Kita Berbeda

Kita Berbeda
Tak Sekuat Mereka


__ADS_3

“Pak Albert yakin kebakaran ini di sengaja?” Tanya salah satu teman pengacaranya yang sedang duduk di sampingnya. Sore itu mereka sengaja berkumpul di ruang meeting di kantor yang di miliki salah satu dari mereka.


“Saya sangat yakin Pak Surya. Semua bukti menunjukkan kejadian ini di sengaja. Saya yakin ini adalah perbuatan Nyonya Grace, istri dari Tuan Maxime. Karena sebelum kejadian ini, dia datang mengunjungi kantor saya.” Jawab Albert sambil melepaskan kacamatanya. Teman satu profesinya yang berada di ruang itu nampak bengong. Karena mereka tahu satu persatu anggota keluarga Atmadja.


“Apa Pak Albert yakin ini ada kaitannya dengan Nyonya Grace?” Tanya menyelidik salah satu temannya, sambil melipat tangannya.


“Saya yakin pak. Semua ini ada kaitannya dengan dia! Sebelum kejadian kebakaran itu terjadi, satu harinya dia mengancam saya, karena saya tak memberikan surat wasiat yang kita emban selama ini. Dia sumpah serapah di kantor saya, setelah itu pergi dengan marah-marah. Untungnya saya sudah mengamankan surat itu, dan copy an nya sudah saya share pada bapak-bapak semua. Karena sebelum kebakaran itu, kantor saya mengalami perampokan sehari sebelumnya, bertepatan malam setelah Nyonya Grace datang ke kantor saya. Dan anehnya, Perampok itu hanya merampok berkas-berkas saya. Padahal di ruang saya ada beberapa unit computer yang masih baru.” Tutur Albert sambil menyeruput kopinya.


“Apa CCTV kantor bapak juga di rusak oleh mereka?” Tanya yang lainnya sambil menggaruk-garuk dagunya tanda sedang berpikir.


“Sepertinya iya. Karena CCTV Kantor saya tiba-tiba rusak sebelum kejadian perampokan tersebut. Jadi Fix, ini semua berkaitan.”  Semua lawyer yang berada di ruang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyetujui apa yang di ucapkan oleh Albert.


“Saya yakin. Dia pasti sudah mengetahui sedikit tentang wasiat itu.” Albert memijit pelan kepalanya sambil memakai kembali kacamatanya.


“Itu bukan masalah besar. Karena yang dia curi, hanya 1 lembar copy an. Jadi dia belum tahu semuanya.” Semua yang berada di ruang itu menarik napasnya. Mereka tenang, karena copy an wasiat itu tidak jatuh ke tangan Grace.


“Padahal selama ini dia diam-diam saja. Tapi setelah ditemukannya putri Pak Gilbert, dia seperti ketakutan.” Tutur pak surya sambil melonggarkan dasinya. Albert yang sedang duduk disampingnya, langsung menatap bingung kearah pak Surya.


“Ketakutan apa?” Tanya yang lainnya sambil mengarahkan semua matanya kearah Pak Surya.


“Ketakutan gak kebagian harta haha.” Tawa pak surya yang diikuti oleh yang lainnya.


“Sepertinya iya. Dia takut gak kebagian harta warisan Tuan Max yang banyak itu.” Kekeh salah satu lawyer sambil menyugar rambutnya.


“Rencana saya, setelah mengumpulkan bukti-bukti. Saya akan langsung melaporkanya!”


“Kapan kita akan menyampaikan wasiat ini?” Tanya salah satu dari mereka.


“Saya hanya mengikuti perintah dari Alm. Tuan Max. Kita akan memberitahunya ketika putra kandung dari Istri pertamanya kembali. Tuan Max tak memberi banyak petunjuk, karena lebih dulu berpulang. Jadi kita tunggu aja! Karena saya yakin, sebentar lagi putranya akan datang!”


-


Setelah shalat ashar, meida berdiam diri di kamar yang sudah dipersiapkan untuk nya. Kamar yang berukuran besar yang furniturnya sangat lengkap.


“Ci ayoo makan! Sudah di tunggu sama orang rumah di meja makan!” Meida tak menjawab ajakan adiknya. Ia terlalu fokus melamun memikirkan Melvin sampai tak mendengar suara Jonathan. Jonathan masuk ke kamar meida, dan duduk di samping sajadahnya.


“Heyy heyy, cici kenapa?” Meida terhenyak ketika Jonathan meniup wajahnya. Meida mencubit pipi adiknya dengan kesal.


“Kamu ngagetin cici aja Jo!” Jonathan terkekeh mendengar penuturan cicinya. Ia menangkup wajah meida dengan kedua tangannya.


“Cici yang ngelamun dari tadi! Ada apa? Cerita sama Jo.” Meida berdiri lalu merebahkan tubuhnya yang masih mengenakan mukena ke ranjang. Ia memejamkan matanya sambil mengusap dadanya.


“Entahlah Jo, dari tadi perasaan cici gak enak. Bawaannya gelisah, cici takut terjadi sesuatu dengan Koko mu itu. Dari tadi belum ada kabar, mana ponselnya malah gak aktif lagi!” Jonathan duduk di samping Meida sambil memijit kakinya.


“Do’ain aja, mudah-mudahan ko Melvin baik-baik disana. Mungkin dia sedang sibuk. Positive thinking aja ci.” Meida menggigit bibirnya sambil melihat kearah langit-langit kamar.

__ADS_1


“Cici selalu doa'in dia Jo. Tapi gak tahu kenapa, cici mengkhawatirkannya. Perasaan itu tiba-tiba hadir setelah kepergiannya tadi.”


“Emang tadi Ko Melvin pamit pergi kemana?” Tanya Jonathan yang ikut merebahkan dirinya di samping meida.


“Katanya sih mau pulang dulu, ada masalah yang harus segera diselesaikannya. Tapi dia gak bilang masalah apa-apanya sama cici.” Jonathan membulatkan matanya, ia mengingat sesuatu.


Ya Allah, apa ini berkaitan dengan berita yang Jack sampaikan barusan.


“Apa cici sudah lihat berita trending hari ini?” Meida menggelengkan kepalanya menatap bingung kearah adiknya.


“Emang berita apa Jo?” Meida menyampingkan posisi tubuhnya kearah Jonathan.


“Berita tentang Ko Melvin yang sudah memeluk Islam. Ini sedang viral ci.” Meida membulatkan matanya menatap dalam adiknya.


“Kamu serius Jo? Ya Allah, cici baru dengar. Cici jarang buka ponsel, apalagi buka berita.” Meida langsung mengambil ponselnya yang berada di dekat kepalanya sambil kembali menggigit bibirnya.


Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya. Kuatkan dia untuk menghadapinya


Dimana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja. Do'a meida yang kembali melamun.


“Yeayy malah ngelamun lagi. Ayoo kita makan! Jo laper banget nih!” Meida menggelengkan kepalanya untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia bangun untuk melipat mukenanya, lalu menyeret adiknya menuju meja makan.


Meida menuruni anak tangga menuju lantai 1 dengan menggandeng tangan adiknya. Di bangku nampak semua keluarganya sudah berkumpul menunggu kedatangannya, kecuali Grace. Meida tidak melihat kehadiran wanita tua itu sama sekali dari tadi.


“Puji Tuhan, akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini. Mommy bahagia banget, bisa berkumpul bareng kalian. Ini terasa seperti mimpi,” ucap Zaina sambil menghapus sudut matanya. Senyum bahagia tampak terpancar di wajahnya.


“Ini nyata Tan, bukan mimpi! Apa perlu pipi tante Jack cubit?” Sahut Jack yang sedang duduk di ampit oleh Bi Ina dan Andress. Semua orang yang berada di ruang itu terkekeh. Suasana hangat sangat terasa di meja makan tersebut.


“Ingat, Daddy hanya makan bubur dan sayur. Gak boleh makan yang lain!” Gilbert tersenyum kaku sambil meletakkan ikan tuna baladonya. Ternyata istrinya memergoki kelakuannya.


“Om, sebelum makan. Jack ingin berbicara sesuatu pada kalian. Jack ingin jujur tentang sesuatu, dan Jack harap, Om dan Tante gak marah.” Gilbert dan Zaina mengerutkan keningnya, begitupun dengan andress.


“Kamu mau ngomong apa Jack? Tumben-tumbenan serius kayak gini?” Andress menyenggol tangannya sepupunya dengan mata menyelidik.


“Om, Tante, Jack ingin bilang. Bahwa selama ini Jack sudah memeluk agama Islam. Jack adalah seorang Muslim seperti Meida. Apa tante dan om gak marah?” Ruang makan itu tiba-tiba hening. Mereka teekejut dengan pengakuan Jo, kecuali Meida, Jonathan, dan Bi Ina.


“Kalau itu balik lagi ke kamu. Om dan Tante gak berani mencampurinya. Jika kamu yakin dengan agama itu, yah silahkan saja. Kamu sudah besar! Kamu bisa menentukan jalan mu sendiri Jack.” Senyum Zaina kearah keponakannya. Jack bisa bernafas lega, karena om dan tantenya tidak menentang keputusannya.


-


Malam ini meida tak bisa tidur. Ia berguling kesana kemari memikirkan keadaan melvin yang sampai sekarang tak memberi kabar padanya. Karena tak bisa tidur, meida bangun dan berjalan kearah balkon rumah. Ia menatap bulan yang kini menyinari kegelapan di langit malam.


Kamu sekarang dimana? Kenapa tak memberi kabar pada saya? Apa masalahmu serumit itu? Saya tahu kamu lelaki kuat! Saya yakin kamu mampu menghadapinya! Saya tak bisa membohongi perasaan saya, saya sangat mengkhawatirkan mu. Saya takut terjadi sesuatu pada mu. Baru sehari saja kamu pergi, saya sudah merindukan mu. Saya menunggu mu disini! Jangan pernah ingkari janji kita. Lirih Meida yang kini sedang memejamkan matanya.


Di lain tempat, melvin nampak kesakitan dengan menyandarkan kepalanya di pintu. Ruang itu nampak gelap dan kosong, hingga tak ada tempat untuk merebahkan tubuhnya yang sedang menggigil menahan rasa sakit itu. Hanya sweater dan celana yang mampu melindunginya dari angan malam. Nagara terakhir dilihatnya, ketika  menyuruh pengawalnya untuk menyeretnya masuk ke dalam kamar ini.

__ADS_1


Melvin tetap terjaga, dengan memeluk lututnya memberi kekuatan.


Ia mengadahkan kepalanya kearah langit-langit dengan menghapus air mata di wajahnya yang terus saja mengalir.


Yaa Allah Yaa Tuhan ku..


Aku tahu, ujian yang kualami tak seberat yang di rasakan Summayah Binti Khayyat. Ia tetap teguh mempertahankan Agama dan Tuhannya, walaupun ia di tusuk dengan tombak dari ************ tembus ke punggungnya. Keteguhan iman nya menjadikan Sumayyah dan Suaminya (Yasir Bin Amir) sebagai syahid syahidah dalam Islam.


Yaa Allah, aku tahu! Ujian yang kualami tak sedahsyat yang di rasakan oleh Ammar Bin Yasir. Ia dibiarkan di terik matahari padang pasir, didera, disulut dengan api yang menyala, dan berbagai tindakan mengerikan di luar peri kemanusiaan. Di bakar dengan besi panas, disalib, ditenggelamkan dalam air hingga ia sesak nafas.


Kematian orang tuanya akibat penyiksaan tersebut tidak menyebabkan ia berubah pikiran. Bahkan ia semakin meneguhkan pendiriannya dalam keimanan dan Keislaman.


Yaa Allah, aku tahu! Ujian yang kualami tak seberat yang di alami Bilal Bin Rabbah. Di siang hari yang sangat panas di padang pasir, ia dibaringkan di atas bara. Terkadang dalam keadaan telanjang ia dilemparkan ke atas pasir yang seperti menyala, kemudian ditindih dengan batu besar yang tak kalah panasnya. Sore hari ketika mulai dingin, ia ditegakkan dan lehernya dirantai kemudian diarak keliling melalui bukit-bukit dan jalanan di kota Makkah.Tidak satu hari dua hari, tidak satu minggu dua minggu, tetapi berbilang bulan, bahkan mungkin berbulan-bulan siksaan itu berlangsung.


Yaa Rabbi, siksaan seperti apapun yang bisa mengubah keyakinan seseorang jika telah begitu lekat di dalam jiwa. Jika tidak ada hal-hal lain yang diinginkan, dan jika kematian tidak lagi ditakuti, bagaimana mungkin bisa mengubah prinsip hidup seseorang. Itulah yang terjadi pada diri Bilal, makin berat siksaan yang dirasakannya, makin mendekatkan dirinya pada al Ahad, Allah SWT…, Ahad, Ahad, Ahad, itulah yang seolah menjadi simbol perjuangannya.


Yaa Rabbi, keimanannya Seolah seperti karang yang tak hendak lapuk dan hancur diterjang ombak selama bertahun-tahun, begitulah keyakinan yang tertanam di dalam jiwa nya. Di dalam kelemahannya, di dalam ketidak-berdayaannya, hanya satu kata yang lekat dan tertanam erat, Ahad, Ahad, Ahad. 


Yaa Allah, aku tahu! Ujian yang kualami tak sedahsyat yang dirasakan oleh Khabbab Bin Arats. Ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung dalam mempertahankan keimanannya. Ia pernah merasakan di setrika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.


Yaa Rabbi, hamba tak sanggup merasakannya, sungguh-sungguh tak sanggup.


Yaa Allah Yaa Tuhan ku..


Walaupun hamba tak sekuat mereka, walaupun hamba tak setegar mereka, walaupun hamba tak setabah mereka, walaupun hamba tak sesabar mereka. Hamba mohon Yaa Allah, Jadikanlah hamba salah satu bagian dari mereka.


Yaa Allah Yaa Tuhan ku ...


Yang maha membolak-balikkan hati manusia. Hamba mohon Yaa Allah, berilah kelembutan hati pada Papih, Mamih dan Melisa bersama keluarga hamba untuk menerima kebenaran ini, mendapat hidayah dari-Mu. Karena hamba yakin, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Jadikanlah mereka seperti sosok Abu Sufyan, yang terang-terangan menentang agama-Mu, yang akhirnya jadi pembela Agama-Mu.


Yaa Allah, mungkin ujian hamba tak seberat yang di alami para Sahabat Nabi dalam mempertahankan agama-Mu. Tapi dengan karunia-Mu,  Jadikanlah hamba salah satu dari perkumpulan mereka.


Yaa Allah Yaa Tuhan ku, yang nyawaku berada dalam genggaman-Mu. Jika sekiranya kematian terbaik untukku, hamba ikhlas Yaa Allah. Dan jika umur panjang lebih baik untukku, hamba sangat bersyukur. Karena Kau masih memberi hamba kesempatan untuk memperbaiki diri. Lirih Melvin sambil menghapus air matanya.


“Ko .. ko ... Koko ada di dalam Kan?” Tanya Melisa lirih, tanpa mengetuk pintu. Mendengar suara adiknya, tak urung air matanya kembali menetes.


-


-


Vote sama ☕☕☕☕☕☕ nya


Di tunggu wkwkwk😘♥️


Love sekebon buat kalian♥️😘

__ADS_1


__ADS_2