Kita Berbeda

Kita Berbeda
Back to Suroboyo


__ADS_3

Daddy. Lirih jonathan membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


“Bentar yah ko, jo angkat telpon dulu," ucap jonathan sambil mengangkat telepon itu.


Tumben-tumbenan daddy nelpon aku. Batin jonathan heran sambil meletakan ponsel itu di telinganya.


“Hallo Jonathan! Kamu dimana sekarang?” Teriak keras suara lelaki diseberang sana. Yang memekikan telinga jonathan.


“Tumben daddy nanyain keberadaan jonathan, biasa juga masa bodo. Mau jonathan hidup atau pun mati apa peduli Daddy.” Jawab sinis jonathan dengan senyum kecut.


“Lancang sekali mulut mu itu seperti anak yang tidak pernah disekolah kan! Dimana kamu sekarang? Kenapa selama 1 minggu gak masuk sekolah hah?” Tanya Gilbert dengan penuh emosi. Ia dibuat malu oleh sang anak, karena selama seminggu ini jonathan tak masuk sekolah. Sampai Gilbert mendapat surat panggilan dari wali kelas sang anak untuk menghadap kepala sekolahnya besok.


“Jonathan cuman pergi cari angin dad,” ucap santai jonathan sambil menggigit kuku tangannya. Untuk meredakan emosi yang mulai menguasai dirinya.


“Cari angin cari angin! Ini udah seminggu! Pulang kamu jangan bikin daddy malu!”


“Jonathan butuh refreshing dad, suntuk sekolah terus! Jonathan bosen dengan tuntutan daddy yang harus ini yang harus itu, tapi tak pernah di hargai sama sekali!” Jawab parau jonathan dengan menahan emosi sambil menghapus air mata di kelopak mata nya.


Seperti inikah keluarga Atmaja? Terlihat diluar seperti keluarga yang harmonis, nyatanya di dalamnya penuh dengan kecacatan. Batin melvin menatap iba kearah jonathan.


“Kamu bosen dengan perintah daddy hah? Gak mau jadi anak daddy lagi! Dasar anak tak tahu di untung!”


“Seharusnya daddy introspeksi diri! Bukan nyalahin jonathan! Apa daddy tahu perasaan jonathan seperti apa? Apa daddy peduli dengan perasaan jonathan? Tidak kan? Jonathan lelah mengikuti semua perintah daddy! Jonathan ingin seperti anak lain! Jonathan butuh kasih sayang dad! Jonathan punya hati! Jonathan lelah hidup seperti ini terus ... Sebenarnya daddy menyayangi jonathan atau tidak hah? Apa jonathan anak kalian?” Tanya parau jonathan setelah mengeluarkan unek-unek dalam hatinya kepada gilbert. Ia dibuat kecewa dengan perilaku sang daddy selama ini, yang lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya. Jonathan menangis, lalu menghapus air mata dipipinya.


“Gak usah ngegas! Gak usah ngomong kemana-mana! Daddy hanya minta kamu pulang sekarang!”


“Maaf dad, jonathan gak bisa pulang sekarang. Ngapain juga jonathan pulang, lagian hidup jonathan disana terabaikan. Kehadiran jonathan tak diharapkan, bener kan? Jonathan hanya dianggap patung berjalan, yang tak memiliki hati,” ucap lirih jonathan dengan suara bergetar. Ia menangis pelan agar tak terdengar oleh sang ayah yang berada di seberang sana. Karena tak tega melihat jonathan menangis, akhirnya melvin menghampiri jonathan, ia berdiri disamping jonathan sambil menepuk-nepuk bahunya pelan untuk menguatkannya.


“Berani beraninya kamu menentang ucapan daddy hah!”


“Ngapain jonathan pulang! Keberadaan jonathan sama sekali tak dihargai oleh kalian! Toh buat apa jonathan disana? Buat patung pajangan?” Teriak jonathan dengan senyum getir disertai dengan airmata.


“Siapa yang ngajarin kamu bicara seperti ini hah? Bicara kasar sama orang tua! Percuma daddy sekolahin kamu tinggi-tinggi dan mahal, jika hasilnya seperti ini! Gak punya tatakrama dan sopan santun sama sekali! Udah berhenti sekolah aja! Percuma buang-buang duit!”


“Wajar jonathan gak punya tatakrama dan sopan santun juga. Apa pernah daddy ngajarin jonathan? Apa pernah daddy mendidik jonathan? Enggak kan dad? Daddy hanya memberikan jonathan uang uang dan uang, tanpa sedikitpun kasih sayang. Jonathan gak butuh uang daddy yang banyak itu! Yang jo butuhkan adalah sosok figur seorang ayah, yang bisa mengayomi jo. Seharusnya daddy berpikir kenapa sikap jo seperti ini! Bukan cuman nyalahin jo atas semua ini. Asal daddy tahu, daddy lah yang membuat jo seperti ini!” Teriak jonathan dengan emosi bercampur tangis. Entah kekuatan dari mana, ia mampu melawan sang daddy. Biasanya ia hanya bisa patuh atas segala yang diperintahkan oleh Daddy-nya.


“Jo, kau seperti anak yang haus akan kasih sayang. Sangat menyedihkan.” Ucap sinis Gilbert yang mampu meluluh-lantakkan hati jonathan.


“Yah! Asal daddy tahu! Jo haus akan kasih sayang orang tua yang tak pernah jo dapat kan dari kalian! Punya orang tua tapi seperti tak punya orang tua! Lebih baik jo tak punya orang tua sama sekali!” ucap emosi jonathan sambil mengepalkan tangannya. Ia kecewa terhadap sang daddy yang meremehkan perasaannya.


“Lancang sekali mulut mul Dasar anak tak tahu diri! Kamu pulang sekarang turuti perintah daddy, atau jangan pernah menginjakkan kami di rumah lagi!” Ancam Gilbert kepada jonathan. Agar sang anak tidak berani lagi membangkang ucapannya, dan mematuhi segala perintahnya.

__ADS_1


“Jonathan gak gentar sama sekali dengan ancaman daddy. Lakukanlah sesuka hati Daddy, jonathan hanya anak ingusan tak bisa berbuat apa-apa.” Bukannya takut, jonathan malah menantang gilbert dengan ucapan yang mengandung sedikit sindiran.


“Mau daddy coret namamu di daftar KK hah?” Ancaman tak main-main yang gilbert lontarkan untuk Jonathan. Tak membuat jonathan gentar dan takut. Dulu ia paling takut dengan ancaman itu, tapi sekarang ia tak merasakan takut sama sekali.


“Terserah daddy! Daddy yang berkuasa, perbuatan lah sesuka hati daddy!” Jawab sinis jonathan. Yang sudah jengah dengan ancaman Gilbert.


“Dasar anak kurang ajar!” Umpat kasar Gilbert dengan menonjok kaca yang berada didepannya hingga pecah.


“Jangan salahkan jo! Jika jo pergi seperti cici jaslin akibat dari keegoisan kalian!” Ucap tajam jonathan dengan sedikit ancaman sambil mematikan sambungan telepon tersebut.


Siall!!! Jonathan berani membangkang ucapan ku! Dia berani mengancam ku! Teriak marah gilbert sambil melempar segala sesuatu yang berada dihadapannya. Ruang kerja itu menjadi sasaran kemarahan Gilbert, hingga berantakan bagai kapal pecah. Gilbert terdiam mencerna sedikit demi sedikit apa yang jonathan ucapkan tadi.


Apa sikapku salah dalam mendidik jonathan? Apa aku terlalu egois padanya? Bagaimana jika ucapan jonathan memang benar? Bagaimana jika dia benar-benar pergi seperti jaslin?


Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Gilbert, ia terdiam merenungi segala ucapan yang ia lontarkan terhadap jonathan barusan.


 


-


 


“Bi setelah 40 hari kepergian kak adib bibi ikutlah dengan meida ke Surabaya. Meida tak tenang meninggalkan bibi sendirian disini. Almarhum kak adib sudah mengamanatkan kepada meida untuk selalu menjaga bibi. Bibi ikut yah?” Bujuk halus meida agar bi ina ikut dengannya ke Surabaya.


“Tapi bibi gak mau ninggalin rumah ini, rumah ini banyak menyimpan kenangan antara bibi dengan suami dan anak bibi.” Jawab sendu bi ina dengan mata berkabut memandang mereka satu persatu.


“Ibu tenang aja, tiap bulan ibu dan meida bisa pulang kesini kok. Ibu jangan khawatir, untuk biaya nya nanti biar melvin yang tanggung.” Bujuk melvin sambil tersenyum memandang wajah bi ina dengan penuh kelembutan.


“Tapi nak, ibu gak mau jauh-jauh dari anak dan suami ibu," ucap lirih bi ina memegang tangan meida sambil melihat kearah figura yang terpampang foto keluarga besarnya.


“Enggak bakalan jauh bi. Kak adib dan mang amar selalu ada di hati kita, begitu pun dengan ummah dan abi. Mereka semua sudah ada di hati kita bi, kemana pun kita pergi mereka selalu ada disini.” Tunjuk meida kearah dadanya sambil tersenyum.


“Ibu jangan merasa sendiri, ada jonathan dan ko melvin. Anggaplah kami sebagai anak ibu. Jika disana, kami siap menjaga ibu." Bujuk jonathan sambil duduk melipat kakinya didepan bi ina. Ia memegang tangan bi ina dengan lembut.


“Tapi ibu takut merepotkan kamu meida.” Bi Ina menatap meida tak enak.


“Shutt! Bibi jangan ngomong gitu! Bibi gak pernah sekalipun merepotkan meida. Justru meida yang selalu merepotkan bibi dari dulu. Anggaplah meida putri kecil bibi seperti dulu.” Meida mengelus pelan tangan bi ina, lalu menciumnya dengan takdzim.


“Tapi meida, bibi takut menjadi beban hidup kamu. Apalagi kamu disana juga sebagai perantauan," ucap bi ina sambil mengelus pipi meida dengan pelan


“Enggak bi, bibi bukan beban meida, tapi bibi adalah ibu meida sekarang. Jangan mengkhawatirkan itu, karena disana semua akan baik-baik saja.” Melvin dan jonathan dibuat tersenyum dengan sikap lembut meida yang sedang berusaha membujuk bi ina untuk ikut menyertainya ke Surabaya.

__ADS_1


“Betul sekali apa yang meida katakan, ibu jangan khawatir. Untuk tempat tinggal saya sudah menyiapkan apartemen untuk meida dan juga ibu, dan untuk kebutuhan sehari-hari saya yang akan menanggung nya.” Senyum tulus terpancar dibibir melvin. Yang sontak bi Ina dan meida terharu mendengar nya.


“Ibu tak ingin merepotkan mu nak ...”


“Tidak bu. Apartemen memang fasilitas yang sudah saya berikan untuk meida sebelum kejadian ini, karena dia merupakan salah satu karyawan saya, saya yang akan menjamin kehidupannya disana. Dan untuk apartemen, sekarang juga sudah bisa ditempati. Maaf meida saya sudah menyuruh melisa untuk memindahkan barang-barang kamu yang berada di kosan untuk dipindahkan ke apartemen. Agar ketika kita kembali kesana, kamu sudah bisa menempatinya. Kamu tidak keberatan kan?” Meida dibuat kaget dengan ucapan melvin. Ia tak bisa banyak berkomentar, karena didepannya ada bi ina dan jonathan.


“Emm... tidak tuan.” Jawab meida dengan terpaksa


“Meida bekerja sebagai apa nak di perusahaan mu?”


“Meida sebagai asisten sekretaris saya bu.” Ucap melvin menggaruk kepalanya. Untung ia tak keceplosan ngomong kalau meida bekerja sebagai pengawal pribadi nya.


“Alhamdulillah kamu nda bekerja sebagai asisten sekretaris. Bibi senang mendengarnya.”


“Iya bi Alhamdulillah ... bibi ikut yah dengan meida kesana? Bantu meida untuk menunaikan amanah dari kak adib. Meida janji akan menjaga bibi dengan sebaik-baiknya," ucap meida dengan suara bergetar. Ia berharap semoga bi ina bisa luluh dengan sikapnya yang seperti ini. Dan ikut bersamanya ke Surabaya.


“Iya bu. Melvin dan Jonathan pun janji akan menjaga ibu.” Melvin menyahut ucapan meida dengan tersenyum. Ia dan jonathan sudah sepakat untuk menjaga bi ina jika sudah tinggal di Surabaya nanti.


“Unit apartemen kita pun bersebelahan bu. Biar melvin lebih mudah mengontrol keadaan ibu. Ikut yah ke Surabaya dengan kita?” Bi ina terdiam cukup lama, menimbang-nimbang ucapan melvin. Ia terdiam untuk memantapkan hatinya.


Yaa Allah aku berniat pergi ke Surabaya untuk membantu meida menemukan keluarganya. Aku ingin memastikan keadaan dia setelah bertemu dengan orang tuanya. Hamba mohon Yaa Allah beri hamba kemudahan dan kelancaran untuk membuka benang kusut ini selama bertahun-tahun. Yaa Allah ... Ridhoi dan restui setiap langkah hamba. Do'a bi ina sambil memejamkan matanya sebentar.


“Dengan mengucap bismillah. Bibi ikut dengan mu ke Surabaya nda.”


“Alhamdulillah.” Sahut meida bahagia sambil memeluk erat bi ina. Jonathan dan melvin dibuat senang dengan keputusan bi ina. Mereka tersenyum kearah bi ina dan meida.


Tabir ini akan segera terbuka, walaupun aku harus diusir dari rumah. Cici meida ... sebentar lagi kau akan mengetahui kehidupan keluarga mu yang sebenarnya. Lirih jonathan memandang haru kearah meida.


Cici aku ingin memeluk mu erat, aku membutuhkan pelukan mu sekarang. Lirih jonathan dalam hati sambil menatap meida dengan penuh kerinduan.


-


-


Next part


Back to Surabaya lagi horee...


Kuyylah like sama votenya ♥️🤗


Hatur nuhun buat reader yang masih setia di novel receh ini.

__ADS_1


Selamat malam Jum'at..


Al-Kahfi day♥️


__ADS_2