Kita Berbeda

Kita Berbeda
Foto yang hilang


__ADS_3

“Bu, ini rumahnya?” Tanya jonathan ke sebuah rumah minimalis berwarna cream.


“Benar sekali nak, ini rumah orang tua angkatnya meida.” Jawab bi ina sambil membuka pagar tralis itu.


“Mari nak, kita lewat sini.” Bi ina mengajak jonathan untuk berjalan ke samping rumah itu, menuju arah gudang, yang letaknya bersisian dengan kandang ayam.


“Bu, gudangnya terkunci,” ucap jonathan di berdiri di depan pintu gudang itu.


“Pintu ini sudah tua jo, sudah tak ada kuncinya. Pintunya hanya tertutup saja. Kamu lihat itu, pintu ini hanya terganjal kayu dari dalam.” Terang bi ina sambil memasukan tangan kedalam lubang di samping pintu yang hanya masuk satu tangannya saja. Ia menggeser kayu yang mengganjal pintu itu.


“Disinilah dulu meida tinggal, setelah orang tua angkatnya meninggal,” ujar bi ina setelah memasuki gudang itu.


Gudang itu tidak terlalu besar, hanya ada beberapa perkakas yang tidak terpakai. Di sudut gudang terdapat lemari tua yang sudah usang, pintunya ada beberapa yang hilang.


“Tinggal disini bu? Ya Tuhan, tempat ini sudah tidak layak untuk ditinggali.” Timpal jonathan tak percaya sambil memperhatikan setiap penjuru gudang itu.


Ya Tuhan, cici pernah merasakan tinggal disini. Merasakan hidup di tempat yang tidak layak seperti ini. Ya Tuhan, bagaimana perasaan nya jika mengetahui keluarga nya hidup mewah, sedangkan dia berjuang hidup di tempat ini. Apa dia akan membenci keluarga nya?. Batin jonathan sambil melihat kearah tikar usang, yang diatasnya terdapat satu bantal yang terlihat kotor dan berdebu.


“Ini tikar tempat meida tidur dulu, bantal ini satu-satu pengganjal kepalanya ketika tidur. Dia disini tidur hanya menggunakan satu kain jarik yang dilapisi sarung mukena nya, untuk menghalau dinginnya angin malam.” Jelas bi ina dengan mata berkaca-kaca memberitahu jonathan sambil menunjuk kearah tikar dan bantal yang tergeletak itu.


“Ibu tahu kehidupan cici meida seperti itu? Kenapa cici tak di suruh kabur aja dari tempat ini.” Tanya jonathan sambil mengelus bantal itu.


“Ibu mengetahui nya dari cerita anak ibu nak. Dari adib yang mengkhawatirkan keadaan meida. Malam-malam dia mencari keberadaan meida kesini, dan ia malah menemukan meida tidur disini kedinginan sambil memeluk lutut. Meida meminta kepada adib agar jangan sampai menceritakan keadaan nya pada ibu. Tapi setelah meida hilang, adib baru menceritakan nya.” Ucap sendu bi ina sambil mengusap air mata di sudut matanya.


Baik sekali lelaki itu! Pantas saja cici sampai kejer menangisi kepergiannya. Semoga Tuhan melapangkan kubur mu, karena kamu orang baik kak. Terima kasih kamu telah menjaga cici ku ketika masih berada disini. Batin jonathan sambil mengusap air mata yang lolos dipipinya.


“Adib sudah mencoba membujuk meida untuk meninggalkan tempat ini, meida tidak mau jo. Ia bersikeras untuk bertahan disini, untuk membalas tuntutan balas budi mereka. Amel menuntut meida supaya membalas kebaikan Keluarga nya selama ini, dia menjadikan meida budaknya tanpa bayaran sepeserpun. Amel hanya memberi meida makan 1 hari sekali, sampai meida pernah pingsan karena amel tak memberinya makan selama dua hari.”


“Meida teguh pada pendiriannya, ia tidak ingin orang lain terlibat dalam masalahnya. Walaupun ia menderita sendirian disini,” ucap bi ina mengakhiri cerita tentang meida. Ia selalu dibuat terenyuh jika mengingat kehidupan meida sebelum pergi ke Surabaya.


Ya Tuhan, menderita sekali hidup mu ci. Apa yang akan cici perbuat kepada daddy dan mommy, karena telah membuat hidup cici, darah dagingnya sendiri menderita seperti ini. Akibat keegoisan mereka, cici yang tak berdosa harus menerima akibatnya. Ya Tuhan bagaimana jika cici jaslin benar-benar cici meida?? Aku yakin, ia pasti sangat terluka.


Ternyata hidup cici lebih menyakitkan daripada hidup jo. Cici .. hati jo sakit sekali mendengar cerita ini. Cici kuat sekali menerima semua ini. Jika itu jo, mungkin jo sudah mengakhiri hidup ini.


Mommy daddy, hidup keluarga kita berantakan itu karena kalian! Karena ulah tangan kalian! Jangan menyalahkan orang lain! Karena kalianlah penyebab nya!


Ya Tuhan, bagaimana keluarga ku menebus kesalahannya selama ini. Banyak hati yang terluka karena perbuatan mereka, banyak korban karena keegoisan mereka. Ya Tuhan, aku harus apa? Bolehkah aku membenci mereka karena perbuatannya?. Gumam pelan jonathan sambil menghasup air matanya. Ia mengusap tikar dan bantal, tempat tidur meida dulu. Ia membayangkan bagaimana meida menjalani hari-hari nya di gudang ini.


Ci, di tempat sempit dan kotor ini, kau merangkai mimpi ingin sebuah kebahagiaan. Tapi sampai sekarang kebahagiaan itu belum kau dapatkan. Orang tua yang cici cari selama ini pun, belum cici temukan. Ya Tuhan, aku dilema sekarang. Apakah setelah menemukan Daddy dan mommy cici akan Bahagia? Aku takut itu malah menambah luka batinnya. Aku takut cici lebih terluka daripada ini, ketika mengetahui kebenarannya seperti apa. Lirih jonathan sambil menghusap hidung Bangirnya yang terkena lelehan air matanya.


“Nak kesinilah! Bantu bibi untuk menggeser papan triplek ini!” Teriak bi ina yang menyadarkan jonathan dari lamunannya. Posisi bi ina berada di dalam lemari usang besar yang tertutup debu. Tengah lemari itu tidak memiliki sekat, seperti bekas tempat penggantungan baju. Jonathan membantu bi ina menggeser papan triplek yang besar dan tebal itu.


“Ayoo jo! Sedikit lagi papan ini bergeser! Papan ini adalah pintu penghubung untuk masuk ke kamar itu. Karena nanti kita disana keluar dari dalam lemari seperti ini.” Semangat bi ina, dengan sekuat tenaga ia menggeser papan triplek itu. Dan akhirnya papan itu sedikit demi sedikit tergeser.


“Jo lihat! Sebentar lagi pintu ini akan terbuka!” Teriak senang bi ina dengan penuh haru.

__ADS_1


Maafkan aku Teh Ai dan Kang Zul, telah mengajak orang untuk membuka pintu rahasia ini. Aku harap kalian tidak marah atas perbuatan ku, yang mengingkari janji kalian. Ini demi kebaikan kita semua, ini demi kebaikan meida. Agar anak malang itu mengetahui keluarga nya. Bantu aku untuk menguatkannya nanti, dari kenyataan hidup yang sebentar lagi akan di ketahui nya. Batin bi ina setelah benar-benar membuka pintu itu. Ia dan jonathan keluar dari dalam lemari pakaian di kamar ganti yang berada di samping kamar meida ketika masih tinggal disini dulu.


Kamar itu benar-benar sepi dan gelap, cahaya sama sekali tidak masuk ke kamar itu, di tambah kurangnya penerangan akibat lampu yang di matikan.


Suasana rumah itu seakan mati, tidak ada nyawa nya sama sekali. Penghuninya satu persatu telah pergi meninggalkan rumah itu.


Kini rumah itu sudah tak bertuan, yang ada tinggal hening dan kekosongan.


Setelah keluar dari kamar gelap itu, bi ina berjalan kearah ruang tengah.


“Jo lewat arah sini! Disana ada saklar lampu di atas nakas di bawah lukisan itu!" Tunjuk bi ina kearah lukisan yang berada di lurus di depan nya.


“Baiklah bi jo kesana. Sekarang.”


-


“Meida ayo kita pulang! Kita sudah lama disini. Langit sudah mendung!” Ajak melvin kepada meida yang masih menangis di samping pusara adib.


“Tuan pulanglah lebih dulu, saya tidak papa disini sendiri.” Jawab meida sambil menoleh kearah melvin.


“Kalau kamu gak pulang, saya juga gak bakal pulang!” Sahut melvin yang kembali duduk di kursi panjang itu.


“Saya tidak papa, jika tuan meninggalkan saya sendiri disini," ujar meida yang kembali menolehkan kepalanya kearah nisan adib.


Kata-kata itu, persis yang kak adib ucapkan dulu. Batin meida setelah mendengar ucapan melvin.


“Baiklah terserah tuan saja.” Pasrah meida memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia tak enak kepada melvin yang sudah bosan menunggu nya dari tadi.


-


“Jo aneh sekali. Kenapa dinding ini kosong, tak ada satupun foto meida. Terakhir kali ibu kesini, ibu masih melihat foto-foto meida dipajang disini!” Ucap bi ina dengan wajah terkejut melihat kearah dinding, biasanya di dinding itu banyak foto meida dengan orang tua angkatnya. Tapi anehnya sekarang, tidak ada satupun foto di dinding itu yang memperlihatkan foto meida.


“Iya bu, disini tidak ada foto cici meida sama sekali. Yang ada foto wanita ini dan lelaki ini.” Tunjuk jonathan kearah foto amel dan faiz.


“Benar jo. Apa jangan-jangan wa halimah membuang semua foto meida yang ada disini?” Tanya bi ina dengan wajah panik.


“Bisa jadi bu, tapi kita coba cari dulu. Mudah-mudahan masih ada foto cici meida yang tersisa.” Ucap jonathan menyemangati diri nya dan bi ina.


Jonathan mencari foto meida di ruang tamu, ia membuka semua laci yang berada di bawah lemari hias itu. Sedangkan bi Ina mencari foto meida ke dalam kamar yang pernah meida tepati dulu. Bi ina membongkar lemari yang tidak ada pakaian sepotong pun. Ia mencari foto meida ke dalam laci lemari, tapi hasilnya sama. Foto meida tak ditemukan sama sekali, hilang bagai di telan bumi.


Amel atau wa halimah yang sudah membuang semua barang-barang milik meida? Tega sekali mereka! Padahal lambat laun meida pasti membutuhkan barang-barang miliknya. Yaa Allah kemana aku harus mencarinya lagi. Ke kamar kang zul dan teh ai aku tak berani.


Bi ina menghampiri jonathan yang masih membongkar laci di ruang tamu.


“Jo apa kamu sudah menemukan fotonya?” Tanya bi Ina menepuk pelan bahu jonathan.

__ADS_1


“Sama sekali belum bu. Apa ibu menemukan sesuatu?” Tanya balik jonathan kearah bi ina yang terlihat murung.


“Sama sekali tidak jo. Tak ada satu barang pun milik meida yang tertinggal disini. Mereka telah membuangnya, entah itu wa halimah ataupun amel,” ujar bi ina sambil menyandarkan kepalanya di sofa itu.


“Jo, coba kamu cek tempat pembakaran sampah yang ada di samping rumah ini. Ibu takut mereka telah membakar nya.” Perintah bi ina kepada jonathan. Yang langsung di angguki kepala oleh jonathan.


-


“Meida ...”  Sapa seseorang yang berpapasan dengan meida ketika dalam perjalanan pulang ke rumah bi ina setelah dari pemakaman.


“Bang zidan...” ucap meida sambil tersenyum.


“Akhirnya kamu pulang juga dek.” Jawab zidan sambil tersenyum haru.


“Abang kira ayah bohong kemarin, katanya kamu sudah pulang kesini. Tapi ternyata benar, kamu pulang dek..."


“Iya bang meida pulang, karena ingin berziarah ke makam kak adib.” Jawab meida dengan senyum getir


“Sedang apa abang disini?” Tanya meida mengalihkan pembicaraan.


 “Abang habis dari Alfa membeli ini, tak sengaja melihat mu disini.” Jawab zidan mengacungkan 1 plastik putih di tangannya. Lalu ia melirik kearah melvin yang berada disamping meida, dengan wajah kaget.


“Ini atasan meida waktu di Surabaya, dia mengantar meida pulang kesini.” Ucap meida menjawab kebingungan di wajah zidan.


Kalau aku bicara sekarang, timing nya kurang tepat. Batin zidan melirik kearah meida dan melvin.


“Dek, malam ini kamu sibuk gak? Abang ingin berbicara sesuatu padamu,” ujar zidan dengan wajah serius.


“Enggak bang... Malam ini, datanglah ke rumah bibi. Meida menginap disana.”


-


-


Kuyylah vote, like, sama hadiahnya.


Maaf otor telat up🙏 Imajinasi otor mentok. keluar-keluar tadi siang😁


Untuk besok otor libur yah gak up, cucian otor numpuk 🤭


Kembali up lagi hari senin.


Hatur nuhun buat reader yang masih stay di novel receh ini ♥️


Gomawooo 😘😘😘♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2