Kita Berbeda

Kita Berbeda
Keluarga Harmonis


__ADS_3

Meida pulang ke apartemen milik melvin diantar oleh melisa dan drivernya. Melvin tak bisa mengantar meida, karena ia sedang mempersiapkan Acara Rutin tahunan perusahaan bersama dion dan papihnya.


Meida berjalan bergandengan tangan dengan melisa, sesekali mereka bercerita sampai tertawa. Sementara sang driver dengan setia mengekor langkah mereka di belakang.


Setelah keluar dari lift, mereka berjalan kearah apartemen yang bi ina dan jonathan tempati. Meida menekan bel pintu apartemen secara perlahan.


Setelah menunggu sekitar 5 menit,


Ting


Pintu apartemen itu di buka dari dalam, dan memperlihatkan sosok jonathan yang menggunakan kaos oblong warna putih dan celana training warna navy. Jonathan kaget melihat wajah meida yang berada dihadapannya. Ia berhamburan kearah cici nya.


“Cici ...” ucap jonathan langsung memeluk meida di pintu apartemen. Meida tersenyum mendapat pelukan hangat dari Jonathan.


“Jonathan. Kamu sudah mendingan dek?” Tanya meida sambil mengelus pundak adiknya. Jonathan menganggukkan kepalanya tanpa melepas pelukan meida. Sedangkan melisa dibuat tersenyum melihat interaksi hangat kakak beradik yang ada didepannya itu. Melisa menyuruh lembut driver pribadinya untuk meninggalkan mereka.


“Jo sudah sehat ci. Sudah mendingan dari kemarin juga,” ucap jonathan sambil mengurai pelukan meida. Ia memegang pipi meida dengan kedua tangannya


“Cici gak papa kan?” Meida tersenyum mendengar pertanyaan penuh perhatian dari jonathan.


“Cici sudah sehat jo.” Jawab meida sambil menatap wajah adiknya. Jonathan menatap wajah meida dengan raut wajah sedih.


“Tapi wajah cici masih pucat.” Jonathan mengelus lembut pipi meida yang memang masih terlihat pucat. Meida menggenggam tangan jonathan yang berada dipipinya.


“Cici sudah sembuh jo. Jangan mengkhawatirkan cici.” Meida tersenyum lebar sambil mencium tangan adiknya.


“Oh yah jo, kenalin ini mbak melisa. Adiknya Tuan Melvin.” Meida memperkenalkan melisa kepada jonathan. Melisa mengedipkan matanya kearah Jonathan sambil tersenyum.


“Jo sudah tahu ci. Kita sering bertemu di apartemen ko melvin yah mbak?” ucap jonathan bicara dua arah antara meida dan melisa. Ia tersenyum kearah melisa sambil mentoskan tangannya. Meida menatap aneh kearah mereka berdua secara bergantian,


“Iya iya benar meida. Mbak sama jonathan sudah saling kenal.” Terang Melisa sambil menonjok pelan perut jonathan. Jonathan menangkis pelan tangan melisa dengan terkekeh pelan.


“Meida kamu sudah pulang nak?” Tanya bi ina dari ruang tamu langsung berlari pelan dan memeluk meida. Ia mencium pipi meida bergantian.


“Sudah bi. Baru saja.” Kekeh geli meida.


“Ayo-ayo masuk! Jangan diam di luar.” Ajak bi ina kearah mereka. Ia tak menyadari dengan kehadiran melisa yang sedang menggandeng tangan jonathan.


“Baik bu.” Jawab melisa yang langsung menghentikan langkah bi ina. Bi ina melepaskan gandengan tangannya dari meida, ia melihat kearah belakang. Meida pun mengikuti gerakan bi ina. Bi ina menatap canggung kearah melisa, karena baru pertama kali ditemuinya setelah beberapa hari tinggal di Surabaya.


“Ini mbak melisa bi, adiknya Tuan melvin. Orang yang selalu meida ceritakan pada bibi. Mbak melisa ini yang selalu nolongin meida ketika kesulitan.” Meida menunjuk melisa dengan memegang tangannya. Bi ina tersenyum kearah melisa lalu menggandeng tangan nya,


“Owalahh ... Cantik sekali kamu nak. Mari masuk!” Seru bi ina sambil menggandeng tangan melisa.


“Terima kasih bu.”


“Kalian pasti laparkan? Ayoo kita makan dulu! Kebetulan sekali ibu baru selesai masak.” Seru bi ina mengajak mereka kearah dapur. Mereka berempat duduk di meja makan. Kursi yang biasa melvin tempati kini ditempati melisa.


“Ayoo ci mbak kita makan dulu!” Ajak jonathan sambil melihat menu yang ada dihadapannya. Ada ayam bakar, tahu, tempe, sambal dan lalapan.


“Ko Melvin gak ikut nganterin cici?” Tanya jonathan sebelum menyuapkan nasi ke mulutnya. Meida menjawab pertanyaan jonathan sambil mengambil sambal didepannya.

__ADS_1


“Tuan melvin lagi sibuk jo. Sedang mempersiapkan acara perusahaan. Kita di undang loh untuk datang kesana," ucap meida dengan antusias.


“Tapi jo gak punya baju formal ci. Ketinggalan semua di rumah.” Jonathan menjawab ucapan meida dengan gurat wajah lesu. Melisa menepuk pelan bahu jonathan.


“Gak usah khawatir masalah baju. Nanti mbak sama ko melvin yang nyiapin baju buat kalian. Biar baju kita seragaman gitu.” Sahut melisa dengan wajah yang berbinar. Bi ina terharu dengan sifat melisa yang sama baiknya dengan melvin.


“Keluarga mu baik sekali nak. Kami bingung harus membalas kebaikan keluarga kalian dengan apa?” Segan bi Ina dengan wajah terharu.


“Jangan seperti itu bu. Anggap lah kami sebagai keluarga kalian disini.” Tutur melisa sambil mengusap pelan tangan bi ina.


Hangat sekali keluarga ini. Pantas sekali ko melvin betah disini. Batin melisa sambil tersenyum memandang satu persatu wajah yang ada dihadapannya yang sedang berbincang hangat.


-


“Tuan kita sudah sampai di Ci Leunyi. Kira-kira tujuan kita sekarang kemana?” Tanya salah satu pengawal andress. Andress membuka ponselnya, membaca pesan dari Ningsih, wanita paruh baya yang menjadi sumber petunjuk pencarian jaslin di kampung ini.


“Kita ke Kampung Suka Bungah dulu, kurang lebih jaraknya sekitar 15 menit dari sini. Karena rumah orang tua angkat gadis itu berada disana. Semoga gadis itu masih disana.” Jawab Andress memandang wajah pengawalnya dengan penuh pengharapan.


“Nanti posisi kalian berpencar, untuk mencari informasi lebih banyak tentang gadis itu dari warga sini. Kalian harus nyamar menjadi warga biasa, agar warga disini tidak takut ataupun curiga. Jika warga disini melihat penampilan kalian yang seperti ini, mereka akan menyangka kalian adalah mafia tanah," ucap andress menunjuk pakaian serba hitam yang dikenakan ketiga pengawal yang satu mobil dengannya. Sedangkan anak buahnya yang lain terpisah di mobil Pajero sport miliknya. Pencarian andress ke kampung ini membawa 3 pengawal dan 5 anak buahnya. Agar pencarian jaslin di kampung ini segera menemukan kejelasan.


“Siap Tuan.”


“Nanti kamu langsung ke rumah RT disana. Dan kamu berdua langsung mengecek rumah orang tua angkat gadis itu. Dan biarkan anak buah saya yang lain berpencar, mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang gadis itu pada warga disini.” Jelas andress sambil mengambil Ipad di tangannya.


“Satu lagi, sekecil apapun informasi yang kalian dapatkan, kalian wajib melaporkan pada saya!" Perintah tegas andress yang diangguki cepat oleh para pengawal nya.


“Baik Tuan.” Mereka berhenti di sebuah rumah besar berhalaman luas, yang kiri kanannya di kelilingi pohon jati, dan berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang lainnya. Rumah besar itu adalah milik salah satu kerabat anak buahnya, yang disewakan pada andress selama mereka berada di kampung ini.


“Ini rumah yang akan kita tempati selama disini. Sekarang kalian semua  beristirahat! Karena jam 3 sore nanti, kita langsung mulai pencarian!” Seru melvin sambil membawa kopernya masuk ke dalam rumah itu, di ikuti oleh semua anak buahnya.


“Siap Tuan.”


-


Di rumah johan nampak terlihat ramai dengan kehadiran buah hatinya. Biru laki-laki tampan yang baru menginjak usia ke 17 tahun yang berkepribadian penyayang seperti dirinya. Dan Jingga, gadis kecil cantik yang baru menginjak usianya ke 10 tahun. Suasana di meja makan itu penuh kehangatan, dimana mereka bercanda ria sambil menunggu dian mempersiapkan sarapan untuk mereka. Kegiatan rutin mereka setiap pagi, berkumpul bersama dan sambil bercerita tentang kegiatan mereka masing-masing. Dan Johan, salah satu pendengar setia cerita kedua anaknya.


Johan duduk di antara jingga dan biru, karena mereka berdua sama-sama ingin berada di dekatnya. Johan benar-benar menjadi sosok ayah idaman, yang mampu mengayomi kedua anaknya.


“Ayah sekarang kan hari minggu. Ayah udah janji loh! Setelah jingga pulang dari sekolah minggu nanti, ayah mau ajak jingga mengunjungi makam nenek di Surabaya,” ucap jingga sambil memakan buah apel yang ada ditangannya. Kepalanya ia sandarkan di bahu johan. Johan tersenyum sambil mengelus lembut rambut sebahu putri bungsunya.


“Kasihan dek, ayahnya masih sakit. Ayah butuh banyak istirahat.” Sahut biru setelah meminum susunya. Ia memijit pelan sebelah tangan johan. Hati johan menghangat mendengar kepedulian anak sulungnya. Ia bersyukur, kehidupan anaknya tidak seperti dirinya, yang kekurangan kasih sayang dari orang tua ataupun keluarga.


“Iya. Ayahnya masih sakit, minggu depan aja yah. Sekalian kita shopping ke mall.” Bujuk dian sambil menyondorkan sarapan ke depan mereka. Jingga mengerucutkan bibirnya dengan wajah nmenghiba kearah johan.


“Gak mau. Jingga gak suka! Ayah mengingkari janji ayah!” Jawab gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Johan dibuat tak berkutik dengan sifat anaknya yang mirip dengannya. Sama-sama tidak mudah di bujuk, ketika sedang menginginkan sesuatu.


“Yaudah setelah pulang dari gereja nanti. Kita langsung pergi kesana!” Kekeh johan sambil mencomot bibir anaknya. Jingga langsung tersenyum kearah johan dan mencium kedua pipinya.


“Ayah memang yang terbaik.” Puji jingga memeluk leher ayah nya.


“Tapi mas ....”

__ADS_1


“Ayah baik-baik saja bun. Sudah sudah lebih baik setelah melihat wajah kalian. Kebahagian kalian adalah kebahagiaan ayah yang tak pernah tergantikan,” ucap johan memandang keluarga kecilnya satu persatu dengan penuh cinta, lalu ia mencium pipi chubby anaknya.


“Love you yah.” Seru biru dan dian, langsung berhamburan kepelukan johan. Akhirnya keluarga itu berpelukan dengan harmonisnya.


-


Meida berjalan bergandengan tangan dengan jonathan, mereka terlihat seperti pasangan yang serasi, padahal kenyataannya mereka hanyalah kakak beradik. Mereka berjalan kearah bi ina yang sedang membaca buku di ruang santai.


“Bi. Meida dan jo pamit ke supermarket dulu yah. Mau belanja buat persediaan dapur. Bibi mau pesen apa? biar nanti sekalian meida belikan."


“Kondisi kalian emang sudah baikan?” Tanya bi Ina sambil membuka kacamatanya. Bi ina menatap mereka secara bergantian.


“Alhamdulillah sudah bi. Iyakan jo?” Jawab Meida sambil menempuk pelan lengan jonathan.


“Iya bu. Kita udah sehat kok,” ucap jonathan tersenyum kearah bi ina.


“Yaudah kalian hati-hati di jalan. Jo, jagain terus cici kamu.”


“Siap bu.”


“Kami pergi dulu bi. Assalamualaikum.” Pamit meida sambil mencium tangan bi ina, begitupun jonathan.


"Waalaikumsalam." Jawab bi ina mengantar mereka sampai pintu.


-


“Ci kita ke mall yukk! Ada sesuatu yang harus jo beli.” Ajak Jonathan ketika mereka akan menaiki sebuah taksi.


“Yaudah ayoo...” Jawab meida sambil mengambil kartu debit Jonathan di casing ponselnya.


“Kartu debit kamu cici bawa hehe.” Kekeh meida sambil menunjukkan kartu debit ditangannya kearah jonathan. Jonathan tersenyum melihat tingkah meida.


“Iyaiya nanti kita abisin saldonya hahaha.” Tawa jonathan sambil menutup pintu taksi itu.


“Asyiapp ...” Mereka pun tertawa bersama.


“Sekalian kita mampir ke toko buku dulu yah ci,” ucap jonathan. Karena ia berencana membeli beberapa buku yang berkaitan dengan agama islam.


“Siapp komandan.” Kekeh meida sambil mengangkat sebelah tangannya.


"Pak ke mall di pusat kota yah," ucap jonathan kepada driver taksi itu.


"Siap Mas."


-


-


Otor kurang ngopi nih jadi lierr wkwkwk


Jangan lupa like, vote sama komen yah..

__ADS_1


1 part lagi nanti otor up sore yah🤗


Hatur nuhun😘


__ADS_2