Kita Berbeda

Kita Berbeda
Semoga Meida Bahagia Bersama Melvin


__ADS_3

“Karena saya mencintaimu tak bersyarat! Itulah alasannya!” Tegas melvin sambil mengangkat wajah meida yang menunduk.


“Bolehkah saya mencintaimu meida?” Meida menelan ludahnya kasar, menatap sorot mata melvin yang penuh dengan pengharapan.


Deg deg deg


Meida cukup lama terdiam dengan wajah yang kembali tertunduk.  Ia bingung harus menjawab apa. Sementara melvin masih setia memandang wajahnya, menunggu jawaban yang terlontar dari bibirnya.


“Saya mohon jawablah!” Melvin menggeser kursi nya agar lebih dekat dengan meida. Meida menarik nafasnya dalam, lalu mengangkat wajahnya. Pandangan mata mereka pun bertemu.


“Mencintai saya ataupun tidak itu adalah hak tuan. Saya tak bisa melarang ataupun menolaknya. Karena saya tahu, cinta merupakan karunia yang telah dianugerahkan Tuhan pada setiap manusia. Terima kasih telah mencintai saya.” Melvin tertegun mendengar jawaban meida. Bibirnya tiba-tiba melengkung, ia menyampingkan posisi duduknya, yang kini berhadapan dengan meida.


“Boleh saya memperjuangkan cinta saya pada mu meida?” Tanya melvin dengan ekspresi wajah yang bersungguh-sungguh. Meida menatap Melvin dengan menggelengkan kepalanya.


“Jangan Tuan! Jangan memperjuangkan saya! Saya takut kita akan sama-sama terluka,” ucap pelan meida yang langsung membuat melvin menggelengkan kepalanya. Melvin memegang kedua bahu meida agar tetap menatapnya.


“Kenapa meida kenapa? Apa saya tidak boleh memperjuangkan cinta saya? Saya benar-benar mencintai kamu! Saya bersungguh-sungguh meida!” Parau melvin yang hatinya kini mulai di lusupi oleh rasa kecewa. Ia memandang wajah meida dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Meida menatap dalam wajah melvin, lalu mengusap sebentar wajahnya.


“Saya sudah katakan tuan! Jangan memperjuangkan saya! Jangan mencintai saya! Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bersatu! Walaupun kita sama-sama saling mencintai! Tuan pasti tahu! Ada tembok penghalang diantara kita. Seberapa besarpun tuan memperjuangkan saya, saya tak bisa menerimanya! Saya tahu, rasa cinta berasal dari Tuhan, tapi saya tidak bisa menukar Tuhan dengan cinta! Karena saya bisa hidup tanpa cinta, tapi saya tidak bisa hidup tanpa Tuhan! Maaf, saya lebih memilih Tuhan daripada rasa cinta itu sendiri.” Terang meida menatap melvin dengan mata yang mulai mengembun.


“Ya, saya tahu meida! Saya tahu! Itulah alasan utama penghalang hubungan diantara kita! Tapi jika saya meninggalkan Tuhan saya demi kamu, apa kamu mau menerima saya?” Tanya Melvin dengan suara bergetar. Meida menangkap kesedihan sekaligus kekecewaan di wajah tampan melvin.


“Tuan, jika karena itu. Maaf saya tidak bisa menerima tuan! Tuan rela meninggalkan Tuhan yang tuan yakini dari dulu demi saya yang hanya baru tuan kenal. Jika Tuan melakukan itu, saya takut suatu saat nanti Tuan meninggalkan saya. Seperti Tuan meninggalkan Tuhan tuan. Saya takut ... tuan hanya mempermainkan saya dan agama saya,” ucap meida meneteskan air matanya dengan suara bergetar. Ia tahu, bahwa melvin mencintainya dengan tulus. Tapi sayang,  ia tak bisa membalas cinta itu. Cinta yang sampai kapanpun tak akan pernah menemukan pelabuhan nya, karena terhalang oleh tembok penghalang yang begitu tinggi.


“Saya harus apa meida? Tolong katakan saya harus apa? Saya benar-benar mencintai kamu! Saya tak bisa jauh-jauh dari kamu! Tolong katakan pada saya, saya harus berbuat apa?” Melvin menggucang kedua bahu meida dengan wajah yang terlihat frustasi. Meida semakin menangis ketika melvin menggucang bahunya keras, ini baru pertama kalinya ia melihat keadaan melvin yang sekalut ini karenanya.


“Maaf tuan! Saya tahu ini menyakiti hati tuan! Ini lebih baik, daripada tuan sakit hati nanti! Saya takut memberi harapan palsu pada tuan! Saya takut tuan berharap pada sesuatu yang tak mungkin terjadi! Tuhan saya melalui firman-nya, melarang saya untuk menikah dengan seseorang yang  memiliki keyakinan berbeda dengan saya. Tuan harus tahu! Sampai kapanpun saya akan mengikuti semua perintah Tuhan! Karena Dia tempat pengharapan saya! Karena Dia yang mengatur takdir hidup saya! Karena hidup dan mati saya berada dalam genggamannya!” Teriak meida dengan suara tertahan. Melvin menghapus air matanya kasar.


“Tolong tatap mata saya! Katakan dengan jujur! Apa kamu mencintai saya? Apa ada nama saya tersimpan sedikit saja di hati mu! Tolong jawab meida!” Teriak melvin memaksa meida menatapnya. Untuk pertama kalinya ia berteriak di depan wajah meida.


“Tuan, saya pernah katakan! Saya hanya akan mencintai lelaki yang akan menjadi suami saya kelak! Saya tak berani mencintai seseorang! Saya takut terluka! Luka saya belum sembuh tuan! Saya mohon tuan mengerti!” Teriak meida dengan pandangan mengabur karena air mata.


“Jika kamu hanya mencintai lelaki yang akan menjadi suami mu kelak, kenapa kamu mencintai Adib? Kenapa kamu sebegitu dalamnya mencintai dia! Sampai kamu belum bisa melupakannya! Dia sudah mati meida! Sudah mati! Dia tak mungkin kembali!” Teriak melvin menatap dalam wajah meida dengan penuh amarah. Tangannya mencengkram bahu meida.


Plakk


Dengan sekali hempasan meida menampar wajah melvin dengan keras. Melvin membelalakan matanya, mengusap wajahnya yang di tampar keras oleh meida.


“Ya, benar dia sudah mati! Jangan diingatkan! Saya mencintai dia karena dia tak seegois anda! Dia tidak suka memaksakan kehendaknya seperti anda! Harusnya anda mengerti! Saya sedang menata hati untuk melupakannya! Tapi anda malah membuka luka lama saya, yang berusaha saya simpan! Asal anda tahu! Anda mengingat saya akan kesalahan saya! Anda harus tahu! Dia meninggal karena saya! Apa anda tahu seberapa dalam penyesalan saya? Setiap hari saya selalu dihantui oleh rasa bersalah, rasa menyesal, rasa kehilangan! Kenapa anda malah mengingatkan saya untuk mengingatnya! Kenapa hah?” Air mata bercucuran di wajah meida. Ia menyandarkan kepalanya di ujung meja. Ia menangis meraung, hingga suaranya memenuhi dapur itu. Melihat meida seperti itu, melvin merasa bersalah. Walaupun emosi masih menguasai dirinya, ia berusaha menurunkan egonya untuk meminta maaf kepada meida. Melvin mengelus lembut bahu meida yang sedang menunduk kepalanya di atas meja.


“Maafkan saya meida! Saya tak bermaksud seperti itu! Benar apa yang kamu katakan, saya memang lelaki egois! Lelaki yang suka memaksakan kehendaknya! Asal kamu tahu! Saya melakukan ini karena saya mencintai kamu! Saya tak ingin kehilangan kamu meida! Saya benar-benar mencintai kamu!” Meida semakin menangis mendengar ungkapan hati melvin yang sedang mengusap pundaknya.

__ADS_1


“Apa kamu tahu meida? Saya pun tersiksa dengan perasaan ini. Perasaan ini sangat membelenggu saya ... saya tak bisa sedikitpun menghindari perasaan ini ... perasaan ini malah semakin menjerat saya ... saya tak bisa melihat mu terluka ... saya tak bisa sedikitpun jauh dari mu ... saya tak bisa hidup tanpa mu. Saya tahu kamu menganggap saya berlebihan, tapi ini kenyataannya! Demi Tuhan, saya mencintaimu dengan tulus.” Lirih melvin sambil menyandarkan dahinya di bahu meida. Ia menangis setelah meluapkan isi hatinya, meluapkan segala perasaan yang selalu mengganjal di hatinya.


Meida mengangkat kepalanya. Ia membiarkan melvin menangis di bahunya.


“Terima kasih untuk rasa cinta yang tuan berikan pada saya, yang begitu besar ini. Saya tak bisa berkata-kata. Saya hanya ingin berkata, Jodoh, hidup, mati ada di tangan tuhan. Jika kita memang berjodoh, kita pasti bersatu walaupun banyak aral rintangan. Tapi jika kita tak berjodoh, kita harus sama-sama saling mengikhlaskan. Jangan ada dendam ataupun benci diantara kita. Saya ingin, kita sama-sama pasrah atas kehendak yang telah digariskan Tuhan pada kita ke depannya, bersatu ataupun harus berpisah.” Meida menepuk-nepuk pundak Melvin yang sedang menangis dibahunya. Mendengar ucapan meida, seberkas asa kembali muncul dihatinya. Ucapan meida seakan menjadi udara di kegersangan yang melanda hatinya.


“Meida, jika kamu memang wanita yang Tuhan kirim untuk saya. Kamu mau apa?” Tanya melvin sambil mengangkat wajahnya. Ia menatap meida, menunggu meida untuk menjawab pertanyaannya. Meida tersenyum sambil mengalihkan pandangan kearah samping.


“Jika memang Tuan adalah jodoh terbaik yang di kirim Tuhan untuk saya. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya akan menerimanya, karena anda adalah garis yang telah Tuhan takdirkan di hidup saya. Untuk menemani saya, mengarungi hidup di dunia ini.” Mata melvin sedikit berbinar. Ia tersenyum dengan bibir bergetar.


“Meida, selain alasan kamu tidak menerima saya karena keyakinan kita berbeda. Adakah alasan yang lainnya?” Tanya serius melvin. Meida menatap wajah melvin dengan kembali tersenyum.


“Saya rasa tidak! Karena keyakinan adalah faktor utama! Saya tak mungkin meninggalkan keyakinan yang sudah saya anut dari kecil demi tuan, begitu pun tuan. Karena saya tahu, kita sama-sama-sama pemeluk agama yang taat.” Melvin menggelengkan kepalanya. Secara tak sadar ia memegang tangan meida yang berada diatas meja dengan begitu erat.


“Meida, jika saya benar-benar meninggalkan agama saya dan memeluk agama yang kamu anut. Apa kamu akan menerima saya?” Meida menggelengkan kepalanya menatap melvin dengan sungguh-sungguh. Ia memegang tangan melvin lalu meletakkan di dada bidangnya.


“Tuan dengar! Saya tidak ingin tuan masuk agama saya karena saya! Saya tak ingin tuan menganut agama saya karena terpaksa! Saya tak ingin tuan menganut agama saya karena sebuah tujuan! Jika tuan melakukan itu, betapa jahatnya tuan! Saya ingin tuan menganut agama saya karena kesadaran hati tuan, bukan karena orang lain. Saya ingin tuan menganut agama saya, karena tuan yakin dengan Tuhan saya. Ini bukan masalah sepele tuan, tuan butuh waktu untuk mempertimbangkannya!” Meida melepaskan tangannya dari dada melvin. Ia melihat melvin yang sedang terdiam mempertimbangkan ucapannya. Meida tahu, masih ada sedikit keraguan di wajah melvin.


“Baiklah meida. Saya akan memikirkannya! Saya memang butuh waktu untuk meyakinkan semua ini, saya benar-benar harus memantapkan hati saya!” Meida menganggukkan kepalanya samar.


“Ya tuan, saya pun sama. Sekarang saya sedang memikirkan keluarga saya! Saya ingin menata hati saya terlebih dahulu. Kenyataan demi kenyataan seakan mengejutkan saya! Saya butuh waktu untuk menerima semua ini. Maaf, untuk sekarang saya akan lebih fokus dengan keluarga saya, tidak papa kan saya menyampingkan masalah ini dulu. Saya ingin menata semuanya, jika memang semuanya sudah clear. Mari kita bicarakan ini lagi. Gak papa kan tuan?” Melvin tersenyum menganggukkan kepalanya. Wajahnya kini kembali berbinar, kini sebuah asa mulai menerangi hatinya kembali. Sebuah harapan dan tujuan kini telah kembali dihidupnya.


-


“Apa sudah ada kabar mengenai meida jo?” Tanya johan yang sedang duduk di samping jonathan. Johan bersama istri dan kedua anaknya menginap di apartemen meida, johan sengaja meminta driver nya untuk menjemput jingga dan membawanya ke apartemen yang meida tempati. Johan mulai waspada dengan ancaman grace, yang tak lain ibu tirinya sendiri.


Sedangkan melisa masih berada di acara perusahaan kedua orangtuanya, ia memilih menemani maminya, karena kehadirannya sangat dibutuhkan Disana. Sementara andress, ia  memilih pergi untuk mencari keberadaan adik perempuan yang baru diketahuinya


Jonathan mengecek ponselnya setelah merasakan ponselnya bergetar. Ia membaca pesan masuk dari melvin.


“Kata ko melvin, dia menyuruh kita untuk beristirahat. Cici meida sekarang aman, ia sedang bersama ko melvin. Ia meminta kita untuk membiarkan cici meida sendiri dulu. Jika memang cici meida sudah tenang, ko melvin sendiri yang akan mengatarnya pulang kesini,” capp jonathan setelah membaca pesan yang melvin kirimkan.


“Mana? Om mau lihat jo?” Jonathan menyodorkan ponselnya kearah johan. Johan membaca pesan itu dengan menarik napas pelan. Ia tenang, karena keponakannya berada bersama orang yang tepat.


“Syukurlah kalau meida bersama melvin. Ibu tenang mendengarnya! Melvin memang lelaki baik.” Sahut bi Ina yang berada di ujung sofa. Jonathan tersenyum kearah bi ina.


“Iya bu. Ko melvin memang lelaki baik. Jo mendukung jika ko melvin dan cici meida bersatu.” Dian dan johan langsung menolehkan kepalanya kearah jonathan setelah mendengar penuturan dari nya.


“Apakah mereka saling mencintai?” Tanya penasaran johan.


“Tepatnya ko melvin yang mencintai cici meida om. Jo berharap, cici meida segera membuka hatinya untuk menerima ko melvin.” Tutur jonathan yang diamini bi ina dan yang lainnya.

__ADS_1


“Jika Melvin memang lelaki baik dan tepat untuk meida. Om hanya bisa mendukungnya. Semoga meida bahagia jika bersama melvin. Karena tujuan om sekarang adalah kebahagiaan kalian.” Senyum tulus johan menatap jonathan lalu kearah dua anaknya.


“Semoga saja ... kita hanya bisa mendoakan untuk kebaikan mereka. Sudah malam, waktunya tidur! Mari Bu, Pak, saya tunjukkan kamarnya!” Bi ina mengantar Johan dan Dian ke kamar tamu. Biru berjalan di belakang mereka karena membopong jingga yang sudah tertidur.


“Jangan panggil saya dengan sebutan ibu. Ibu bisa panggil saya dan suami saya dengan sebutan nama saja. Karena usia ibu lebih tua dari kami hehe.” Tutur Dian tersenyum kearah bi Ina yang sedang mengantarnya ke kamar tamu. Ia dengan hangat menggandeng tangan bi Ina.


“Betul sekali apa yang dikatakan istri saya. Panggil kami dengan sebutan nama saja bu,” ucap johan dengan ramah. Bi ina membuka pintu kamar tamu itu untuk mereka tempati.


“Baiklah saya panggil kalian dengan sebutan nama saja! Ini kamarnya. Silahkan beristirahat! Saya keluar dulu! Jika ada apa-apa kalian bisa panggil saya di kamar atas.” Pamit bi ina sambil keluar di kamar itu.


“Baik Bu!” Bi ina keluar kamar itu menuju jonathan yang masih memainkan ponselnya di sofa.


“Jo sama biru tidur di kamar cici meida yah. Kamarnya sudah ibu rapikan. Kalian tidurlah! Ini sudah sangat malam!” Jonathan langsung berdiri dan menepuk bahu biru yang berada di belakang bi ina.


“Baik bu. Sepupu ku ayo kita tidur!” Ajak Jonathan sambil menggandeng bahu biru.


“Ayoo! Bu kami tidur duluan!” Pamit biru yang bahunya digandeng jonathan.


“Silahkan!”


-


Meida, maaf saya tidak bisa menemanimu hari ini. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Saya sudah menyuruh istri pak Muin untuk menemani kamu. Jika butuh sesuatu, kamu bisa hubungi saya, atau bilang pada mereka. Nikmati hari ini, nanti malam saya akan pulang kesana. Meida tersenyum setelah membaca note yang di simpan melvin di nakasnya. Ia tidak tahu kapan melvin masuk ke kamarnya, karena ini masih pagi.


Ini baru jam setengah 6, kapan tuan Melvin pergi?


 -


-


Happy Monday guys♥️


Semoga kegiatan kalian hari selalu diberikan keberkahan dan kemudahan. Aamiin


Jika suka dengan novel ini, jangan lupa vote sama hadiahnya mumpung hari senin wkwkwk


Like, rate dan komennya di tunggu 🤗


Otor butuh ☕ untuk menemani kehaluan otor😁 Insyaallah nanti malam jam 7'an otor up lagi yah♥️♥️♥️


Hatur nuhun buat yang masih stay d novel ini♥️♥️♥️🤗☕☕😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2