Kita Berbeda

Kita Berbeda
Maafkan mommy nak...


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah, di pusat kota Surabaya.


Jadi wanita perkasa itu bernama meida. Apa meida wanita sama yang diceritakan oleh melisa? Tanya melvin dalam hati disertai senyum dibibirnya.


“Ko, dari tadi senyum-senyum gak jelas, kayak orang gila aja!” Ujar melisa dengan wajah cemberut, karena diabaikan melvin yang senyum-senyum sendiri.


“Sembarangan! Emang kamu mau punya kakak gila?” Sahut melvin dengan bibir mencebik kearah melisa.


“Lagian dari tadi senyum-senyum sendiri, padahal gak ada yang lucu!” Omel melisa sambil menyuapkan makanan ke mulut melvin.


“Rajin-rajinlah tersenyum biar awet muda.” Jawab melvin, yang sontak mendapat pelototan melisa.


“Lihat situasi nya dulu keles!"


Melisa menaruh piring di nakas yang terletak di samping tempat tidur melvin. Ia menatap melvin dengan tatapan menyelidik.


“Koko belum jelasin ke aku, kenapa muka koko sampai ancur gini! Jangan bilang koko digebukin masa, karena ganggu istri orang!” ujar melisa menatap tajam melvin sambil menompang dagu.


“Cangkem mu! Gak pernah di filter tuh mulut kalau ngomong!” Sewot melvin mendelik kearah melisa.


“Makanya cerita! Atau mau aku aduin ke mamih sama papih kalau koko habis berantem!” Ancam melisa sambil duduk di ranjang melvin.


“Bosen hidup! Koko pecinta orde baru loh. Malem kamu aduin, pagi-pagi kamu udah hilang. Mau??” Melisa sontak mencubit pelan perut melvin.


“Tak pipit itu mulut!” Delik melisa kesal.


Melvin tersenyum melihat kelakuan sang adik, ia memposisikan sang adik agar berhadap-hadapan dengannya.


“Dek, koko mau tanya dulu, kamu harus jawab jujur. Nanti koko ceritain semuanya.” Ucap melvin serius memegang tangan melisa.


“Serius amat ko?" Setelah mendapat delikan tajam dari melvin, akhirnya meida meneruskan jawabannya.


"Iyaiya nanti aku jawab."


“Cewek yang nolongin kamu kemaren namanya meida, kan?” Pertanyaan terlontar dari bibir melvin yang menatap wajah melisa dalam.


“He’em, jangan bilang koko berkelahi sama meida sampai muka ancur gini!” Jawab sang adik sambil mencebikkan bibir.


“Bukan ish ... dengerin dulu orang ngomong jangan di potong-potong, kebiasaan deh!” Kesal melvin melepas genggaman tangan adiknya.


“Iyaiya maaf. Emang kenapa koko nanyain meida? Emang koko tau meida? Kalian pernah ketemu??” Sang adik menatap tajam melvin dengan penuh selidik.


“Ciri-ciri meida kayak gimana dek?” Pertanyaan melisa yang di jawab pertanyaan oleh melvin.


“Badannya mungil, putih, berhijab sama matanya sipit kayak kita. Aku yakin dia bukan asli pribumi sini. Dia itu kayak campuran ko.” Melisa menjelaskan ciri-ciri meida sambil menerawang.

__ADS_1


Berarti benar ciri-ciri meida sama dengan ciri-ciri wanita perkasa itu. Meida ... arghhh aku bisa gila! Shitt! Kenapa wajahnya menari-nari di mataku. Guman melvin pelan sambil menjambak rambutnya sendiri.


“Ko kenapa? Kayak orang stress aja jambak-jambak rambut! Buru ceritain, apa muka ancur koko ada hubungannya sama meida?”


“Gimana yah ngomongnya. Jadi kemaren malam itu ...” Melvin menceritakan kejadian kemarin malam kepada melisa, sontak melisa tertawa sampai terpingkal-pingkal.


“Ishh punya kakak malu-maluin, udah berlaga sok pahlawan malah nyusahin. Kalau aku jadi meida udah aku lempar koko ke sungai bengawan. Nambah-nambah beban aja hahaha,” ujar melisa sambil tertawa.


“Dasar adik durhaka! Bukannya kasih pencerahan malah ngeledek. Puasin ketawanya tau-tau besok gak dapat jatah jajan! Mau kamu?” Ancam melvin dengan wajah ditekuk.


“Ngancem terosss!! Lagian koko tau gak bisa beladiri, sok sok pasang badan, alhasil jadinya seperti ini. Untung gak patah tulang juga! Preman itu luar biasa, berkarya di wajah seorang CEO Shinwa, yang mukanya pas-pasan ini! Aku nunggu pelaku selanjutnya yang bisa bikin wajah koko benyok lagi hahaha ... happ” Melvin menyumpal mulut melisa dengan kertas, karena adiknya itu tak berhenti tertawa.


“Kurang asem!” ujar melisa cemberut setelah mengambil kertas di mulutnya lalu melemparkannya.


Ishh kenapa nama meida berputar-putar di otak gue. Enyalahh meida ... Arggg ... wajah mu itu! Melvin sadarlah, jangan gila! Kamu tak menyukainya, kamu hanya mengagumi nya saja. Perang bathin melvin.


-


-


Wanita ini membuatku nyaman berada disisinya, dia mempunyai daya tarik yang tak orang lain miliki. Kenapa aku bisa setenang ini. Mungkin jika jaslin ada, dia sepantaran dengan wanita ini. Bathin zaina memandang sendu kearah meida.


“Siapa nama mu mbak?” Tanya zaina memandang meida dengan tatapan mata berkaca-kaca.


“Nama yang indah, saya menyukainya. Disini kamu tinggal dimana?” Zaina melontarkan pertanyaan berusaha mengakrabkan diri.


“Saya ngekos bu, saya perantau dari Bandung,” ujar meida tersenyum lalu menunduk.


“Owalahhh jauh sekali, orang tua kamu tinggal dimana?” Tanya zaina sambil memegang bahu meida.


“Entahlah ... saya tak tahu orang tua saya, mereka membuang saya ketika saya masih bayi.” Jawab meida dengan suara bergetar menahan agar ia tak menangis, terlalu banyak air mata yang dikeluarkannya hari ini.


“Tega sekali orang tua mu, membuang anak secantik dan sebaik kamu.” Jawab zaina mengelus pelan wajah meida.


Tangis wanita ini, kenapa membuat hatiku sakit. Mungkin aku terlalu terbawa perasaan. Ujar zaina dalam hati.


“Mungkin orang tua saya tak mengharapkan kehadiran saya bu, makanya mereka membuang saya. Mungkin saya adalah beban dan aib buat mereka.” Tangis meida pecah, mengelap air mata dengan lengan bajunya.


“Kamu sudah mencari keberadaan orang tua mu?” Tanya zaina menghapus air matanya, ia sedih mendengar cerita meida.


“Saya sudah mencari nya, tapi sampai sekarang belum ditemukan. Saya jauh-jauh merantau kesini, karena mencari keberadaan mereka. Tapi hasilnya nihil, saya tak punya petunjuk apapun. Melihat wajah mereka pun saya tak pernah ...  sebegitu bencinya mereka sampai membuang saya ... seorang anak yang tak tahu apa-apa.” Meida menangis tergugu dengan memegang dadanya. Dengan Naluri seorang ibu zaina memeluk erat meida untuk menenangkannya.


Zaina tak menyadari wanita yang berada dalam pelukannya sekarang adalah anak yang dicarinya selama ini. Anak yang meninggalkannya dengan penuh rasa sesal dan bersalah.


“Kamu ingin bertemu mereka?” Tanya zaina menepuk-nepuk lembut bahu meida.

__ADS_1


“Iya bu, saya ingin bertemu mereka. Saya ingin menanyakan, kenapa mereka membuang saya bagaikan seenggok sampah? Membuang bayi tak bersalah. Apa mereka tahu bayi yang mereka buang hidup menderita? Hidup dikucilkan ... di cap anak pembawa sial ... anak biadab ... anak haram ... anak tak jelas asal-usulnya! Cap yang melekat pada dirinya yang sangat menyakitinya. Setidaknya mereka harus tau, terlalu banyak luka yang mereka torehkan dihati sang bayi itu. Bayi itu tak bisa memilih dari rahim siapa ia lahir, dari keluarga mana ia berasal. Bayi itu hanya mengikuti arus takdir ... bayi itu punya hati ... Walaupun ketika bayi itu dibuang ia tak bisa menolak, tapi setidaknya mereka tahu bahwa tatapan bayi itu terluka tanpa mampu berkata ...“ Tangis meida tumpah di pelukan wanita asing yang baru dikenalnya.


“Sabar ... kamu gadis kuat, kamu gadis hebat. Kamu pasti menemukan keluarga mu. Kamu pasti menemukan kebahagiaan, setelah kehidupan pahit yang kamu alami.” Nasehat zaina dengan berderai air mata.


“Entahlah ... setelah bertemu mereka, apa saya harus membencinya atau tidak, atas segala perbuatan yang mereka lakukan kepada saya,” ujar meida dengan mata menerawang jauh.


“Kamu harus berusaha memaafkan mereka walaupun itu menyakitkan,” Ucap zaina memegang kedua bahu meida dan menatapnya lembut.


“Saya hanya wanita biasa, yang punya rasa kecewa dan sakit hati. Tak mudah bagi saya memaafkan perbuatan mereka. Saya bukan seorang malaikat bu.” Jawab meida dengan sesenggukan.


Jawaban gadis ini kenapa membuatku sakit hati, aku merasa tertampar mendengar jawabannya.


Gadis ini mengingatkan ku atas perbuatan yang aku lakukan terhadap jaslin. Jaslin pasti kamu terluka nak, atas apa yang mommy dan daddy perbuat.


Maafkan mommy jaslin ... maafkan mommy ...  mommy menyesal telah mengabaikan mu. Mommy sangat menyesal nak ...


Jaslin bagaimana keadaan mu sekarang nak? Apa kamu hidup bahagia atau menderita?? Hidup berkecukupan atau berkekurangan. Jika kamu menderita, mommy orang yang paling bersalah nak, mommy tak bisa membayangkannya ...


Jaslin mommy butuh maaf darimu, walaupun itu mustahil.


Tuhan maafkan segala dosa ku, kembalikan anak ku Tuhan ... Kau tahu aku saya menyesal! Rasa menyesal yang mengusik ku setiap saat. Rasa menyesal yang membuatku ingin mengakhiri hidupku Tuhan. Tuhan aku mohon ... kembalikan anak ku. Jerit zaina dalam hati sambil berurai air mata.


Tiba-tiba seseorang mendorong keras meida, sampai ia jatuh kearah kerikil yang berada di samping kursinya. Meida mengaduh memegang tangannya yang terluka, akibat beberapa kerikil yang menancab ditangannya.


“Apa yang kau lakukan kepada istrinya sampai ia menangis hah! Kau ingin menculiknya? Atau ingin merasa dikasihani! Dasar gadis tak tahu diri!” Umpat seorang lelaki dengan emosi memuncak sambil menunjuk-nunjuk ke arah meida.


-


-


Bersimbing..


Maaf author telat up, di sukabumi gak ada jaringan. Hujan badag euyy...


Jaringannya nyangkut di pohon kelapa🤭😂


Love buat reader yang masih stay di novel ini♥️


Kuyy lah vote, like sama hadiahnya ♥️


Sehat selalu buat reader semua🥰


Keep spirit 💪


Hatur nuhun.

__ADS_1


__ADS_2