
“Kupikir dulu orang itu teguh memperjuangkan cintanya! Tapi nyatanya aku salah meida ... lelaki itu kalah oleh keluarganya! Dia rela menelantarkan istri dan anaknya demi istri muda dan keluarganya. Rasanya sakit sekali meida ... Sakit sekali. Aku pikir dia akan menjadi pelindung kami, tapi nyatanya dia sendiri yang perlahan-lahan membunuh kami.” Tangis johan sambil mengigit lengannya, agar suara tangisnya tak terdengar keras. Meida menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan johan.
“Sabar ... paman orang yang luar biasa! Ibu paman pasti bangga memiliki putra seperti paman. Paman lelaki baik, Tuhan pasti memberikan kebahagiaan, setelah perjuangan panjang yang paman tempuh selama ini.” Meida menepuk-nepuk bahu johan dari arah samping. Meida pun menangis mendengar cerita pilu johan, yang begitu membuat dadanya sesak.
“Keluarga itu membuang ibu saya tanpa berprikemanusiaan meida. Ketika ibu saya sedang mengandung saya. Mereka tak berbelas kasihan sedikit pun meida, mereka mengusir ibu saya tengah malam, mereka memfitnah ibu saya atas sesuatu yang tak diperbuatnya.” Lirih johan sambil menenggelamkan wajahnya dipahanya. Ia menangis sejadi-jadinya dengan posisi tubuh membungkuk. Meida menggigit bibirnya, ia merasa begitu terluka sama seperti johan. Ia merasakan bagaimana perasaannya bila berada di posisi johan.
~
[Kamu siapa? Tolong jangan dekat-dekat dengan saya. Saya mohon! Pergi dari sini!] Teriak wanita muda kepada seorang lelaki bertato yang tiba-tiba ada dikamarnya. Wanita yang sedang ketakutan itu adalah lily, istri pertama maxime yang di nikahi secara sirih.
[Apa yang ingin kau lakukan? Saya wanita yang sudah bersuami! Jangan macam-macam terhadap saya!] Ancam lily dengan melempar barang-barang yang ada didekatnya kearah lelaki yang berusaha melecehkannya. Sedangkan lelaki itu terus berjalan kearah lily dengan seringai menghiasi dibibirnya.
[Ckck. Jangan munafik kamu! Kamu butuh uang berapa? Saya sanggup berikan kamu berapa pun!] Lily semakin dibuat ketakutan oleh lelaki itu, ia berlari keluar kamar menuju pintu keluar.
[Tutup mulut mu brengsekk! Aku wanita baik-baik! Aku tak butuh uang mu sepeserpun!] Teriak lily sambil berlari. Lelaki itu terus mengejar lily, dan berhasil menangkap nya. Lalu ia membanting tubuh lily ke sofa yang berada di ruang tamu.
[Cuihh!] Lelaki itu meludah kesamping dengan seringai yang menghiasi bibirnya.
[Pelacur itu lebih baik dari mu! Daripada jadi tukang hisap seperti lintah! Dasar wanita gila harta! Saatnya kita bersenang-senang malam ini! Mumpung suami mu berada dirumah istri mudanya haha] Tawa menakutkan lelaki itu membuat nyali lily menciut. Dengan tubuh gemetar lily berusaha melawan cengkraman lelaki itu, ia terus meronta ketika tubuh lelaki bertato itu menindihnya.
[Siapa kamu sebenarnya? Lepasin saya! Jangan berbuat kurang ajar! Aww ... sama mohon lepasin saya! Apa salah saya sama kamu!] Tangis lily pecah ketika lelaki itu berhasil merobek kain yang berada dibahunya.
[Lilyyy!!!!!] Pintu itu dibanting kasar dari luar. Menampilkan sosok max bersama istri mudanya grace, dan helena ibunya. Kedua wanita itu memandang wajah berantakan lily dengan senyum sinis yang sulit diartikan. Sedangkan max menatap lily dengan wajah merah dan tangan mengepal.
“Tolong mas! Lelaki itu berusaha melecehkan saya.] Lily berlari kearah max, tapi max berjalan kearah lelaki itu dan menghajarnya.
Dug ... brugh ... brakk...
Max menghajar lelaki itu dengan membabi buta. Tapi lelaki itu malah membalas max dengan seringai licik diwajahnya.
Helena menjambak rambut lily, ia mendorongnya kasar ke lantai. Helena tak memperdulikan rintihan pilu lily, ia malah memukul tubuh lily dan menendangnya. Lily dengan wajah berdarah memeluk erat perutnya, agar terhindar dari amukan helena. Ia hanya mampu menangis tanpa bisa melawan amukan wanita paruh baya, yang dikuasai nafsu dan amarah.
Yaa Tuhan tolong lindungi anak ku ... Lindungilah anak ku dari amukan wanita ini. Hanya dia kekuatan ku Tuhan. Aku mohon ... tak ada yang akan menolong ku disini, kecuali engkau tuhan. Do'a pilu lily dalam hati sambil mengelus dan memeluk erat buah hatinya yang baru berusia 2 bulan dalam kandungannya.
[Begini kelakuan istri tercinta mu mas? Yang rela kau pertahankan selama ini! Lihatlah kelakuan bejatnya! Rela berselingkuh dirumah yang kamu beli. Kalau aku jadi kamu, sudah kulempar wanita ini ke jalan! Berarti saat tak ada kamu, dia berani membawa lelaki lain ke dalam rumah ini! Ckck ternyata kamu diperdaya ****** ini!] Umpat keras grace dengan senyum sinis mengompori max, agar max semakin tersulut emosinya. Max langsung berhenti menghajar lelaki itu. Lalu menatap nyalang kearah lily.
[Sumpah demi Tuhan saya tak mengetahui lelaki ini! Dia tiba-tiba datang dan ingin melecehkan saya!] Teriak lily dengan suara lemah. Ia berusaha menahan sakit disekujur tubuhnya.
[Udah tahu salah! Masih aja bawa-bawa nama Tuhan! Lagian mana ada maling yang mau ngaku! Ternyata perilaku mu sangat hina! Berani-beraninya kau menyakiti anak saya! Lihatlah max kelakuan istri tercinta mu! Tak lebih dari seorang pelacur! Yang berani menajajakan tubuhnya! Sudah berapa lelaki yang menikmati tubuh mu?] Sungut tajam helena menghina lily sambil menunjuk-nunjuk wajahnya. Sedangkan lily hanya menutup mata menerima hinaan itu, dengan air mata yang bercucuran.
[Cuihh! Selain miskin harta kamu juga ternyata miskin ahlaq!] Grace meludahi wajah lily dengan wajah puasnya. Max buru- buru berjalan kearah lily yang sedang duduk dilantai dengan menekuk kedua kakinya. Ia berhenti dihadapan lily lalu menamparnya.
Prakkk ... prakkk
__ADS_1
Max menampar kedua pipi lily dengan keras secara bergantian, hingga sudut bibir lily pecah mengeluarkan darah. Semua yang berada ditempat itu terkesima melihat berbuatan max, ibu dan istri mudanya malah tersenyum dengan melakukan tos penuh kemenangan.
[Apa yang kau lakukan dengan lelaki ini saat tak ada saya hah! Beginikah kelakuan mu saat tak ada saya! Dasar ******! Saya sudah mengangkat martabat mu dan hidup enak! Dan ini balasannya? Balasan pada saya karena sekarang saya lebih mementing grace daripada kamu! Inilah balasannya? Karena saya memprioritaskan anak saya!” Max mengguncang kasar tubuh lily dengan air mata yang berderai diwajahnya.
“Ingat! Kalau bukan karena saya, mungkin sekarang kamu sudah jadi gembel jalanan, jadi pengemis! Kamu seperti ini karena saya! Jangan salahkan saya, jika saya mengembalikan mu ke tempat asalmu!” Lily hanya menangis mendengar setiap perkataan max yang dilontarkan padanya yang penuh dengan kata hinaan. Ia menatap mata max dalam, kini ia tahu sudah tidak ada cinta dan ruang lagi dimata max untuknya. Grace dan Gilbert ternyata berhasil menggeser posisinya.
Ternyata aku kalah mas? Tidak ada ruang lagi untuk ku dihati mu. Percuma aku berjuang sendiri, ternyata kamu yang telah membuat ku menyerah. Dulu ku pikir seburuk apapun keadaan, walaupun sangat menyakitkan hati ku, aku akan berusaha berada disamping mu, jika kamu tak meminta ku pergi. Tapi sekarang kamu yang menyuruh ku pergi ... mengakhiri perjuangan ini. Batin lily sambil mengusap airmata diwajahnya dengan mata masih menatap dalam sorot mata max.
[Percuma aku mengatakan semuanya, kamu tak akan mempercayainya mas. Walaupun aku mengatakan yang sesungguhnya. Hati dan cinta mu sudah tertutup untuk ku, cinta mu sudah pergi entah kemana. Aku sudah tak mengenali sosok mu yang dulu lagi.] ucap lirih lily dengan mengusap sudut bibir dengan tangannya.
[Jawab pertanyaan saya! Siapa lelaki ini?] Teriak max dengan mencengkeram rahang lily. Ia sudah diliputi dengan amarahnya.
[Demi Tuhan saya tak mengetahui dia ... Demi Tuhan ...] Lirih lily dengan suara yang melemah karena max mencengkeram lehernya dengan keras.
[Saya mohon kamu jujurlah! Siapa kamu sebenarnya!] Teriak max sambil melepas cengkramannya. Lalu ia berjalan kearah lelaki itu dan duduk diperutnya.
[Santai brow! Dia itu pacar saya, kami sudah menjalin hubungan beberapa bulan ini. Benarkan sayang?]
[Demi Tuhan saya tak memiliki hubungan dengan mu! Kenapa kau memfitnah saya? Apa salah saya? Ingat! Tuhan menyaksikan perbuatan mu pada saya!] Teriak lily berusaha menyangkal ucapan lelaki itu, walau kondisi berhasil menyudutkannya.
[Kau dengar max ucapan lelaki itu! Selama ini kamu telah diperdaya nya! Wanita ini benar-benar siluman!] ucap helena sambil mengusap bahu anaknya.
[Mas percayalah! Lihatlah mataku! Aku tak pernah mengkhianatimu! Demi Tuhan, aku sayang mencintai mu! Aku tak pernah menodai pernikahan kita.]
[Kamu pergi dari rumah ini! Saya tak sudi rumah anak saya ditempati kamu!] Usir helena berusaha menyeret tangan lily.
[Saya akan pergi, jika mas max yang memintanya!] Senyum getir diwajah lily, sambil melepaskan cekalan tangan helena.
[Max usirlah wanita tak tahu malu ini dirumah mu!]
[Ayoo mas usir saja dia!]
Max berpikir keras, langkah apa yang harus dia ambil sekarang. Dengan perasaan berat, akhirnya dia mengambil keputusan.
[Lily malam ini, kamu keluar dari rumah saya! Saya tak sudi kau tinggal disini setelah pengkhianatan mu!] Ucap tegas max tanpa melihat wajah lily. Lily hanya tersenyum pilu mendengar keputusan max.
[Baiklah mas, aku akan pergi. Aku pikir kau benar-benar mencintai ku, tapi ternyata tidak. Aku kalah mas, dan kamu pun sama. Dulu kau berjanji akan melawan berbagai aral rintang bersama, menghadapi terjangan badai dengan sebuah kepercayaan, tapi nyatanya kamu yang malah mengingkarinya mas. Tanyakan pada hati mu, qku mengkhianati mu atau tidak! Hanya hati kecilmu yang mampu menjawabnya. Sayang disayangkan, kamu tak lulus dari ujian ini mas. Berpikir lah yang jernih sebelum kamu menyesalinya nanti!] Lirih pilu lily sambil berusaha berdiri.
Ternyata kejutan ku gagal mas, dan kau yang malah memberikan ku kejutan. Keluarga mu sungguh luar biasa mas. Happy anniversary untuk yang terakhir kali, semoga setiap kenangan kita selalu membekas dihati mu. Ternyata bukan maut yang memisahkan kita, tapi keluarga mu yang berhasil melakukannya.
[Arrgghhhh ... Bereskan barang-barang mu! Pastikan tak ada satu barang mu yang tertinggal disini!] Teriak max marah sambil membanting pintu. Ia pergi dengan mengendarai kendaraannya tanpa menghiraukan lily.
[Lihatlah! siapa yang kalah? Kamu terusir dari sini! Nikmati hidup gembel mu lagi! Jangan berharap jadi nyonya, karena sejatinya gembel tetaplah gembel!] Bisik grace dengan wajah penuh kemenangan.
__ADS_1
[Jadi kau yang melakukan semua ini? Jahat sekali kau grace! Apa salah ku padamu? Ternyata secantik apapun paras mu, tak bisa menutupi sifat iblismu! Aku tidak kalah grace! Walaupun aku tak bisa membalas perbuatan jahat mu, tapi Tuhan yang akan membalasnya! Karma itu ada grace!]
[Hahaha aku menunggu karma itu kakak madu ku! Yahh perlu kau tahu, inilah aku. Salah mu karena mas max terlalu m mencintaimu, dan kau hamil sekarang! Aku tak ingin anak dalam kandungan mu menjadi malapetaka untuk anak ku nanti. Bukan kah aku istri dan ibu yang baik?]
[Yang beruang, merekalah yang berkuasa sampai kapanpun! haha.]
[Akhirnya anak saya meninggalkan mu. Bayi dalam kandungan mu sampai kapanpun saya tak akan mengakuinya sebagai cucu dari keluarga Atmaja! Jangan sampai anak saya tahu, kalau kau sedang mengandung darah dagingnya. Jika sampai tahu, ku buat kau hidup semenderita mungkin! Karena nyawamu ada di genggaman ku!]
~
“Ibu saya kalah meida! Mereka berhasil mengusir ibu saya dengan cara keji dengan memfitnahnya! Ibu saya yang malang harus kalah memperjuangkan cintanya kepada lelaki pecundang itu. Ibu saya terlalu bodoh karena mencintai tulus lelaki itu sampai akhir hayatnya. Ibu saya menderita, setelah mereka mengasingkannya ditempat terpencil dengan pengawasan ketat dari mereka, agar ibu saya tak bisa bebas gerak. Ibu saya selalu menangis tanpa sepengetahuan saya, dia masih memikirkan lelaki keparat itu ditengah penderitaan nya.
Kami berjuang berdua untuk hidup, hidup dengan saling mengasihi dan mencintai walau banyak kekurangan.
Kau tahu, ketika saya kelas lima sekolah dasar, saya baru mengetahui semua kebenarannya. Bahwa saya adalah anak dari pengusaha ternama yang tak dianggap dan dibuang. Dan yang membuat saya sakit hati, saya satu sekolah dengan anak mereka, dengan anak sombong itu. Saya sering mengikuti lelaki brengsek itu, ketika ia mengantar anaknya ke sekolah. Lelaki brengsek yang tak tahu tentang keberadaan saya. Dia sama sekali tak mengenali saya sebagai darah dagingnya. Saya sangat cemburu disaat melihat kedekatan mereka, saya ingin sekali merasakan kehadiran sosok dari seorang ayah.” Dengan wajah bercucuran air mata meida mengelus lembut bahu johan untuk menenangkannya
“Dulu didepan panti ini, di persimpangan jalan didepan. Disanalah tempat saya mencari sesuap nasi. Disanalah tempat saya mengais rezeki dengan berjualan koran untuk membantu perekonomian ibu saya.
Ibu saya berjuang sendiri membesarkan saya dengan kedua tangannya.
Meida, ia menderita sepanjang hidupnya ... Ia tak pernah bahagia meida ... Ibu saya sangat terluka, ia menanggung rasa sakitnya sendiri tanpa membaginya dengan saya. Saya sering mendapatinya menangis diam-diam tanpa suara, tapi dia berusaha bersikap tegar dihadapan saya, dia berusaha tersenyum walaupun keadaan hatinya sedang tak baik-baik saja.
Meida, dengan kasih sayang dan cinta tulus darinya saya bisa hidup. Dengan kedua tangannya saya bisa makan. Dengan ketegarannya saya bisa melewati masa-masa sulit itu, dimana masa kita melawan kekejaman hidup di dunia yang tak adil ini. Dia mengajarkan saya untuk saling mengasihi, untuk selalu berbagi, untuk tidak merendahkan orang lain, untuk selalu iba terhadap kekurangan orang lain. Dan didikan itu melekat sampai sekarang dalam diri saya.
Dulu saya ingin membalas perbuatan mereka, dendam dihati saya membara ketika ibu saya berjuang hidup dirumah sakit melawan penyakitnya. Sementara pria brengsek itu sedang berpesta riya bersama keluarganya.
Waktu itu, saya tak punya uang sama sekali. Saya hanyalah seorang anak kecil dan kumal yang baru menginjakkan kaki sekolah SMP.
Hari-hari saya gunakan untuk mengurus ibu saya dan menjual koran untuk memenuhi biaya hidup kami. Ibu saya menderita kanker payudara, dan kami hanya bisa mengobatinya dengan seadanya. Kami hanya keluarga miskin yang tak memiliki biaya untuk mengobati penyakitnya. Hingga pagi itu, ibu saya jatuh pingsan, saking menahan rasa sakitnya. Saya dengan panik membawanya ke rumah sakit dibantu warga disana. Disaat saya terpuruk hanya zyanlah yang berada disamping saya meida, dia sahabat saya meida, sahabat terbaik melebihi saudara saya. Ketika sampai dirumah sakit, ibu saya koma, dia harus segera ditangani, dengan cara melakukan operasi untuk pengangkatan payudara nya. Tapi rumah sakit tak bisa melakukan penanganan untuk mengoperasi ibu saya, karena saya harus terlebih dahulu membayar uang mukanya. Betapa hancurnya hati saya waktu itu. Tanpa pikir panjang saya langsung pergi kerumah orang bengis itu. Saya memohon agar mereka membantu untuk membayar biaya rumah sakit ibu saya, karena status ibu saya masih istri dari pria brengsek itu. Saya menunggu mereka didepan gerbang, karena mereka tak mengizinkan saya masuk. Saya seharian menunggu mereka di luar, tapi tak ada satu pun meida. Mereka tak menghiraukan rintihan saya ditengah derasnya hujan, mereka tak mempedulikan tangisan saya sama sekali. Mereka malah asik berpesta riya, disaat ibu saya sekarat. Dan yang membuat hancur, ibu saya telah pergi ketika saya kembali ke rumah sakit dengan tangan kosong. Hati saya hancur berkeping-keping meida, saya rasanya tak ingin hidup lagi. Ibu yang selalu menemani dan menyayangi saya, telah pergi meninggalkan saya, untuk terus menjalani kehidupan keras di dunia ini sendirian, dengan usia yang masih muda, usia 12 tahun meida. Bisa kamu bayangkan dengan usia semuda itu? Kalau saja tak ada keluarga zyan, mungkin saya tinggal nama saja meida. Saya berniat bunuh diri menyusul ibu saya, karena terlalu banyak tekanan, rasa kecewa, rasa lelah ingin menyerah, tak punya harapan, rasanya saya tak memiliki pijakan untuk hidup. Tapi tuhan masih mengasihi saya, lewat Zyan tuhan membantu saya.”
-
Hampura kalau ada typo🙏🤗
Maaf otor telat up, karena ada beberapa kendala 🤗
Imajinasinya kepentok🤭 Gara-gara kejeduk pintu😁😂
Otor up sengaja banyak sampai 2,5K. Biar ceritanya cepet kelar wkwkwk.
Jangan lupa, like, komen, vote sama hadiahnya 😍♥️
Hatur nuhun buat yang masih setia di novel amatiran ini😘♥️
__ADS_1