
“Jack, kenapa saya ada disini? Kapan saya pulang ke apartemen kamu?” Tanya bingung Andress yang baru bangun. Ia menatap kesekeliling kamar, sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Jack membawa nampan berisi minuman herbal yang dia racik sendiri, ia menyondorkan minuman herbal yang terbuat dari jahe dan sedikit perasan lemon kearah Andress untuk menetlasir efek alkoholnya.
“Minumlah! Ini bisa meredakan rasa pusing koko! Koko terlalu banyak minum hingga teler seperti ini!” Sewot Jack sambil menyilangkan kaki di kursi terapinya. Andress menatap tak percaya kearahnya.
“Serius saya mabuk Jack? Perasaan saya cuman pergi ke bar beli softdrink kenapa jadi mabuk?” Andress mengerutkan keningnya mengingat kejadian semalam. Ia menepuk jidatnya ketika mengingat ia yang coba-coba minum, dan setelah minum satu gelas, ia tak mengingat apa-apa lagi.
“Padahal saya cuman mau rasain rasanya wine yang kata orang rasanya seperti buah anggur.” Jack membuka matanya, terkekeh mengejek kearah andress.
“Sejak kapan koko jadi bodoh begini? Beli softdrink kenapa harus ke bar? Lagian yang namanya alkohol semua memabukkan, mau acara nyoba-nyoba segala! Jika aja aku gak datang tadi malam, mungkin koko sudah di bawa satpol PP! Nginep di penjara! Bareng sama tukang togel dan tukang rampok!” Jawab Jack menakut-nakuti andress. Karena ia tahu, andress baru pertama kali menginjakkan kaki di bar dan meminum minuman keras. Ia harap setelah andress mendengar ucapannya, dia tak berani-berani lagi pergi sana. Andress terkejut mendengar ucapan jack, ia mengusap wajahnya kasar.
“Kamu serius Jack?” Jack menganggukkan kepalanya, walaupun dalam hati ia tertawa sekencang-sekencangnya. Karena ia berhasil mengelabui sepupunya yang bodoh dalam hal ini.
“Mana ada aku bohong! Sekarang mandi! Aku mau ngomong sama koko!” Perintah Jack yang diangguki malas oleh andress.
“Habis mandi langsung rapiin lagi kamarnya! Jangan kayak kandang singa!” Andress mendelikan matanya malas kearah jack sambil melempar semua bantal ke lantai. Hanya di apartemen jack, ia bisa di suruh-suruh oleh sepupunya tanpa berani melawan.
“Dasar perfeksionis!” Sungut Andress sambil melangkah kakinya ke kamar mandi. Setelah Andress dipastikan masuk ke kamar mandi, jack tertawa terbahak-bahak. Ia berhasil mengerjai sepupunya, dengan cara ini, jack berharap andress bisa melupakan masalah yang bersarang dihatinya.
-
Setelah selesai mandi, andress memakai pakaian milik jack karena ia sudah terbiasa memakai pakaian jack jika sedang bermalam di apartemen miliknya. Karena postur mereka hampir sama, jadi memudahkan andress untuk meminjamnya.
“Ko, mandinya lama amat! Kayak yang mandi kembang 7 rupa aja!” Andress memutar bola matanya malas mendengar ocehan sepupunya yang unfaedah. Ia memundurkan kursi, lalu oduduk di depan jack.
“Mandi 15 menit di sebut lama? Mandi kan harus bersih! Emang kamu mandi cuman kepala doang” Sewot andress sambil mengambil nasi.
“Kalau kesiangan iya, kalau gak kesiangan mandilah! Lagian gak mandi juga aku mah udah ganteng, apalagi udah mandi, cewe udah berjejer di depan pintu pada nyambut.” Narsis jack sambil menyugar rambutnya.
“Kepedeannya luar binasa! Melebihi batas rata-rata! Kebanyakan makan buah kesemek, jadinya kayak gini ! Tahu tampang pait, sok sokan manis!” Sungut andress sambil mengambil rawon dan kerupuk, lalu menuang ke piringnya.
“Ini kamu yang masak Jack?” Tanya andress sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Jack mencebikkan bibirnya menatap malas kearah andress.
“Ya iyalah aku yang masak, siapa lagi? Emangnya koko anak mama yang makannya instan tinggal makan.” Ledek Jack sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Pantesan gak enak!” Ledek andress sambil tertawa. Jack berdiri dari posisi duduknya lalu mengambil piring andress.
“Kalau gak enak jangan di makan!” Andress menatap Jack dengan wajah cengengesan.
__ADS_1
“Saya bercanda Jack! Ini enak kok!” Andress mengambil cepat piringnya dari tangan jack. Ia berpindah posisi di meja makan paling pojok, agar tidak terjangkau oleh tangan jack. Jack mencebikkan bibirnya sambil duduk kembali di kursinya.
“Ko, Tante zaina nanyain koko terus. Koko di suruh pulang! Begitulah anak mamih, hilang sedikit langsung di cari.” Ledek jack sambil tertawa. Andress membelalakkan matanya menatap kearah jack dengan wajah kesal.
“Kamu bilang sama mommy kalau saya disini?” Tanya kesal Andress yang meletakkan piringnya di meja.
“Gak ada kerjaan! Orang tante zaina nelpon aku semalam, waktu koko mabuk. Tadinya mau bohong, ehh takut kualat sama orang tua, yah gak ada pilihan lain selain jujur. Lagian sih koko, main kucing-kucingan segala.” Jawab santai Jack melanjutkan makannya. Ia tak memperdulikan wajah kesal andress.
“Ishh bohong dikit gak papa, Kan? Jangan bilang saya disini! Ahh bodoh kau jack, gak bisa di ajak kompromi!” Runtut andress sambil kembali memakan nasinya. Jack malah terkekeh melihat wajah kesal andress yang sangat kentara.
“Yahhh lagian koko udah lama nginep disini, saatnya pulang. Kasian tante zaina nyari koko terus, emang koko gak kasian. Sayangi orang tua selagi ada, kalau sudah tiada baru nyesel. Bercerminlah dari hidupku ko! Ketika aku merindukan Papi dan mami, membutuhkan support dari mereka tapi mereka sudah tiada. Ingin memeluk mereka, tapi bingung cara memeluknya seperti apa. Rasa menyesal itu menyakitkan ko! Aku selalu berpikir, mungkin jika dulu aku tidak nakal, mematuhi perintah mereka, menjadi anak baik, mungkin penyesalannya tidak akan seperti ini. Mumpung om sama tante masih ada, sayangi mereka! Walaupun koko kecewa pada mereka, tapi bagaimana pun mereka adalah orang tua koko. Seburuk-buruknya mereka, mereka yang menghadirkan koko kedunia.” Andress menghentikan suapan nasinya. Ia menyimak apa yang sepupunya ucapkan. Walaupun sikap jack sedikit bar bar, tapi pikirannya lebih dewasa dari dirinya yang usianya hanya terpaut sekitar 2 tahun. Jack tersenyum dengan wajah getir, tapi ia berusaha menutupinya dengan tingkah konyolnya.
“Lagian koko tinggal disini gak pernah bayar sih. Stock berasku habis ko, mana harga minyak sayur lagi edan, harganya melebihi harga kolorku yang warna ijo. Harga garam aja setiap bulan naik, padahal kurang luas apa laut di negeri ini. Apalagi cabe rawit harganya sedang meroket tinggi melebihi ketinggian burj khalifa. Mana beli sayur gak pernah dapet diskon, kecuali kangkung yang sudah peot gak laku selama 2 hari. Terus harga bawang aja gak turun-turun kayak takut banjir. Coba koko bayangin, mana sekarang akhir bulan, aku belum gajian! Kasihanilah aku ko. Mending pulang aja sana! Nanti aku kasih makan pake garam baru tahu rasa!” Gurau Jack sambil tertawa, menetlasir ketegangan di meja makan itu. Andress menatap jengah pada jack dengan mendumel.
“Kamu perhitungan banget si Jack! Mentang-mentang saya sering makan gratis disini!” Sewot andress sambil melanjutkan makannya. Ia pura-pura kesal menaggapi ucapan jack. Padahal ia tahu, jack hanyalah bercanda, lagian stock makanan mentah yang berada di apartemen jack disiapkan oleh mommy nya setiap bulan.
“Makanya ko. Tolong ajukan kenaikan gaji ku sama Om Gilbert, 100% aja. Sekalian tambah biaya tunjangan hidup, gak banyak-banyak kok sekitar 50% dari gajilah. Aku jamin koko bisa makan gratis setiap hari disini hahaha.” Andress melempar kerupuk kearah jack yang sedang tertawa.
“Lah enak di loh gak enak di gw dong! Bilang noh sama moyang loh kalau mau naik gaji.” Sungut andress yang akhirnya tertawa.
“Berbaik hatilah ko sama aku. Aku anak yatim, butuh modal buat biaya nikah. Biar bisa beli satu pulau buat mahar nanti.” Gurau Jack yang mendapat jitakan dari andress.
“Jangan gitu ko. Orangmah doain biar cepet punya pacar, jangan diledek kayak gini. Ngomong aja kalau kalah ganteng.” Andress tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan jack.
“Dihh kepedean, muka pas-pasan gitu disebut ganteng. Rabun kali yang lihat.” Ledek andress kembali sambil membawa piringnya ke wastafel.
“Koko pulang ajalah! Ngapain disini, nyempit-nyempit tempat aja!” Sewot Jack sambil merapikan meja makan.
“Emang gw mau pulang! Lagian gw sumpek disini, sempit kayak kandang kuda! Apalagi ada dedemit kayak loh!” Ledek andress sambil berlari keruang tamu.
-
Meida dan Jonathan turun di lobby apartemen, sementara melvin menyimpan mobilnya di basement. Mereka lebih dulu jalan, dan menunggu melvin di depan pintu lift. Mereka tak menyadari ada satu pasang mata yang sedang menatap mereka dengan cucuran air mata di pojok ruangan. Setelah Melvin datang, mereka pun langsung masuk ke dalam lift.
“Assalamualaikum bibi ...” ucap salam meida sambil membuka pintu. Ia berlari kearah Bi Ina yang sedang melamun di ruang tamu. Bi ina terkejut ketika meida memeluknya.
“Ehh kaliann ... kapan pulang?” Tanya gugup bi ina sambil membalas pelukan meida. Ia melihat kearah jonathan dan Melvin yang sedang menatapnya heran. Jonathan berjalan kearah bi Ina lalu mencium tangannya.
__ADS_1
“Kita baru aja datang. Ibu kenapa melamun? Ibu seperti habis menangis, ada apa? Cerita sama kita.” Mendengar penuturan adiknya, meida melerai pelukannya. Ia menyentuh pipi bi ina yang masih menyisakan air mata. Meida menatap dalam mata bi ina.
“Bibi kenapa? Cerita sama meida! Maaf meida baru pulang sekarang. Maaf meida meninggalkan bibi kemarin.” Bi Ina menggelengkan kepalanya tersenyum kearah meida, ia mengusap pipi meida.
“Bibi gak papa. Bibi lagi melow aja. Kalian belum makan? Ayoo kita langsung ke dapur, bibi sudah masak loh.” Melvin menganggukkan kepalanya. Ia lebih dulu jalan ke dapur, di susul oleh jonathan.
Mereka makan dengan lahapnya, nuasa kekeluargaan nampak terasa. Kehangatan mendominasi ruang itu. Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang santai yang berada di lantai 2.
“Jonathan ... meida ... bibi ingin bicara dengan kalian. Kalian sudah besar dan sudah bisa menentukan mana yang baik mana yang bukan. Bibi percaya, kalian adalah anak-anak baik, penyayang, dan berjiwa besar. Jika kalian tak memiliki sifat itu, tak mungkin kalian ada disini sekarang. Terima kasih, kalian sudah berjuang sampai detik ini!” Tutur Bi ina duduk dengan menyilakan kakinya. Jonathan dan meida saling pandang, sedangkan melvin menatap bi ina dengan raut heran.
“Bibi ada apa? Tak biasanya bibi bicara seperti ini?” Tanya meida berjalan mendekat kearah bi ina lalu memegang tangannya. Bi Ina menatap jonathan dan meida bergantian.
“Meida, jonathan, tak banyak yang ingin bibi sampaikan. Bibi hanya minta pada kalian, janganlah hidup menyimpan luka dan dendam. Biarkan melebur ... hingga rasa itu tak menggerogoti hati kalian. Bibi hanya ingin kalian belajar untuk saling memaafkan.” Jonathan mengerutkan dahinya. Ia berjalan kearah bi ina dan duduk di sampingnya berhadapan dengan meida.
‘’Kita sudah saling Memaafkan yah Ci? Kita sudah akur kembali bu. Cici meida dan Jonathan sudah baikan bu.” Tutur jonathan sambil memijit sebelah tangan bi ina. Sementara melvin di pojok ruang sedang memperhatikan mereka, mencerna percakapan dengan seksama.
“Maksud bibi bukan itu! Kalian jangan marah atau pun benci, bibi hanya ingin kalian memikirkan ucapan bibi. Bibi ingin kalian belajar memaafkan kesalahan kedua orang tua kalian. Karena sampai manapun, mereka tetap orang tua kalian! Orang yang wajib kalian hormati dan patuhi. Bibi tahu mereka sangat sangat sangat bersalah, tapi bibi yakin ada sedikit rasa di hati kalian, bahwa kalian menyayanginya. Hanya saja rasa kecewa mendominasi hati kalian. Jadilah seorang pemaaf nak, Allah dan Rasul pun seorang pemaaf.” Meida menundukkan kepalanya, sementara jonathan memandang bi ina dengan wajah tak percaya.
“Tapi itu beda konteks bu! Jo tidak bisa secepat ini memaafkan mereka. Terlalu banyak luka yang mereka torehkan di hati jo. Rasanya sulit bu! Jo sudah menganggap mereka tak ada! Jo menemukan kebahagiaan disini! Jo lebih memilih hidup bersama ibu, daripada mereka. Luka jo sudah menganga bu!” Ujar jonathan dengan suara bergetar. Bi Ina langsung mengusap kepalanya ketika air mata menetes di wajahnya.
“Jo, ibu tahu luka mu sangat dalam. Tapi sampai kapan kamu akan hidup seperti ini? Rasa itu malah akan semakin menyempitkan hati mu, jika kamu masih menyimpan rasa itu. Apa bedanya kamu dengan mereka, jika masih seperti ini? Ibu percaya kamu adalah anak baik dan penyayang, ibu yakin kamu bisa melakukannya!” Bi ina mengusap kepala Jonathan dan Meida. Meida masih menundukkan wajahnya memikirkan setiap perkataan bi ina. Bi ina menolehkan kepalanya kearah meida, ia mengelus hijab meida lembut.
“Meida, bagaimana rasanya ketika di tinggal Ummah dan Abi mu dulu? Rasanya sakit bukan? Bibi tak ingin rasa sakit itu kembali kamu rasa ketika kamu kehilangan orang tua mu? Rasa sakit di tinggal mereka akan lebih dalam di bandingkan ketika di tinggalkan Ummah dan Abi mu, karena mereka adalah orang tua mu. Bibi tak ingin kamu menyesal nak.” Meida menangis tergugu. Ia mengangkat wajahnya menatap kearah bi Ina.
“Bi, rasa sakit itu tak mungkin sedalam kepergian ummah dan Abi. Walaupun dari mereka meida dilahirkan, tapi meida tak pernah merasakan kasih sayang mereka. Abi dan ummah yang merawat meida selama ini, apa mereka merawat meida bi? Tidak bi, mereka malah mengabaikan meida karena kehadiran meida tak diinginkan. Coba bibi pikirankan perasaan Meida! Ketika meida merantau kesini, Ayah yang selama ini meida cari, dia malah menghina meida, menyuruh bos meida untuk memecat meida, karena tak sengaja meida menumpahkan jus di bajunya. Dia mendorong meida sampai tangan meida berdarah, padahal meida hanya berniat membantu istrinya, tapi dia malah menuduh meida menculiknya. Hati meida semakin sakit bi ketika dia menghina meida, menginjak-nginjak harga diri meida di depan orang banyak, meida punya hati, meida punya harga diri! Meida bukan boneka yang seenaknya direndahkan. Bibi melihat perlakuan dia pada meida kemarin malam? Hati Meida hancur bi! Rasanya meida ingin mati saja! Dia menghina meida di depan orang-orang yang meida cintai! Setelah mengetahui jati diri meida, dia baru menyesal. Apa yang harus meida lakukan bi? Bibi meminta meida untuk memaafkannya, padahal hati meida masih sakit, luka meida belum kering. Mengertilah ... rasa sakit ini tak mungkin sembuh hanya dengan kata maaf! Meida hanya manusia biasa bi ... ” Bi ina tergugu mendengar jawaban meida. Ia memeluk keponakan angkatnya itu erat.
“Bibi tak akan memaksamu untuk secepat ini memaafkan mereka Nak, bibi hanya ingin kamu belajar. Selagi mereka masih ada. Jika mereka sudah tiada, kamu akan memaafkan siapa? Bibi tak ingin kamu menyesal diakhir meida. Bibi menyayangi mu! Sesakit apa yang kamu rasa, apa kamu akan terus memupuk rasa sakit ini? Jangan Nak. Kecewa pada mereka boleh, tapi jangan sampai kamu mengabaikan mereka. Jangan sampai Syaiton berhasil menguasai diri mu. Surga mu berada pada mereka Nak! Buat apa kamu mengejar surga yang belum tentu kamu dapat, sementara kamu mengabaikan surga yang paling dekat? Mereka adalah surga mu nak! Carilah keberkahan dari mereka, agar kamu dengan mudah meraih surga nya.”
-
-
☕☕☕😂
Jika suka dengan novel ini jangan lupa like, komen, vote, rate, sama hadiahnya 🤗😘😘😘
Hatur nuhun buat yang udah ngevote, ngelike, ngomen, ngerate, ngasih hadiah, ngasih kopi, hatur nuhun pisan♥️♥️♥️
__ADS_1