
"Jjangann kkak..."
Sayangnya Damar mengabaikan peringatan Kayla, lelaki itu menerobos dapur setelah menyibak tirai penutup ruangan tersebut.
Dengan jantung yang berdetak kencang, Kayla segera mengambil langkah lebar mengikuti Damar memasuki dapur.
Kedua pupil mata Damar bergerak memindai setiap sudut ruang dapur kecil yang terlihat bersih dan rapi seperti belum digunakan untuk beraktifitas.
"Sepertinya sudah tidak ada kecoaknya Kay." Damar mengucap lega, meski sebenarnya lelaki itu bukan berniat untuk menemukan kecoak di sana. Damar sebenarnya masih penasaran akan rungunya yang sempat mendengar suara seorang laki laki dari dalam rumah kontrakan Kayla.
"Mmemang tadi udah aku usir kecoaknya pakek sapu kok kak." Meski sedikit gagap namun Kayla merasa lega karena di dalam dapurnya tidak ada sosok Bima.
Kemana perginya cowok itu, Kayla juga tidak tahu. Kayla menebak jika saat ini Bima telah sembunyi di dalam kamar mandi miliknya. Karena hanya satu kemungkinan itu yang mungkin bisa terjadi.
"Memangnya di rumah ini banyak kecoak ya Kay?" tanya Damar masih dengan memindai ruang dapur. Dalam hati berharap menemukan keganjilan pada ruang dapur yang tak seberapa luas tersebut.
"Ah... eh... nggakk juga kok kak. Kadang kadang aja."
"Kalau tikus sering ada?" Damar lagi bertanya, sengaja untuk membuatnya semakin lama di area dapur tersebut.
Padahal Kayla sudah merasa jengah karena takut kalau kalau keberadaan Bima terpergok oleh anak pemilik rumah kontrakan yang di tempatinya tersebut.
Kayla menggeleng.
__ADS_1
"Aku usahakan membersihkan rumah tiap hari kok kak."
"Oh gitu. Baguslah kalau begitu. Tidak baik jika ada banyak hewan berkeliaran di dalam rumah. Bisa mengganggu kesehatan. Tapi sepertinya kamu rajin kok. Semuanya keliatan bersih dan rapi." Puji Damar pada Kayla saat mendapati ruang dapur Kayla bersih terawat.
"Nggak rajin rajin amat kok kak." sahut Kayla dengan menunduk, gadis itu tetap saja tersipu malu kala mendapatkan pujian.
Meski Kayla sudah sering berinteraksi dengan Damar, namun tetap saja Kayla merasa tersipu malu saat lelaki yang berusia 2 tahun lebih tua di atasnya itu memuji serta memberikan senyuman kepadanya.
Sosok Damar yang tinggi dan memiliki paras lumayan tampan meski memiliki kulit sawo matang, merupakan pemuda yang menjadi incaran dari gadis di sekitar komplek perumahan mereka.
Belum lagi kebaikan hati serta keramahan pemuda itu membuat ibu ibu kompleks menawarkan anak gadis mereka untuk dipinang. Tak segan ibu ibu kompleks mendekati ibu Damar untuk menawarkan anak gadis mereka agar dipinang sebagai menantu oleh ibu Damar tanpa sungkan.
Kayla pun tak menampik jika dirinya juga mengagumi, bahkan sempat membayangkan jika suatu saat nanti dapat memiliki Damar.
"Aku cek kamar mandi ya Kay, siapa tau a..."
"Jangan!" pekik Kayla cepat.
Membuat Damar terkejut kemudian memandang Kayla dengan heran. Kecurigaan yang sempat hilang hadir kembali.
"Maaf kak... anu... em..." Kayla bingung mau membuat alasan apa pada Damar. Dirinya memang tidak pandai berbohong.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang nggak boleh aku lihat Kay?" tanya Damar dengan tatapan menyelidik. Terlihat seperti tengah mencurigai Kayla.
__ADS_1
Membuat Kayla menelan salivanya kasar. Rasa gugup bercampur takut membuat kedua jemari Kayla saling bertaut dan meremas ujung kerudung yang ia kenakan.
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan di dalam kamar mandimu Kay?" Kali ini Damar bertanya dengan lebih lembut, tidak ada lagi tatapan curiga dari Damar. Melainkan berganti dengan senyum ramah yang membuat wajah Damar terlihat semakin menawan.
Kayla sempat terpesona sesaat, kemudian buru buru menundukkan pandangan. Memilih menatap lantai kasar ruangan dapurnya.
"Ada apa di kamar mandi mu Kay?" lagi Damar bertanya.
"Tidak ada yang aku sembunyikan kak. Hanya saja anu... itu..." Kayla berusaha memutar otaknya untuk berfikir keras.
"Anu apa?" Damar lagi.
Membuat Kayla semakin tegang serta diiringi dengan keringat yang mengucur deras di balik baju gamisnya.
"Kay..." Damar mengikis jarak dengan mengambil langkah mendekat pada Kayla.
"Anu kak itu, aku nggak enak aja kalau kakak masuk ke sana." Otak Kayla. sungguh sungguh tidak dapat diajak bekerja sama untuk membuat kebohongan.
"Nggak papa. Biar aku mengeceknya siapa tau aja ada tikus atau mungkin juga kecoak di sana." Damar berjalan mendekati pintu kamar mandi lalu membukanya tanpa mampu Kayla cegah.
Jantung Kayla seketika terasa berhenti berdetak saat itu juga. Dia hanya mampu berdiri di tempatnya dengan tubuh membeku. Menunggu akhir cerita nya dengan gelisah.
🌷🌷🌷
__ADS_1