Kita Berbeda

Kita Berbeda
Lantai 20


__ADS_3

Meida tersenyum, akhirnya ia bisa bekerja di perusahaan besar ini. Ia bekerja sebagai Asisten Sekretaris sesuai yang diperintahkan Pak Andrew. Karena kebetulan posisi yang sangat dibutuhkan perusahaan ini sekarang adalah Asisten Sekretaris CEO.


Sepanjang koridor menuju lift, meida bersenandung ria sampai ia tak sadar sudah sampai di depan lift yang berjejer di kiri kanannya. Meida menekan angka 1 karena tujuan utamanya adalah lobby kantor. Setelah menunggu lama. Akhirnya, lift sebelah pojok terbuka. Meida tak mengetahui lift terbuka itu adalah lift Eksklusif yang khusus para petinggi kantor.


Ketika langkahnya semakin dekat dengan pintu lift itu, tiba-tiba ...


“Si bodohh!!” Teriak meida spontan, ia bengong menatap lelaki yang berada pas di depannya, mereka pun saling bertatap-tatapan.


Apa yang dilakukan lelaki bodoh ini disini? Tanya meida dalam hati


Sementara melvin dibuat kaget dan bingung dengan kehadiran meida yang sekarang berada didepannya.


Shitt! Beraninya dia mengumpat ku di depan banyak orang! Memalukan! Kesal melvin dalam hati


Ckckck ... baru kali ini aku temui wanita yang berani mengumpat tuan muda. Ini kabar bagus hahaha, tapi siapa wanita ini? Aku baru melihat nya. Batin Dion dalam hati.


“Geser!!” Ujar meida dengan menginjak sepatu melvin agar melvin menggeser posisi nya yang berada di tengah lift ke sebelah kanan. Lalu meida berdiri di samping melvin, menggantikan posisi melvin sebelumnya.


Meida dengan tak tahu malu masuk ke dalam lift tersebut. Sehingga orang yang berada di dalam lift itu keheranan, dengan sikap bar bar meida, yang berani menyuruh atasan mereka menyingkir. Ketika dion akan menegur meida, melvin melotot ke arah dion, agar dion membiarkan meida satu lift bersamanya dan petinggi kantor yang lain.


“Ngapain liat-liat! Mau di colok matanya?” Umpat meida kesal ke arah melvin, yang menatapnya tak berkedip.


Sontak orang yang berada dalam lift itu menahan tawa, seorang CEO di umpat oleh gadis biasa. Itu kejadian langka yang sangat luar biasa, pikir mereka.


“Bisa diam! Atau saya lempar kamu keluar dari lift ini!” Ancam melvin dengan wajah merah, menahan malu. Karena umpatan meida di dengar bawahan-nya.


Bisa-bisa wibawa ku hancur didepan semua karyawan gara-gara wanita ini. Shitt apa yang dia lakukan disini? Ucap melvin dalam hati sambil mengusap wajah.


“Sebelum mas lempar saya. Mas saya lempar duluan!” Cebik sinis meida kearah melvin.


Melvin hanya bisa menelan ludah, menaik turunkan jakunnya.


Wanita ini luar biasa, bisa membuat tuan muda tak berkutik. Aku harus mendekatinya, dari parasnya dia lumayan cantik. Bisa ku pepet di jadikan yang kedua hihihi. Batin Dion


Suasana lift itu kembali hening. Setelah para petinggi kantor itu mendapat pelototan dari dion, agar mereka tidak mentertawakan melvin. Jika sampai melvin tahu ia ditertawakan maka yang kena imbasnya adalah dirinya.


Ting!


Lift terbuka di lantai 1, meida buru-buru keluar karena ia malas harus berhadapan dengan melvin. Tenaga nya terbuang sia-sia jika berdebat dengan melvin, yang tak pernah menemukan titik terang.


Meida berjalan menuju pintu validasi, tiba-tiba ujung hijab nya di tahan melvin. Sehingga ia mundur satu langkah ke belakang, kepalanya terbentur di dada bidang melvin.


“Apa hah!” Sangar meida membalikkan badan menatap tajam ke arah melvin. Ia merapikan hijab yang di pakainya, karena berantakan akibat ulah melvin.


“Ngapain kamu disini? Jangan bilang kamu ngikutin saya!” ucap melvin dengan penuh percaya diri.


Dion hanya diam, sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah narsis sang atasan.


“Kepedean! Siapa yang ngikutin mas, kayak gak ada kerjaan aja.” Jawab meida sambil bersedekap dada menepi dari pintu validasi


Melvin dan meida menjadi pusat perhatian, karena baru pertama kalinya sang putra mahkota bisnis berbicara intim dengan seorang wanita. Apalagi mimik muka mereka sama-sama kesal.


“Terus ngapain kamu disini? Disini gak ada tempat peminjaman uang.” Ledek melvin sambil menyugar rambutnya.


“Suka-suka saya dong, kok mas yang rempong sih! Mau saya laporin keatasan mas karena mas mengganggu saya!” Ancam meida sambil merapihkan cardigan nya.


Wanita ini benar-benar tidak tahu dengan siapa ia berhadapan. Ujar dion dalam hati sambil melihat perdebatan dua manusia didepannya.


“Laporin apa? Toh orang saya gak ngapa-ngapain.” Jawab melvin santai sambil mengedikkan bahu.


“Gak ngapa-ngapain mata mu! Mas melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada saya!” Meida menatap tajam mata melvin, yang sontak membuat melvin salah tingkah.

__ADS_1


Tatapan matanya membuat gue meleleh. Stay calm melvin. Ini hal kecil, kamu bisa mengatasinya. Semangat melvin, walaupun dalam hatinya ia ketar ketir mendapat pelototan dari meida.


“Yang mana? Gak salah!” ucap melvin calm, ia memasukan tangan ke saku celananya.


“Yang tadi! Gimana kalau saya kecekik atau apa? Mau saya aduin ke atasan mas? Biar mas dapat teguran, syukur-syukur diturunin jabatan” Sungut meida memandang melvin dengan perasaan gondok.


“Ckckck mustahil, saya karyawan teladan. Atasan saya gak mungkin menegur saya, dia pasti mikir dua kali.” Jawab melvin percaya diri.


Gak bakalan ada yang berani negur gue, kecuali papih. Lah wong gue disini CEO nya. Kekehan melvin dalam hati.


“Atasannya aja terlalu bodoh! Mempekerjakan orang oon kayak mas. Kalau saya mikir-mikir dua kali. Mas cocoknya jadi pembawa acara gosip, seperti mbak Peni Rose. Sebelas dua belaslah nyinyir nya.” Ucap meida sambil mengejek ke arah melvin. Sontak melvin di buat skak oleh ucapan meida.


Wah keren ... wanita itu berani menghina seorang CEO, aku suka aku suka. Batin Dion dengan wajah memerah menahan tawa.


-Flash back


“Selamat pagi pak,” ucap meida sambil membuka pintu yang terbuat dari kaca.


“Pagi, dengan mbak meida, Kan?” Tanya lelaki tua itu ke arah meida, ia tersenyum menyambut kedatangan meida.


“Benar pak, saya meida.”


“Perkenalkan saya Andrew Alexander, senang bertemu dengan mbak. Silahkan duduk mbak!”


“Terima kasih pak,”


-


“Sesuai yang direkomendasikan bu melisa, posisi yang sangat dibutuhkan sekarang adalah Asisten Sekretaris. Posisi lain tinggal cleaning service. Apa mbak gak keberatan menepati posisi sebagai asisten sekretaris?” Tanya Pak Andrew dengan tersenyum. Lelaki setengah abad yang berparas menawan itu menatap hangat kearah meida.


Sebenarnya kantor ini sedang tidak membuka lowongan. Bu melisa ada-ada saja menyuruh gadis ini melamar kesini. Mana posisi pekerjaannya tidak memungkinkan. Asisten Sekretaris? Sejak kapan di kantor ini ada asisten sekretaris. Mana harus sama pak dion lagi. Lagian jika ditawarkan menjadi cleaning service mana mau gadis ini menjadi cleaning service dengan paras cantik seperti ini. Apa hubungan gadis ini dengan bu melisa? Kelihatannya mereka dekat. Batin pak andrew sambil memperhatikan meida dengan tangan diletakkan di dagunya.


“Saya gak keberatan pak, tapi deskripsi pekerjaan saya seperti apa yah? Biar saya tahu, sekalian saya bisa mempersiapkan.”


Pak Andrew menjeda ucapannya sebentar,


"Selamat datang dan selamat bergabung di Perusahaan Shinwa Nagara Corp. Mari kita bisa berjuang bersama untuk memajukan perusahaan ini. Saya harap mbak betah kerja disini. Saya tunggu kontribusi mbak untuk kemajuan perusahaan ini. Dan untuk tanda tangan kontrak, besok saya hubungi mbak.” Ucap pak andrew dengan bersahabat.


“Terima kasih pak. Kalau boleh tau, besok saya mulai kerja di lantai berapa yah?” Tanya meida memandang wajah pak andrew.


“Besok mbak ke ruangan saya dulu, setelah itu saya antar ke ruang kerja mbak.”


-


Jam 04:30 meida sudah bangun. Setelah shalat subuh ia langsung berperang dengan alat dapur. Hari ini dia berniat membawa bekal untuk makan siang, ia harus berhemat untuk mengatur pengeluarannya, karena uang yang dimilikinya sudah sangat menipis.


Saking semangatnya jam 06:30 meida sudah standby di kantor, ia datang ketika para cleaning service sedang membersihkan kantor itu.


-


“Selamat pagi, kelihatan nya mbak sangat bersemangat sekali hari ini.” Tanya seorang lelaki muda kearah meida.


“Masasih mas? Emang kelihatan?” Tanya meida sambil bercermin di dinding lobby.


“Iyalah ... muka mbak berseri-seri, aura nya terpancar.” Gurau lelaki itu sambil menyapu kursi disebelah meida.


“Mas bisa aja. Mungkin karena ini hari pertama saya kerja mas, makanya saya semangat.” Ucap meida sambil tersenyum lebar.


“Pantesan. Selamat bekerja mbak, semoga sukses!” Lelaki itu memberikan semangat kepada meida dengan mengangkat tangan kanannya.


“Terima kasih mas. Ngomong-ngomong CEO disini siapa yah mas?” Tanya meida menatap lelaki di depannya.

__ADS_1


“Ohh ... yang jadi CEO itu pak melvin mbak. Ganteng loh orang nya, baik lagi, idola karyawati disini.” Terang lelaki itu dengan tersenyum.


“Makasih infonya mas,”


“Sama-sama mbak. Saya permisi dulu yah, mau lanjut kerja.”


“Iya mas, silahkan.”


-


Setelah tanda tangan kontrak, dan melengkapi data pribadi nya. Meida diantar pak andrew ke lantai 20.


“Sekarang udah siap kerja?” Tanya pak andrew sambil menunggu lift terbuka.


“Siap dong pak.” Jawab meida sambil tersenyum.


“Tugas pertama kamu hari ini palingan fokus ke pengenalan tentang profil Perusahaan shinwa, nanti kamu akan di bimbing langsung oleh pak dion. Saya harap kamu cepat paham, dan bisa cepat adaptasi dengan pekerjaan mu sebagai Asisten Sekretaris.”


“Baik pak. Saya akan berusaha keras.” Jawab meida sambil tersenyum.


-


Ting! Suara pintu lift terbuka, mengakhiri obrolan mereka.


-


Di lantai 20 meida di buat terpaku dengan dekorasi ruangan yang luar biasa elegan. Ini pertama kalinya meida menginjakkan kaki di ruangan dengan nuansa seperti itu.


Di lantai 20 ini hanya ada beberapa pintu ruangan, kurang lebih ada 8. Pintu yang pertama dengan label Senior manager berada disebelah kiri. Pintu kedua dengan label General Manager berada di sebelah kanan dengan jarak 15 meter dari pintu pertama. Pintu ketiga dengan label Komisaris berada disebelah kiri. Pintu keempat dengan Label CEO berada di sebelah kanan. Dengan posisi zig-zag antara setiap pintu. Entahlah label pintu setelah ruang CEO itu apa, meida hanya membacanya sampai pintu keempat.


Tok tok tok


Pak andrew  mengetuk pintu CEO.


Kenapa pak andrew mengetuk pintu ini, bukan di pintu sekretaris? Mungkin dia mau menyapa sang si CEO dulu. Pikir meida


“Silahkan masuk,” ucap suara dari dalam.


Pak andrew membuka pintu CEO untuk masuk ke dalam, meida hanya mengekor langkah pak andrew dibelakang dengan kepala menunduk.


“Ada apa pak? Tumbenan mampir kesini?” Tanya seorang lelaki yang sedang duduk di sofa memegang iPad, ia menatap pak andrew dengan dahi berkerut.


Ruangan Sekretaris berada di ruangan CEO, yang hanya terhalang pembatas kaca. Jadi tempat itu terlihat transparanan satu sama lain.


Banyak orang yang mengira itu hanya ruangan CEO, tapi Faktanya ruangan Sekretaris berada didalamnya.


“Dion jadwal saya jam 11 ini apa?” Tanya sang CEO berjalan ke arah dion, ia tak sadar dengan kehadiran pak andrew.


Mendengar suara itu meida sontak membelalakan mata, ia kenal dengan pemilik suara itu.


-


-


Bersimbing


Detik-detik peperangan 😂


Kuyy lah like, vote, comment sama hadiahnya 😜


Hatur nuhun buat para reader yang masih setia mantengin meida ♥️

__ADS_1


Sukses selalu buat kalian♥️


__ADS_2