
“Bibi tak akan memaksamu untuk secepat ini memaafkan mereka Nak. Bibi hanya ingin kamu belajar, selagi mereka masih ada. Jika mereka sudah tiada, kamu akan memaafkan siapa? Bibi tak ingin kamu menyesal diakhir meida. Bibi menyayangi mu! Sesakit apa yang kamu rasa, apa kamu akan terus memupuk rasa ini? Jangan Nak. Kecewa pada mereka boleh, tapi jangan sampai kamu mengabaikan mereka. Jangan sampai Syaiton berhasil menguasai diri mu. Surga mu berada pada mereka Nak! Buat apa kamu mengejar surga yang belum tentu kamu dapat, sementara kamu mengabaikan surga yang paling dekat? Mereka adalah surga mu nak! Carilah keberkahan dari mereka, agar kamu dengan mudah meraih surga nya.” Nasihat Bi ina sambil melerai pelukannya. Ia menatap kearah meida yang masih menundukkan wajahnya. Meida memilin ujung bajunya, ia memegang tangan jonathan yang berada di depannya untuk menguatkannya. Jonathan menyambut tangan meida dengan pegangan yang cukup erat.
“Bolehkan Meida egois dalam hal ini Bi? Meida sudah janji pada diri meida sendiri, meida tak akan menyayangi mereka melebihi rasa sayang yang meida punya untuk Ummah dan Abi. Sampai kapanpun mereka tak akan pernah menggantikan posisi Ummah dan Abi di hati meida Bi! Apa selama Meida hidup, mereka memberi kasih sayang pada Meida? Tidak Bi! Mereka lebih memilih harta daripada Meida! Meida tak berharga di mata mereka! Meida hanyalah beban Bi! Hanya Ummah dan Abi orang yang tulus dan ikhlas menyayangi Meida. Bibi pasti tahu hidup yang dialami Meida selama ini seperti apa? Meida mohon bi ... mungkin Meida bisa memanfaatkan mereka, tapi tidak sekarang. Meida butuh waktu untuk mengobati rasa sakit di hati ini... rasa sakit ini, biarlah waktu yang mengobatinya!” Bi Ina membelai wajah meida lembut, menatap ke sekeliling ruang itu. Lalu menatap kembali pada meida.
“Bibi tahu Meida! Bibi harap kamu mengambil jalan terbaik! Seburuk-buruknya sikap mereka, mereka adalah orang tuamu! Sebanyak apapun kesalahan mereka, status mereka tetaplah orang tua mu yang tak bisa di tukar! Segera obati luka mu Nak! Tak adakah sedikitpun keinginan kalian untuk berkumpul dengan mereka?” Jonathan memandang bi ina sambil menggelengkan kepalanya. Lalu Ia menatap kearah meida dengan menggeleng kepalanya pelan. Melvin berusaha tak ikut campur mengenai masalah personal mereka, jika keadaan memang sudah tak bisa dikondisikan, dia baru akan ikut campur. Melvin menatap kearah meida yang sedang memandang wajah bibinya dengan perasaan kecewa.
“Untuk sekarang Meida tak berniat untuk berkumpul dengan mereka. Meida bahagia tinggal disini bersama bibi. Kebahagian Meida adalah kalian, bukan mereka!” ucap tegas Meida sambil memandang kearah Bi Ina, lalu memandang jonathan, kemudian memandang kearah Melvin yang sedang diam mematung. Perlahan-lahan senyum manis terukir di bibir melvin. Ia bahagia, karena merupakan salah satu bagian dari kebahagiaan meida. Jonathan membenarkan ucapan meida dengan menganggukkan kepalanya, ia memegang tangan bi ina dan ditangkupkan di atas tangannya.
“Benar sekali apa yang diucapkan cici Meida bu. Kami bahagia tinggal disini! Entahlah, disini Jo benar-benar merasakan keluarga yang sesungguhnya. Ibu yang sangat pengertian dan perhatian, cici yang sangat penyayang, koko yang sangat bertanggungjawab. Disini jonathan baru merasakan arti keluarga Bu! Keluarga hangat yang Jonathan impikan! Disana, hidup jonathan terpenjara sepi, kesendirian seakan teman yang paling mengerti. Hidup bagai boneka pajangan, yang tidak dianggap sama sekali. Disana jo haus akan kasih sayang bu! Tertidur karena lelah mengerti jalan hidup ... pelukan hangat kekosongan pengantar tidur ... rangkulan angin malam, bagai dawai pengiring tangisan. Sedangkan mereka, mereka tak peduli sama sekali dengan Jo, Bu ... mereka tak mengerti perasaan Jo! Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri! Mereka mengabaikan Jo seperti mereka mengabaikan Cici. Apa Jo harus memaafkan mereka setelah perbuatan mereka pada Jo? Apa Jo berdosa jika menyimpan rasa sakit ini? Memaafkan tak semudah itu bu, percuma memaafkan tetapi bibir dan hati bertentangan! Jo akan memaafkan mereka, jika rasa sakit dan kecewa ini telah hilang!” Tutur Jonathan dengan suara getir penuh penekanan. Ia memandang kearah Meida yang sedang menangis sambil menganggukkan kepala tersenyum kearahnya. Mereka berdua diam saja, ketika bi ina memeluk mereka secara bersamaan.
“Maafkan Bibi Nak. Bibi hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Hidup akan terasa indah jika tidak ada dendam, sakit hati, penyesalan, dan permusuhan. Bibi hanya ingin hidup kalian rukun, saling mengasihi satu sama lain, dan hidup bahagia bersama keluarga kalian. Merasakan kasih sayang, belaian hangat, perlakuan istimewa, sesuai harapan kalian selama ini. Bibi hanya ingin kalian merasakan figure seorang Ayah, figure seorang ibu yang mengayomi kalian setiap saat. Ingat Nak, Allah akan meridhoi kalian, jika kedua orang tua kalian Ridho pada kalian.” Nasihat Bi Ina sambil menangis. Ia berusaha meluluhkan hati Meida dan Jonathan yang sudah lama terbalut luka.
“Jika memaafkan itu mudah, tolong ajarkan kami Bu! Kami pun ingin memaafkan mereka, tapi hati kecil kami tak bisa ... perbuatan mereka meninggalkan jejak indah di memori kami! Ketika melihat mereka, memori hitam itu keluar dengan tiba-tiba! Perbuatan mereka seakan-akan membayangi hidup kami. Melihat mereka, hati kami sesak Bu, sakit itu kembali terasa.” Tutur Jonathan sambil melerai pelukannya. Melihat suasana yang masih tegang, melvin berjalan kearah mereka bertiga. Ia duduk di depan bi ina dengan menepuk bahu Meida dan Jonathan bersamaan.
Yaa Allah, berilah aku kekuatan untuk meluluhkan hati mereka. Sakit hati mereka sudah mendarah daging, hingga kata memaafkan sulit terucap dari mulut mereka. Batin Bi ina menatap nanar kearah Melvin yang berada di depannya.
“Sudah ... sudah ... jika membicarakan mereka, saya yakin tak akan ada habisnya!” Jonathan dan Meida melepaskan pelukan Bi Ina. Mereka menghapus air mata dengan tangannya.
“Jangan menangis! Bukankah kita pulang untuk membawa kabar bahagia? Kenapa jadi tangisan seperti ini. Apa kalian tidak lelah menangis terus? Apa air mata kalian bisa berubah menjadi mutiara? Tidak, Kan? Simpan saja air mata kalian buat nanti! Banyak moment indah kedepannya. Saya yakin, tangis kebahagiaan menanti kita. Always keep Strong!” Kekeh Melvin sambil mengacak-ngacak rambut Jonathan. Setelah mengacak-ngacak rambut Jonathan, ia menghapus air mata Bi ina dan memeluknya. Kemudian melvin menggeser posisinya agar berhadapan dengan meida.
“Don't cry! Kalau kamu nangis, saya yakin hujan gak berani turun loh ke bumi.” Melvin menangkupkan kedua tangannya di wajah meida. Kedua ibu jarinya menghapus air mata meida dengan lembut. Ia tersenyum sesekali mengusap hijab yang dikenakannya.
“Emang kalian bawa kabar bahagia apa?” Tanya Bi Ina dengan sesenggukan. Melvin melepaskan tangannya dari wajah meida. Ia tersenyum kearah bi ina lalu memegang kedua tangannya. Ia menatap bi ina dengan wajah yang menyejukkan, hingga bi ina tak bisa mengalihkan pandangan dari wajahnya.
“Bu, Saya dan Jonathan memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Bimbing kami terus dalam mempelajari agama baru kami nanti. Kalau ibu gak keberatan, kami meminta ibu mengantar sekaligus menyaksikan kami mengikrarkan keislaman kami besok. Jika tak bisa pun gak papa, kami tidak akan memaksa ibu.” Mendengar ucapan Melvin. Bi ina menangis haru dengan air mata bercucuran dan bibir bergetar. Ia menatap kearah Melvin dan Jonathan bergantian. Sedangkan yang di tatap hanya saling melemparkan senyuman.
“Kalian serius Nak? Apa Ibu tak salah dengar?” Jonathan dan Melvin menggelengkan kepalanya bersamaan. Jonathan menggeser posisinya kearah bi ina, hingga ia bersisian dengan melvin. Sementara Meida yang berada di belakang menangis haru sambil tersenyum menatap dua lelaki yang berada di depannya.
__ADS_1
“Tidak Bu, kami serius. Kami memutuskan ini dalam keadaan sadar. Kami ingin menjadi seorang Muslim. Menganut keyakinan yang sama dengan Ibu dan Meida.” Sahut Melvin yang masih memegang tangan Bi Ina. Bi ina melepas tangan melvin dan langsung memeluknya.
“Terima kasih Ya Allah. Akhirnya Engkau membuka hati mereka. Terima kasih telah menurunkan hidayah mu pada mereka.” Melvin terharu mendengar ucapan Bi Ina. Hatinya kembali hangat ketika melihat respon bi Ina yang begitu antusias ketika dirinya memilih jalan hidup untuk menjadi seorang muslim. Bi ina melepaskan pelukannya dari melvin, lalu ia memeluk jonathan.
“Ibu sangat bahagia mendengar keputusan kalian. Semoga Allah memudahkan kalian dalam mempelajari agama Islam. Semoga kalian teguh mempertahankan agama Islam, sampai ajal menjemput kalian.” Do'a Bi ina sambil melerai pelukannya. Tak lupa ia sematkan ciuman pertanda kasih sayang di kepala Jonathan.
“Inn Syaa Allah, jika Allah memberi ibu umur panjang, ibu akan senantiasa membimbing kalian. Allah benar-benar maha baik, setelah kepergian Adib putra ibu satu-satunya, Allah menggantinya lewat kalian. Sekarang kalian adalah anak ibu, ibu sudah menganggap Kalian seperti anak kandung ibu sendiri. Jangan sungkan! Ibu siap membimbing kalian setiap saat!” Seluruh orang yang berada di ruang itu terharu mendengar ucapan Bi Ina. Jonathan langsung berhamburan memeluk bi Ina dengan erat. Hatinya sulit di jabarkan, ketika bi ina menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
“Terima kasih bu. Ibu adalah ibu kami sampai kapanpun. Walaupun Jo tak dilahirkan dari rahim ibu, tapi jo menyayangi ibu melebihi rasa sayang Jo pada Mommy Jo sendiri. Jo bahagia, ibu mengakui jo sebagai anak ibu.” Bi Ina menganggukkan kepalanya. Ia mengusap rambut jonathan yang sedang menangis memeluknya. Dengan membulatkan niatnya, melvin menatap meida yang berada di belakangnya lalu menatap kearah Bi Ina. Ia berdehem sebentar, lalu memegang tangan Bi ina yang baru saja melerai pelukan dari Jonathan.
“Ibu sekarang ibu Melvin sekaligus Wali Meida. Melvin meminta izin dan restu pada ibu, untuk merestui niat melvin mempersunting meida, memilihnya menjadi pendamping hidup Melvin. Izinkan Melvin mengambil alih tanggungjawab sepenuhnya pada diri dan hidup meida. Melvin janji akan membahagiakannya, dan tidak akan menyakitinya. Jika melvin terbukti menyakitinya, melvin Ikhlas jika ibu mengambil kembali meida dari hidup melvin.” Bi Ina tercengang dengan ucapan melvin. Ia tak menyangka melvin secepat ini meminang Meida. Ia terharu karena Melvin berani mengutarakan niatnya tanpa di tunda-tunda. Bi Ina menatap melvin yang sedang menundukkan kepalanya, lalu ia memandang kearah meida yang masih dalam mode terkejut, tak lupa ia memandang kearah Jonathan yang membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya. Bi ina menepuk bahu Melvin agar menegakkan kepalanya. Melvin perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang sudah merah padam yang sangat kentara dengan kulit putihnya.
“Jika niat mu baik, untuk membuat meida bahagia dan tak menyakitinya. Ibu pasti mengizinkan dan merestui hubungan kalian. Karena ibu percaya kamu adalah lelaki baik Nak! Lelaki yang mampu menjaga dan mencintai meida dengan sepenuh hati. Tapi kembali lagi pada meida, karena meida yang berhak memutuskannya, karena ini berkaitan dengan hidupnya. Apa kamu bersedia menerima niat baik Melvin Nak?” Tanya Bi Ina kepada Meida yang masih diam mematung. Wajah Meida pun memerah, semua orang yang berada di tempat itu menatap kearahnya menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya. Melvin mengusap keringat panas dingin yang berada di dahi dan tengkuknya, wajahnya pucat menanti jawaban dari meida yang malah menundukkan kepalanya.
“Keputusannya meida serahkan pada Jonathan. Karena Jo yang tahu betul sikap Tuan Melvin seperti apa. Meida akan mengikuti semua keputusan Jo! karena meida tahu, jonathan pasti ingin yang terbaik untuk cicinya ini.” Jawab pelan Meida menunjuk kearah Jonathan. Jonathan tersenyum kearah cicinya, karena ia bahagia meida melibatkan dirinya dalam memilih calon hidupnya. Mendengar jawaban meida, melvin menelan salivanya kasar. Ia membelalakkan matanya kearah Jonathan dengan wajah pasrah, antara muka menghiba, memelas, dan memohon agar Jonathan merestuinya.
“Apa koko janji akan menjaga cici Meida dengan sebaik-baiknya? Berjanji untuk tidak menyakiti dan membuatnya terluka? Karena cici meida adalah orang yang sangat kami cintai, kami tidak ingin dia terluka sedikitpun. Jika koko menyakitinya, sama saja koko menyakiti hati Jo dan bu Ina. Cici Meida adalah permata di hidup kami! Jika koko membuatnya bersedih, koko berhadapan langsung dengan kami berdua!” Melvin menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, menandakan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Jo, kamu pasti tahu sikap koko selama ini seperti apa. Koko paling anti melanggar janji koko sendiri. Biarlah kamu dan Bi Ina menjadi saksi, bahwa koko mencintai cici mu lebih dari hidup koko. Koko janji pada mu dan Bu Ina, koko akan senantiasa menjaga dan mencintainya, sampai maut yang memisahkan kami berdua.” Meida mengusap air matanya mendengar janji melvin, begitupun Bi ina. Bi Ina langsung memeluk meida dan mencium kepalanya dalam.
Dia lelaki tepat yang dikirim Allah padamu meida ... dia pengganti Adib dalam menjaga mu ... dia lelaki bertanggungjawab dan penyayang. Bibi ikhlas bila dia yang meneruskan tugas bibi dalam menjaga mu. Lirih Bi ina yang hanya terdengar oleh meida. Meida menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju dengan ucapan bibinya. Jonathan menatap kearah Meida dan Bi Ina dengan mengusap air matanya. Ia yakin, Melvin orang yang tepat untuk cicinya.
“Jo merestui hubungan kalian. Jo ikhlas melepas cici Meida hidup bersama koko, karena Jo yakin koko orang yang tepat untuk mendampingi cici Meida. Jo harap koko tidak akan melanggar janji koko, karena koko orang yang sangat kami percayai. Silahkan perjuangkan cinta koko pada cici! Mintalah restu pada keluarga besar jo, agar hubungan kalian tidak ada rintangan nantinya.” Jawab bijak jonathan yang langsung mendapat pelukan erat dari melvin. Jonathan tersenyum haru ketika melihat Melvin menangis bahagia di bahunya.
“Terima kasih Jo, terima kasih telah merestui kami!” Ucap bahagia melvin sambil melerai pelukannya.
“Tapi ... tapi ... itu ada syaratnya. Koko harus menyetujui keinginan jo. Gimana?” Melvin langsung menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Nanti Jo kasih list-nya yah!” Jonathan tersenyum bahagia sambil mengusap air matanya. Ia bahagia, karena keinginannya selama ini akan terwujud lewat Melvin.
Bi Ina dan Jonathan memilih keluar dari ruang itu. Ia memberikan ruang pada Melvin dan Meida untuk berbicara. Setelah Bi Ina dan Jonathan keluar, Melvin membalikkan posisinya dan kini berhadapan langsung dengan Meida, dengan malu-malu ia memegang kedua tangan meida dan menatapnya.
“Meida. 🎵Jadilah pasangan hidupku ... jadilah ibu dari anak-anakku ... membuka mata dan tertidur di samping ku ... aku tak main-main ... seperti lelaki yang lain ... satu yang kumau, kuingin melamarmu ....”(Ceritanya Melvin ngomong sambil nyanyi🤭) Meida menangis mendengar suara Melvin yang begitu merdu di telinganya. Ia menganggukkan kepalanya dengan bibir yang bergetar. Melihat respon meida, melvin langsung memegang bahunya.
“Are you sure?” Tanya Melvin dengan meneteskan air matanya.
“I'm sure” Lirih meida dengan menganggukkan kepalanya. Melvin langsung memeluk meida dengan perasaan bahagia yang sulit dilukiskan.
“Will you marry me?” Tanya melvin dengan suara bergetar. Andrenalin nya terpacu cepat saking bahagianya. Jika tidak ada meida mungkin ia sudah berlompatan di kasur. Melvin melerai pelukannya menanti satu jawaban lagi dari Meida. Meida dengan malu-malu mengangkat wajahnya, ia menatap melvin dengan menganggukkan kepalanya kembali.
“Yeah.. I will!.” Senyum begitu saja tersungging di bibir Melvin. Ia Kembali memeluk meida dengan perasaan bahagia yang begitu membuncah. Kebahagiaannya terasa sempurna, ketika meida bersedia menjadi istrinya.
-
Kopi mana kopi wkwkwk
Maaf otor telat up, seperti biasa mati listrik😢
Kemaren terkendala sinyal akibat hujah eehh sekarang mati lampu.
Tapi tenang, otor up banyak.
Tong hilap, like, komen, vote, hadiahnya ♥️♥️♥️
Hatur nuhun pisan😘♥️🤗
__ADS_1