
Baru saja meida duduk di kursi ruang kerja supervisor, dia langsung menerima surat peringatan, yang diberikan supervisor padanya.
“ Meida.. untuk menindak lanjuti kejadian tadi, saya memberimu SP 1, saya berharap kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian tadi!” Ucap pak dani to the point, dengan tangan dilipat di dada.
“Tapi pak.. saya gak salah, bapak-bapak tadi yang cari masalah” Meida menyangkal ucapan pak dani dengan mimik kecewa, ia melihat surat itu dan membacanya.
“ Meida asal kamu tau pembeli itu adalah raja, kita harus melayaninya sebaik mungkin! Bukan malah kayak tadi! Saya kecewa dengan sikap kamu! Seharusnya kamu mengalah, bukan malah meladeninya!” Suara pak dani penuh penekanan menatap tajam mata meida.
“ Tapi pak... Saya gak salah kenapa harus ngalah!, yang ada nanti bapak itu besar kepala!” Ucap meida membalas tatapan tajam pak dani
“ Jangan melihat saya dengan tatapan seperti itu! Tak sopan! Kamu hanyalah bawahan saya! Suka tak suka kamu harus mematuhi peraturan saya!” Pak dani menaikan intonasi suaranya
“ Maaf pak, saya tidak bermaksud seperti itu... Tapi, ini sangat tidak adil bagi saya” Suara meida bergetar menahan tangis, ia menundukkan kepalanya.
“ Itu hukum alam meida, orang kecil harus mengalah terhadap orang besar! Walaupun kita tak salah!” Ujar pak dani dengan mimik serius menatap meida
“ Disini kita kerja, kita butuh uang! Jadi jangan banyak tingkah! Ikuti peraturan yang sudah ditetapkan! kerja sebaik-baiknya!” Ucapan pak dani berhasil meluluh lantakkan hati meida.
“ Kenapa orang kecil harus selalu mengalah pak ?? orang kecil juga butuh keadilan! Emang salah??” Ucap meida kembali menatap wajah sang supervisor dengan deraian air mata
“ Ya.. jelas salah.. karena dunia berpihak kepada orang kaya! Dan kamu terlahir dari keluarga miskin!”
Jlebbb
Meida menutup wajah dengan kedua tangannya , ucapan pak dani lagi-lagi melukai hatinya. Kekecewaan yang teramat dalam yang meida rasakan.
Setiap kejadian buruk melintas di kepala meida, membawanya kedalam kubangan keputusasaan.
Kenapa hidupnya tidak seberuntung orang lain..
Yaa Allah kenapa hidupku seperti ini, selalu salah dan disalahkan.. Apa aku tak pantas bahagia?? Yaa Allah.. aku hanya ingin kebahagiaan, walaupun itu sederhana. Jerit meida dalam hatinya
-
-
“ Mas maaf cafenya sudah tutup, bisa dilihat tulisannya dipintu!” Tunjuk meida kearah pintu, ia melihat kesal ke arah lelaki yang berdiri di meja kasir yang menatap kearahnya tanpa kedip.
Padahal dipintu tergantung jelas tulisan “Close” tapi lelaki itu malah nekat masuk.
“ Mas kok ngelamun.. Mas bisa kembali besok lagi kesini, untuk sekarang sudah tutup!. Tuh mas lihat sendiri dipintunya ada tulisan close! Saya mohon mas keluar! Bukan saya gak sopan mengusir mas, saya mau beres beres , biar cepet kelar biar saya bisa pulang! Kerjaan saya masih banyak mas!” Ucap meida meninggalkan laki-laki itu sendirian.
Tapi, baru beberapa langkah meida berjalan, tangan meida ditahan lelaki itu. Lelaki itu membalikan wajah meida agar melihatnya.
“ Mbak masih ingat saya kan?” Tanya lelaki itu dengan wajah sayu, menatap dalam wajah meida, memastikan bahwa wajah itu yang selama ini ingin ditemuinya.
__ADS_1
Ia tak sia-sia mengamati meida diluar cafe sejak tadi, wajah itu yang selalu mengganggunya. Wajah yang selalu dia cari disamping mencari adiknya.
Entah perasaan cinta atau nyaman, lelaki itu merasakan keterikatan dengan diri meida. Lelaki itu berpikir mungkin meida adalah jodoh yang dikirim tuhan untuk nya, yang harus ia jaga dan ia perjuangkan.
“ Pertanyaan mas itu aneh, gimana saya mau ingat, wong kita baru pertama ketemu” Jawab meida melepaskan cekalan tangan dari lelaki itu
“ Ehh maaf mbak, tadi saya refleks pegang tangan mbak” ujar lelaki itu menggaruk tengkuk lehernya.
Lelaki itu melanjutkan ucapannya
“ Masaa mbak lupa sih, saya aja masih ingat wajah mbak loh” Terang lelaki itu dengan senyum yang menawan
“ Emang kita pernah ketemu mas ?? mas jangan ngaco deh!” sahut meida dengan tangan dilipat, ia kesal.. karena lelaki itu so kenal dan so akrab dengannya
“Coba diingat-ingat mbak. Nama mbak meida kan? pasti bener meida?” Lelaki itu memandang dalam wajah meida, membuat meida salah tingkah ditatap seperti itu oleh lawan jenisnya.
“ Mas tahu darimana nama saya? ” meida menatap serius wajah lelaki itu
“ Benerkan.. Kita pernah ketemu mbak di rumah sakit tarakan” ucap lelaki itu dengan mata berbinar
Meida mengingat-ingat kejadian di Rumah sakit Tarakan, di saat orang tua angkatnya meninggal, dengan jari telunjuk menempel di dahinya
“ Rumah sakit tarakan... ohh mas yang pernah nabrak saya kan??”
“ Iya mas.. sekarang saya inget” Meida tersenyum lebar, ia bangga karena berhasil mengingat kejadian dimasa lalunya
“ Saya andress mbak, takut mbak lupa dengan nama saya. Kita kenalan ulang” kekehan andress sambil mengulurkan tangan
“ Ohh mas andress, saya meida mas” meida menangkupkan kedua tangan di dadanya
“ Ehh.. Maaf maaf... Mbak kerja disini??” Tanya Andress dengan mata menelusuri seluruh penjuru cafe, mengalihkan rasa malunya.
Yah.. lelaki itu adalah Andress, lelaki yang ditabrak meida ketika mereka berada di rumah sakit Tarakan.
“Iya mas saya kerja disini, emang kenapa??” Tanya meida dengan mata membulat, yang membuat visual wajahnya semakin imut.
“Aneh aja mbak kita ketemu di Jakarta, terus sekarang mbak kerja di Surabaya, mbak asli orang sini?” Tanya andres dengan badan menyender di meja kasir
“Ohh itu.. bukan mas, saya bukan asli sini, saya perantauan dari bandung” Terang meida dengan kaki yang dihentak-hentakan pelan kelantai karena mulai terasa pegal, efek terlalu lama berdiri.
“ Kenapa bisa merantau sampai sini mbak ?” Tanya andress heran menatap meida
“ Emm.. karena...”
Tiba-tiba ponsel di saku andress berdering, pertanda ada yang melakukan panggilan suara kepadanya
__ADS_1
“ Bentar yah mbak.. saya angkat telpon dulu..” Andres mengambil ponsel dari sakunya, ia menempelkan ponsel ke telinganya
“ Ada apa jo.. tumben nelpon koko?”
-
“ Apa?? Mommy kambuh lagi?? bentar-bentar, koko pulang ke rumah. Kamu tanganin mommy dulu.. koko otw kesana”
-
Andress mengakhiri panggilan dan langsung memasukkan ponsel ke saku kemejanya
“ Mbak nanti kita ngobrol lagi yah.. sekarang saya pamit dulu” Pamit andress dengan wajah panik dan perasaan serba salah.
Padahal dalam hatinya ia masih ingin berbincang dengan meida
“ Iya mas.. silahkan” Sahut Meida dengan senyum manis
“ Sampe ketemu lagi mbak” Andress tersenyum meninggalkan meida menuju pintu keluar cafe.
Meida memandang andress sampai ia menghilang dari pandangannya.
Kenapa aku merasa nyaman berada di dekat mas andress? Jangan berpikir macam-macam meida! Ingat tujuanmu.
Meida membentur-benturkan pelan kepalanya ketiang penyangga, agar memgenyahkan wajah andress dalam ingatannya.
Kenapa aku tak bisa jauh dari meida?? Ahh sudahlah.. andress fokus.. mommy sangat membutuhkan mu.. Semangat andress dalam hatinya
-
-
Bersambung
Gimana kelanjutan ceritanyanya ??
Tunggu up selanjutnya 🤗
Jangan lupa ☝️
Tinggalkan jejak di novel receh ini, biar jadi penyemangat author..
Hatur nuhun🙏
__ADS_1