Kita Berbeda

Kita Berbeda
Tuhan, bantu Aku


__ADS_3

“Mbak tahu rasanya? Ketika kenyataan hidup kita terungkap, setelah orang yang kita cintai meninggalkan kita. Mbak tahu rasanya? Orang yang menyayangi kita yang rela mengorbankan hidupnya demi kita ternyata bukan orang tua kandung kita. Mbak tahu rasa nya? Ketika hidup dikucilkan masyarakat karena label sebagai anak haram dan pembawa sial, dan kita tak tahu jelas alasan mereka menyebut nya! Mbak tahu rasanya hidup terbuang? Tidur di gudang? Dijadikan budak? Dianiaya dan disiksa sampai pingsan? Mbak tahu rasanya hidup sendiri? Tanpa sanak saudara, terdampar di tempat asing yang tak tahu bisa bertahan hidup atau tidak. Mbak tahu rasanya? Ketika hidup kita tak diharapkan orang lain.


Asal mbak tahu, alasan ku merantau jauh-jauh kesini karena apa? Karena aku ingin mencari orang tua yang telah membuang ku. Aku ingin terbebas dari hinaan mereka, aku ingin hidup damai dengan menerima kenyataan pahit ini. Aku ingin membuka lembaran hidup baru, aku ingin melupakan masa kelam itu. Aku ingin mencari mereka, orang tua yang tega meninggalkan ku. Orang tua yang tak mengharapkan kehadiran ku. Orang tua yang membuang ku disini, di kota Surabaya ini! Sakit rasanya mbak! Ketika aku mengetahui kenyataan ini! Aku hancur mbak! Aku tak punya arah! Aku berusaha bertahan, tapi selalu saja aku kalah oleh keadaan. Orang tua angkat yang rela dikucilkan keluarga nya demi merawat ku, mereka menyayangi ku dengan tulus lebih dari mereka menyayangi anak kandungnya sendiri! Asal mbak tahu! Ketika ummah dan abi masih hidup, mereka orang pertama yang membela ku, menjaga dan mencintai ku sepenuh hati, sehingga orang tak berani mengusik ku. Mereka rela menjadi kan tubuhnya tameng untuk ku mbak. Tapi Allah mengambilnya terlalu cepat, disaat aku belum siap kehilangan mereka, di saat aku belum siap dengan kenyataan ini. Itu sangat menyakitkan mbak! Di saat orang lain mengetahui status ku sebagai anak angkat, tapi dengan bodoh aku tidak mengetahui nya. Dan Allah mengirimkan lelaki yang luar biasa baik dan pengertian, untuk menemani ku di saat aku ingin menyerah. Dia mencintaiku dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Dia selalu ada disaat ku berada di titik terbawah, dia tak pernah sekalipun pergi meninggalkan ku. Tapi Allah mengambilnya ketika aku jauh dari nya, ketika aku disini sedang berjuang hidup, dia disana sedang bertaruh nyawa. Dia menunggu ku di saat-saat terakhir nya, tapi aku tak datang, aku tak tahu apa-apa. Lelaki itu mencintai ku dengan hebat nya, ia tak pernah peduli dengan cemoohan orang, lelaki itu selalu setia berada di samping ku, menjadi tempat sandaran ku ketika aku terpuruk, di saat aku tak memiliki semangat hidup.” Meida menjeda ucapannya, mengusap air mata yang tak berhenti keluar dari sarangnya.


“Tapi mereka telah pergi mbak... aku harus apa? Lelaki itu rela mengorbankan nyawa nya demi aku. Apa yang harus ku lakukan? Aku menyesal, aku ingin mengakui perasaan ku, tapi dia lebih dulu pergi. Aku menyesal mbak, aku baru mengetahui perasaan ku setelah ia sudah tak ada lagi di dunia ini. Dada ku sesak mbak, rasanya aku ingin mati saja! Aku tak mampu menatap dunia ini sendirian, dunia ini terlalu menakutkan untuk ku, aku tak punya siapa-siapa.” Ucap meida terisak dalam pelukan melisa, ia mengungkapkan semua unek-unek yang ada di hati nya. Meida tak tahu kemana tempat ia berkeluh kesah. Dulu ketika ada adib, adib lah orang yang selalu setia menemaninya disaat keadaannya terpuruk seperti ini.


Melisa hanya diam, ia membiarkan air mata lolos dipipinya, tangannya tak berhenti mengusap bahu meida. Ia tahu, meida saat ini sedang membutuhkan sandaran, jiwa gadis ini terguncang.


“Meida jangan seperti ini, kamu masih punya mbak. Bangkitlah! Kamu harus berjuang menemukan kebahagiaan mu. Ingatlah niat awal mu kesini! Carilah keberadaan orang tua mu! Jangan seperti ini. Orang tercinta yang meninggalkan mu pasti terluka melihat keadaan mu seperti ini, jangan membuat mereka menangis melihat keadaan mu sekarang. Ingat pesan mbak, di saat kamu ingin menyerah, ingatlah alasan yang membuat mu bertahan sampai sekarang. Ingatlah orang-orang yang kamu cintai, orang yang rela mengorbankan nyawanya demi kebahagiaan mu.” Nasehat melisa dengan bercucuran air mata, ia sedih membayangkan kehidupan meida yang begitu rumit.


“Tuhan maha adil dan kuasa dek, di setiap penderitaan yang kamu alami, mungkin terselip hikmah bahwa Tuhan sangat menyayangi mu. Kamu manusia istimewa dek, di beri ujian tuhan dengan sedahsyat ini.”


Yaa Tuhan semenderita itu hidupnya, kuat kan hati nya tuhan, tolong hapus luka nya, aku tak sanggup mendengar isak tangisnya, tunjukkan keajaiban mu. Tangisnya menyayat kalbu ku, selama ini aku salah menilainya, aku pikir dia seperti wanita lainnya, ternyata tidak. Dia pura-pura tegar dan bar bar untuk menutupi lara hatinya, keceriaannya selama ini hanya lah topeng agar orang tak mengetahui penderitaan batin nya. Yaa Tuhan, bantu aku untuk mengobati luka hatinya, aku tahu ini sangat mustahil, tapi aku tidak bisa melihatnya terluka. Tuhan, izinkan aku untuk memperjuangkannya, kuat kan tekad ku, tangguh kan hati ku. Aku ingin mengisi kekosongan hatinya. Lirih melvin, mengusap kedua matanya. Ia tak sanggup mendengar ucapan meida, yang mencabik-cabik ulu hatinya.


Pintu itu menjadi saksi, dimana ia menangis mendengar cerita tentang latar belakang hidup meida.


Ya Tuhan, malang sekali nasib mu meida, aku tak menyangka kenyataan hidup mu seperti ini. Aku sedih mendengar perjalanan hidup mu yang tak semulus ini. Ternyata wanita yang pura-pura tegar ini, batin nya sangat nelangsa. Ya Tuhan ... Bantulah ia untuk melewati cobaan hidup yang berat ini. Do'a melisa dalam hati.


“Mbak aku selalu berpikir, kenapa aku dilahirkan jika akhir nya aku di buang? Bukannya aku tak menerima takdir tuhan. Tapi aku merasa, lebih baik aku tak dilahirkan. Banyak korban gara-gara keegoisan orang tua ku mbak. Bolehkah aku membenci mereka?” Tanya meida melerai pelukan melisa, ia menatap melisa dengan sorot mata penuh luka.


“Jangan seperti itu dek, jangan menyalahkan takdir yang tuhan garis kan. Mbak janji akan membantu mencari orang tua mu. Asal kamu janji, kamu tidak akan down seperti ini lagi. Kamu harus bangkit! Kita cari sama-sama, mbak tidak akan meninggalkan mu sendirian. Setelah bertemu dengan orang tua mu, itu terserah kamu. Tapi harapan mbak, kamu harus memaafkan mereka. Mungkin mereka memiliki alasan di balik semua ini.” Melisa mengusap lembut kepala meida, lalu ia mengusap pipinya dengan lembut.


“Tergantung alasan mereka mbak. Aku tidak akan semudah itu memaafkan mereka atas semua yang terjadi pada diri ku. Mereka harus mempertanggung jawabkan semuanya! Kenapa takdir ini selalu tak berpihak pada ku mbak?” Tangis meida dengan nelangsa


“Jangan jadi pendendam dek, gak baik. Tuhan saja maha pemaaf.”


“Aku bukan Tuhan mbak, aku punya rasa sakit dan kecewa.”


-


Setelah kondisi hati nya cukup tenang, meida memegang tangan melisa.


“Mbak aku mau pulang,” ucap meida memandang melisa dengan penuh pengharapan.


“Jangan dek, kamu lebih baik disini. Kamu jangan pulang ke kosan dulu, mbak khawatir dengan keadaan kamu.” Cegah melisa memegang erat tangan meida.


“Aku mohon mbak, izin kan aku pulang. Aku tak ingin berada disini.” Iba meida dengan suara bergetar.


“Please jangan pulang, mbak tak akan mengizinkan kamu pulang dengan keadaan seperti ini.”


“Aku mohon mbak, aku mau pulang. Aku ingin sendiri, aku ingin menenangkan diri.”


“ Tapi dek...”


“Please mbak, aku butuh waktu, untuk mecerna semua ini. Aku janji, aku tidak akan berbuat macam-macam.”


“Baiklah. Mbak bilang sama ko melvin dulu, jika ia mengizinkan, kamu boleh pulang dek." ucap melisa melepas genggaman tangan meida, lalu ia keluar dari kamar itu.


-


-


“Meida, pulang nya diantar ko melvin yah, ga papa kan?” Tanya melisa sambil memapah meida keluar dari kamar melvin.

__ADS_1


“Gak papa mbak. Maaf aku merepotkan kalian.” Sahut meida dengan wajah yang masih pucat.


“Jangan bicara seperti itu! Kami selalu ada untuk mu dek. Kalau ada apa-apa jangan di pendam sendiri, mbak siap mendengar segala keluh kesah mu.”


“Makasih mbak.” Meida langsung memeluk melisa dengan mata yang berkaca-kaca.


Melisa mengantar kepergian meida sampai basemen apartemen, melvin sudah standby dengan mengendarai mobil Lamborghini hitam miliknya.


“Ko bawa nya pelan-pelan! Meida, maaf mbak gak bisa antar kamu pulang, jaga dirimu baik-baik. Hati-hati di jalan,” ucap melisa sambil mengecup kening meida.


“Aku pulang dulu mbak.” Pamit meida dengan suara lemah, tersenyum hangat ke arah melisa.


Mobil hitam itu melaju dengan perlahan meninggalkan apartemen melvin menuju ke kosan meida yang jarak perjalanan nya kurang lebih 30 menit. Meida hanya diam membisu melihat keluar jendela, mata nya berkaca-kaca memikirkan tentang kepergian adib.


Yaa Allah ... lapang kan hati ku, ikhlasan hati ku untuk melepas kepergian kak adib ...


Yaa Allah, kenapa hati ku belum bisa menerima kenyataan ini ...


Bantu aku Yaa Allah untuk menerima semua ini ...


Bantu aku untuk ikhlas dan tabah menjalani ujian ini ... Batin meida sambil menghapus air mata yang mengalir dipipinya.


Sedangkan melvin ia sesekali melirik kearah meida, tanpa membuka suara. Melihat wajah meida yang kalut seperti itu, melvin enggan mengganggu nya.


Patah hati terdalam yaitu saat di tinggalkan oleh orang yang paling kita cintai. Aku mengerti posisi mu meida, aku pun pernah merasakannya. Batin melvin melihat ke arah dengan ekor matanya.


-


“Eh.. sudah sampai tuan. Terima kasih sudah mengantar saya, semoga Allah membalas segala kebaikan tuan,” ucap meida dengan tersenyum hambar sambil membuka pintu mobil. Melvin di buat bengong dengan perkataan formal meida.


“Meida ini ...” melvin menyondorkan kertas ke arah meida. Meida memandang aneh kearah melvin.


“Saya menemukan surat ini ketika kamu pingsan, maaf saya lancang menyimpan nya.” Terang melvin setelah meida menerima surat itu.


“Gak papa tuan, terima kasih banyak atas bantuan tuan kemarin.” Ucap formal meida yang terdengar aneh di telinga melvin.


“Kalau belum fit kamu jangan dulu kerja, kamu istirahat aja dulu. Cepat sembuh meida,” ujar melvin sambil tersenyum. Tanpa sadar ucapan itu keluar dari mulutnya.


“Baik tuan terima kasih. Saya masuk dulu.” Pamit meida sambil menutup pintu mobil. Ia mengambil kunci dari tas selempang nya.


Melvin menunggu meida sampai masuk ke kosannya, setelah dipastikan meida masuk, melvin baru pergi meninggalkan kosan meida.


-


-


Yaa Allah ... berilah hamba mu yang hina ini kekuatan untuk menjalani semua ini, hanya Engkau-lah sebaik-baiknya tempat hamba mengadu, hanya Engkau-lah sebaik-baiknya tempat hamba bersandar.


Yaa Allah Yaa Tuhan ku yang maha pengasih lagi maha penyayang, hanya kepada Engkau-lah hamba meminta dan hanya kepada Engkau-lah hamba memohon pertolongan.


Yaa Allah.. kabulkan lah do'a hamba mu ini, Aamiin. Ucap meida mengakhiri do'a di sujud panjangnya. Air mata nya kembali bercucuran.


Benar apa yang dikatakan kak adib, aku tidak pernah sendirian. Allah selalu bersama ku, Allah tidak pernah meninggalkan ku. Batin meida dengan menangkup kedua tangan ke wajah nya, ia kembali menangis jika mengingat tentang adib.

__ADS_1


Tok tok tok


“Ci ... cici ... Selamat malam.” Ucap seseorang mengetuk pintu kosan meida dengan keras.


Meida langsung mengusap air mata nya, melipat sajadah nya, lalu ia membuka pintu tanpa membuka mukena nya.


Ceklek


“Cici apa yang terjadi? Kenapa dari kemarin ponsel cici tidak bisa dihubungi? Kemarin jo kesini cici gak ada? Jo khawatir sama cici? Cici baik-baik saja kan?” Tanya jonathan panik menatap kearah meida.


“Jo ...” Meida tak bisa melanjutkan ucapannya, ia menangis tergugu di hadapan jo.


“Cici kenapa? Apa yang terjadi? Bilang sama jo? Jangan seperti ini, jo sangat mengkhawatirkan cici,” ujar jo memegang bahu meida, menatap meida lembut.


Meida tak mampu menjawab pertanyaan yang jonathan lontarkan, ia malah menundukkan kepalanya. Karena tak kuasa melihat meida seperti itu, jonathan langsung memeluk meida ke dalam pelukannya. Meida menangis di dada bidang milik jonathan, ia merasa nyaman berada dalam pelukan jonathan. Pelukan jonathan mengingat kan meida kembali akan sosok adib.


Kak adib, jika kau masih ada, di saat ku seperti ini, dada mu pasti jadi korban air mata ku.


“Menangis lah ci! Setelah tenang, jelaskan semuanya pada jo. Jika jo mampu, jo akan membantu cici sebisa jo,” ucap jonathan sambil mengelus bahu meida.


-


-


“Cici pengen pulang ke Bandung?” Tanya jonathan setelah mendengar penjelasan dari meida.


“Iya jo, cici pengen pulang ke Bandung dulu, baru nanti kesini lagi.”


“Terus apa masalah nya ci?” Tanya jonathan kembali setelah mengusap air matanya.


“Cici gak punya biaya untuk pulang kesana jo, cici gak pegang uang sama sekali. Kamu tahu sendiri jo, cici baru masuk kerja.” Terang meida dengan sesenggukan.


“Untuk masalah itu gampang, jo akan bantu cici. Cici jangan banyak pikiran, jangan nangis lagi, jo gak tega liat cici seperti ini.” Jonathan menghapus air mata di pipi meida dengan penuh kasih sayang.


“Terima kasih jo. Maaf cici merepotkan mu.” Meida memegang tangan jonathan, lalu memeluknya erat.


“Tidak ci, cici sudah jo anggap seperti kakak jo sendiri. Jo menyayangi cici, jo gak mau liat cici sedih, liat cici sedih jo juga ikut sedih. Jo ingin cici selalu bahagia, karena kebahagiaan cici adalah kebahagiaan jo.” Ucap tulus jonathan memeluk erat meida. Kedua manusia yang bertemu karena takdir itu berpelukan dengan haru. Mereka tak menyadari bahwa sejatinya mereka telah terikat oleh takdir.


-


Bersambung


Siapa cing yang nganter meida pulang ke Bandung? Gak mungkin kan meida pulang sendiri, dengan keadaan hati berantakan seperti itu.


Bab ini rekor terbanyak kata yang otor tulis sampai 2,2K.


Sengaja otor up di hari minggu, karena hari Jum'at kemarin otor gak up.


Kuyy lahh like, vote, sama hadiahnya 🤗


Hatur nuhun buat reader yang masih stay di novel receh ini♥️


Gomawoo

__ADS_1


__ADS_2