
Surabaya Internasional Culture.
Keramaian tak seperti biasa terjadi di sekitar sekolah Jonathan. Beberapa polisi hilir mudik melakukan penyelidikan kesebuah gedung yang sudah hangus terbakar. Garis polisi membentang mengelilingi gedung itu. Lalu lintas terpantau macet, akibat terlalu banyak mobil damkar yang masih berjejer dipinggir jalan, beberapa karyawan nampak bergerombol, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap tempat kerja mereka.
“Tumben-tumbenan macet. Biasanya jam segini lalu lintas lenggang deh.” Meida menolehkan kepalanya kearah sebelah kiri, melihat kearah beberapa orang yang sedang berkerumun.
“Ya Tuhan, bukankah itu Kantor Notaris milik Pak Albert? Kenapa bisa terbakar seperti ini?” Meida mengikuti telunjuk melvin yang sedang menunjuk kearah samping. Kearah gedung yang persis di sebelah kanan pinggir jalan berjajaran dengan sekolah Jonathan.
“Siapa Pak Albert Tuan?” Tanya meida. Ia menyipitkan matanya membaca plang yang terbuat dari aluminium yang masih menggantung di tengah-tengah gedung.
“Pak Albert seorang lawyer terkenal di kota ini. Dia terkenal baik hati dan dermawan. Dia seorang donatur tetap beberapa panti asuhan yang berada di kota ini.” Terang melvin. Ia menepikan mobilnya melihat jonathan yang berada didepannya yang sudah melambaikan tangan kearahnya.
Tanpa basa basi jonathan langsung masuk ke dalam mobil yang melvin kendarai. Ia duduk di belakang bersama Meida.
“Siang ci. Cici sehat? Jo kangen tahu.” Meida tersenyum mendengar perkataan adiknya. Ia merentangkan tangan agar jonathan memeluknya. Jonathan pun langsung berhamburan kepelukannya, meida mengelus pelan kepala adiknya yang sedang berada dipelukannya.
“Maaf cici baru bisa pulang sekarang. Cici juga merindukan adik tampan cici ini.” Kekeh Meida sambil mengacak-ngacak rambut Jonathan. Jonathan mengurai pelukannya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Meida.
“Apa sekarang pikiran cici sudah tenang?” Tanya Jonathan sambil melukiskan tangannya di jendela mobil. Menikmati panorama yang berada di sekelilingnya.
“Cici sudah jauh lebih tenang.” Jawab meida sambil mengelus rambut adiknya yang tampak manja tak ingin jauh darinya. Sementara melvin di depan sedang anteng mengemudi mobil Pajero sport yang baru dibelinya.
“Jo, kapan gedung itu kebakaran?” Tanya Melvin menimrung percakapan. Matanya tetap fokus kedepan, sementara tangan nya dengan lihai menggerakkan stir.
“Kata temen Jo yang rumahnya di sekitar sini, katanya kebakarannya subuh tadi. Kemarin malam kantor itu kerampokan, beberapa berkas penting katanya hilang. Terus subuh tadi kebakaran, gak tahu akibat konsleting listrik, gak tahu ada orang yang sengaja membakarnya.” Jawab Jonathan yang masih menyenderkan kepalanya di bahu meida. Melvin mendengar jawaban Jonathan dengan seksama sambil mengetuk-ngetuk tangannya di atas stir mobil.
“Kenapa gak periksa CCTV? CCTV bisa jadi petunjuk loh! Kantor itu di bakar sengaja oleh manusia atau akibat konsleting listrik,” ucap meida yang diangguki kepala oleh melvin.
“Katanya sih ada orang yang sengaja merusak semua CCTV yang berada di kantor tersebut hingga tak berfungsi ketika waktu perampokan kemarin. Mau dibenerin, ehh tukang CCTV nya lagi sakit. Polisi juga sedang mencurigai bahwa kebakaran ini di sengaja, soalnya CCTV jalan raya yang ada di pojok sana, menunjukkan ada beberapa orang datang membawa jerigen air warna putih yang diduga adalah bensin.” Jawab jonathan. Ia menjawab dengan informasi yang ia dapat dari teman sekelasnya. Jonathan mengambil botol air minum dari tasnya, lalu meminum air tersebut. Setelah meminum air ia melanjutkan perkataannya.
“Terus yang bikin aneh, semua sekuriti yang berjaga tadi malam, semuanya ketiduran. Seperti ada seseorang yang sengaja memberi obat tidur. Aneh kan ko?” Jonathan melempar pertanyaan kearah melvin yang sedang mencuri-curi pandang kearah meida lewat kaca spion.
“Ya begitulah kejahatan. Berarti itu tindak kriminal yang sudah direncanakan. Lagian kalau dipikir-pikir buat apa ngerampok kantor notaris yang gak ada uangnya, padahal kalau mau merampok di sampingnya ada toko berlian sama bank, yang uangnya lebih gede. Kenapa harus kantor notaris? Dari sana juga sudah menemukan kejanggalan, berarti itu disengaja.” Terang melvin. Meida dan Jonathan mendengar penjelasan melvin sambil melihat keluar kaca.
“Kejahatan sekarang pada ngeri-ngeri yah. Terang-terangan lagi. Gak pandang bulu!” Jonathan membenarkan ucapan meida. Ia mengingat sesuatu yang ingin dia sampaikan pada cicinya.
“Ci, ada sesuatu penting, yang ingin jo sampaikan pada cici. Tadinya mau ngomong berdua, tapi gak papalah ada ko Melvin juga. Koko jangan ember yah!” Jonathan menegakkan badannya. Ia memegang tangan meida dengan wajah serius
“Emangnya kamu mau bilang apa Jo? Ingat, jangan ada rahasia diantara kita!” Melvin melirik kearah dua kakak beradik yang berada dibelakangnya.
“Ada apa Jo? Ada masalah? Kalau ada masalah bilang sama cici.” Jonathan menggeleng kepalanya. Ia menarik napasnya dalam, lalu tersenyum kearah meida.
“Dengan kesadaran hati, dengan keinginan jo sendiri. Jo ingin menjadi seorang Muslim. Apa cici tidak keberatan?” Meida terkejut dengan perkataan adiknya, dengan perlahan ia menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Sementara melvin di depan membulatkan matanya mendengar keinginan jonathan.
“Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu Jo? Jika itu pilihanan mu, cici akan selalu mendukung apapun keputusan mu. Cici sangat bahagia mendengarnya.” Ungkap meida sambil memeluk adiknya. Tak lupa kecupan manis mendarat di pipi dan kepala jonathan berulang-ulang. Sampai jonathan tertawa kegelian.
“Cici udah! Jo geli tahu.” Tawa Jonathan sambil menyusupkan wajahnya kepelukan meida.
__ADS_1
“Cici terlalu bahagia. Akhirnya kamu memutuskan sesuatu paling penting dalam hidup ini. Keputusan mu sudah tepat jo. Alhamdulillah Allah menurunkan hidayah padamu.” Lirih meida yang kembali mencium kepala Jonathon. Jonathan mendongkakan wajahnya kearah meida
“Besokkan hari Jum’at, bertepatan muslim shalat Jum’at kan ci? Besok antar jo ke masjid dekat Apartemen kita yah. Jo ingin cici dan Bu Ina menjadi saksi keislaman jo. Terima kasih, lewat cici, jo menemukan kedamaian itu,” ucap pelan jonathan memeluk meida dari arah samping. Ia mencium pipi meida lalu memeluknya kembali.
“Cici pasti mengantarmu!” Jawab meida dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Melvin memperhatikan kearah mereka dengan senyum manisnya.
Ya Tuhan, semoga ini awal kebahagiaan hidup kami.
“Jo, kamu bareng koko yah kesananya! Koko juga mau kesana,” ucap santai Melvin membuat jonathan langsung menolehkan kepalanya kearah melvin.
“Koko serius? Koko mau ngapain kesana?” Tanya heran Jonathan. Melvin hanya menganggukkan kepalanya merespon ucapan jonathan.
“Seriuslah Jo! Mana ada koko bohong, tanya aja cici kamu!” Jawab Melvin yang kembali fokus mengemudikan mobilnya.
“Iya Jo. Ko Melvin juga memutuskan menjadi seorang muslim sama seperti kamu. Cici harap kalian tetap istiqamah dengan pilihan kalian, karena tak mudah mempertahankan keyakinan di awal-awal menjadi seorang muslim. Pasti ada saja rintangan dan ujiannya. Cici harap kalian bisa melewati ujian demi ujian itu dengan keimanan dan ketaqwaan.” Tutur meida mengelus kepala adiknya lalu memandang kearah melvin.
“Semoga saja jo bisa melewati itu semua. Yowiss, berarti besok jo ada temennya. Nanti kita belajar bersama yah ko?” Melvin menganggukkan kepalanya.
“Siap jo! Kita kan punya guru privat hehe.” Kekeh melvin sambil mengedipkan sebelah matanya kearah meida. Jonathan langsung mencebikkan bibirnya kearah melvin yang berani-berani menggoda meida di depannya.
“Koko cacingan? ngedip-ngedipin mata terus?” Ejek jonathan yang langsung membuat wajah melvin memerah. Karena jonathan memergoki kelakuan absurd nya.
“Enggaklah. Gak ada sejarah koko cacingan.” Kekeh melvin sambil menggaruk tengkuknya.
“Siapa tahu koko cacingan. Kalau cacingan nanti jo belikan obat cacing deh.” Ledek jonathan sambil tertawa. Meida menjulurkan lidah kearah Melvin, karena ia dan adiknya berhasil menjahili melvin. Dan merekapun semua tertawa.
“Ok. Nanti saja jemput kalian. Kita sama-sama kesananya!”
-
“Bel pintu kenapa berisik banget, gak tahu orang lagi masak. Apa jonathan sudah pulang sekolah? Iya, sekarang memang waktunya dia pulang sekolah, pantesan bel berisik. Tapi biasanya juga dia langsung masuk, tumben-tumbenan minta dibukain. Dasarrr bocah, pasti ngerjain ini mah!” Bi ina mematikan kompor, lalu melepas celemek yang digunakannya dan di simpan di meja makan. Ia berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu dari dalam.
“Jo, kenapa gak langsung masuk aja? Ibu belum selesai masak!” Ucap bi ina sambil membuka pintu. Ia terkejut karena di depannya sekarang bukanlah Jonathan, melainkan wanita yang ia tahu sebagai ibu kandungnya Jonathan.
“Selamat siang bu, maaf mengganggu waktu istirahatnya.” Bi Ina diam mematung menatap kearah Zaina yang kini berdiri di depannya dengan mata berkaca-kaca.
“Ada perlu apa anda kemari?” Tanya dingin bi ina to the point. Ia marah, karena akibat ulah zaina dan suaminya meida hidup menderita. Zaina menangkap ketidaksukaan di wajah bi ina, ia memegang tangan bi Ina dengan wajah memohon.
“Bu, saya ingin bertemu dengan anak saya. Saya ingin bertemu dengan Jonathan dan meida. Saya mohon pertemukan saya dengan mereka, ada yang ingin sampaikan pada mereka,” ucap menghiba zaina sambil meneteskan air mata. Hingga bi ina tak tega melihatnya, tapi ia berusaha untuk bersikap tega, karena zaina dan gilbert memang pantas mendapatkan perlakuan itu.
“Jonathan dan Meida tidak ada disini! Gara-gara keluarga anda, meida sampai sekarang belum pulang! Dia terkejut sekaligus kecewa mengetahui kebenaran ini!” Tutur Bi Ina dengan ketus. Zaina semakin terisak, ia menutup wajahnya karena perasaan menyesalnya.
“Meida maafkan mommy Nak ... maafkan mommy.” Walaupun kesal dan kecewa terhadap zaina. Bi Ina merasa iba melihat kondisi zaina sekarang. Sesama seorang ibu dia dapat merasakan sakit ketika di tinggal pergi oleh seorang anak, di tinggal adib membuat hidupnya sampai terpuruk. Apalagi zaina, ditinggal semua anaknya karena kesalahannya.
“Bu, boleh saya masuk kedalam? Saya tidak akan berbuat apa-apa, saya hanya ingin berbicara sebentar dengan ibu. Saya mohon ... “ Pinta zaina dengan wajah memelas. Bi ina menganggukkan kepalanya lalu menyuruh zaina masuk kedalam apartemennya. Setelah Zaina masuk, ia menutup pintu apartemennya kembali.
“Apa yang ingin ada bicara dengan saya?” Tanya bi ina setelah mereka duduk di sebuah sofa panjang.
__ADS_1
“Apa Ibu yang mengurus meida selama ini? Terima kasih telah menjaga putri saya,” ucap zaina sambil menghapus air matanya.
“Kakak saya yang mengurusnya selama ini. Setelah mereka meninggal baru meida hidup bersama saya. Apa yang ingin anda tahu tentang meida? Kenapa anda mengabaikannya ketika bayi? Apa kalian menyesal? Rasa penyesalan kalian tak sebanding dengan penderitaan meida selama ini!” Cerca Bi Ina menatap tajam kearah zaina. Ia meluapkan amarahnya yang selama ini mengganjal hatinya.
“Apa putri saya semenderita itu? Tolong ceritakan kehidupan putri saya selama ini. Saya mohon!” Zaina menggeser posisi duduknya. Ia memegang tangan bi ina dengan wajah sendu dan menyesal. Walaupun bi Ina tak terlalu menyukainya, tapi hatinya mengatakan bahwa zaina harus mengetahui penderitaan yang ditanggung anaknya selama ini.
“Jika anda mendengar perjalanan hidup anak anda, saya pastikan anda akan semakin menyesal! Keluarga anda telah menorehkan luka lahir maupun batin pada diri meida secara langsung!” Lirih Bi Ina dengan air mata yang mengembun.
“Saya mohon ceritalah! Saya tidak apa-apa! Saya ingin mendengar perjalanan hidup anak saya!” Zaina menggucang lengan bi Ina. Bi ina menolehkan wajah dinginnya kearah zaina.
“Apa anda tahu akibat dari keegoisan keluarga anda? Anda harus tahu! Akibat sifat egois keluarga anda banyak memakan korban! Korban orang yang tak bersalah! Anda tahu, hidup putri anda sangat menderita!” ucap dingin bi ina menatap tajam kearah zaina. Zaina menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
“Stigma masyarakat memandang anak anda seperti sampah menjijikkan! Anak anda dikucilkan! Anak anda menjadi bahan bullyan! menjadi bahan ejekan! Apa anda tahu rasa sakit yang meida rasakan ketika menerima perlakuan itu? Anda tak mungkin merasakannya! Anda tak mungkin mengetahuinya! Mungkin anda sedang hidup enak dengan harta yang melimpah ruah, tanpa memikirkan kondisi anak anda yang hidup diluaran sana! Anda orang tua yang sangat gagal! Anda tak pantas menjadi orang tua! Hewan saja menyayangi anaknya, sedangkan anda? Sudah hilang baru mencarinya!” Cecar Bi Ina sambil menghapus air matanya. Zaina semakin menangis tergugu mendengar ucapan bi ina mengenai kenyataan hidup anaknya selama ini.
“Saya memang orang tua yang gagal ... saya mengakuinya ... saya memang bersalah.” Bi ina tersenyum kecut kearah zaina. Ia melanjutkan perkataannya.
“Apa anda tahu rasanya hidup tak dianggap? Itulah yang putrimu rasakan! Orang sekampung tak menghendaki kehadirannya! Mereka berpikir putri mu adalah anak pembawa petaka, membawa sial, karena mereka menganggap anakmu terlahir sebagai anak haram! Anak hasil hubungan perzinahan! Walaupun kenyataannya, dia terlahir tak dikehendaki oleh keluarganya! Coba anda pikirkan! Apa anda sanggup hidup dengan keadaan seperti itu? Hidup dengan cap anak haram pembawa sial Apa ada sanggup?” Zaina menggelengkan kepalanya dengan bercucuran air mata. Ia tak berani mengangkat kepalanya di depan bi ina.
“Jangan kan anda, saya pun tak sanggup!” Lirih bi Ina dengan suara pelan. Kini sikap dingin itu telah hilang, berganti dengan sikap dirinyaa yang sebenarnya.
“Meida hidup ditengah-tengah orang yang membencinya, padahal dia tak punya salah dan dosa sama sekali. Dia tak tahu alasan orang memperlakukannya seperti itu! Ia tahu alasannya ketika orang tua angkat yang begitu mencintainya, pergi meninggalkannya akibat kecelakaan lalu lintas. Apa anda tahu tangisan dia ketika mengetahui kebenaran bahwa dia hanyalah anak angkat? Dia seperti orang gila yang tak memiliki arah hidup, dia hidup seperti raga yang tak memiliki nyawa! Butuh waktu, dukungan, dan bimbingan sampai dia bisa bertahan sampai sekarang. Apa anda tahu, penderitaan itu semakin membelenggunya setelah kepergian orang tua angkatnya, dia disana hidup hanya memiliki saya dan anak saya! Seluruh orang dikampung semakin membencinya ketika dia di rumorkan sebagai perebut suami orang oleh kakak angkatnya sendiri. Seluruh kampung menghujat dia, membenci dia, padahal dia tak melakukan perbuatan itu. Hidup dia semakin terpuruk, ketika menjadi budak kakak angkatnya sendiri.” Parau Bi ina menghapus air mata menggunakan hijab lebarnya. Ia menyondorkan tisu kepangkuan zaina.
“Terlalu banyak penderitaannya sampai saya tak mampu untuk menceritakannya. Hidup gadis itu sangat merana! Dia pergi kesini karena rasa traumanya, ia ingin menghilang dari masa kelam itu. Apa anda tahu alasan dia datang ke kota ini? Dia ingin mencari anda! Mencari keluarga yang telah membuangnya di kota ini! Dia ingin mencari kejelasan dibalik hidup menderitanya! Dia sangat keras hidup disini! Tapi Tuhan mengirimkan orang-orang baik yang hadir disekelilingnya tanpa mengenal kasta dan perbedaan. Salah satunya jonathan, dia merupakan lelaki baik yang selalu ada untuk meida, lelaki periang yang kembali menjadi korban keegoisan kedua orangtuanya. Apa anda merasa melakukan itu pada Jonathan? Jangan salahkan anak anda, jika mereka mereka membenci kalian orang tuanya! Karena itu diakibatkan oleh ulah sikap kalian sendiri! Tidak akan ada api jika tidak ada asap, begitupun sebaliknya. Sekarang, saya mohon renungi sikap anda! Karena mereka pun butuh waktu! Jangan terlalu memaksa diri! Karena jika anda terus memaksa, mereka akan semakin berlari menjauh dari anda!” Zaina menyimpan tisu itu di meja. Lalu ia bersimpuh di kaki bi ina sambil memeluk erat kakinya.
“Bu, tolong bantu saya! Tolong bantu meluluhkan hati anak saya. Tolong bantu mereka untuk memaafkan saya. Saya tidak bisa hidup terus-terusan seperti ini. Hanya ibu sekarang yang bisa membantu saya. Saya mohon bu...” Zaina menangis tergugu sambil memeluk kaki bi ina. Sampai tak sadar,bi ina meneteskan air matanya melihat sikap zaina yang sungguh-sungguh ingin meminta pengampunan dari anaknya. Bi ina menghapus air matanya, ia membimbing zaina untuk duduk di sampingnya. Lalu ia memegang kedua bahunya.
“Masalah memaafkan itu masalah mereka. Itu berkaitan dengan hati. Mereka pun butuh waktu, karena dari awal keadaan ini memang sudah kacau balau. Saya harap anda bersabar, karena suatu saat nanti mereka pasti memaafkan anda. Cobalah perbaiki diri dan berusahalah untuk mengambil hati mereka. Jangan menyerah, karena ini semua proses mendapat kata maaf dari mereka! Disini saya bicara bukan karena saya mengasihi anda atau apa, tapi saya hanya memposisikan diri saya sebagai perempuan. Walaupun saya kecewa pada anda, tapi anda tetaplah seorang ibu yang sedang memperjuangkan keluarga yang berusaha memperbaiki diri berkaca dari kesalahan masa lalu!” Zaina terharu mendengar kata bijak bi ina. Ia tersenyum dan langsung memeluknya.
“Terima kasih bu ....”
-
-
Happy monday♥️
Otor sengaja up banyak, biar banyak yang ngasih☕ wkwkwk
Jangan lupa vote sama hadiahnya mumpung hari senin😁🤭
Like, komen, rate nya di tunggu 🤗
Salam hangat otor buat pembaca semua😘😘😘 Love sagede tugu monas wkwkwk
Kopi kopi kopi, biar bisa up malam🤭
Hatur nuhun😘
__ADS_1