Kita Berbeda

Kita Berbeda
Bangunlah!


__ADS_3

“Jaslin ... Jonathan ... akhirnya kamu pulang Nak!” Teriak Zaina sampai mengagetkan semua orang yang berada di ruang itu. Ia langsung memeluk Meida dan Jonathan secara bersamaan dengan air mata bercucuran. Ia tersenyum kearah Melvin dan Bi Ina sebagai ungkapan terima kasih, karena berhasil membujuk anaknya untuk datang kerumahnya.


“Terima kasih telah datang! Terima kasih telah mengabulkan keinginan Mommy.” Jonathan dan Meida hanya diam dengan mata saling pandang.


Sementara di ujung ruangan, nampak seorang wanita tua memandang mereka dengan raut wajah tak suka.


Jangan sampai dia kembali kesini! Saya harus cepat bertindak dan pastikan rencana ini berhasil! Setelah berhari-hari mencari mereka, akhirnya mereka datang dengan sendirinya. Sungut wanita tua itu sambil berjalan ke kamarnya yang terletak di ruang terpisah.


Zaina melerai pelukannya, ia menuntun kedua anaknya untuk duduk. Ia menatap kearah Bi Ina dan Melvin dengan senyum hangat.


“Terima kasih Nak, terima kasih Bu, telah membujuk anak saya untuk datang kesini.” Melvin dan Bi Ina hanya tersenyum dengan menganggukkan wajahnya merespon ucapan Zaina.


“Itu bukan masalah besar Tan. Saya hanya menjembatani mereka. Pak Gilbert sekarang dimana?” Tanya melvin sambil memindai ruangan itu.


“Suami saya masih tak sadarkan diri di kamar atas. Niatnya siang ini kami akan membawanya kerumah sakit. Kami pun di buat bingung, secara medis suami saya tak memiliki riwayat penyakit apa-apa, tapi sampai sekarang dia masih betah menutup matanya.” Lirih Zaina menatap kearah Melvin yang tangannya diletakkan di atas lututnya. Ia mengalihkan pandangannya kearah Jonathan dengan mata berkaca-kaca.


“Jo, mommy sangat merindukanmu. Maafkan sikap Mommy yang dulu! Mommy janji akan menjadi Mommy terbaik untuk kalian.” Jonathan diam acuh, tak merespon sama sekali ucapan Mommy-nya. Ia malah asik memainkan jam tangannya. Merasa diacuhkan anaknya, zaina menatap kearah Meida yang sedang menatap kosong kearah meja di depannya.


“Jaslin, Mommy dan Daddy pun sangat merindukanmu. Terima kasih telah kembali, terima kasih telah datang kesini. Terima kasih Nak.” Meida mengangkat kepalanya dengan wajah canggung. Jonathan menyela ucapan zaina tanpa melihat wajahnya.


“Jo merasa aneh, Mommy bicara seperti itu. Jo berharap Mommy tak mengingkari ucapan Mommy! Semoga Mommy bisa berkaca dari masa lalu!” ucap ketus Jonathan yang duduk di ampit oleh Bi Jna dan Meida. Bi Ina menggelengkan kepalanya sambil memegang tangan Jonathan.


“Nak, gak boleh bicara seperti itu! Gak baik!” Tegur Bi Ina yang melihat wajah Zaina memerah karena malu dengan ucapan anaknya.


“Itu fakta Bu! Jonathan ingin mengatakan sesuatu pada Mommy. Ini Ibu Jonathan, wanita baik hati yang menyayangi Jonathan selama ini walaupun tanpa ada ikatan darah. Dia sosok pertama yang membuat Jonathan merasakan kasih sayang seorang ibu, yang tak Jonathan dapatkan dari Mommy. Dia yang menyayangi Jonathan dan Cici dengan tulus. Mohon maaf jika kami lebih menyayangi dia daripada Mommy,” ucap Jonathan tanpa tendeng aling membuat hati Zaina tertohok seketika. Anaknya lebih menyayangi orang lain daripada dirinya. Bisakah ia egois? Tapi itu tak mungkin, dengan kedatangan dua anaknya saja ia sudah sangat bersyukur. Karena kedua anaknya mulai membuka hati, dan sedikit demi sedikit mulai menerima mereka. Ia sadar, ia yang salah. Karena tak pernah meluangkan waktu sedikitpun untuk anak-anaknya.


“Jo, jangan seperti itu Nak! Sayangi dia seperti kamu menyayangi Ibu. Dia Ibu yang telah melahirkan kamu, tak baik berbicara seperti itu!” Tegur lembut Bi Ina sambil mengusap lembut rambut jonathan. Perlakuan itu tak luput dari pandangan Zaina yang hatinya mulai mencelos, melihat interaksi hangat anaknya yang berbeda sekali dalam memperlakukan nya. Hatinya terasa tersentil, orang lain begitu tulus memperlakukan anaknya dengan lembut berbeda jauh dengan dirinya, yang memperlakukan anaknya sesuka hatinya.


Kepalanya di usap-usap Bi Ina, Jonathan malah menyandarkan kepalanya di bahu Meida. Melihat itu, tak urung hati kecil Zaina kembali terluka.


“Dia Ibu kita Kan Ci?” Meida menganggukkan kepalanya sambil mengusap wajah adiknya.

__ADS_1


“Meida, jangan seperti itu. Hargai Mommy mu...” Bisik Melvin tak enak kearah zaina yang memperhatikan interaksi mereka dengan mata berkaca-kaca. Meida mengangkat bahunya, ia hanya menanggapi ucapan Jonathan dengan menganggukkan kepalanya saja.


“Jangan diulangi ok!” Meida hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi perkataan melvin.


“Kalian semua nginap aja disini yah! Kamar disini banyak yang kosong. Jonathan apa kamu tak rindu dengan kamarmu?” Tanya Zaina mengalihkan pembicaraan yang hanya direspon oleh Jonathan dengan gelengan kepala. walaupun ia kecewa, ia berusaha tegar dan sabar menghadapi sikap anak-anaknya yang masih bersikap dingin padanya.


“Jaslin, apa kamu tak ingin melihat kamar mu Nak? Kamar yang sudah Mommy dan Daddy siapkan dari dulu.” Kata Zaina lagi.


“Tidak, terima kasih. Saya datang kesini hanya ingin melihat kondisi suami anda!” Jawab Meida yang masih memanggil Zaina dengan sebutan Anda. Ia merasa canggung jika memanggil zaina dengan sebutan Mommy, kata yang sangat sulit keluar dari bibir ranumnya. Bi Ina dan Melvin memandang tak enak kearah Zaina yang hanya dibalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum, menandakan ia baik-baik saja menerima semua perlakuan anaknya. Ia paham dengan perasaan anaknya yang masih membangun benteng kokoh penghalang diantara mereka. Tapi ia akan berusaha mengambil hati anak-anaknya.


“Kamu mau melihat Daddy-mu sekarang?” Meida hanya menganggukkan kepalanya. Ia dan Jonathan berdiri mengikuti langkah zaina ke lantai atas.


“Apa kalian tidak ikut?” Tanya Meida membalikkan tubuhnya. Ia melihat kearah Melvin dan Bi Ina yang masih santai duduk di sofa. Bi Ina dan Melvin dengan sepakat menggelengkan kepalanya, mereka memberi ruang pada Meida dan Jonathan untuk lebih leluasa berbicara pada orang tuanya.


“Kalian duluan saja. Nanti kami menyusul!” Jawab Bi Ina sambil tersenyum.


“Yaudah. Meida, keatas dulu yah!” Pamit Meida sambil berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas.


“Semoga setelah ini, meida dan Jonathan mampu menerima semuanya.” Do'a Melvin yang diangguki kepala oleh Bi Ina.


-


Mereka bertiga beriringan berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Gilbert. Jonathan lebih dulu masuk ke kamar orang tuanya diikuti oleh Meida. Zaina menghampiri suaminya dan mencium keningnya lama.


“Dad, anakmu datang! Jaslin dan Jonathan benar-benar datang menjengukmu! Mereka sekarang  berdiri disamping mu! Sadarlah!” Bisik Zaina sambil menghapus air matanya. Ia berdiri tersenyum kearah dua anaknya sambil menepuk bahunya, lalu ia keluar dari ruang itu menuju ruang tamu untuk menemani Bi Ina dan Melvin mengobrol.


Pertama kali masuk ke kamar itu Meida tertegun, ia melihat gambar bayi yang mirip dengannya terpajang besar di atas ranjang orang tuanya. Ia mengamati ruang itu yang banyak menampilkan potret-potret kecilnya ketika bayi.


Jonathan dan Meida berdiri menatap kearah Gilbert yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Beberapa peralatan medis terpasang di hidung dan tangannya. Melihat itu, hati Jonathan dan Meida terenyuh. Walaupun mereka tak menyukai sikap Gilbert, tapi melihat keadaanya seperti ini, tak urung hati mereka mencelos. Rasa sakit dan kecewa itu perlahan-lahan berkurang, setelah menyaksikan keadaan Gilbert yang sangat menyedihkan itu.


Jonathan duduk di samping Gilbert, sementara Meida masih berdiri dengan mata yang tak beralih menatap Gilbert. Daddy yang telah menyakiti perasaannya, kini terbaring tak berdaya.

__ADS_1


“Dad, bangunlah! Walaupun aku tak menyukaimu, melihat mu seperti ini tetap saja aku tak tega. Karena seburuk apapun prilakumu, kau tetap Daddy-ku. Bukankah kau hidup tak ingin dikasihani? Melihat mu seperti ini, aku sangat mengasihani mu. Mana sikapmu yang sombong dan angkuh itu? Mana Daddy yang ingin menang sendiri? Mana Daddy yang selalu merasa benar? Kau ingat! Kau selalu saja marah-marah tak jelas, jika aku meminta waktu sibukmu untuk memperhatikanku? Apa kau tak ingin menebus waktu itu?” Dengan perlahan Jonathan memegang tangan Daddy-nya yang meneteskan air mata dengan mata yang masih tertutup.


“Bukankah kau ingin menebus kesalahan mu padaku? Jika seperti ini, bagaimana kau menebusnya? Jangan buru-buru mati, dosa mu terlalu banyak pada kami. Dan kamipun tak ingin kau mati begitu saja, kami ingin kau menebus kesalahan-kesalahanmu pada kami yang sudah menggunung ini.” Lirih Jonathan dengan mata berkaca-kaca. Walaupun ia membenci daddy-nya, melihatnya seperti ini tetap saja hatinya ikut menangis.


“Sadarlah! Sebentar lagi hari pengambilan raport, apa kau ingin melihat nilaiku? Kau tak penasaran jika nilaiku merah? Dulu jika nilaiku turun sedikit saja kau pasti menamparku dan menghukum ku, bagaimana jika sekarang nilaiku merah semua? Tapi untuk tahun aku ingin kau yang mengambil raportku! Aku bosan! Setiap semester yang ngambil raportku selalu saja Bi Suti. Kau tahu, rasanya aku seperti anak yatim piatu yang tak memiliki orang tua, padahal kenyataannya kedua orang tuaku masih ada.” Meida menangis tergugu mendengar ucapan adiknya. Ia menepuk-nepuk pundak adiknya yang sedang menangis tergugu.


“Orang tua lain akan berbondong-bondong ke sekolah mengambil raportnya anaknya, sementara aku, orang tuaku telah berganti dengan Bi Suti. Kau menyia-nyiakan waktu itu! Sayang, kau lebih memilih sibuk dengan pekerjaan daripada menyempatkan waktu luang untukku.” Jonathan menghapus air matanya, lalu ia condongkan tubuhnya lebih dekat kearah Daddy-nya yang sedang menangis dengan keadaan yang tak sadar.


“Jika kau tak mengambil raportku tahun ini, mungkin aku benar-benar yatim piatu. Dan aku benar-benar menganggap mu telah mati. Jangan salahkan aku!”


“Hidupku malang bukan? Aku tak pernah mendapatkan sedikitpun kasih sayang ataupun perhatian dari mu. Di saat mencari perhatian, yang ada kau malah membentakku.” Dengan perlahan tapi pasti tangan Jonathan dengan sendirinya membelai wajah Gilbert.


“Dan setelah kupikir, kau orang tua macam apa? Yang membiarkan anaknya hidup sendirian. Boleh aku mengeluarkan unek-unekku selama ini? Asal kau tahu, aku tak membutuhkan hidup mewah seperti yang kau berikan padaku, aku hanya menginginkan hidup normal seperti keluarga lain. Aku ingin hidup dengan limpahan kasih sayang seperti anak lain, bukan seperti ini!” Jonathan kembali menangis tergugu dengan menggigit keras bibir bawahnya.


“Entahlah kau mencintaiku atau tidak. Tapi selama aku hidup, kau tak pernah menyayangiku, kau selalu saja mengabaikan ku, membiarkanku sendirian. Padahal kurang apa aku? Bodohnya aku, walaupun kelakuan mu seperti itu, aku tetap saja mematuhi mu.”


“Aku tahu kau mendengar suaraku sekarang! Bangunlah! Aku ingin memberimu kesempatan untuk menjadi Daddyku. Jika seperti ini? Bagaimana kau menggunakan kesempatan itu. Tak capek apa kau seperti ini?” Meida memegang kuat tangan adiknya yang sedang mengguncang-guncang tubuh Gilbert yang masih diam.


“Kau tak ingin membuat moment berkesan denganku? Aku tak punya kenangan manis satupun dengan mu. Kau terlalu sibuk mengumpulkan harta, hingga tak pernah meluangkan waktu untukku sedikit saja.”


“Bangulah! Jangan jadi pengecut seperti ini! Sadarlah! Tebus semua salahmu! Jika seperti ini, aku tak akan memaafkan mu!” Teriak Jonathan sambil berdiri. Ia langsung berdiri meninggalkan Meida yang masih shock dengan teriakan adiknya. Meida menggeser tubuhnya dan duduk di samping Gilbert. Ia tak mengucapkan satu patah kata pun, ia hanya menatap Gilbert dengan sesenggukan. Menit demi menit waktu berlalu, meida masih diam. Setelah 30 Menit, ia baru beranikan diri membuka mulutnya.


“Bangunlah! Bukankah anda ingin meminta pengampunan dari saya? Berjuanglah untuk kata maaf itu!” Ucap Meida sambil berdiri. Ia ingin melangkahkan kakinya, ketika suara pelan memanggilnya.


“Jaslin ... Jaslin ...” ucap lirih suara itu. Meida menghentikan langkahnya dengan meneteskan air mata, ia ingin terus melangkahkan kakinya, tapi seperti ada sesuatu yang menahan tubuhnya untuk tetap berdiam diri di kamar itu.


 -


-


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


Tong hilap, like, komen, vote, sareng hadiahnya ♥️♥️♥️


Wilujeng wengi😘


__ADS_2