
Melvin dan meida sedang berlatih di ruang meeting, ruang yang lumayan terpisah dengan gedung serba guna. Meida bernyanyi dengan di iringi piano oleh melvin, melvin memutuskan untuk performance bareng dengan meida, tak peduli dengan komentar orang nanti.
“Meida ternyata kamu good voice juga. Saya gak nyangka loh.” Puji melvin mengakhiri latihan dadakan mereka. Ia mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum masuk ke ruang backstage yang berada di belakang panggung.
“Suara saya biasa aja. Saya juga gak nyangka, ternyata tuan pandai bermain piano.” Puji balik meida sambil mengambil air minum kemasan di meja.
“Dulu, waktu saya kuliah di Amerika, saya belajar bermain piano dari sahabat saya yang menetap di Manhattan. Saya sengaja mengisi waktu kekosongan saya dengan bermain piano dari pada pergi ke bar atau kencan dengan wanita.” Terang melvin. Ia tersenyum mengingat momen-momen indah ketika menempuh pendidikan S2 nya di Harvard University.
“Tapi tuan pernah kan pergi ke bar?” Melvin menganggukkan kepalanya samar.
“Pernah. Palingan party setiap sebulan sekali, itu juga kalau teman saya ada yang birthday. Kalaupun tidak, palingan saya hanya main-main kesana, mengantar teman saya.” Terang melvin sambil merapikan dasi kupu-kupu nya.
“Pasti hidup tuan disana bebas kan?” Tanya meida sambil menutup mulutnya yang menguap. Melvin terkekeh lalu duduk di samping meida.
“Ya, hidup saya disana bebas. Kamu pasti tahu, pergaulan anak muda disana seperti apa. Walaupun begitu, saya masih memegang teguh adat ketimuran. Saya palingan minum wine, itu saja kalau saya lagi pusing ataupun banyak masalah. Selebihnya saya tidak pernah, apalagi **** ataupun narkotika. Asal kamu tahu! Walaupun hidup saya di dunia ini sudah mau 27 tahun, saya belum pernah merokok.” Meida menompang wajah dengan tangannya yang bersandar di kursi kayu itu.
“Serius tuan? Ternyata tuan keren juga! Salut deh, tidak terbawa arus pergaulan bebas disana.” Melvin mengusap hidungnya dengan tersenyum, mendengar pujian dari meida.
“Kembali lagi ke Niat Meida. Saya tinggal di Amerika bukan untuk foya-foya, tapi untuk menuntut ilmu. Kalau bukan karena niat itu, mungkin saya lebih banyak bermain daripada kuliah, lebih banyak pacaran daripada belajar, lebih banyak holiday daripada pergi kuliah. Walaupun saya begini, saya punya cita-cita meida. Saya ingin sukses di usia muda, dan menikmati di usia tua. Saya ingin berguna bagi orang lain,” ucap tulus melvin menyampingkan posisinya, dan kini ia bisa memandang wajah meida.
“Cita-cita tuan sangat mulia. Niat baik, Tuhan pasti mengabulkannya.” Meida menundukkan wajahnya. Karena melvin tak mengalihkan pandangan darinya.
“Semoga saja meida. Saya ingin orang yang saya cintai menikmati hasil dari kerja keras saya. Terutama istri dan anak saya kelak.” Tutur melvin tersenyum melihat wajah menunduk meida yang memerah.
“Tuan jangan menatap saya dengan seperti itu! Saya malu!” Melvin terkekeh melihat meida yang melirik-lirik sebentar kearahnya. Meida langsung menundukkan wajahnya ketika pandangan mata mereka bertemu.
“Jangan kegeeran! Siapa yang menatap mu!” Melvin mengalihkan pandangan dari wajah meida. Ia melihat ke bawah kearah sepatu nya.
“Tuan tadi menatap saya! Gak ngaku segala!” Sewot meida sambil mengambil ponsel di tas hitam miliknya.
“Tuan sebentar lagi acara di mulai! Kurang lebih 5 menit lagi.” Melvin mengambil ponsel di saku tuxedo nya untuk melihat jam. Padahal di tangannya ia memakai jam tangan.
Saatnya matikan ponsel, supaya tidak ada nomor yang mengganggu. Lirih meida sambil mematikan ponselnya, lalu ia masukan ke dalam tasnya
“Eitss meida tunggu! Saya titip ponsel saya di tas kamu! Tenang ponsel saya dalam mode silint, jadi gak bakalan berisik.”Meida mengambil ponsel melvin dan memasukkan ke dalam tasnya, bersisian dengan ponsel miliknya.
“Ayoo kita kesana!” Melvin mengulurkan sebelah tangannya kearah meida, agar meida menyambut tangannya. Meida memegang tangan itu untuk membantunya berdiri, setelah berdiri ia langsung melepaskan tangan melvin.
“Tangan saya gratis kok, boleh kamu gandeng,” ujar melvin sambil menunjuk tangan dengan ekor matanya kearah meida. Meida tersenyum
“Sebenarnya agama saya melarang melakukan kontak fisik seperti yang sering kita lakukan kemaren, apalagi kita belum menikah tuan. Jika sudah menikah dan halal, baru kita bebas melakukan nya, mau sambil jungkir balik pun bisa.” Terang meida lembut sambil tersenyum. Ia berjalan pelan di samping melvin.
“Berarti yang saya lakukan pada kamu kemarin salah? Kenapa kamu tidak memberitahu saya! Jika kamu memberitahu, saya tidak akan melakukan nya,” ucap melvin dengan wajah bersalah. Ia tak tersinggung sedikit pun dengan ucapan meida.
__ADS_1
“Saya yang salah tuan! Maaf saya tidak memberitahu tuan, karena saya juga spontan menerima perlakuan itu. Jangan merasa bersalah, jadikan pelajaran aja. Saya juga minta maaf, karena sering memegang tangan tuan dengan spontan,” ujar meida tersenyum menampilkan gigi rapinya.
“Saya ingin bebas memegang tangan mu. Meida, boleh saya menikahi mu?” Meida menghentikan langkahnya karena terkejut dengan ucapan melvin.
“Tuan jangan bercanda,” ujar meida dengan senyum kikuk yang di paksakan. Melvin menatap wajah meida dalam.
“Saya serius meida. Saya ingin menikahi kamu!” Meida menelan ludahnya kasar melihat melvin yang sedang serius menatap dalam wajahnya.
“Tuan acara nya mau di mulai! Ayo kita kesana!” Meida mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk kearah pintu
“Jangan mengalihkan pembicaraan meida! Please jawab! Saya membutuhkan jawaban dari kamu!” Meida menggaruk hijabnya melihat wajah melvin yang nampak kecewa.
“Untuk itu saya belum bisa jawab tuan. Tuan pasti tahu alasannya! Saya dan tuan berbeda. Tuan orang terkemuka, sementara saya hanyalah gadis biasa. Tuan berasal dari keluarga kaya, saya hanyalah gadis rendahan yang kehadirannya pun tak diinginkan.” Udara di depan meida serasa sesak. Ia menarik nafasnya dalam untuk meredakan sesak di dadanya.
“Tuan tahu sendiri, saya seorang gadis muslim. Agama saya melarang pernikahan berbeda keyakinan, karena bayak dampak negatif untuk keduanya. Saya harap tuan paham dengan alasan saya.” Melvin menganggukkan lemah kepalanya sambil tersenyum mendengar perkataan meida yang menundukkan wajahnya.
“Mohon maaf jika ada ucapan yang menyakiti hati tuan! Saya mohon tuan jangan marah!” Meida menegakkan kepalanya menatap sendu kearah melvin.
“Saya tidak marah meida! Justru saya lega mendengar alasan yang kamu utarakan. Masih ada harapan saya menjadikan mu pasangan hidup saya nanti. Kamu menolak saya karena keyakinan kita berbeda, bukan karena laki-laki lain.” Meida membelalakan matanya mendengar perkataan melvin. Melvin tersenyum hangat sambil mengusap hijab meida, ia berjalan pelan meninggalkan meida dalam wajah terkejutnya. Meida meyubit pipinya pelan, ia tak menyangka melvin berani mengatakan hal yang serius padanya
-
Setelah menyapa Nagara dan Istrinya, Johan bersama anak dan istrinya mencari meja yang berada di depan untuk mereka duduk. Nagara sudah mempersiapkan meja untuk keluarga johan yang berada di depan yang bersampingan dengan meja Gilbert. Johan dengan di dorong biru berjalan kearah mejanya, ia tidak mengetahui bahwa posisi Gilbert berada di samping mejanya.
“Ayah di kursi aja bang. Kamu dan bunda duduk di samping ayah.” Biru duduk di samping johan sebelah kiri, dan dian duduk di samping sebelah kanan.
Keluarga “harmonis atau keluarga pengemis,” ucap gilbert sinis sambil memainkan ponselnya. Ia pura-pura tidak melihat kearah johan. Biru dan johan menolehkan kepalanya kearah Gilbert, mereka membulatkan matanya malas kearah keluarga gilbert, untung dian tak mendengar ucapannya, karena ia sedang merapikan dress yang dipakainya. Biru menepuk tangan ayahnya, karena ia tahu keluarga gilbert adalah keluarga yang tidak ingin ayahnya temui.
“Keluarga arrogant atau keluarga gila harta.” Balas Biru sinis sambil mengelus lengan ayahnya.
Sudah bang jangan di ladenin. Nanti juga berhenti sendiri! Johan menenangkan emosi yang menggebu-gebu dari diri biru. Ia tahu emosi anaknya masih labil, adrenalin nya mudah terpancing.
“Biru kenapa yah?” Dian memandang aneh kearah Johan yang sedang mengelus-ngelus bahu biru yang sedang berwajah tegang menahan amarah.
“Pantesan sifat anaknya kurang ajar! Wong bapaknya juga kurang didikan! Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya!” Dian langsung mengalihkan pandangan kearah suara itu ia membelalakkan mata melihat keluarga Gilbert.
“Ehh mantan jongos! Wah sekarang kumpulan nya sudah beda yah? Bukan lagi kumpulan pelayan-pelayan kompleks! Sekarang kumpulannya bareng-bareng holang kaya.” Hina grace dengan senyum sinis. Dada biru semakin bergemuruh mendengar hinaan grace pada orangtuanya. Johan menggelengkan kepalanya kearah dian, agar dia tak meladeni ucapan ibu tirinya.
Jonathan yang berada di depan mengepalkan tangannya mendengar hinaan oma nya kepada keluarga Johan yang sangat menyakiti hatinya. Bi ina dan melisa mengelus-ngelus pundak jonathan untuk menenangkan emosinya.
“Hinaan anda mencerminkan bahwa anda lebih rendah daripada kami! Rela menyingkirkan hidup orang lain demi harta! Rela menjadi perusak rumah tangga orang lain karena harta juga! Jangan terlalu ambisius, gunakan hati nurani!” Sarkas biru sambil mendelikan matanya tajam kearah grace. Wajah Grace dan Gilbert memerah, mendengar ucapan yang sangat menampar harga diri mereka.
“Jaga ucapan mu! Ohh seperti ini ternyata hasil didikan orang tua mu! Sangat memalukan!” Senyum sinis gilbert yang mendapat tatapan tajam dari zaina.
__ADS_1
“Yang waras ngalah!” Sindir Johan. Karena keluarga mereka jadi pusat perhatian keluarga yang lain.
“Iya yah. Biarkan mak lampir berbicara sesuka hatinya.” Tawa sinis biru sambil mengejek kearah grace yang wajah nya sudah memerah seperti kepiting rebus.
“Seharusnya dulu saya membiarkan dia dan ibunya mati kelaparan! sama-sama gak guna! Miskin aja belagu! Kebanyakan gaya!” Grace tak mau kalah dengan ejekan biru. Biru dan Jonathan sama-sama mengepal tangannya. Keadaan di meja mereka sama-sama memanas. Sebelum biru menjawab pertanyaan itu, jonathan lebih dulu berbicara.
“Berhenti menghina orang lain! Sifat kalian membuktikan bahwa kalian lebih hina dari mereka!” Jonathan membalikkan tubuhnya berjalan kearah meja johan.
“Jo..na..than!” ucap kaget Gilbert, Grace, dan Zaina. Mata zaina berkaca-kaca kearah jonathan, melihat anaknya yang sudah tidak pulang berbulan-bulan.
“Kamu kemana aja jo?” Tanya zaina tak sadar berdiri. Jonathan mengacuhkan ucapan mommy nya, ia malah berbicara pada johan.
“Om duduk disana bersama kami! Kami hanya duduk bertiga, masih ada kursi kosong 5 lagi.” Ajak jonathan berdiri di depan meja.
“Ayoo pindah ke depan, itu lebih baik untuk kalian. Malu kita jadi perhatian orang lain! Bukannya yang waras harus ngalah? Jangan gunakan energi kalian buat sesuatu yang unfaedah!” Johan menganggukkan kepalanya. Dengan di bantu biru ia pindah ke meja depan yang berada tepat di depan gilbert.
“Anak kurang ajar! Gak punya sopan santun! Begini sifat mu pada orang tua! Anak tak tahu terima kasih.” Umpat Gilbert yang tidak di tanggapi oleh jonathan. Jonathan dengan cuek malah menggandeng dian.
“Anak mu tak ada yang bisa diandalkan satupun!” Sungut grace sambil merapikan sanggul kepalanya.
“Jo, mommy kangen!” Jonathan membalikkan tubuhnya kearah zaina dengan senyum kecut. Ia menggelengkan kepalanya sambil memijat dahinya.
“Maaf, saya sudah menemukan keluarga yang sudah membuat saya nyaman! Keluarga ini adalah keluarga saya! Keluarga yang mencintai saya dengan tulus!” ucap formal jonathan bagai tamparan keras bagi zaina. Zaina menangis meneteskan air matanya mendengar ucapan jonathan, hatinya sakit mendengar pengakuan anaknya.
“Dasar anak tak tahu diuntung!”
Jonathan duduk di kursinya di samping biru, ia tak sedikitpun menengokkan kepalanya ke belakang. Bukannya ia ingin bersifat tega pada mommy nya, tapi dia hanya ingin memberikan pelajaran kepada kedua orangtuanya.
Mereka menghentikan perdebatan mereka, karena acara itu di mulai. Susunan demi susunan acara itu telah berlalu, dua meja itu tak menikmati sama sekali. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Jonathan, bi Ina dan Melisa sedang memikirkan meida. Sedangkan keluarga gilbert memandang tak suka kearah depan.
-
Sesuai requestan kalian Innsya Allah otor up 2 Bab hari ini.
Sengaja minggu-minggu ini otor up 1 part, karena kalau 2 part suka sedikit yang ngelike nya😢
Nanti otor up lagi, tapi di jeda yah gak bisa sekarang hehe.
Kuyylah like sama votenya ♥️
Jangan lupa komen sama hadiahnya 🤗
Hatur nuhun buat yang udah ngelike, ngevote, ngomen, sama ngasih hadiah ♥️🤗
__ADS_1
Gomawoooo😘♥️