
Abi hanya ingin bilang, kuatkan hati mu karena sebentar lagi kamu akan bertemu dengan keluarga mu. Bukankah kamu ingin bertemu dengan mereka dari dulu? Ingat! Jika hati mu sedang terluka, ingatlah kasih sayang dari Abi dan Ummah, agar kamu tak merasa sendirian.
Sebentar lagi, aku akan bertemu dengan keluarga ku. Tapi siapa mereka? Bagaimana sikap mereka ketika bertemu dengan ku? Apa respon mereka? Bagaimana dengan ku? Apa hatiku kan baik-baik saja?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar-putar di kepala meida. Ia memikirkan bagaimana pertemuan dengan keluarganya nanti. Rasa takut dan kecewa mendominasi dirinya. Ia takut menghadapi kenyataan yang malah semakin menambah rentetan lukanya.
Di saat pikirannya berkecamuk, ia mengingat seseorang yang menunggunya disana.
Kak Adib menunggu ku ... dia setia menunggu ku disana. Dia menepati janjinya, untuk menjaga cintanya hanya untuk ku. Akan ku jaga cinta dan jiwa ini untuk mu kak, semoga Allah mempertemukan kita. Mempersatukan cinta tulus kita. Lirih pelan meida sambil menghapus air matanya. Ia seakan memiliki firasat, bahwa ia mampu menepati janjinya, dan segera menyusul kekasih hatinya ke alam sana.
-
“Selamat malam meida. Bagaimana keadaan mu?” Tanya andress berjalan kearah meida. Kebetulan di ruang itu hanya ada meida sendiri. Melisa pergi ke kantin untuk membeli makanan, sedangkan melvin pulang kerumahnya untuk mengambil pakaian melisa dan dirinya.
“Mas Andress? Alhamdulillah saya baik mas.” Andress tersenyum melihat wajah kaget meida, yang baru menyadari bahwa ia dokter yang menanganinya dari tadi.
“Syukurlah. Saya periksa dulu kondisi kamu yah.” Meida menganggukkan kepalanya.
“Silahkan mas.” Andress langsung memeriksa kondisi meida. Ia menatap meida dengan hangat
“Are you ok Meida?” Tanya andress sambil mengarahkan stetoskop kearah perut meida.
“Ya, I'm good mas.” Jawab lesu meida dengan senyum terpaksa.
“Apa keluhan yang kamu rasa sekarang?” Tanya andress setelah selesai memeriksa kondisi meida. Lalu ia mengambil penlight dari saku jasnya.
“Saya merasa tubuh saya lemas seperti sedang melayang. Kepala saya masih pusing, dan nafas saya masih sesak,” ucap meida mengeluarkan keluhan sambil mengusap pelan dadanya.
“Itu wajar, karena Panic Attack membuat pengidapnya merasa kelelahan dan susah bernafas. Padahal tak melakukan kegiatan apapun. Tapi itu tak lama kok, besok juga nafas mu kembali normal.” Jawab andress sambil duduk di kursi yang berada di samping ranjang meida.
“Panic Attack?” Tanya aneh meida menatap kearah Andress dengan dahi mengerut.
“Ya. Kamu mengalami panic Attack. Apa yang kamu rasa sebelum pingsan tadi?” Tanya lembut andress memandang kearah wajah meida.
“Kepala saya pusing, dada saya sesak sulit bernapas, dan ucapan orang-orang seakan berputar-putar di kepala saya.” Terang meida sambil memegang kepalanya. Andress menganggukkan kepalanya menatap meida dengan seksama.
“Ya, itu pemicunya. Perbanyaklah istirahat, agar cepat pulih. Jika memendam sesuatu, lebih baik diungkapkan.” Meida hanya mengerucutkan bibir sambil menganggukkan kepalanya malas. Andress hanya tersenyum melihat tingkah meida.
-
“Bu, kata ko melvin cici gak bisa pulang malam ini. Ia sedang di rawat di Rumah Sakit. Jo ingin kesana, tapi ko melvin gak ngizinin.” Jonathan menunjukkan chat dari melvin kearah bi ina yang dari tadi menemaninya. Bi ina menyipitkan matanya, untuk membaca pesan itu.
“Pasti melvin gak ngizinin. Kamu lagi sakit jo, keadaan kamu belum pulih.” Bi ina menyondorkan kembali ponsel itu ke tangan jonathan yang terlihat gelisah.
“Jo takut cici kenapa-kenapa,” ucap jonathan memandang bi ina dengan tatapan sayu. Bi ina duduk di samping jonathan dan mengelus kepalanya.
“Berdoalah, semoga cici mu baik-baik saja.” Bi ina tersenyum lembut kearah jonathan. Untuk menyembunyikan rasa khawatirnya pada meida di hadapan adiknya itu.
“Meida di rawat di rumah sakit mana jo?” Jonathan memandang lesu kearah bi ina.
“Di rumah sakit milik keluarga Jo, Bu. Rumah sakit milik Almarhum Kakek.” Jawab jonathan sambil menundukkan wajahnya.
“Keluarga mu kaya sekali jo, sampai memiliki Rumah Sakit.” Mendengar ucapan bi ina, jonathan langsung mengangkat wajahnya. Ia menjawab ucapan bi ina dengan wajah kecut.
“Kaya harta tapi tak kaya hati bu.” Kekeh jonathan sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
-
“Dengan Pak Afif? Pasien Rujukan dari dr. James?” Tanya Andress kearah Suami Istri yang baru masuk keruangan nya.
“Betul sekali Dok.” Jawab wanita paruh baya yang usianya berkisar sekitar 50 tahun. Sementara Suaminya hanya diam saja, dengan pandangan kosong.
“Silahkan duduk Pak Bu!” Wanita itu tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Lalu ia membantu suaminya duduk di kursi dihadapan andress.
“Bapak dan Ibu tinggal dimana?” Tanya ramah Andress, tersenyum hangat kearah pasien rujukan yang berada didepannya.
“Saya dari Bandung Dok. Dapat rujukan dari Rumah sakit sana untuk pengobatan di rumah sakit ini.” Jawab wanita itu dengan wajah bersahabat. Andress dibuat tercengang dengan jawaban wanita paruh baya itu
“Bandung?? Jauh sekali dari sini! Berapa kali Bapak dan Ibu mengunjungi kota Surabaya ini?” Tanya andress kembali. Yang membuat wanita paruh baya itu tersenyum.
“Kedua kali Dok. Pertama waktu 20 Tahun lalu sehabis dari kota Malang. Dan yang kedua sekarang, untuk pengobatan suami saya.” Terang wanita itu, yang diangguki kepala oleh Andress. Wanita itu melanjutkan ucapannya.
“Saya juga sudah lupa dengan kota Surabaya ini, apalagi jalannya. Sekarang kota Surabaya semakin maju saja. Dulu waktu saya berkunjung kesini, belum banyak gedung tinggi. Sekarang, dimana-mana banyak gedung tinggi.” Andress dibuat terkekeh dengan ucapan wanita tersebut.
“Benar sekali bu. Pekerjaan suami ibu ini apa?” Tanya andress sambil melihat data pasien yang berada di layar monitornya.
“Dulu pekerjaan suami saya adalah driver Dok, sudah lebih dari 25 tahun. Tapi semenjak kecelakaan 2 tahun lalu, dia tak bekerja lagi.” Terang wanita paruh baya itu dengan raut wajah sedih. Andress menangkap kesedihan di wajah wanita itu,
“Driver merupakan salah satu pekerjaan yang mulia bu. Ibu harus bangga dengan pekerjaan suami ibu.” Andress membesarkan hati wanita itu dengan senyum hangat nya.
“Iya dok, saya bangga dengan suami saya. Dia bisa bekerja apa saja, walaupun pekerjaan kasar, yang penting halal.” Andress tersenyum melihat wajah wanita itu, lalu ia mengambil data di map besarnya.
“Benar sekali. Bagaimana perasaan Ibu menginjakkan kaki di kota ini kembali?” Wanita itu mengusap wajah suaminya lalu menatap andress.
“Sedihlah Dok. Saya datang kesini untuk berobat suami saya, bukan untuk jalan-jalan.”
“Owalah... Always have fun aja bu, jangan dibikin beban.” Jawab andress sambil membuka map besar yang berisi beberapa data pasiennya. Ia mencari data pasien yang di kirim dr. James padanya.
“Bayi perempuan? 20 Tahun lalu? Di pelantara masjid?” Tanya ulang andress menatap serius kearah wanita yang ada didepannya. Wanita itu berhenti melap keringat suaminya, lalu menatap andress dengan senyum hangat
“Iya dok. Bayi itu diurus oleh salah satu orang dari rombongan kami dan dibawa pulang ke Bandung.” Andress menelan ludahnya kasar dengan membelalakan matanya.
“Kenapa kalian tak melaporkan penemuan bayi itu ke kantor polisi? Kenapa kalian malah membawanya pulang ke Bandung?” Tanya menyelidik andress menunggu jawaban dari wanita itu.
“Kami dari kampung Dok, dan masih awam dengan hal lapor-laporan, apalagi kami tak terlalu mempercayai polisi.” Jawab wanita itu menjeda ucapannya.
“Saya tak tahu alasannya. Salah satu orang dalam rombongan kami memaksa agar membawa bayi itu pulang. Ia rela merawat bayi itu dengan sukarela, karena menurut penuturannya, ia takut bayi itu nanti minim perawatan karena pasti diserahkan ke Dinas Sosial, dan pasti berakhir di Panti Asuhan.“ Terang wanita itu sambil melipat kedua tangan nya. Andress menumpu dagu dengan kedua tangannya.
“Bayi itu masih hidup bu?” Tanya andress yang diangguki kepala oleh wanita itu.
“Masih dok. Tapi yang saya dengar, kedua oang tua angkatnya sudah meninggal. Akibat kecelakaan lalu lintas beberapa bulan lalu.”
“Kalau boleh tahu, keberadaan bayi itu sekarang dimana bu?” Wanita itu memejamkan matanya untuk mengingat sesuatu. Lalu ia membuka matanya untuk menjawab pertanyaan andress.
“Masih di Bandung dok. Tempat tinggal saya dan dia cuman beda kampung.”
“Ibu tahu siapa nama bayi itu?” Wanita itu dibuat heran dengan pertanyaan Andress yang jauh meleset dari tujuannya datang ke rumah sakit itu.
“Saya lupa namanya Dok. Kalau gak salah dipanggilnya itu nda nda gitu, gak tahu namanya winda atau apa. Emang kenapa dok?” Tanya aneh wanita itu. Yang langsung membuat andress menggaruk kepala belakangnya.
“Tidak Bu. Saya orangnya kepoan hehe. Bayi itu tinggal di Bandung sebelah mananya bu?” Kekeh garing andress yang membuat wanita itu geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Di Ci Leunyi dok. Masuk wilayah perkampungan.”
“Terima kasih bu atas informasinya. Sekarang bapak saya X-ray dulu, takut ada sesuatu yang terjadi di kepala bapak, akibat benturan kecelakaan itu,” ucap melvin sambil melihat gambar di layar monitor yang dikirim oleh dr. james.
“Iya dok. Setelah kecelakaan itu suami saya sering berhalusinasi, sering merasa ketakutan, dan tak bisa diajak bicara sama sekali. Di Bandung, saya sudah berobat jalan dan pergi kontrol ke beberapa psikiater selama hampir 2 tahun, tapi hasilnya masih seperti ini. Dokter disana merujuk saya untuk melakukan pengobatan disini, karena beberapa kasus seperti suami saya bisa ditangani disini.”
“Semoga kondisi Bapak ada perubahan disini, dan kembali sembuh seperti semula.”
“Aamiin dok.”
-
“Jack bantu Saya!” Andress masuk tergesa-gesa keruang kerja jack yang sedang menulis laporan.
“Ada apa ko?” Jack menatap aneh kearah andress sambil melepaskan kacamatanya.
“Saya harus memastikan sesuatu ke Bandung! Tolong kamu awasi pasien saya atas nama Afif di ruang Mawar Lantai tiga.” Jack semakin heran dengan ucapan andress yang bercampur dengan perintah. Andress berdiri di depan jack, yang hanya terhalang meja kerjanya.
“Bandung?? Jauh amat ko? Mau ngapain?? Mau seminar??” Andress langsung menggelengkan kepalanya. Ia menatap dalam wajah jack dengan sorot mata penuh teka-teki.
“Bukan. Ini tentang jaslin, saya akan mencarinya kesana!” Jack langsung membelalakan matanya, menatap tak percaya kearah andress.
“Koko tahu darimana jaslin ada disana? Apa informasinya akurat? Jangan sampai koko kecewa lagi, dengan pencarian yang tak membuahkan hasil!” Jack memandang wajah andress dengan tatapan sendu. Ia takut setelah pencarian ini andress akan down lagi.
“Saya dapat informasi ini dari pasien saya yang berasal dari kota Bandung. Dia pernah menemukan bayi perempuan 20 Tahun lalu dan mereka membawanya ke Bandung.” Terang andress dengan sorot mata penuh keyakinan, bahwa adiknya berada disana. Jack memandang iba kearah andress dengan senyum kecut.
“Tapi itu belum tentu jaslin ko! Bayi yang hilang 20 Tahun lalu di kota Surabaya itu banyak . Kita sudah menelusurinya satu persatu, tapi koko tahu sendiri hasilnya seperti apa? Tak ada jaslin sama sekali ko!” Jawab jack dengan suara getir. Ia berjalan kearah andress lalu memegang bahunya. Andress menatap jack dengan sorot mata penuh kecewa.
“Tak ada salahnya kita mencari kesana jack! Dulu kita ubek-ubek kota Surabaya, tapi tak menunjukkan keberadaan jaslin sama sekali! Dan bisa jadi jaslin sedang berada di Bandung. Kau tahu? Kita terlalu fokus mencari jaslin di kota-kota besar dan tidak sampai ke pelosok-pelosok. Mungkin inilah alasannya, kenapa kita belum menemukan jaslin sama sekarang!” Andress melepas tangan Jack yang berada dibahunya. Ia masih kesal dengan respon jack yang meragukan ucapannya.
“Aku takut koko kecewa, hasil dari pencarian ini tak membuahkan hasil. Apalagi koko sampai pergi jauh-jauh ke pelosok desa.”
“Doakan saya! Semoga pencarian ini membuahkan hasil. Saya akan memimpin pencarian ini di bantu anak buah saya. Saya sudah mengumpulkan beberapa informasi mengenai tempat itu. Kamu disini bantu saya, tutul mulutmu! Saya tidak ingin daddy mengetahui pencarian saya! Saya akan mencari jaslin sendiri! Saya sudah muak dengan sifat egoisnya! Dan satu lagi, selalu awasi pasien saya! Karena dia, sumber informasi saya saat ini.” Jack menganggukan kepalanya. Ia tak bisa mencegah keinginan andress. Ia berharap, semoga andress berhasil menemukan jaslin.
“Baik ko. Kapan koko pergi kesana?” Andress melihat kearah jam di dinding yang berada diruangan jack. Ia menghitung, lalu menjawab pertanyaan jack.
“Besok pagi saya akan pergi kesana. Saya sudah menghubungi pengawal saya untuk prepare, karena saya tak tahu pencarian ini memakan waktu berapa harinya. Doakan saya!” Andress menyondorkan tangan kanannya kearah jack, agar jack menjabat tangannya.
“Baiklah ko, hati-hati. Semoga koko berhasil mendapatkan apa yang koko cari.” Andress menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Jack membalas senyuman andress dan mereka pun berpelukan saling mendoakan.
-
Jika besok saya pergi ke Bandung, berarti ini hari terakhir saya melihat meida. Tapi keberadaan jaslin lebih penting sekarang. Dan untuk meida, nanti saya masih bisa menemuinya. Ya Tuhan, kenapa setiap pertemuan kami sangat singkat? Padahal saya masih ingin didekatnya.
Dan keberadaan jonathan membuat kepala saya semakin pusing. Kemana anak itu? Sudah 2 hari tak masuk sekolah? Apa dia baik-baik saja? Tuhan, lindungilah keberadaan kedua adik saya. Lindungi mereka, dimanapun mereka berada. Amin.
-
-
Maaf otor telat up. Sinyalnya merekedeweng mpot-mpotan😥
Kuyylah like sama votenya jangan pelit-pelit hehe🤗
Sekalian sama hadiahnya wkwkwk♥️
__ADS_1
Love buat kalian yang masih stay di novel amatiran ini♥️🤗
Hatur nuhun😘