
“Siapa pelaku sebenarnya? Saya tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu dengan Jonathan! Saya akan membunuhnya!” Geram Andress dengan mata melotot. Lalu ia mencium kepala adiknya. Jack menyandarkan kepalanya di tiang besi dengan memejamkan matanya, lalu mengingat sesuatu.
“Ko, apa ini berkaitan dengan Oma-mu? Minggu lalu dia berusaha membunuh Om Gilbert anak kandungnya sendiri dengan sangat biadab. Dan bisa jadi, sekarang dia yang mendalangi penculikan Jonathan. Di tambah Oma koko kabur dari rumah, dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya sampai sekarang. Dia pergi bagai di telan bumi. Tapi, itu hanya asumsi ku saja ko. Jika bisa menerima, yah silahkan! Jika pun tidak, tak jadi masalah!” Andress menyimak perkataan sepupunya lalu memikirkan sesuatu dengan mengingat-ngingat kejadian lalu.
“Apa itu mungkin Jack? Tapi benar! Setelah berusaha meracuni Daddy, Oma tak pernah pulang ke rumah dan nomornya sampai sekarang tak bisa dihubungi. Dia pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun! Sepertinya dia sudah merencanakan ini dari jauh hari!” Meida pun menyimak pembicaraan kakak lelaki dan sepupunya. Jika memang itu ulah oma-nya, berarti bisa dipastikan oma-nya sangat membencinya. Tapi jika niatnya hanya menculik Jonathan, kenapa oma-nya hanya menerornya seorang.
“Target pertama kita berarti Oma Grace! Dan tugas kita sekarang melacak keberadaannya!” Jack menganggukkan ucapan sepupunya.
“Untuk menemukan Oma, biar ini menjadi tugas saya! Jangan beritahu Daddy dan Mommy! Biarkan mereka tenang dan tak terlibat dengan masalah ini! Biar saya yang akan menyelesaikan semuanya!” Tutur Andress sambil mengurai lembut pelukan Meida lalu menghapus air mata di wajah adiknya yang sedang ketakutan.
“Kamu pulang saja! Biar Koko yang mencari Jonathan. Kamu istirahat di rumah, jangan di apartemen! Keadaan kita sekarang sedang bahaya! Nanti kalau ada kabar mengenai Jonathan, koko pasti hubungi kamu.” Meida menganggukkan kepalanya. Berjalan lemas keluar dari ruang itu dengan digandeng oleh kakaknya.
Meida pulang kerumah orang tuanya dengan perasaan kacau. Ia tak menghiraukan beberapa pelayan yang sudah menyambutnya di sepanjang ruangan yang biasanya di jawabnya dengan sebuah anggukan dan senyuman. Tapi sekarang tidak, dia malah melewati begitu saja dengan wajah dinginnya. Meida melangkah dengan gontai menuju kamar miliknya yang berada di lantai 3 yang di ampit oleh kamar Andress dan Jonathan. Setelah sampai dikamarnya, ia langsung melempar tas selempang dan sepatunya dengan ke sembarang arah. Ia langsung mengunci pintu dan menelungkupkan tubuhnya diatas bantal. Ia tak berhenti menangis sejak tadi sore, walaupun Jack berusaha menghiburnya di sepanjang perjalanan mengantarnya pulang.
Sementara Andress di ruangannya masih berkutat melacak keberadaan adiknya yang belum ditemukan titik terang sampai malam ini.
Malam itu, kondisi meida benar-benar menyedihkan. Ia masih saja menangis di pojokan kamar. Hatinya sangat tak karuan, terlalu banyak hal yang ia takutkan. Masalah Melvin yang belum usai, di tambah dengan kepergian Jonathan, adik yang sangat disayanginya.
Ia menyandarkan tubuh lemahnya di lemari kaca tempat menyimpan segala tas branded yang dibelikan orangtuanya, yang belum ia sentuh satupun. Meida terus saja meraung pelan, menyalahkan dirinya, atas segala sesuatu yang menimpa adiknya.
-
“Nyonya! Target sudah kita dapatkan!” Lapor anak buah Grace yang sudah berhasil menculik Jonathan dan Biru. Ia mengemudikan mobilnya di temani 3 temannya. Satu berada disampingnya, yang dua berada di belakangnya dengan menghimpit posisi Jonathan dan Biru di tengah-tengah.
“Bagus! Langsung bawa ke markas! Saya tunggu disana!” Jawab sumringah Grace dengan senyum menyeramkannya. Ia senang, karena satu persatu rencananya berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
“Baik Nyonya! 30 menit lagi kami sampai disana!” Ucapnya sambil mematikan ponselnya. Ia melajukan mobilnya dengan pelan-pelan karena jalan yang akan mereka lewati nampak terjal. Dengan kondisi jalan rusak dan berkelok-kelok, di tambah kiri kanannya terdapat jurang. Jalan itu nampak sepi, karena jarang dilewati oleh penduduk. Karena aksesnya hanya menuju keperbukitan yang terdapat banyak bangunan tua khas Eropa yang sudah lama tak ditempati. Dan menuju hutan belantara yang tak terjamah oleh penduduk sekitar.
Setelah melewati perjalanan itu. Mereka sampai di rumah tua berukuran besar dengan halaman luas yang di kelilingi pohon beringin. Rumah tua itu tak lain adalah markas besar milik Grace yang sudah tak dihuni selama berpuluh-puluh tahun. Kini, rumah itu terlihat terang walaupun menyeramkan. Dan rumah itu sudah di jaga ketat oleh anak buah Jonas, sehingga tak memungkinkan orang asing untuk masuk. Grace sudah menunggu kedatangan anak buahnya dengan menolak pinggangnya dengan senyum penuh kepuasan.
__ADS_1
“Kalian memang bisa diandalkan!” Kekeh Grace sambil melihat kearah cucunya lalu melihat kearah anak dari musuh bebuyutannya. Hatinya tak iba sedikit pun melihat kondisi cucunya yang terikat dan memprihatinkan. Ia malah mengacuhkan cucunya seperti orang asing. Ia benar-benar tak memiliki hati dan nurani, hingga berani berbuat keji seperti itu hanya demi harta.
“Bawa mereka berdua ke gudang! Tetap jaga dan awasi! Jangan sampai sandera saya hilang! Karena sekarang dia adalah sumber aset kita! Mereka berdua sumber kekayaan kita! Paham!” Perintah tegas grace sambil menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengangkat tubuh Jonathan dan biru untuk di bawa ke gudang. Setelah sampai di gudang, tubuh mereka di ikat di tiang besi yang berbeda. Mereka dibiarkan berdiri, tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun.
Gudang itu nampak terbengkalai. Dengan semua cat yang sudah mengelupas termakan usia. Terlihat beberapa peralatan yang tidak terpakai memenuhi gudang itu. Terdapat kursi goyang yang sudah lapuk, banyak lukisan tua yang sudah tak terawat, ada beberapa barang-barang kuno yang menghadirkan nuansa mistis, dan ada beberapa potongan kaca tampak berserakan di lantai. Gudang itu nampak kotor penuh dengan debu, karena sudah lama tak dirawat.
“Foto Mereka sekarang! Lalu kirimkan pada Jonas yang masih berada di kota! Agar dia yang mengirimkan langsung pada target kita! Kita permainkan mereka terlebih dahulu! Agar mereka benar-benar menyerah hahaha.” Tawa Grace suaranya menggema memenuhi ruangan itu, hingga menambah aura menyeramkan di gudang itu. Semua anak buah grace menganggukkan kepalanya. Mereka mematuhi segala perintahnya tanpa ada bantahan. Grace kembali masuk ke dalam rumah tuanya, rumah satu-satunya peninggalan kedua orangtuanya ketika masih hidup.
Lihatlah! Sebentar lagi semua itu akan jadi milikku! Lihatlah Mih, Pih! Aku berhasil!
-
Meida kembali membelalakkan matanya, ketika melihat foto adiknya yang baru saja dikirim oleh nomor yang tak dikenal. Ia mengelus foto adik dan keponakannya yang diikat di tiang besi dengan posisi menggantung.
Meida menjerit dengan suara melengking memecahkan malam, ketika membuka foto yang menampilkan kembali wajah Jonathan dan Biru yang tampak babak belur dengan mata tertutup.
KAU INGIN MEREKA SELAMAT? IKUTI PERINTAH SAYA! Meida memberanikan diri menghubungi nomor tak kenal itu dengan tangan bergetar. Lalu ia menghapus air mata di wajahnya dengan kasar. Ketakutannya serasa nyata, ketika melihat wajah adiknya. Tak berselang lama, nomor itu terhubung dan terdengar suara gelak tawa seorang lelaki di ujung sana.
“SIAPA KAMU SEBENARNYA? APA MAU MU! LEPAS MEREKA!” Teriak Meida dengan wajah penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya ketika suara bariton itu malah tertawa keras seperti ingin menghancurkan gendang telinganya.
[Tak semudah itu Nyonya Jaslin yang terhormat! Kau harus melepaskan mereka dengan tangan mu sendiri! Kau harus datang sendiri untuk melepaskannya! Jangan banyak membantah! Ikuti semua perintah saya! Agar nyawa adik dan keponakan tersayangmu tidak melayang hahaha.” Ancam lelaki itu dengan tawa iblisnya. Meida berusaha tegar dengan menahan tangisnya, agar lawannya tak mengetahui ketakutan dan Kegelisahan yang dideranya.
“Dimana mereka hah? Kau jangan main-main dengan saya! Jika sampai kau menyakiti adik dan keponakan saya! Tunggu pembalasan saya! Saya tidak akan membiarkan mu hidup! Saya akan memastikan mu mati ditangan saya!” Ancam Meida dengan gigi gemulutuk dan tangan mengepal menahan amarah. Ia berusaha mengancam lelaki itu, agar segera membebaskan adiknya.
“Waw takut! Ternyata kau berani juga! Tapi sayang, saya tidak takut sama sekali dengan ancaman mu! Simpan ancaman bodoh mu itu! Itu takan berpengaruh pada saya sedikitpun!” Ledek lelaki itu dengan tawa sumbang nya. Meida menggigit kuku tangannya berusaha berpikir keras, ia berusaha mencari cara agar Lelaki itu terpengaruh dengan ucapannya.
“Kau seorang lelaki! Janganlah bersikap pengecut seperti ini! Mana harga dirimu? Apa kau benar-benar tak memiliki harga diri? Jika tidak, temui saya malam ini!” Ajak Meida dengan santainya. Walaupun dirinya ketakutan, tapi dia berusaha kuat untuk menghadapi lawannya demi adiknya. Walaupun banyak resikonya, ia akan berusaha mencari cara, menemukan tempat penculikan adik dan keponakannya melalui lawannya.
“Sangat disayangkan! Saya tidak akan terjebak dengan rencana receh mu! Karena saya tahu jelas rencana buruk mu seperti apa! Kau ingin menangkap saya, Kan?” Tanya sinis lelaki itu dengan suara penuh penekanan. Meida tersenyum dengan sinisnya, akhirnya lelaki itu mulai terprovokasi oleh ucapannya. Karena rencana meida sekarang hanya ingin menemukan lelaki itu.
__ADS_1
“Ternyata kau tak lebih dari seorang pengecut! Saya tak selicik itu! Walaupun saya wanita, saya masih punya harga diri! Saya akan menemuimu seorang diri! Dan kau harus menemui saya seorang diri pula! Tunjukkan wajahmu! Jangan hanya meneror di balik layar! Tunjukkan jika kau benar-benar lelaki!” Cerca Meida memancing agar lawannya masuk kedalam perangkatnya,
“Tapi saya tidak ingin menemuimu! Buang-buang waktu mengurusi wanita seperti mu! Wanita lemah dan cengeng, yang bisanya hanya menangis saja!”
“Maaf saya tak selemah itu! Apa kau takut tak ingin menemui saya? Tak penasaran sedikitpun? Atau mungkin wajahmu buruk rupa dan menyeramkan sehingga tak berani menunjukkan pada saya? Atau jangan-jangan kau memang banci yang bersikap sok kuat!” Kekeh Meida dengan mengejeknya.
Ia tak gentar menghadapi lelaki itu walaupun hanya dengan seorang diri dan tangan kosong. Ia percaya dan yakin, bisa menangkap lelaki itu dengan kemampuan bela diri yang dimilikinya. Dengan kemampuan mumpuni yang diajarkan oleh Almarhum Abi-nya semasa hidup.
“Tutup mulut mu Jika tak ingin cepat mati! Saya menyetujui penawaran mu! Ayo kita bertemu malam ini! Jangan salahkan jika kau mati di tangan saya! Jika saja kau mengingkari janji mu dengan membawa anak buahmu! Jangan salahkan jika saya akan langsung membunuh adik dan keponakan mu dengan tangan saya sendiri!” Meida bersorak ria dalam hatinya. Ia yakin akan menghadapinya dengan sendiri tanpa meminta bantuan sepupu atau kakak lelakinya. Biarkan ia membantu andress menemukan jonathan dengan caranya yang lumayan mainstream.
“Ok siapa takut!” Setelah menemukan kesepakatan. Meida langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia langsung bersiap-siap mengganti gamisnya dengan sweater brown dan training warna hitam, tak lupa ia memakai sepatu kets yang pernah dibelikan Melvin.
Bismillahirrahmanirrahim. Ucap Meida sambil memasukkan ponselnya kedalam saku sweaternya. Ia berjalan terburu-buru keluar dari rumahnya dengan memakai sepeda listrik yang sering digunakan oleh pelayanannya ketika belanja.
-
“Ko.. koko! Meida tengah malam begini mau kemana? Lihatlah! GPS ponselnya menunjukkan dia sedang menempuh perjalanan menuju sudut kota!” Andress yang sedang sibuk menginstruksikan anak buahnya langsung berhenti karena teriakan sepupunya. Suaranya menggema di ruang kerjanya yang lumayan cukup besar itu.
-
Happy Monday guys ♥️♥️♥️
Maaf baru muncul lagi🤭 2 hari kemarin benar-benar gak memungkinkan untuk up. Dan Alhamdulillah untuk sekarang dan seterusnya up seperti biasanya 🤗♥️
Mumpung hari senin, jangan lupa like, vote, komen, rate sama hadiahnya 🤗♥️ Diantos pisan..
Inn Shaa Allah siang nanti up again🤗
Hatur nuhun😘
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕