
"Meida adib menitipkan sesuatu untuk mu,” ujar zidan menghapus air mata nya, lalu mengambil surat di balik jas kerja nya.
“Apa bang?” Tanya meida dengan pandangan kosong, memandang sekilas kearah zidan.
“Adib memberikan surat ini sehari sebelum kepergiannya. Ia menulis surat itu, ketika mengetahui abang akan dinas ke luar kota dek, ke kota ini. Ketika abang sudah pergi, dan baru saja sampai bandara. Adib lebih dulu pergi meninggalkan kita. Abang menunda kepergian abang selama seminggu, dan setelah 7 hari kepergian adib. Abang baru berangkat kesini. Maaf abang terlambat memberikan surat ini kepada mu dek.” Terang zidan dengan sesenggukan, hatinya tak kuat memandang meida.
Meida lekas mengambil surat itu dari tangan zidan.
Apa sekarang tiba waktu ku mengalah memperjuangkan cinta mu dek? Aku merasa kau memiliki perasaan yang sama, seperti yang adib miliki. Kau mempunyai cinta yang besar untuk nya, walaupun pun kau berusaha menepisnya. Walaupun sakit, aku ingin seperti adib, mencintaimu dengan segenap jiwa. Yang rela mengorbankan perasaan nya agar kau bahagia. Yah, Karena cinta tak harus memiliki, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku, melihat mu bahagia itu lebih dari cukup dek.
Abang hanya ingin mengatakan, bahwa apa yang abang rasakan untuk mu terlalu besar, dibandingkan dengan, ketika abang terluka di paksa menerima perjodohan itu. Batin zidan menatap nanar kearah meida yang sedang menatap dalam amplop itu.
Langit cerah tiba-tiba kelabu, mengisyaratkan bahwa alam seakan berduka seiring dengan isak tangis meida yang menyayat kalbu. Suasana mendung, seakan tahu, bahwa gadis itu sedang menderita. Duka, cinta, lara, dan nestapa menyelimuti serpihan hati meida. Dunia seakan tahu, kekalutan menghinggapi hati gadis yang sedang bersimpuh di tanah itu.
“Dek, ayoo kita pergi dari, cuaca sudah mendung, sebentar lagi hujan.” Ajak zidan yang berusaha bersikap tegar. Ia tak tega melihat keadaan meida terpuruk seperti ini. Zidan memegang bahu meida membantu nya untuk berdiri, tapi meida malah menepis tangannya pelan.
“Pergilah bang, jangan hiraukan meida. Meida mohon tinggalkan meida sendiri!” Pinta meida sambil meraba-raba amplop surat, dengan berlinang air mata.
Tiba-tiba ponsel zidan berdering, ia mengecek ponsel nya. Lalu menatap meida dengan perasaan bersalah.
"Dek, maaf abang tidak bisa menemani mu lebih lama lagi. Atasan abang sudah menunggu abang. Abang pamit, jaga dirimu baik-baik.” Pamit zidan dengan air mata kembali berurai. Ia berdiri, membersihkan celana nya dari debu, lalu pergi meninggalkan meida. Dalam hatinya ia tak tega meninggalkan meida sendiri.
-
-
🎵Ku telah miliki ...
🎵Rasa indahnya perihku...
🎵Rasa hancurnya harapku ...
🎵Kau lepas cintaku ...
Suara lagu terdengar keras dari cafe yang berada di seberang taman, hujan rintik membasahi bumi, menambah syahdu suasana hati meida.
Dengan tangan bergetar, meida membuka amplop itu. Ia membuka lipatan surat lalu membaca nya.
-
Assalamualaikum.
Meida ...
Ku beranikan mengirim surat ini, dengan keyakinan bahwa surat ini akan di bawa menuju mu.
Dimana ku tahu, disana lah kamu berada.
Jika Allah meridhoi surat ini, pasti akan sampai ke tangan mu dek.
Biarlah surat ini menempuh takdirnya sendiri.
Dan disinilah aku berada meida, menunggu mu ...
Menunggu kedatangan mu, menggenggam tanganku, menguatkan ku dari ujian yang Allah berikan ini. Aku ingin kau berada disampingku dek, melepas kepergian ku dengan senyum ke ikhlasan.
Kau tahu dek, saat menulis surat ini, air mata ku bercucuran tanpa bisa ku cegah. Mungkin inilah pertanda bahwa hidup ku di dunia ini tak akan lama lagi. Saatnya aku kembali ke tempat dimana ku berasal.
Meida, ketika kau membaca surat ini, aku sudah pergi jauh dari mu, dan tak mungkin kembali. Aku sudah pergi ke alam nirwana, menemui Ayah yang selama ini ku rindukan, bertemu Ummah dan Abi yang sangat kau cintai itu.
🎵Rasakan abadi ...
🎵Sekalipun kau mengerti ...
🎵Sekalipun kau pahami ...
🎵Ku pikir ku salah mengertimu ...
__ADS_1
Bahu meida semakin terguncang membaca rangkaian demi rangkaian kata yang di tulis adib.
Meida, maafkan aku yang mengingkari janji ku, aku tak bisa menunggu mu lebih lama lagi. Ternyata Allah tak mengizinkan ku untuk menunggu kepulangan mu dek. Aku hanya bisa apa? Walaupun hati ku berat meninggalkan mu. Tapi aku tidak bisa menolak takdir ini, aku hanya bisa pasrah dek ...
Meida, Allah memberi ku kekuatan luar biasa untuk mencintaimu, bahkan disaat-saat ku kalah dan pasrah.
Cinta ku tak dibiarkannya lekang dan hilang.
Asal kau tahu dek, kau selalu ada dihatiku. Nama mu selalu ku lambungkan di setiap sujud panjang ku.
Saat rindu menghimpit jiwa ku, aku hanya bisa menyapa mu dalam doa. Mendoakan mu, Dimana pun kau berada, semoga Allah selalu melindungi mu.
Meida, aku tak tahu kau menganggap ku sebagai apa? Mungkin kau menganggap ku tak lebih dari seorang kakak? Tapi tak apa! Walaupun hatiku sakit ketika mendengarnya.
Meida, aku mencintai mu. Awalnya aku bingung menyimpulkan perasaan ini, karena kebersamaan kita sedari dulu, aku takut mengakuinya. Aku pikir rasa cinta ini hadir, karena perasaan cinta seorang kakak pada adiknya. Ternyata itu bukan meida, Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah Ta'ala. Bukan karena rasa iba ataupun kasihan. Tapi murni dari lubuk hati yang terdalam. Ini lah alasan, kenapa aku selalu ingin melindungi mu, tak bisa sedikit pun melihat mu terluka. Kau pasti merasakan nya dek? Cinta ku padamu Lillahi Ta'ala, karena Allah semata.
🎵Hoo woo aku hanya ingin kau tahu ...
🎵Besarnya cintaku ...
🎵Tingginya khayalku bersamamu ...
🎵Tuk lalui waktu yang tersisa kini ...
🎵Di setiap hariku ...
🎵Di sisa akhir nafas hidupku ...
Kak adib ... gumam meida sambil menutup mulutnya, memegang kertas itu erat.
Meida do'a tulus ku...
Semoga kelak kau menikah dengan seorang lelaki yang kau cintai, dan mencintai mu. Melebihi rasa cinta yang ku miliki untuk mu. Semoga kamu menemukan kebahagiaan mu dek, kebahagiaan yang kau impikan dari dulu..
🎵Walaupun semua hanya ada dalam mimpiku ...
🎵Hanya ada dalam anganku ...
Kau tahu impian ku dari dulu dek?
Aku ingin menggenggam tangan mu di surga, dan berkata “Akhirnya kita disini.” Tapi entahlahh, tangan mu bisa ku genggam ataupun tidak. Karena takdir lebih dulu memisahkan kita.
🎵Rasakan abadi ...
🎵Sekalipun kau mengerti ...
🎵Sekalipun kau pahami ...
🎵Ku pikir ku salah mengertimu ...
Meida, pesan kakak, "kamu jangan pernah takut sendiri."
Apapun yang akan terjadi, ingatlah bahwa ketika kau tak punya siapa-siapa selain Allah, Allah itu lebih dari cukup dek.
Dan kita tahu, sebenarnya kita tak pernah sendirian, Allah selalu bersama kita dek, Allah tak pernah meninggalkan kita.
Ketika kau tak punya sandaran, Ingatlah dek, Allah lah Sebaik-baiknya sandaran.
Jangan pernah berharap kepada manusia, karena ujung-ujungnya pasti menyakitkan. Allah lah Sebaik-baiknya pengharapan.
Meida, aku mohon jangan pernah menangis setelah kepergian ku, hapuslah air mata mu, sejatinya aku tidak pernah pergi, aku selalu berada di hati mu.
Kenangan indah kita, semoga Allah mengabadikan rasa ini.
🎵Hoo woo aku hanya ingin kau tahu ...
🎵Besarnya cintaku ...
🎵Tingginya khayalku bersamamu ...
__ADS_1
🎵Tuk lalui waktu yang tersisa kini ...
🎵Di setiap hariku ...
🎵Di sisa akhir nafas hidupku ...
Meida, maka disinilah aku berada sekarang.
Kau bawa jiwa ku, cinta ku, dan cintanya bersama mu.
Aku selalu memohon meida, agar jalan cinta ku menuju jalan terindah, Hanya milik Allah semata.
Jangan pernah berhenti mendo'akan ku meida, karena do'a ku selalu menyertai setiap langkah mu.
🎵Hoo woo aku hanya ingin kau tahu ...
🎵Besarnya cintaku ...
🎵Tingginya khayalku bersamamu ...
🎵Tuk lalui waktu yang tersisa kini ...
🎵Di setiap hariku ...
🎵Di sisa akhir nafas hidupku ...
Meida tak mampu membaca kelanjutan surat itu, air matanya bercucuran tanpa bisa di cegah, seiring alunan lagu yang di putar. Jiwanya sangat terluka, di bawah rinaian hujan ia memukul-mukul dadanya dengan begitu keras, menghilangkan rasa sesal, kecewa, dan pasrah atas takdir pahit yang menimpahnya.
“Argggghhhh” Teriak keras meida mendongkakan wajahnya ke langit, ia menatap langit dengan bersimbah air mata. Air hujan membasahi wajahnya, menyatu dengan deraian air matanya. lalu ia terkulai ke tanah, dengan memeluk erat surat dengan tangan kirinya. Tatapan matanya kosong memandang rinai hujan yang jatuh di telapak tangan kanannya yang mengadah ke langit.
Kamu mau percaya atau tidak, kakak menyayangi mu dek, bukan sayang kakak pada adiknya. Tapi rasa sayang laki-laki pada wanita yang dicintainya. Suara adib memenuhi rongga telinga meida.
Kak adib, aku tak tahu rasa cinta itu seperti apa? Yang ku tahu abi selalu menasehati ku, agar aku hanya mencintai lelaki yang menjadi imam ku kelak. Bodohnya aku, tak bisa menyimpulkan rasa yang ku miliki untuk mu dari dulu. Aku merasa nyaman bila bersama mu kak, aku bahagia di dekat mu, aku senang saat kau melindungi ku, aku kesal saat kau mengabaikan ku. Aku tak tahu perasaan ini apa? Aku takut menyimpulkan rasa ini kak.
Kak adib, asal kau tahu! Aku pergi kesini bukan untuk mengindari mu, tapi aku bingung harus memilih siapa. Aku tak ingin menyakiti hati kalian berdua, kalian adalah lelaki baik, lelaki sempurna, yang tak pantas untuk ku pilih. Aku pergi agar kau bisa menghilangkan rasa mu untuk ku kak, agar kau bisa mencari pengganti ku. Mencari wanita yang lebih baik dari ku.Tapi kenyataannya cinta mu begitu besar untuk ku kak.
Kak, kenapa kau mencintaiku sedalam ini? Kenapa kak?? Aku tak pantas menerima cinta tulus mu ini! Sudah ku bilang! Aku adalah MEIDA!! Aku adalah anak haram itu! Aku adalah anak pembawa sial itu! Anak tak jelas asal-usulnya! Aku tak ingin mempermalukan mu kak ... bagaimana tanggapan orang-orang ketika kakak menikahi ku, mereka tak akan menyetujuinya, yang ada mereka akan mencibirnya. Aku tak ingin kau terluka kak, dengan ucapan mereka yang menyakitimu. Aku tak ingin kau bernasib sama denganku. Aku tak ingin orang menganggap mu rendah. Aku tak ingin mereka menganggap mu hina. Aku tak ingin kau dikucilkan oleh keluarga mu sendiri kak, bertapa sulitnya hidup tanpa keluarga. Aku tak ingin orang yang kucintai menderita karena aku!! Aku takut nanti anakku kecewa, terlahir dari rahim seorang wanita sepertiku, aku takut mereka bernasib sama seperti ku.
Aku takut kak, terlalu banyak hal yang kutakutkan, sehingga aku tak berani bermimpi..
Kak, harusnya kau mengingat perkataan yang ku ucapkan dulu, harusnya kau mendengar alasan ku. Karena alasan itu aku takut hidup bersama mu, aku takut kau menderita kak. Cukup saja aku yang menderita, jangan sampai orang lain merasakannya.
Tuhan apakah aku mencintai nya??? Jerit tangis meida, tanpa suara.
Yaa Allah Yaa Tuhan ku, kenapa kau selalu mengujiku?? Di saat aku berusaha bangkit dari pahitnya hidup, kenapa kau tak henti-hentinya memberi ku cobaan yang tak sanggup ku hadapi, kenapa Yaa Allah?? Apakah aku dilahirkan untuk sebuah penderitaan??
Yaa Allah, kenapa kau selalu mengambil orang yang ku cintai, apakah aku tak pantas bahagia bersama mereka??
Yaa Allah, Kenapa cobaan bertubi-tubi menghadang ku, di saat aku berusaha menerima takdir yang kau gariskan untuk ku.. Kenapa Yaa Allah???
Yaa Allah, aku ingin bahagia ... Kenapa kebahagiaan itu sulit ku raih?? Sebesar itu kah dosa ku, hingga kau tak parnah mendengar doa ku.
Yaa Allah.. Kenapa takdir ku sekejam ini? Orang tua ku membuang ku?? Orang yang mencintai ku meninggalkan ku?? Apa yang harus ku lakukan sekarang.
Apa kurang penderitaan ku selama ini Yaa Allah???
Aku tahu, apa yang menurut ku baik, belum tentu baik menurut mu ...
Tapi aku hanyalah manusia biasa, yang punya rasa lelah dan kecewa.
Yaa Allah ... Aku ingin menyerah atas hidup ini!!!
-
-
Bersimbing
__ADS_1
Kuy lah like, hadiah sama votenya🤗
Jumat mubarok, Al - kahfi day.