Kita Berbeda

Kita Berbeda
Yaa Tuhan


__ADS_3

“Daddy!” Teriak andress sambil membuka pintu ruang gilbert dengan kasar. Wajah andress merah, karena sedang menahan amarah. Gilbert yang sedang duduk di kursi itu dibuat kaget oleh kelakuan andress, ia menatap sang anak dengan tatapan menghujam.


“Kalau masuk kesini, ketuk pintu dulu! Jangan main nyelonong aja!” Kesal gilbert sambil menggebrak meja kerjanya yang penuh dengan berkas. Andress menatap dalam wajah gilbert, sampai matanya memerah, menahan amarah.


“Kenapa daddy mengusir jonathan hah? Kenapa dad??” Tanya marah andress dengan pandangan tak beralih dari wajah daddy-nya.


“Jangan menatap daddy seperti itu! Daddy gak suka! Jangan bertingkah gak sopan terhadap orang tua!” Ucap gilbert marah sambil bersedekap dada. Gilbert menjeda ucapannya sambil berjalan kearah sofa yang berada di ruangannya.


“Daddy hanya menggertak nya saja! Daddy hanya memberi dia pelajaran, karena berani melawan perintah Daddy,” ucap gilbert kemudian setelah membalikkan tubuhnya kearah andress. Gilbert menatap andress tak kalah tajam. Seperti harimau yang sedang menatap mangsanya.


“Menggertaknya?? Kalau untuk menggertak, seharusnya daddy tak perlu mengusirnya dari rumah! Gimana kalau terjadi sesuatu dengan jonathan dad? Apa daddy mau bertanggungjawab hah?” Teriak andress marah. Ia tak mengerti jalan pikiran daddy nya seperti apa.


Gilbert menghampiri andress dengan tangan mengepal.


“Dia sudah besar, bukan anak kecil lagi! Dia bisa menjaga dirinya sendiri!” Teriak gilbert dihadapan wajah andress dengan tangan menunjuk kearah luar.


“Daddy tak mengkhawatirkannya sama sekali?” Tanya parau andress dengan meneteskan air mata. Ia menanyakan  perasaan daddy nya ketika ditinggal anak bungsunya, ternyata respon nya malah seperti ini.


“Kamu terlalu lebay! Jangan terlalu mengkhawatirkan jonathan! Dia sudah mampu menghidupi dirinya sendiri, buktinya dia berani membantah ucapan daddy!” Sinis gilbert, sambil mengusap bahu anaknya. Andress dibuat kecewa dengan jawaban daddy-nya. Ia menangkap tangan gilbert yang ada dibahunya, menatap tangan itu lalu menatap dalam wajah daddy nya dengan mata berkaca-kaca.


“Dad! Dia masih kecil! Dia seperti itu karena kita!” Tegas andress sambil menangis. Bukannya sadar, gilbert malah mengatupkan rahangnya keras, pertanda ia sedang memendam amarahnya.


“Kenapa kamu menyalahkan daddy? Kamu mau ikut-ikutan seperti jonathan! Jadi anak kurang ajar hah!” Teriak Gilbert marah sambil menunjuk-nunjuk wajah andress.


“Bukalah hati daddy! Turunkan ego! Jangan terus menuruti hawa nafsu, hingga mengabaikan buah hati daddy sendiri! Daddy adalah kepala keluarga ... daddy adalah panutan kami. Harusnya daddy mengayomi, memberi contoh! Bukan malah begini. Daddy ingin, kehilangan di keluarga kita terulang lagi? Apa belum cukup jaslin jadi korban keegoisan kita? Kehilangan jaslin sudah membuat kita menyesal seperti ini. Jangan menambah penyesalan kita dengan kepergian jonathan...” ucap andress panjang lebar dengan menatap tajam wajah gilbert. Air mata bercucuran dipipinya.


“Cukuppp!!! Sudah selesai kau menyalahkan daddy? Harusnya kau sadar kepergian jaslin akibat dari kami terlalu menyayangi mu! Terlalu memanjakan mu! Kau masih ingat ke pergian jaslin malam itu? Jika kau tak menahan daddy, mungkin jaslin tak pernah hilang seperti ini!” Ucap marah gilbert dengan membuka memori kelam yang sangat menyakiti perasaan andress. Padahal andress berusaha menghapus kenangan buruk itu, tapi daddy-nya sendiri yang malah membukanya. Tubuh Andress merosot ke lantai dengan tangan menangkup wajahnya.


“Sudah jangan ingatkan kejadian kelam itu! Hati andress sakit ketika mendengarnya! Andress menyesal!" Andress memukul dadanya kencang untuk menenangkan perasaannya. Gilbert hanya diam, menyesali ucapannya barusan. Dengan perasaan yang kacau balau andress berdiri, memandang tajam Gilbert diantara air matanya.


“Jangan salahkan andress, jika nanti hidup daddy diliputi dengan banyak penyesalan! Kejarlah apa yang daddy inginkan! Karena harta yang daddy kejar akan menjadi boomerang untuk daddy sendiri! Jangan salahkan andress, jika semua anak daddy membenci daddy! Karena itu buah dari keegoisan daddy selama ini! Jangan salahkan kami,  jika nanti kami menjauhi daddy! Apa yang daddy tanam sekarang, nanti daddy tuai sendiri!” Ucap andress meninggalkan gilbert sambil membanting pintu itu keras.


“Dasar anak kurang ajar! Aku terlalu memanjakannya, hingga sikap dia seperti ini!” Gerutu gilbert sambil menendang sofa.


-


Di ruang santai, setelah meida shalat magrib. Jonathan sedang sibuk membaca buku-buku sejarah islam. Sedangkan meida sedang sibuk membuat huruf Hijaiyah di kertas HVS, untuk belajar jonathan sebelum membeli iqra.


Setelah selesai membaca buku itu, jonathan menghampiri meida, dan memperhatikan satu persatu huruf arab yang ditulis meida.


“Ci, ini huruf alif kan?” Tanya jonathan sambil menunjuk huruf yang ditulis meida.


“Benar jo, kamu tahu darimana?” Tanya meida dengan senyum mengembang. Ia memandang haru kearah jonathan, ia dibuat bangga karena jonathan sangat bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama Islam. Dari tadi jonathan serius membaca buku tentang bimbingan shalat yang meida berikan padanya, lalu ia membaca buku sejarah Islam yang baru tadi dibelikan meida.


“Jo baru mengingat satu huruf ini, karena huruf ini gampang diingat. Huruf ini seperti angka satu ci.” Jawab jonathan dengan senyum lebar.


“Belajarnya perlahan-lahan aja jo, biar kamu mudah menghafalnya. Biar sedikit tapi tercerna di otak kamu,” ujar meida sambil mengelus pelan rambut jonathan.


“Iya ci. Yang sabar yah dalam mengajar jo! Bimbing terus jo ke jalan yang lebih baik.” Balas jonathan


“Insya Allah. Semoga umur cici panjang, supaya cici  bisa terus membimbing mu,”


“Amin ci, semoga tuhan memanjangkan umur cici.” Doa jonathan sambil memegang tangan meida.


“Ci sekarang jo mau pulang dulu, jo ada keperluan,” ucap jonathan berpamitan sambil menatap lembut mata meida. Meida dibuat bingung dengan tatapan jonathan.


“Tumben-tumbenan jam segini kamu mau pulang? Emang kamu mau kemana jo?” Tanya meida sambil membalas genggaman tangan jonathan.


“Jo ada kepentingan diluar ci, ada sesuatu yang mendesak,” ujar jonathan. Ia tidak memberitahu meida, bahwa malam ini ia akan menemui om nya.


“Ohh baiklah! Kamu jangan keluyuran, jangan pulang malam-malam!” ucap meida sambil mengelus rambut jonathan.


“Siap ci. Jo pergi dulu yah.” Jonathan berdiri dari duduknya, ia berjalan kearah pintu. Tiba-tiba meida bertanya, spontan jonathan menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


“Kamu punya pegangan uang jo? Kalau tidak ada, peganglah ATM mu ini!” ucap meida sambil mengambil kartu debit di casing ponselnya.

__ADS_1


“Jo punya ci, ko melvin sudah memberi jo jatah uang jajan setiap minggu. ATM itu gunakanlah oleh cici untuk membeli kebutuhan, karena setiap hari jo dan ko melvin makan disini.” Jawab jonathan sambil membuka pintu ruang santai itu.


“Baiklah. Nanti cici belanjakan tapi bareng kamu! Cici gak mau belanja sendiri.”


“Siap ci. Nanti cici belanja diantar jo.”


-


Pukul 19:00.


Jonathan sudah siap dengan pakaian yang dibelikan melvin. Celana training berwarna hitam dipadukan dengan hoddy berwarna putih, penampilan sederhana tapi terlihat menawan. Jonathan buru-buru pergi dari apartemen nya, setelah terlebih dahulu mengabari melvin bahwa ia akan keluar malam ini. Kebetulan malam ini melvin belum pulang dari rumah orang tuanya.


Jonathan berlari kearah taksi online yang sudah menunggunya. Ia sudah memesannya ketika masih berada di apartemen.


“Dengan mas jonathan?” Tanya driver itu sambil membuka kaca mobilnya.


“Iya pak saya. Ini dengan Pak Andri?” Tanya jonathan memastikan bahwa driver itu yang akan mengantar perjalanan nya sesuai yang diorder nya.


“Betul sekali mas. Silahkan masuk! Tujuan mas ke kafe Lilyhan yang berada di jalan anggrek kan?” Tanya driver itu kembali. Usia driver itu berkisar sekitar kepala tiga.


“Betul sekali pak. Alamatnya sesuai yang tertera di aplikasi.” Jawab jonathan sambil menutup pintu.


“Silahkan dipakai safety belt nya mas! Biar aman,” ucap ramah driver itu sambil melihat jonathan memakai safety belt.


“Sudah pak.” Jawab jonathan setelah memakainya.


“Berangkattt!" Teriak konyol driver itu, mengagetkan jonathan.


-


Jonathan tiba di kafe itu sekitar pukul 19:45. Ternyata louis johan sudah lebih dulu menunggu nya di ruang kerjanya. Sang kasir langsung mengarahkan jonathan keruang omnya, karena kasir itu sudah tahu bahwa jonathan adalah keponakan yang sedang ditunggu oleh bos nya.


-


“Om johan!!” Teriak jonathan setelah membuka pintu. Ia langsung berlari kearah johan yang memakai kursi roda lalu memeluknya erat.


“Iya om. Jo sangat merindukan om. Gimana kabar om?” Tanya jonathan sambil melerai pelukannya. Ia menatap wajah johan dengan senyum kerinduan


“Om sehat jo. Cuman akhir-akhir ini om lumayan sibuk.” Terang johan sambil mengelus kepala keponakannya.


“Syukurlah jika om sehat. Tante dian sehat om?” Tanya jonathan kemudian


“Istri om sehat jo. Semua keluarga om sehat. Nih om bawakan oleh-oleh buat kamu.” Ucap johan sambil menuntun jonathan ke sofa. Ia menyondorkan kotak hitam berukuran kecil kearah jonathan.


“Ini apa om? Padahal om gak usah repot-repot bawain jonathan buah tangan segala.” Jawab jonathan sambil mengambil kotak hitam itu.


“Bukalah! Semoga kamu suka Jo.” Senyum lebar johan setelah menyuruh jonathan membuka kotak hitam itu. Jonathan langsung membukanya dengan wajah terkejut dan bahagia.


“Wahh ... bagus sekali om, jo sangat menyukainya.” Dengan mata berbinar, jonathan mengambil jam berwarna hitam itu dan langsung memakainya. Johan memperhatikan gerak-gerik jonathan ketika memakai jam itu.


“Itu sangat cocok sekali dipakai kamu jo.” Puji johan.


“Kamu ada masalah apa jo sampai menghubungi om?” Tanya johan sambil memandang wajah jonathan yang sedang memperhatikan jam tangannya. Mendengar pertanyaan dari johan, jonathan langsung mengangkat kepalanya menatap wajah johan dengan serius.


“Ohh itu ... ada yang ingin jo tanyakan pada om. Tapi jo mohon, om jawab dengan sejujur-jujurnya.” Pinta jonathan yang langsung diangguki kepala oleh johan.


“Iya jo. Om pasti menjawabnya dengan jujur. Apa yang ingin kau tanyakan jo.” Jonathan memandang dalam wajah johan, begitupun johan.


“Ini tentang cici jaslin!” ucap tegas jonathan yang langsung membuat wajah johan shock.


“Jaslin???” Tanya ulang johan dengan mata melotot


“Jo ingin menunjukkan sesuatu pada om,” ujar jonathan sambil mengambil ponsel di saku Hoodie putihnya. Ia membuka foto yang berada di galeri ponselnya,  yang menunjukan sebuah foto berwarna hitam putih, yang ditunjukan bi ina waktu mereka berada di Bandung.


“Lihat baik-baik om!" Ucap jonathan sambil menyondorkan ponsel itu kearah johan. Johan dibuat kaget dengan foto itu, ia menutup mulut dengan sebelah tangannya.

__ADS_1


“Darimana kau dapatkan foto ini jo?” Tanya johan dengan wajah pias.


“Tak penting jo dapatkan darimana? Menurut om, apa foto ini adalah foto cici jaslin?” Tanya jonathan dengan menatap dalam wajah johan. Ia ingin kebenaran itu secepatnya terungkap.


“Om tak bisa menyimpulkan ini jaslin atau bukan. Tapi potret ini benar-benar persis dengan foto jaslin ketika bayi. Jujur sama om, kamu dapat foto ini darimana?” Tanya balik johan, menyelidik kearah wajah jonathan.


“Dari seseorang om. Dari bibi nya bayi yang ada difoto ini. Jo mohon, tolong om ceritakan mengenai ciri-ciri cici jaslin, entah dari tanda lahir atau apa?” Ucap jonathan dengan wajah menghiba. Johan membenarkan posisi duduknya, lalu memegang bahu jonathan.


“Menurut Istri om yang mengasuh jaslin ketika bayi. Jaslin memiliki tanda lahir bulan sabit di telapak tangan kanannya dan tanda lahir hitam di bawah telinganya. Sebelum kepergiannya, jaslin memakai kalung berlian bermata biru, hadiah dari kakek buyut mu. Itu ciri-ciri jaslin yang om dan tante ketahui jo,” ucap johan dengan mata tertutup sambil memijit pangkal hidung nya pelan. Jonathan dengan seksama mendengar penjelasan dari louis.


“Om gak bohong kan?” Tanya jonathan memandang wajah johan dengan seksama.


“Demi Tuhan om gak bohong jo! Om tidak berani membohongi mu. Percayalah dengan ucapan om.”


“Baik om. Jo pegang kata-kata om.” Jonathan merasa tenang setelah mendengar jawaban johan. Sekarang ia tinggal memastikan ciri-ciri itu pada diri meida.


“Apa kamu selama ini mencari jaslin jo?” Tanya johan membuyarkan lamunan jonathan.


“Iya om. Jo mencari cici jaslin tanpa bantuan daddy maupun ko andress.” Jawab Jonathan dengan wajah sendu. Johan pun langsung mengelus rambut jonathan penuh kasih


“Om juga sedang mencari cici mu jo. Om sudah lima belas tahun lebih berkeliling mencari cici mu ke setiap panti asuhan. Semua panti asuhan yang berada di Jawa Timur sudah om datangi, tapi sampai sekarang om belum menemukannya,” ujar pilu johan dengan mata berkaca-kaca. Jonathan memegang tangan om nya, lalu menciumnya.


“Terima kasih sudah mencari cici om. Do’akan jo, semoga jo bisa menemukan cici dengan secepatnya.”


“Om selalu mendoakan mu jo. Semoga kita sama-sama menemukan cici mu.” Doa johan sambil mengelus kepala jonathan yang berada dipangkuannya.


-


Jam setengah sepuluh jonathan baru pulang dari cafe johan. Ia membuka ponselnya, untuk melihat pesan masuk dari nomor meida.


[Kamu sudah pulang jo?] Isi pesan dari meida


[Belum ci, jo masih di jalan] Jonathan menulis balasan ke nomor meida dengan tersenyum, ia bahagia, karena masih banyak orang yang memperhatikan dan menyayanginya.


Disaat jonathan sedang menunggu taksi, tiba-tiba ia teringat dengan ucapan johan. Ia mengingat bahwa meida memiliki tanda lahir ditangannya. Jonathan langsung berinisiatif menanyakan langsung  kepada meida lewat chat, karena tak mungkin ia bertamu malam-malam ke apartemen meida, hanya untuk menanyakan tanda lahir nya.


Dengan tangan bergetar dan jantung bertalu-talu, jonathan mengetik pesan di papan keyboard ponselnya. Lalu ia mengirimnya langsung ke nomor meida.


[Cici punya tanda lahir bulan sabit ditelapak tangan yah?] Tanya jonathan agar meida tak mencurigainya. Jonathan menunggu balasan dari meida dengan wajah pucat, wajahnya seperti tak dialiri darah sama sekali.


Ting! Suara itu langsung menggerakan hati jonathan untuk langsung membukanya.


Setelah membuka pesan itu, jonathan langsung membaca balasan pesan dari meida. Mata jonathan langsung melotot dengan mulut yang menganga. Air mata perlahan-perlahan turun di wajahnya.


[Kamu tahu darimana cici punya tanda lahir ditangan? Ternyata kamu pengamat ulung jo hahaha] Pesan singkat meida yang berhasil memporak-porandakan hati jonathan.


“Yaa Tuhan!!!” Teriak jonathan dengan air mata bercucuran. Perasaannya campur aduk, antara bahagia dan terluka. Dadanya sesak dengan napas yang tersengal-sengal.


Padahal aku tahu kenyataannya akan seperti ini! Tuhan, kenapa hatiku sakit sekali!


-


-


Waduh di Sukabumi setiap hari padam listrik guys😥 Malam juga listrik mati lagi dari jam 7-11 malam, padahal baru nyala beberapa jam. Tadi pagi mati lagi nyala-nyala siang😭


Mudah-mudahan dari malam ini sampe seterusnya gak padam listrik lagi, setelah tadi siang diperbaiki oleh pihak PLN-nya.🤲


Padahal bayar listrik tiap bulan gak pernah telat, tapi sering aja matinya😥 Maaf yah otor curhat, kalau masalah ginian suka pusing ke kepala 😌


Jangan lupa like, sama hadiahnya 🤗


Sumpah otor nulis ini penuh perjuangan wkwkwk, otor sengaja up banyak, mumpung otaknya lagi waras😂


Hatur nuhun buat reader yang masih setia di novel amatiran ini ♥️ Hatur nuhun buat likenya, komennya, votenya, sama hadiahnya 🥰🥰

__ADS_1


Sukses selalu buat kalian🤗


__ADS_2