
Ada apa ini? Kenapa rumah ini ramai sekali? Batin meida memandang rumah Bi Ina yang terlihat banyak orang. Meida dengan cepat keluar dari mobil Alphard putih itu, tanpa memikirkan keberadaan jonathan dan melvin. Ia berjalan kearah rumah bi ina, sontak orang yang berada di pelataran rumah bi ina memandang tajam ke arah meida. Mereka menerka apa yang akan meida lakukan, setelah berbulan-bulan pergi dari kampung tersebut.
Banyak orang menatap tak suka kearah meida. Mereka memandang sinis meida dengan tatapan hina. Tatapan itu mengingatkan meida akan kejadian yang terjadi 10 tahun lalu. Disaat mereka menghakimi meida atas perbuatan yang tidak meida lakukan. Meida seperti orang pesakitan, yang sedang menunggu hukuman.
Meida mengabaikan tatapan itu, yang ada dipikirannya sekarang adalah tentang keberadaan sosok bi ina, wanita baik hati dan penyayang seperti ummah nya.
“Assalamualaikum.” Lirih salam di ucapkan meida dengan suara bergetar kearah perkumpulan orang yang menatap nya tajam.
“Waalaikumsalam.” Jawab mereka dengan suara ketus yang terdengar seperti terpaksa.
Melvin dan jonathan sengaja tidak mengikuti langkah meida. Mereka mengawasi meida dari dalam mobil. Jika terjadi sesuatu dengan meida mereka baru akan keluar. Kaca mobil sengaja di buka, agar mereka dapat mengetahui perbincangan orang-orang terhadap meida.
“Seharusnya wanita haram ini tak usah kembali kesini! Mengotori kampung kita saja!” Sungut salah satu ibu-ibu yang melempar bekas minum kearah meida. Meida tak gentar mendengar hinaan ibu-ibu tersebut, ia terus berjalan lurus ke depan menuju teras rumah bi ina.
“Benar! Wanita tak tahu diri ini harusnya tidak pulang kesini! Kampung kita terkena sial lagi nanti!” Umpat seorang wanita dewasa sambil menggendong anaknya.
Ya Tuhan jahat sekali mulut mereka! Berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain. Batin jonathan setelah mendengar umpatan ibu-ibu tadi, ia memandang nanar kearah meida.
Sekeras ini hidup mu ci? Bagaimana cici menjalani hidup seperti ini?
“Wanita tak punya hati! Setelah merebut suami kakaknya, apa lagi yang akan diperbuatnya? Jangan sampai ia merebut suami kita!” Ujar wanita berkisar 25 tahun, yang tak lain adalah sepupu jauh amel.
“Pelakor so alim, berkedok agama!”
Hinaan demi hinaan media terima dengan hati lapang. Ia tidak merasa melakukan apa yang mereka tuduhkan.
Meida sepahit ini hidup mu? Bagaimana kamu bisa melewatinya? Hidup dalam masyarakat yang tak mengharapkan kehadiran mu. Bagaimana perasaan mu menerima hinaan itu? Ucap melvin dalam hati, menghapus air mata yang lolos dipipinya dengan lengan bajunya.
“Cuihhh!! Seharusnya Almarhum Pak Zulkifli tidak merawat anak haram ini. Sekarang anak ini menjadi bumerang bagi keluarga pak zulkifli sendiri.” Ucap seorang wanita meludah kearah meida.
__ADS_1
Meida mendengar umpatan demi umpatan itu dengan menahan air matanya, ia sengaja menggigit bibir bawahnya dengan keras, agar air matanya tidak sampai jatuh. Ia tak ingin dianggap lemah, di depan orang yang menghinanya.
Ternyata kepergian ku bukan menghilangkan kebencian di hati mereka, tapi malah membuat mereka semakin membenci ku. Batin meida menangis, melihat kesekeliling orang yang sedang menghakiminya.
Kak adib lihat lah, mereka ternyata tak pernah tulus menerima ku. Mereka penuh kepura-puraan. Lirih meida meneteskan air matanya.
Meida dengan tegar melewati mereka sampai di depan pintu, tiba-tiba seseorang keluar dengan raut wajah masam.
Plakkk!! Plakkk!!
Tamparan keras mendarat dipipi kanan kiri meida, hingga ia mundur beberapa langkah karena kerasnya tamparan tersebut. Meida hanya mengaduh memegang ujung bibirnya yang berdarah, karena sobek.
“Berani-berani nya kamu datang kesini! Dasar anak tak tahu diri!” Umpat wanita itu dengan mata melotot kearah meida. Tatapannya seakan menguliti meida hidup-hidup.
“Wa halim, maafkan meida wa. Karena baru bisa datang kesini sekarang,” ucap meida sambil menyodorkan tangan kanannya, ia berniat mencium tangan wa halimah. Kakak dari Alm. Pak zulkifli. Bukannya menerima sondoran tangan meida, wa halimah malah menepis nya kasar.
“Kamu belum puas menghancurkan keluarga saya! Kehadiran mu adalah sebuah kesalah besar! Seharusnya Ainun dan Zulkifli tidak merawat mu! Kamu adalah malapetaka bagi keluarga ini!” Teriak wa halimah dengan suara keras. Ucapannya mengundang banyak orang untuk datang kesana. Menyaksikan meida yang dihakimi tanpa ada yang membela.
“Kesialan demi kesialan menghampiri keluarga saya setelah kehadiran mu!” Ucap wa halimah dengan mata merah, menahan tangis. Telunjuknya masih berada di depan wajah meida.
“Gara-gara kehadiran kamu, adik dan ipar ku meninggal dalam kecelakaan. Amel keponakan ku jadi gila gara-gara kau rebut suami nya. Adib Kecelakaan dan meninggal gara-gara mencari keberadaan mu. Kau belum puasa hah!”
“Wa ... sebenci itu uwa pada meida?" Tanya meida mengangkat wajahnya, menatap wa halimah dengan pandangan nanar.
“Aku membenci mu dari dulu! Tapi Zulkifli dan Ainun sangat menyayangi mu. Mereka menyayangi mu, dan rela mengabaikan anak mereka sendiri!" Jawab wa halimah dengan ucapan penuh penekanan.
“Apa salah meida wa? Sejujurnya meida tak ingin dilahirkan ke dunia ini. Tapi apa boleh buat! Meida bisa apa wa? Meida hanya bisa menerima Ketentuan yang Allah tetapkan untuk meida," sahut meida menjawab ucapan wa halimah dengan air mata yang bercucuran.
“Andai dulu Ainun tak menemukan mu. Kamu tidak akan pernah hidup di tengah-tengah keluarga kami. Seharusnya kamu sadar kehadiran mu itu tak diharapkan! Kamu hanyalah perebut. Perebut kasih sayang orang! Perebut suami orang! Perebut suami kakak angkat mu sendiri, yang keluarga nya sukarela membesarkan mu.”
“Wa harus tau! Hidup ini takdir! Uwa paham agama kan? seharusnya uwa paham akan adanya qada dan qadar! Semua ini sudah ada ketetapan nya wa, jangan terus melimpahkan semua kesalahan pada meida. Meida lelah wa, selalu disalahkan," ucap meida menangis sambil menggigit lengan bajunya.
Karena tak menerima ucapan meida, wa halimah berjalan kearah meida yang jaraknya hanya satu langkah dari nya.
“Kamu!!!” Wa halimah mendorong keras meida, sampai meida jatuh ke lantai.
Kak adib ternyata perjuangan ku sangat sulit untuk menemui mu.
“Cuihhh... Jangan pernah menggurui saya! Kamu hanyalah seegok sampah, jangan berlaga ingin menjadi berlian! Karena sejatinya kotoran lebih baik daripada kamu!” Sungut wa halimah meludah kearah meida.
__ADS_1
“Begini kah perilaku orang yang paham agama? Rela mencaci maki, menghina, dan berbuat rendah pada seseorang yang belum tentu ia salah. Apa ini ajaran yang Nabi kita ajarkan? Nabi mengajari kita untuk saling menyayangi, saling mengasihi, saling mencintai satu sama lain. Demi Allah wa, selama aku belajar mengenal agama! Agama kita! Nabi kita! Tidak pernah mengajarkan untuk seperti ini. Ilmu uwa lebih luas dari pengetahuan meida, uwa sudah merasakan pahit manis asam nya kehidupan, uwa seharusnya tau bagaimana uwa bersikap," ujar meida dengan berani mendongkak kan wajahnya menatap wa halimah tajam. Meida mengusap wajah yang diludahi wa halimah. Ia merasa terhina karena wa halimah meludahi wajahnya.
“Heh Jangan sok suci! Jangan sok pintar!” Ucap wa halimah sambil menjambak hijab meida.
“Ampun wa ... lepasin meida.”Tangis pilu meida berusaha melepas tangan wa halimah dari kepala nya.
"Beginilah akibatnya jika kamu berani menantang saya!" Wa halimah terus menjambak kepala meida, hingga hijab meida di buat acak-acakan.
“Cici...” Jonathan lari kearah meida, ia melepaskan cekalan tangan wa halimah dari kepala meida dengan kasar. Dengan berlinang air mata jonathan memeluk meida, ia menatap wa halimah dengan wajah memerah. Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana, karena mereka saling berpelukan.
“Oh ternyata, kelakuan mu lebih hina meida! Hijab mu hanya kedok untuk menutupi kelakuan bejat mu. Lihat lah oleh kalian! Zulkifli mendidik nya dengan baik. Tapi anak tak tahu diri ini malah mencoreng nya! Dengan beraninya melakukan hal yang tidak senonoh di depan kita! Memang buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya!" Teriak wa halimah mengejek kearah jonathan dan meida dengan pandangan meremehkan.
“Jangan hina cici seperti itu! Kalian tak pantas menghinanya! Kalian tak pantas menghakiminya! Kalian tidak tahu betapa sulit perjuangan cici untuk bertahan hidup di dunia ini! Seharusnya kalian berpikir dulu sebelum mencemoohnya, sebelum menghinanya, sebelum mengumpat nya! Kalian tidak tahu penderitaan yang selama cici ini alami. Bagaimana rasanya hidup di buang? Rasanya hidup dikucilkan? Seharusnya kalian berpikir, bagaimana hidup kalian jika jadi dia. Asal kalian tahu, setiap orang tidak bisa memilih dari rahim siapa ia lahir, dari keluarga mana dia berasal. Mereka hanya ingin hidup di cintai, di sayangi sepenuh hati, hadir nya dihargai. Tak lebih dari itu! Tak ada anak yang ingin di buang! Tak ada anak yang ingin berpisah dari orang tuanya! Kalian puas membenci dan mengucilkan cici selama beberapa tahun ini?? Apa yang kalian dapatkan?? Kalian tidak dapat apa-apa bukan?? Hanya kepuasan hati, hanya penyakit hati. Harus kalian ingat! Bahwa hukum karma itu ada, hukum karma itu berlaku. Sejatinya hari ini kalian menghina cici, mungkin besok kalian yang dihina orang. Mungkin sekarang terjadi pada cici ku, mungkin besok terjadi pada diri kalian atau anak kalian!” Ucap jonathan dengan lantang sambil memeluk erat meida yang sedang menangis. Jonathan melihat tajam satu persatu orang yang menghina cicinya. Air mata terus menetes di wajah jonathan, seiring delikan tajam matanya.
Suasana menjadi hening, orang yang menghina meida tidak berani mengeluarkan umpatan nya lagi. Mereka diam seribu bahasa, setelah mendengar ucapan lantang jonathan.
“Meida, jo.. Ayoo kita pergi dari sini!" Ajak melvin yang sudah berdiri dibelakang meida dan jonathan sedari tadi.
Melvin dan jonathan memapah meida untuk berdiri. Walaupun lututnya sakit, meida berusaha jalan dengan kaki terpincang-pincang.
Meida, melvin dan jonathan berjalan meninggalkan teras rumah itu. Meninggalkan orang-orang yang bungkam, yang tidak mengeluarkan umpatan lagi terhadap meida.
“Apa yang terjadi? Kenapa ramai sekali? Kenapa kalian berkumpul di teras rumah saya?” Ucap suara lemah wanita paruh baya, yang keluar menggunakan daster panjang dengan wajah pucat. Mata nya terlihat sembab, akibat terlalu lama menangis ditinggalkan anak semata wayangnya.
“Bi ina ...” Lirih meida dengan suara bergetar, ia membalikan tubuhnya menatap wajah bi ina dengan berderai air mata. Wanita baik itu kini terlihat kurus dengan kantong hitam di kedua matanya, dengan syal yang melilit dilehernya. Bertanda bahwa pemilik suara lemah itu sedang tak baik-baik saja.
“Meeiiddaaa,” Gumam pelan suara bi ina dengan mata berkaca-kaca menatap meida dalam. Ia seperti bermimpi bertemu wanita yang dicarinya selama ini, wanita yang sangat di cintai anaknya.
-
-
Bersambung
Kuyylah vote, like, subscribe, sama hadiahnya ♥️
Thanks buat reader yang masih stay di novel receh ini.
Hatur nuhun🤗♥️
__ADS_1