
“Jo, ini ada kabar dari cici mu, katanya dia baik-baik saja. Kata cici mu jangan mengkhawatirkannya, dia aman bersama melvin.” Bi ina berjalan sambil membaca pesan masuk dari meida. Lalu ia duduk di samping jonathan yang sedang membaca buku.
“Ohh syukurlah bu. Kalau bersama ko Melvin, jo tenang.” Jonathan kembali membaca bukunya setelah menjawab pertanyaan dari Bi Ina.
“Kamu sedang baca buku apa? Serius banget?” Jonathan menutup bukunya, memperlihatkan cover bukunya kepada bi ina.
“Jo sedang membaca buku ini. Buku yang dibelikan cici meida waktu pergi ke mall bu.” Terang jonathan sambil menunjukkan buku itu kepada bi ina. Bi Ina tercengang membaca cover buku itu.
“Kamu baca buku ini jo? Buku tuntunan shalat. Kamu serius membacanya?” Tanya Bi Ina dengan ekspresi wajah yang lumayan kaget. Jonathan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Bukankah seluruh umat islam harus shalat bu? Jo sengaja mempelajarinya, agar ketika jo masuk islam nanti, jo sudah bisa shalat. Bukankah shalat kewajiban paling utama umat islam?” Bi ina menganggukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya mendengar ucapan jonathan yang terdengar tenang tanpa ada paksaan.
“Benar sekali Nak. Apa kamu tertarik dengan Islam?” Tanya bi Ina sambil menghapus air mata di wajahnya karena terharu.
“Jo sangat tertarik Bu. Niat jo sudah bulat untuk masuk Islam. Jo menunggu cici meida pulang untuk mengantar dan menemani jo mengikrarkan keyakinan jo. Jo ingin cici meida dan Bu Ina menjadi saksi, bahwa jo telah menjadi seorang Muslim.” Bi Ina kembali meneteskan air matanya sambil memeluk jonathan.
“Alhamdulillah. Akhirnya hati mu tergerak Nak. Ibu bahagia mendengarnya, semoga kamu semakin Istiqomah dalam mempelajari agama Islam Nak.” Do'a Bi Ina yang mencium rambut jonathan dengan penuh kasih sayang.
“Amin. Do'akan jo terus bu. Agar jo bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.” Jonathan melerai pelukan Bi Ina, ia menghapus air mata di wajah bi na yang sudah sudah terlihat keriput.
Ning nong ning nong ning nong.
Suara bell terus berbunyi sampai terdengar ke lantai 2.
“Ibu tunggu disini! Biar jo yang buka!” Jonathan mendudukkan Bi Ina di karpet bulu emput. Lalu ia berlari ke lantai satu untuk membuka pintu.
Ceklek
Jonathan membuka pintu dari dalam. Ia kaget melihat Zaina dan Gilbert yang sedang berdiri di depannya. Tanpa berpikir panjang, jonathan langsung menutup pintu, namun pintu itu di tahan oleh Gilbert dari arah luar.
“Tunggu Jo! Jangan tutup pintunya! Daddy dan Mommy ingin berbicara dengan kamu. Tolong panggilkan cici mu! Daddy dan Mommy ingin melihatnya!” Teriak Gilbert dengan menghiba. Ia menahan pintu itu dengan sekuat tenaga. Hingga pintu itu dapat terbuka dengan sempurna.
“Untuk apa kalian kemari? Ingin menyakiti cici ku lagi? Kalian belum puas mempermalukan dia kemarin malam? Pulanglah! Percuma kalian disini, kami tak ingin melihat wajah kalian!” Sinis Jonathan yang mencoba menutup pintu itu kembali. Dengan sekali hentakan, ia berhasil menutup pintu itu.
“Jo, Mommy mohon! Mommy ingin bicara dengan kalian berdua! Beri kesempatan Mommy dan Daddy untuk berbicara! Please Mommy mohon ....” Lirih Zaina sambil menggedor-gedor pintu Apartemen meida, yang tak mendapat respon dari penghuni nya sama sekali.
__ADS_1
Dad, mereka benar-benar membenci kita. Lirih zaina yang menyandarkan tubuhnya di pintu apartemen itu.
-
Ini sudah pukul 10 malam. Katanya Tuan Melvin mau pulang, tapi sampai jam segini belum pulang juga. Mana di luar hujan lebat lagi. Yaa Allah, dimanapun Tuan Melvin berada semoga dia baik-baik saja. Meida berjalan dari ruang tamu menuju kamarnya, tiba-tiba ia terhenyak melihat seseorang yang sedang berdiri didepannya dengan basah kuyup.
“Tuan. Sejak kapan Tuan pulang? Kenapa suara mobil Tuan tak terdengar?” Tanya Meida melihat pakaian Melvin yang berantakan. Wajah Melvin tampak kusut dengan bibir menggigil, pakaian yang ia kenakan terlihat awut-awutan. Melvin terdiam kaku, ia tak menjawab pertanyaan meida. Ia Malah menatapnya dengan sorot mata yang susah diartikan, sorot mata yang mencerminkan takut kehilangan. Meida menghampiri Melvin, dan berdiri di depannya.
“Tuan gak papa kan? Kenapa diam saja?” Meida menatap wajah melvin dengan penuh keheranan. Melvin masih dalam mode diam, matanya tak beralih menatap meida dengan mata berkaca-kaca.
“Tuan kenapa? Pakaian Tuan basah. Saya ambil handuk dulu ke kamar yah!” Meida melangkahkan kaki menuju kamarnya. Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba melvin memegang sebelah tangannya. Ketika meida ingin membalikkan tubuhnya, tapi melvin menahannya. Melvin menyandarkan keningnya di bahu sebelah kiri meida, tanpa memegangnya. Ia terisak lalu menangis. Melvin menangis di bahu meida, untuk pertama kalinya ia terang-terangan menangis di hadapan meida karena kekhawatirannya.
“Menangislah Tuan, jika dengan menangis membuat hati Tuan menjadi lebih tenang!” Meida membiarkan Melvin menangis di bahunya. Sesekali ia mengusap lembut rambut melvin yang basah.
Tangis Melvin semakin pecah ketika meida mengelus bahunya, meida di buat bingung oleh perangai melvin yang tak seperti biasanya. Lelaki baik, ceria, dan penyayang yang selalu ada untuknya kini memperlihatkan sisi rapuhnya. Tak urung hati meida terenyuh melihat keadaan melvin yang tampak kacau seperti ini.
“Tuan kenapa? Ceritalah agar hati Tuan tenang. Tuan jangan seperti ini, saya sedih melihatnya.” Lirih meida dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap rambut melvin kembali.
“Jika belum siap untuk cerita. Tuan ganti pakaian dulu yah, pakaian tuan basah. Nanti Tuan masuk angin.” Melvin menggelengkan kepalanya. Ia memeluk meida dari arah belakang.
“Tuan, maaf saya tak bisa berjanji untuk selalu ada di sisi tuan! Tapi saya akan berusaha ada, jika Tuan butuhkan. Seperti Tuan yang selalu ada untuk saya di setiap keadaan.” Melvin dan Meida pun menangis tergugu di temani oleh suara hujan. Melvin semakin erat memeluk meida.
“Terima kasih meida.” Lirih Melvin yang akhirnya tak sadarkan diri. Tubuhnya tercondong kearah meida. Melihat melvin yang tiba-tiba terdiam, meida menepuk pelan bahu melvin dan menggeserkan posisi tubuhnya, hingga melvin menyusup kedalam pelukannya.
“Tuan sadarlah! Jangan seperti ini! Saya takut!” Meida menepuk-nepuk pundak melvin yang tak sadarkan diri. Karena tak kuat menahan bobot melvin yang tinggi besar. Meida terjungkal ke belakang, hingga melvin jatuh menindihnya. Dengan sekuat tenaga meida berusaha menggeser tubuh melvin yang sedang pingsan di atas tubuhnya. Karena tak bisa menggeser tubuh melvin sama sekali, akhirnya meida berteriak meminta bantuan kepada seluruh penghuni rumah.
“Pak Muin ... Bi Sri ... tolonggg!!! Tuan Melvin pingsan!” Teriak meida dengan sekuat tenaga. Pakaian meida pun basah, karena terkena pakaian basah melvin. Setelah 3 kali berteriak, akhirnya Pak Muin datang terpogoh-pogoh bersama bi sri.
“Ya Allah, Tuan Melvin kenapa Non?” Panik pak Muin sambil membantu meida menggeser tubuh melvin di atasnya. Bi sri membantu meida untuk berdiri.
“Tuan Melvin pingsan pak. Tolong bantu bawa saya kekamarnya!” Dengan bantuan Pak Muin, meida berhasil mengangkat tubuh Melvin.
“Mari Non saya bantu!”
Meida dan pak Muin memapah melvin menuju kamarnya yang berada paling depan. Meida langsung meminta pak Muin untuk mengganti pakaian basah melvin, dan ia bersama bi sri menunggunya di luar.
__ADS_1
“Non badan Tuan Melvin panas. Sepertinya dia demam!” Lapor Pak Muin yang selesai memakaikan pakaian pada melvin yang masih terbaring tak sadarkan diri. Meida menggigit bibirnya pelan pertanda cemas.
“Disini dokter terdekat dimana Pak?” Tanya meida sambil mondar-mandir.
“Klinik disini sekitar 5 KM non. Tapi saya gak bisa ngendarain mobil.” Meida langsung menepuk jidatnya. Ia memijit kepalanya pelan.
“Bibi ada obat Paracetamol?” Tanya meida kearah Bi sri yang sedang menguap. Bi sri menutup mulutnya lalu menjawab pertanyaan meida.
“Gak ada Non. Bibi belum beli stok obat.”
“Baiklah. Bi, tolong bawakan saya air hangat dan handuk! Saya akan mengompres Tuan Melvin.” Putus Meida sambil berjalan kekamarnya untuk berganti baju. Bi ina menganggukkan kepalanya lalu pergi ke dapur. Sedangkan Pak Muin, kembali ke kamar untuk menjaga Melvin.
-
“Tuan sadarlah ... Tuan terlalu lama pingsan ... apa tuan tidak lelah ...” Lirih meida sambil mengganti kompresan melvin. Kantukpun mulai menyerangnya, ia berusaha membuka matanya. Tapi nihil, jam 2 dini hari matanya terpejam dengan kaki menekuk terduduk, dengan kepala yang menyandar ke ranjang melvin.
“Meida ...” Lirih melvin yang berusaha membuka matanya. Ia mengumpulkan ingatannya lalu melihat tangannya yang berat karena tertindih kepala meida.
“Ya Tuhan, mimpi itu seperti nyata. Meida benar-benar menjadi pendamping hidup saya. Tuhan, jadikanlah mimpi itu menjadi kenyataan.” Do'a melvin sambil melepaskan tangannya yang sedang di tindih meida. Karena tak tega melihat meida yang tertidur setengahnya di lantai. Melvin membopong tubuh meida dan menidurkannya di ranjangnya.
“Meida bantu saya! Bantu saya untuk mempelajari Islam! Saya ingin benar-benar mempelajarinya!” Lirih Melvin memandang meida yang sedang terlelap, ia membelai kepalanya dengan penuh cinta. Lalu ia menyelimuti meida, dan menyandarkan kepalanya ke headboard ranjang.
Tuhan, apa mimpi itu menjadi pertanda agar saya harus memeluk Islam? Apa mimpi itu pertanda agar saya harus mengenal-Mu? Tuhan, jika agama Islam terbaik untuk saya. Mudahkanlah saya untuk mempelajarinya. Yakinkanlah hati saya Tuhan, saya ingin benar-benar mengenal-Mu, Tuhan-nya orang islam."
-
-
Maafnya otor telat up. Alhamdulillah, otor ada panggilan kerja lagi dan besok interview.
Minta doanya mudah²an dilancarkan segala sesuatunya. Aamiin🤗♥️
Jika suka dengan novel ini, jangan lupa like, komen, rate, vote, sama hadiahnya 😘♥️ Otor usahakan tiap hari bisa up🤗♥️
Di tunggu cangkir kopinya guys😘♥️
__ADS_1