ku? Mereka tak menghargai keberadaan ku sama sekali.


Jaslin ... jaslin ... nama yang sering kudengar, ternyata namaku sendiri! Miris!


“Itu juga yang om khawatir kan jo. Daddy mu terlalu keras dan ambisius. Om takut daddy mu malah menyakiti hati jaslin. Terlalu banyak luka yang dia torehkan di hati jaslin ketika bayi dulu! Om takut sikap daddy mu tak berubah sama sekali!” Jawab pasrah johan mengusap wajahnya kasar.


“Apa perlu om beritahu keluarga mu jo?” Jonathan menggelengkan kepalanya lemah mendengar ucapan johan.


“Jangan om! Biarkan mereka tak mengetahui ini dulu! Jika memang cici meida sudah membuka hati untuk memaafkan mereka, baru kita beritahu mereka. Tapi jo yakin, cici meida tak mudah memaafkan segala kesalahan mereka!”


Entahlah ... tak ada pintu maaf sedikit pun untuk mereka, sampai kapanpun! Sampai hati ku benar-benar membaik. Dulu aku ingin menemuinya, ingin mengetahui alasan dibalik mereka membuangku. Tapi sekarang aku tahu jawabannya, tanpa harus mendengar penjelasan langsung dari mereka!


Meida memegang kalungnya erat, lalu ia tarik dengan sekuat tenaga hingga kalung itu terputus dari lehernya. Meida menatap kalung yang ada di tangannya dengan berderai air mata, ia menjatuhkan kalung itu di sampingnya. Ia berusaha berdiri menjauh dari ruangan itu.


“Om, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jo tak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama lagi!” Perlahan-lahan suara jonathan hilang dari pendengaran meida. Dengan tertatih-tatih dia melewati ruang demi ruang untuk mencari pintu keluar. Sebelah tangannya dengan setia menghapus air matanya. Langkah pelan meida membawa ia ke halaman belakang rumah itu.


“Om juga bingung jo, perlahan-lahan meida akan mengetahui semua ini. Kita harus membuat penjelasan yang tak menyakiti hatinya. Om yakin ini tidak mudah, kita harus mengorbankan perasaan nya lagi ” Suara mereka benar-benar menghilang dari pendengaran meida.


Meida memijit pelan kepalanya, berdiri di halaman belakang yang dipenuhi dengan beraneka macam bunga. Ia terlihat bingung dengan tempat itu, tempat yang sangat asing baginya. Dengan langkah yang sempoyongan, ia terus berjalan mencari pintu keluar dari halaman rumah itu.


“Mbak ada yang bisa saya bantu?” Tanya ros tergopoh-gopoh kearah meida yang berada di halaman belakang. Meida tersenyum kearah wanita muda itu dengan air mata yang masih menganak sungai.


“Mbak, tolong tunjukkan saya jalan raya! Saya ingin pergi dari sini!” ucap lemah meida sambil menghapus air matanya membuat ros menatap iba kearahnya.


“Saya izin dulu sama Bapak dan Ibu yah! Karena mbak adalah tamu terhormat disini.” Tutur lembut ros yang membuat meida menggelengkan kepalanya. Meida memandang wajah ros sambil memegang tangan nya.


“Saya mohon mbak, jangan beritahu mereka! Saya ingin pergi! Mbak tolong saya! Tunjukkan arah ke jalan raya.” Ros tak tega melihat wajah meida yang menghiba. Ia bingung harus berbuat apa, menolong meida atau dimarahi majikannya.


“Gimana kalau Bapak dan Ibu marah pada saya,” ujar lemah ros dengan gurat wajah sedih.


“Mbak pura-pura saja tak melihat saya.” Sahut meida sambil memegang kedua tangan ros.


“Saya mohon mbak ...” Rengek meida dengan menangis. Ros tak tega melihat wajah berantakan meida yang terlihat seperti orang yang sedang putus asa.


“Baiklah mbak. Mari saya antar mbak keluar dari sini.” Putus ros dengan wajah pasrah. Ia menggandeng tangan meida menuju arah selatan ke tempat pembuangan sampah yang persis di samping jalan raya. Ros sengaja mengajak meida lewat jalan itu, karena jalan itu tak melewati pos sekuriti yang menjaga rumah johan.


“Terima kasih mbak, sudah mau menolong saya. Semoga Tuhan membalas kebaikan mbak,” ucap meida yang berjalan di gandeng ros, ros membalas ucapan meida dengan tersenyum. Ia mengantar meida sampai jalan raya. Setelah meida menyetop sebuah taksi, ros baru pamit undur diri.


“Terima kasih mbak. Saya pergi dulu!” Pamit meida ketika ros berjalan menuju pintu halaman rumah johan. Ros membalikkan tubuhnya dan tersenyum kearah meida.

__ADS_1


“Hati-hati mbak.” Kata ros sambil melambaikan sebelah tangannya. Meida mengangguk kepalanya lemah lalu masuk ke dalam taksi itu.


“Mbak tujuannya kemana?” Tanya ramah driver itu melihat wajah meida dengan perasaan iba. Keadaan meida sangat berantakan. Ia tak membawa apapun, kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya.


“Jalan saja pak! Untuk sekarang saya tak memiliki tujuan. Bawa saya pergi dari sini!” Jawab lemah meida sambil menyandarkan kepalanya di kursi taksi itu.


“Baik mbak.” Meida menutup matanya, menangis tak bersuara. Lengannya ia gunakan untuk menutup wajahnya. Meida benar-benar rapuh, tangisnya ia tumpahkan di dalam taksi itu.


-


“Setelah meida sadar, om akan jujur tentang semuanya! Lebih baik hati meida sakit sekarang, daripada nanti.” Ucapan johan diangguki oleh semua orang yang berada di ruangan itu.


“Saya setuju dengan usulan Anda. Jangan membiarkan masalah ini larut. Lebih cepat lebih baik! Biar masalah ini cepat kelar!” Sahut melvin sambil melipat kedua tangannya.


“Benar sekali pak. Saya tak bisa menutupi ini lagi, meida berhak tahu siapa dirinya!” Lirih bi ina sambil mengusap sudut matanya.


“Baiklah. Kita beritahu meida sekarang! Mari kita tanggung konsekuensinya bersama-sama! Sekarang kita ke kamarnya, kita tunggu meida sampai siuman.” Ajak johan sambil berdiri di papah Jonathan. Dian berjalan di depan mereka, menunjuk kamar yang di tempati meida.


Mereka berjalan kearah kamar yang di tempati meida, mereka tak menaruh curiga sedikitpun pada kamar yang sudah kosong itu. Yang ada dalam pikiran mereka, meida masih terbaring disana dengan keadaan yang masih tak sadarkan diri.


“Yah kamar meida kosong!!” Teriak dian. Karena ia orang pertama yang masuk ke kamar itu di susul oleh yang lainnya.


“Jangan bercanda bun!” mereka buru-buru masuk ke ruangan itu dengan penuh kepanikan. Mereka membelalakan mata melihat kamar meida yang sudah kosong tak berpenghuni. Selimut yang digunakan meida, kini telah tergeletak di lantai.


“Kalian yakin meida tidur disini?” Tanya khawatir bi ina sambil berjalan kesegala penjuru kamar itu.


“Jangan-jangan apa bun?” Panik Johan menatap dalam istrinya


“Jangan-jangan meida pergi setelah mendengar pembicaraan kita!” Tutur spontan dian membuat semua orang yang berada di kamar itu tercengang.


“Tapi itu mustahil. Posisi kamar ini dan ruang tamu terhalang satu ruangan bun. Meida tak mungkin mampu berjalan kesana.” Jawab johan sambil memijit pelipisnya.


“Sekarang kita cari meida!” Teriak melvin. Mereka berpencar mencari meida ke segala arah rumah johan.


Jonathan masih mematung ketika semua orang berpencar mencari meida, ia berjalan perlahan ke ruang yang meida lewati tadi. Tiba-tiba jonathan menginjak sesuatu, ia terdiam melihat kearah benda yang di injaknya.


Bukankah ini kalung cici meida? Cici meida sudah mengetahui semuanya! Dia pergi, dia benar-benar pergi! Seperti apa yang kutakutkan. Lirih jonathan dengan suara bergetar memungut kalung yang tergelak dilantai di samping dinding penghalang ruang itu.


“Kamu kenapa jo?” Tanya melvin sambil menepuk bahu Jonathon. Jonathan mengambil kalung itu dan ia perlihatkan kehadapan melvin.


“Ko ini kalung cici meida kan? Cici meida sudah mengetahui semuanya! Dia mengetahuinya! Ia mendengar pembicaraan kita! Cici meida pergi ko ... dia pergi meninggalkan jo. Ini yang jo takutkan dari dulu.” Lirih pilu jonathan memandang melvin dengan sorot mata ketakutan. Melvin mengambil kalung yang ada di tangan jonathan. Ia menatap dalam liontin biru itu.


Ini benar-benar kalung yang meida pakai ketika mencari Jonathan. Berarti benar apa yang dikatakan jonathan, meida sudah mengetahui jati dirinya, dia mendengar pembicaraan tadi.


“Apa kalian menemukan sesuatu?” Tanya johan yang di papah Dian. Melvin menunjukkan kalung itu kearah johan dan dian.


“Kami menemukan ini!” Dian menatap tajam liontin biru itu. Ia mengambil kalung itu dari tangan melvin.

__ADS_1


“Kalung ini ... Kalung yang jaslin pakai sebelum kepergiannya ... kalung yang diberikan buyut mu jo ....” Lirih dian dengan mata berkaca-kaca menatap kalung yang ada di tangannya.


“Sekarang aku yakin, meida 100% adalah jaslin. Kita tak perlu meragukannya lagi!” Dian menghapus kasar wajahnya, ia memeluk kalung itu erat.


“Dimana kalian menemukan kalung ini?” Tanya johan menatap kearah melvin dan jonathan bergantian. Dengan tangan bergetar Jonathan menunjuk kebawah dinding itu. Melvin pun menunjuk kearah yang Jonathan tunjuk.


“Disini! Meida sudah mengetahui semuanya. Mungkin dia menguping pembicaraan kita tadi,” ucap melvin meraup rambutnya kasar.


“Dimana anak itu sekarang? Saya khawatir dengan keadaan nya! Saya takut dia kenapa-napa. Dia benar-benar belum pulih!”


“Coba tanya semua pekerja disini! Saya yakin salah satu dari mereka pasti melihat meida.” Usul melvin yang diangguki kepala oleh dian.


-


“Tujuan mbak kemana? Saya sudah dari tadi muter-muter kota Surabaya! Bensin saya sudah mau habis mbak.” Tanya driver itu memberhentikan laju mobilnya di alun-alun kota. Meida terhenyak mendengar ucapan sang driver, ia mengusap kedua matanya dengan ujung hijab yang ia pakai.


“Antarkan saya ke masjid itu pak!” Jawab parau meida sambil menunjuk kubah masjid yang ada di depannya.


“Baiklah.” Driver itu mengarahkan kendaraan nya menuju masjid itu.


“Pak, maaf saya tak bisa membayar pakai uang tunai. Terimalah cincin ini, ini emas murni yang saya beli dulu. Saya rasa cukup untuk membayar ongkos saya.” Driver itu mengernyitkan dahinya saat meida menyondorkan sebuah cincin kearahnya.


“Maaf mbak, saya tak menerima pembayaran cincin, saya hanya menerima pembayaran tunai!” Kesal driver itu sambil menggaruk kepalanya kasar.


“Dompet dan tas saya ketinggalan di rumah. Saya tak membawa sesuatu yang berharga, kecuali cincin ini.” Terang meida dengan wajah menghiba.


“Mbak, kalau gak punya uang gak usah so soan naik taksi! Mana minta muter-muter Surabaya lagi! Rugi saya mbak! Nombok kalau kayak gini.” Sungut driver itu memukul stir nya keras.


“Bapak jual saja cincin ini di toko mas, ini bukan cici palsu kok.”


“Mana cincinnya? Awas kalau palsu! Saya laporin mbak ke polisi!” Driver itu mengambil kasar cincin dari tangan meida.


“Silahkan pak! Kalau memang cincin ini palsu, bapak bisa temui saya disini! Saya tak akan kemana-mana. Saya akan shalat magrib disini!”


“Baiklah. Saya pegang kata-kata mbak!”


-


-


Maaf yah kemarin otor gak up🙏


Otor juga manusia biasa yang bisa merasakan masuk angin, sakit kepala dan flu wkwkwk


Insyaallah nanti malam up lagi...


Hatur nuhun masih stay d novel receh ini🤗♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2