Kita Berbeda

Kita Berbeda
Terulang?


__ADS_3

Kedua mata Kayla terbelalak seraya meneguk saliva kelat saat netra abu Bima menatapnya dengan jarak dekat dan tubuh kekarnya yang menghimpit.


Kayla kembali gugup, jantungnya berdegub naik turun tak beraturan.


"Gue mau lo Kay. Dan gue juga tau elo juga sama." tandas Bima tegas.


Kayla menggeleng kuat dengan raut wajah semakin pias.


"Enggak. Aku nggak mau kamu. Ini salah Bim." sanggah Kayla dengan memekik serta mengayunkan tangan memukul dada bidang Bima.


"Diamlah Kay..." Bima menahan kedua tangan Kayla yang tak berhenti memberikan pukulan pada dada bidangnya. Kemudian menyatukan kedua tangan itu guna menguncinya.


"Bim... jangan." Kayla dengan kepala yang tidak berhenti bergerak, mencegah tindakan Bima yang Kayla sangka pasti akan menggagahi tubuhnya.


"Elo sepertinya salah mengartikan ucapan gue Kay." Bima semakin mendekatkan wajahnya dan membuat Kayla semakin memberontak.


"Enggak. Ini salah Bim, hentikan." mohon Kayla dengan tidak menghentikan gerakan kepalanya. Dengan posisi ini tidak mungkin jika pikirannya salah mengartikan ucapan Bima.


"Salahnya dimana? Gue cuma mau sama lo bentar aja. Gue..."


"Nggak... nggak bisa... kita nggak boleh melakukannya Bim..."

__ADS_1


"Gue nggak ngelakuin apa apa sama lo Kay. Gue minta lo diem dulu..."


"Iya setelah aku diam kamu bakal melakukannya kan Bim?!"


"Melakukan apa?" Bima tidak mengerti maksud ucapan Kayla. Karena Bima memang tidak memiliki niat apa apa kecuali ingin Kayla bersamanya sebentar saja untuk menemaninya tidur sesaat. Bima ingin menghilakan rasa lelah di tubuhnya karena semalam tidak bida tidur. Setelah itu Bima ingin berbicara banyak mengenai niatnya ke depan untuk bertanggung jawab pada gadis itu.


Meski untuk saat ini belum ada rasa cinta untuk Kayla namun Bima tidak mungkin begitu saja mengabaikan dan tidak bertanggung jawab akan perbuatan tak senonohnya semalam. Bima bukan cowok bejat yang tidak menghargai perempuan.


"Kamu pasti mau mengulang yang semalam kan Bim?" Kayla dengan memalingkan wajah serta kedua mata yang terpejam. Kayla sangat takut jika apa yang tengah dipikirkan olahraga benar benar terjadi dan akan merusak masa depannya.


Bima terdiam. Lelaki itu terlihat merenung mencerna maksud ucapan dan gerak penolakan yang dilakukan Kayla terhadapnya.


Kemudian menarik kedua sudut bibirnya saat menyadari jika saat ini Kayla telah berfikir bahwa dirinya akan melakukan hal mesum pada gadis itu.


Tubuh Bima yang semula telah sedikit merenggang kembali menghimpit Kayla. Salah satu tangan yang mengunci dua tangan Kayla kembali mengerat.


"Maksud lo, gue bakal melakukan ini?" Bima mengikis jarak wajahnya dengan Kayla, menyemburkan nafas hangat pada wajah yang tengah memejam rapat. Dengan satu tangan lainnya merayap pada salah satu gundukan kembar Kayla dan meremasnya.


Kayla makin mengeratkan kedua matanya yang terpejam seraya menggigit bibir bawahnya saat merasakan deru nafas hangat menerpa wajahnya. Pun nafasnya tercekat kala merasakan salah satu gunung kembarnya diremas oleh tangan kekar Bima.


Degub jantung Kayla semakin naik turun tak beraturan. Ingin rasanya mendorong tubuh Bima yang tengah menindihnya namun Kayla tidak bisa melakukannya. Kedua tangannya dikunci Bima di atas kepala sedangkan kedua kakinya diapit kuat oleh kedua kaki Bima.

__ADS_1


"Seperti ini yang lo maksud Kay?" serak Bima terdengar lembut di telinga Kayla. Tak ayal menimbulkan sensasi gelenyer aneh pada tubuh Kayla.


Hidung mancung Bima mulai mengendus tulang rahang hingga menyusur pada tulang selangka gadis itu. Entah sejak kapan Bima meloloskan kerudung tipis yang Kayla kenakan, gadis itu tidak menyadarinya.


"Bim... stop. Aku takut." lirih Kayla dengan seluruh tubuh gemetar. Meski reaksi tubuhnya setengah mendamba sentuhan Bima, ingatannya membayang pada kejadian tak senonoh Bima tadi malam membuat Kayla berusaha kuat menolak reaksi aneh tersebut.


"Kenapa musti takut Kay, ada gue di sini." Bima tanpa sadar menyesap kulit dada Kayla dan meninggalkan jejak merah di sana.


Maksud hati ingin mengerjai Kayla, nyatanya Bima tidak bisa menampik reaksi tubuhnya yang kembali ingin menikmati aroma manis permukaan kulit putih gadis itu.


"Justru kamu yang membuatku takut Bim..." Jujur Kayla mengatakan isi hatinya dengan bibir bergetar.


Bima pun segera mengangkat wajah saat menyadari suara Kayla yang terdengar serak dan bergetar.


Spontan menurunkan tubuh dari atas Kayla lalu melepaskan kuncian tangannya dari kedua tangan gadis itu. Tak lupa mendaratkan kecupan singkat pada bibir gadis itu. Dengan segera mendudukkan tubuh tegapnya di atas kasur dengan tak lupa menarik tubuh Kayla agar mengikutinya duduk.


"Sorry karena udah bikin lo takut sama gue." ucap Bima lembut dengan mengusap sudut mata Kayla yang berair.


Tak urung aksi spontan tak terduga Bima membuat kedua mata Kayla mengerjap bingung. Dalam hati bertanya tanya apa sebenarnya maksud lelaki itu.


Sebentar membuat jantungnya berdegub ketakutan, sebentar membuat angannya melayang dan sebentar membuatnya nampak cengi dengan wajah bingungnya. Bahkan Kayla tidak menyadari jika Bima telah memberikan kecupan singkat pada bibirnya. Gadis itu sibuk dengan berbagai tanya yang tak berhenti berputar pada tempurung kepalanya.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" jantung Kayla kembali berdegub saat mendapati Bima sudah bertelanjang dada. Entah sejak kapan pakaian seragam yang membalut tubuh Bima telah terlepas dari tubuhnya.


🌷🌷🌷


__ADS_2