
"Kamu mau apa?" jantung Kayla kembali berdegub saat mendapati Bima sudah bertelanjang dada. Entah sejak kapan pakaian seragam yang membalut tubuh Bima telah terlepas dari tubuhnya.
Baru saja merasa sedikit lega karena Bima telah membebaskan tubuhnya dari himpitan lelaki itu. Kini Kayla harus dihadapkan dengan dada telanjang Bima yang berotot.
Bisa bisa Kayla yang menjadi khilaf nanti.
"Menurut lo gue mau apa?" Bima sengaja mencari jawaban dari Kayla agar gadis itu mengungkapkan isi hatinya. Bima ingin tahu seberapa nethinknya Kayla terhadap dirinya.
"Mana aku tahu." Kayla melirik sekilas pada dada bidang Bima yang berotot. Kemudian merapatkan kedua tangan menyilang di depan dadanya. Seolah menunjukkan bahwa Bima hendak melakukan sesuatu hal mesum pada gadis itu.
Pletak.
"Otak lo selalu saja nethink ke gue, itu yang bikin salah paham." Bima dengan menyentil pelan kening Kayla.
"Aku nggak salah paham kok." Kayla makin mengeratkan kedua tangannya yang masih menyilang di depan dada.
"Gue nggak akan ngapa ngapain lo." Bima dengan melirik pada dada Kayla yang terutupi kedua tangan gadis itu.
"Kalau nggak ngapa ngapain dijaga itu mata. Jangan bikin orang nethink." Kayla semakin mengeratkan kedua tangannya.
Bima terkekeh.
"Nggak usah kek gitu, malah bikin gue tambah nafsu."
Kayla mendelik mendengar ucapan Bima. Lagi lagi ucapan lelaki itu menjurus ke arah mesum.
"Ambilin gue kaos lo yang besar, gerah." perintah Bima untuk mengakhiri pikiran Kayla yang selalu negatif thinking kepada nya.
"Hah... emangnya kamu nggak pulang Bim?"
"Nanti. Gue masih mau di sini. Kenapa? Nggak boleh?" cerocos Bima santai saat melihat tatapan tak suka dari Kayla.
Sungguh seumur umur baru kali ini, Bima bisa santai dan banyak omong dengan seorang perempuan.
Padahal baru kemaren dia, mengenal lebih dekat Kayla setelah tabrakan tak sengaja mereka di mall beberapa waktu lalu.
Kayla pun beranjak dari atas kasur. Lebih baik ia segera menemukan kaos untuk Bima agar matanya tidak ternodai roti sobek Bima.
"Nggak ada yang lain apa Kay, masak warnanya pink kek gini?" Bima menatap makas pada kaos pink di tangan Kayla tanpa ada niatan untuk mengambilnya.
"Ini yang paling besar Bim. Nggak ada yang lain."
Dengan malas Bima meraih kaos pink daru tangan Kayla.
__ADS_1
"Hello kitty gini Kay?!" pekik Bima dengan melotot saat terpaksa mengambil kaos dari tangan Kayla dan membuka lipatannya.
"Kalau nggak mau pakek aja seragam kamu lagi."
Ck...
Bima berdecak. Namun demikian lelaki jangkung bkasteran Jerman tersebut tetap memasukkan kaos pink hello kitty itu melewati kepalanya guna membalut dada toplesnya.
"Mayan." ucap Bima saat merasakan kaos pink itu dapat melekat nyaman pada tubuhnya. Apalagi aroma pewangi pakaian yang Kayla gunakan tercium lembut menenangkan.
Kayla hanya melirik sekilas pada Bima sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, hendak keluar.
Berlama lama dekat dengan Bima sudah dapat dipaastikan jika dirinya bisa kena serangan jantung di usia muda.
"Mau kemana?" Bima menahan satu tangan Kayla.
Lagi lagi membuat Kayla harus menghela nafas.
"Dapur."
"Ngapain?"
"Mau makan, aku laper Bim."
Bahkan basi padang yang seharuanya menjadi asupan makan siangnya kemarin telah Kayla lewatkan akibat Bima yang telah menghancurkan moodnya.
"Elo belum makan?"
"Menurutmu?"
"Sejak pagi?" Bima tetiba saja khawatir pada gadis itu.
"Sejak kemarin." jujur Kayla bukan bermaksud membuat Bima iba kepadanya namun memng itulah kebenarannya.
"Whats??" pekik Bima kaget. Lalu mengambil langkah mendekati Kayla.
"Pantas lo keliatan pucet." Bima dengan mengusap lembut pipi Kayla. Namun gadis itu buru buru menepisnya.
"Nggak usah hiperbolis."
Bima mengulum senyum.
"Okey. Mari kita ke dapur. Gue bakal buatin lo makanan istimewa." Bima dengan berjalan lebih dulu, tak lupa menarik tangan Kayla untuk ikut keluar bersamanya.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri Bim." Kayla berusaha berdiri dari kursi kayu usang, dimana Bima telah memaksanya duduk beberapa saat lalu.
"Biar aku saja Kay, lo duduk aja. Nanti tinggal makan." ucap Bima dengan berdiri di depan kompor. Lelaki itu terlihat celingak celinguk mencari sesuatu.
Tak berapa lama kemudian menoleh ke belakang, dimana Kayla duduk.
"Bahan makanannya cuma ini Kay?" Bima mengacungkan seikat bokcoy di hadapan Kayla.
Kayla mengangguk.
"Nggak ada persediaan osis atau ayam gitu di kulkas lo?"
"Aku nggak punya kulkas Bim."
"Owh... sorry." Bima bukan bermaksud merendahkan Kayla namun dirinya memang sedikit lupa jika saat ini bukan sedang di dapur rumahnya.
Kayla hanya diam tak menyahut. Gadis itu kemudian beranjak mendekat pada Bima.
"Biar aku buat makanan sendiri, aku cuma mau goreng telur aja." Kayla mendorong tubuh jangkung Bima dengan sikunya agar lelaki itu menjauh dari kompor.
"Lo udah ada nasi?" Bian masih berdiri memaku di tempatnya.
"Seharusnya ada." Kayla melangkahkan kaki mendekat pada rice cooker kecil ukuran 1 sampai 2 literan. Setiap hari sebelum berangkat sekolah, gadis itu selalu memasak nasi agar saat dirinya sampai di rumah sewaktu waktu bisa makan. Untuk sayur dan lauk, bisa ia beli di warung sepanjang jalan menuju rumah kontrakannya. Kalau tidak, Kayla bisa menggoreng telor yang selalu ia sediakan di dapur rumahnya.
"Alhamdulillah ada." Kayla kemudian mencabut kabel rice cookernya yang masih menancap stop kontak setelah membuka penutup rice cooker dan mendapati nasinya kemarin masih utuh.
"Nasi goreng mau?" Tiba tiba Bima telah berada di belakang punggungnya.
"Bisa nggak sebentar aja nggak bikin aku jantungan Bim." Kayla memegang dadanya terkejut. Karena mulut Bima tepat di daun telinga kirinya dan membuat pipi Kayla bersentuhan tak sengaja dengan bibir itu saat membalik wajah karena kaget.
Bima hanya memanjangkan bibir tersenyum tanpa menyahut. Kedua tangannya mengambil alih alat penanak nasi dari tangan Kayla dan membawanya kembali mendekati kompor.
Lagi lagi Kayla harus merasakan debar jantungnya yang berdetak rancak akibat kedua tangannya bersentuhan dengan tangan milik Bima.
"Lo duduk aja biar gue yang masak." Bima tanpa menoleh saat Kayla bergerak mendekat.
"Aku bi..."
"Gue nggak mau dibantah Kay."
Ucap tegas Bima membuat Kayla mulu tak mau kembali berjalan menuju kursi kayu usang yanv menjadi tempatnya duduk beberapa saat lalu.
"Kenapa dia terlihat lihai sekali. Sepertinya Bima lebih jago masak dariapada aku." tanpa sadar Kayla memuji pergerakan tangan Bima yang lincah saat mengupas kulit bawang. Tidak ada drama mata pedih atau adegan salah memotong tangan saat menggeprek bawang dan mencincangnya kasar. Seperti terlihat biasa melakukan kegiatan tersebut.
__ADS_1
🌷🌷🌷