
“Siapa wanita ini! Tolong jelaskan siapa wanita ini!!” Teriak Nagara yang suaranya menggelegar di ruang itu. Melvin mengambil iPad itu, ia kaget melihat foto dirinya dan meida. foto yang memperlihatkan ia yang sedang menangis di pundak meida dengan tangan memegang bahunya. Orang yang melihatnya sekilas pasti berpikir bahwa melvin sedang memeluk meida dari arah belakang, tapi kenyataannya tidak. Melvin menelan ludahnya, ia melihat kearah papihnya yang sedang melipat tangan, lalu melihat kembali kearah foto itu.
“Papih tahu foto ini darimana?” Tanya melvin pelan melihat Papinya yang sudah mengepalkan tangannya.
“Tak perlu tahu foto ini Papih dapatkan darimana! Siapa wanita ini!” Tunjuk Nagara sambil menunjuk kearah iPad. Melvin dengan menghela nafasnya panjang menjawab pertanyaan papihnya, sekarang tak ada yang di tutup-tutupinya dari Nagara, karena Papihnya sudah terlanjur tahu. Jika tahu kejadiannya akan seperti ini, dia tak mungkin memperkenalkan meida kepada kedua orangtuanya. Cukup dia dan adiknya yang tahu.
“Ini meida Pih, karyawan melvin.” Jawab pelan Melvin sambil menatap dalam foto dirinya dan meida. Sekarang dia sudah siap menghadapi konsekuensi dari papihnya, yang ia kira akan mendukung hubungannya dengan meida seperti Mamihnya.
“Apa ini wanita yang kamu cintai?” Tanya dingin Nagara sambil duduk di depan melvin. Ia memandang anaknya dengan pandangan menghunus. Mendengar pertanyaan dari papihnya, melvin langsung menganggukan kepalanya dengan posisi kepala yang menunduk.
“Papih benar! Ini wanita yang melvin cintai!” Nagara membelalakkan matanya mendengar jawaban dari mulut Melvin sendiri. Ternyata selentingan itu benar, bahwa anaknya sedang dekat dengan karyawannya sendiri.
“Kenapa harus wanita ini! Masih banyak wanita yang lebih baik daripada wanita ini! Kurang cantik apa Nadien? Dia mencintai mu dari dulu! Latar belakang tak jadi masalah bagi papih! Tapi dia seorang Muslim vin! Mengertilah kamu berbeda dengan dia!” Melvin mengangkat wajahnya pelan-pelan. Ia tak menyangka, papihnya akan menentang hubungannya secara terang-terangan.
“Pih, melvin sungguh-sungguh mencintai dia! Dia mampu memporak-porandakan hati Melvin! Jika respon papih seperti ini, kenapa Papih meminta melvin untuk mendekati wanita! Meminta melvin untuk mencari pendamping hidup! Jika seperti ini, lebih baik melvin tak mengenal wanita! Biar papih puas!” Teriak melvin. Untuk pertama kalinya ia meninggikan suaranya pada Nagara. Mendengar suara teriakan melvin untuk pertama kalinya, nagara menurunkan nada suaranya menjadi lebih lembut dan tenang.
“Maksud papih bukan seperti itu vin! Kamu carilah wanita yang sama dengan kita, banyak wanita cantik yang mengantri ingin jadi istri mu. Banyak relasi bisnis papih yang ingin menjadikan mu menantunya. Kenapa harus wanita ini? Papih tahu, sekarang kamu pasti sedang keliru.” Melvin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kecut. Ia menatap wajah Papihnya dengan wajah penuh kecewa.
“Melvin sama sekali tidak keliru Pih! Melvin bukan anak kecil lagi! Memang banyak wanita diluaran sana yang lebih cantik dan lebih wah daripada meida. Tapi melvin hanya mencintainya pih! Melvin mohon papih mengertilah ... melvin tak bisa membohongi perasaan ini. Melvin hanya menginginkan dia pih!” Nagara menanggapi ucapan memohon anaknya dengan senyuman sinis. Ia melipat kakinya menatap melvin dari atas ke bawah dengan wajah masam.
“Jangan bodoh! Lupakan wanita itu! Tinggalkan dia! Karena papih tahu cinta mu hanya sesaat! Papih tak akan merestui hubungan kalian sampai kapanpun! Kau dan dia berbeda! Papih akan menjodohkan mu dengan Putri Pemilik Perusahaan Sinopec. Papih yakin wanita itu terbaik untukmu!” Melvin tercengang mendengar ucapan Nagara yang akan menjodohkannya dengan Nadien. Wanita yang berprofesi sebagai model, yang sangat ia tak sukai. Selain angkuh, wanita itu terlihat sangat ambisius. Melvin menatap tajam sorot mata papihnya tanpa rasa takut. Ia akan tetap memperjuangkan cintanya pada meida, walaupun banyak jurang terjal yang akan menghalangi hubungan mereka ke depannya. Karena rasa cinta untuk meida lebih besar daripada rasa takutnya pada sang papih.
“Maaf pih, melvin tidak akan pernah meninggalkan meida! Karena dia wanita yang sangat melvin cintai setelah Mamih dan Melisa! Maaf, melvin menolak perjodohan itu! Hidup Melvin tak ingin hancur mengikuti keinginan papih! Melvin sudah besar pih! Melvin sudah bisa menentukan hidup melvin sendiri! Maaf untuk kali ini melvin tak bisa mengikuti keinginan papih! Melvin dengan sadar menentang rencana perjodohan ini!” Tegas melvin dengan tatapan tak gentar. Nagara mengepalkan tangannya, wajahnya memerah, emosinya kembali memuncak setelah mendengar ucapan Melvin yang menentang keinginannya.
“Papih tahu kamu sudah besar! Papih tahu kamu sudah bisa menentukan hidup kamu sendiri! Papih yakin kamu akan bahagia jika menikah dengan Nadien, dan bukan dengan Wanita itu!” Teriak Nagara sambil menggebrak meja keras. Melihat penolakan papihnya yang begitu keras atas meida, mata melvin memanas, hatinya sakit. Harusnya ia mendapat dukungan dari orang yang sangat dicintainya, bukan penolakan keras seperti ini.
“Beribu kali papih meminta melvin untuk menikahi Nadien! Maaf, melvin tak bisa mewujudkannya! Ini berkaitan dengan hati pih! Ini berkaitan dengan hidup melvin! Hanya melvin sendiri yang akan menentukannya! Papih mengertilah, cinta tak bisa di paksa! Karena Melvin tak mencintai Nadien sama sekali!” ucap melvin dengan suara bergetar. Ia menghapus air matanya dengan lengan jasnya.
“Kamu berani menentang perintah papih?” Tanya Nagara dengan suara tajam penuh penekanan.
“Maaf pih, bukannya Melvin menentang ucapan Papih. Tapi Melvin tak ingin menjerumuskan diri melvin sendiri pada kubangan penderitaan. Karena Melvin pun ingin seperti Papih dan Mamih, hidup bahagia bersama orang yang melvin cintai. Melvin tidak ingin menghabiskan hidup melvin bersama orang yang tidak melvin cintai pih! Melvin mohon!” Lirih melvin sambil menggeser meja di depannya. Setelah meja itu bergeser, ia bersimpuh di kaki Nagara dengan menangis. Ia ingin Papihnya, orang yang sangat dicintainya, mendukung dirinya untuk meraih cinta sejati. Nagara cukup lama terdiam mendengar ucapan anaknya, dalam hatinya terbesit rasa tak tega melihat Melvin yang sedang bersimpuh di kakinya. Tapi apa daya, ia menentang hubungan itu karena perbedaan keyakinan. Dalam hatinya nagara ingin menangis, menyaksikan perjalanan cinta anak sulungnya yang sangat rumit.
“Pih, dari kecil melvin tidak pernah meminta segala sesuatu pada papih. Melvin selalu mengikuti semua perintah papih! Melvin rela mengubur cita-cita melvin, agar bisa mewujudkan keinginan papih yang jauh dari harapan melvin. Tapi sekarang di usia Melvin yang ke 27 tahun, melvin tidak ingin meminta apa-apa, melvin hanya meminta restu papih untuk mendukung melvin memperjuangkan cinta sejati melvin. Pih, wanita itu kebahagiaan melvin, melvin mohon restui hubungan kami, hanya itu yang melvin pinta ...” Tangis Melvin yang masih bersimpuh di kaki papihnya. Setelah diam cukup lama, akhirnya Nagara memutuskan sesuatu
__ADS_1
“Papih akan merestui hubungan kalian, jika wanita itu mengikuti keyakinan keluarga kita. Jika tidak, jangan harap papih merestui hubungan kalian!” Putus Nagara sambil melepaskan tangan melvin di kakinya. Melvin mengangkat wajahnya menatap dalam Papihnya dengan wajah menghiba.
“Kenapa pilihannya harus seperti itu Pih? Masalah keyakinan kenapa papih persoalkan? Orang bebas menentukan keyakinannya!” ucap tegas Melvin berusaha bangkit dari posisinya. Nagara terpaksa mengambil opsi ini, agar anaknya berhenti memperjuangkan cinta yang tak mungkin bersatu.
“Itulah persyaratan dari papih. Jika tidak, papih akan menjodohkan mu dengan Nadien!” Jakun melvin naik turun, karena Papihnya tetap teguh pendiriannya, untuk menjodohkannya dengan Nadien. Melvin mengepalkan tangannya, ketika Nagara memilih berjalan kearah kursi kebesarannya.
“Terserah papih! Sampai kapanpun Melvin akan memperjuangkan cinta Melvin pada Meida! Papih tidak bisa menghalangi hubungan kami! Sampai kapanpun Melvin tidak akan pernah menikahi Wanita manapun kecuali Meida! Tanpa restu dari papih pun, melvin akan memperjuangkan cinta dan kebahagiaan melvin sendiri!” Teriak Melvin meluapkan amarahnya. Ia sangat kecewa dengan keputusan Papihnya.
“Rupanya kau merasa hidup sudah mampu! Berani-beraninya kau menentang papih!” Sinis Nagara yang sedang bersidekap dada di Kursi kebesarannya. Melvin berjalan ke meja Nagara dengan tatapan menghujam.
“Bukan maksud melvin seperti itu! Melvin ingin bahagia!” Melvin menggebrak meja papinya karena kesal bercampur marah. Papinya tak mengerti sama sekali mengenai keadaannya diri nya sekarang seperti apa.
“Ok. Jika itu keinginan mu! Papih tarik semua fasilitas mu! Kamu butuh waktu untuk merenung! Jika kamu sudah sadar, papih akan berikan kembali semua fasilitas mu ini! Kartu Debit, Kunci Mobil, semua serahkan pada papih! Silahkan kamu berjuang tanpa uang sepeserpun dari papih! Perjuangkan cinta buta mu itu!” Ucap Nagara santai. Itu ancaman terakhir yang ia ucapkan, ia yakin bahwa melvin akan menarik kata-katanya, dan menuruti semua ucapannya. Tapi kenyataan nya tidak, Melvin malah merogoh kantong celananya, mengambil dompet lalu mengeluarkan beberapa kartu debit pemberian papihnya, ia meletakkan semua kartu debit itu di atas meja.
“Saya serahkan semua fasilitas yang papih berikan pada saya! Ini Kartu Debitnya, untuk kunci mobil berada pada Dion! Dan untuk Apartemen, papih jangan ganggu sedikitpun, itu saya beli sendiri menggunakan gaji saya! Asal papih tahu, saya masih bisa hidup tanpa uluran tangan papih! Sekalian saya serahkan jabatan CEO saya pada papih, karena papih yang memberinya pada saya. Biar papih puas! Saya akan kembali, jika papih merestui hubungan saya! Sampaikan salam saya pada Mamih dan Melisa! Jaga kesehatan papih selama saya pergi! Saya menyayangi kalian! Saya permisi!” Pamit Melvin dengan wajah dingin. Karena ia sudah tak punya harapan lagi pada papihnya. Nagara membelalakkan matanya, ternyata ancamannya malah berbalik pada dirinya sendiri. Ia merasa menyesal dengan ucapannya. Melvin anak sulung penurutnya kini telah pergi, karena rasa cintanya ditentang oleh dirinya sendiri.
“Melvin, bukan maksud papih seperti ini Nak!” Melvin tak menghiraukan teriakan papihnya. Ia terus berjalan tanpa melihat kebelakang.
-
“Cukup bi. Ukurannya pas banget. Baju yang tertata di lemari itu, baju siapa bi?” Tanya meida sambil menunjuk kearah lemari kayu yang berwarna putih yang cukup besar dan tinggi.
“Bibi kurang tahu Non. Tuan Melvin yang membeli dan menatanya sendiri. Bibi juga heran, setiap bibi tanya baju untuk siapa, Tuan suka jawab baju untuk istrinya nanti. Padahal Tuan tidak pernah membawa wanita kesini sekalipun, kecuali non Meida.” Terang Bi sri sambil menatap lembut meida.
“Tuan Melvin emang aneh bi hehe. Bi Sri sudah lama kerja disini?” Tanya lembut meida pada bi sri, wanita yang berkisar sekitar 40 tahunan. Bi sri merapikan jilbab instannya, lalu menghampiri meida.
“Sudah lama Non. Sekitar 2 tahun lalu, ketika rumah ini baru selesai di bangun oleh Tuan Melvin. Tuan Melvin menyuruh bibi merawat sekaligus menghuni rumah ini supaya tidak sepi. Maklumlah Tuan melvin pulang kesini sekitar 1 bulan sekali kadang-kadang sampai 2 bulan gak pulang, saking sibuknya kali. ” Jawab Bi Sri. Ia kembali merapikan kamar meida, sedangkan meida duduk di ranjang dengan menyandarkan kepalanya di headboard ranjang.
“Bi sri betah kerja disini?” Bi Sri tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
“Betah banget Non. Tuan Melvin baik sekali, ke 3 anak saya biaya sekolahnya di tanggung oleh Tuan Melvin. Padahal saya dan suami saya sudah mendapat gaji. Langka loh Non orang kayak Tuan Melvin, udah baik, ganteng, dermawan lagi. Kalau boleh bibi tahu, non siapanya Tuan Melvin yah?” Tanya Bi Sri sambil membersihkan nakas menggunakan kemoceng.
“Emm bisa di bilang saya teman sekaligus karyawannya Tuan Melvin bi. Dia memang baik, saya pun kagum padanya.” Jelas meida dengan wajah berbinar.
__ADS_1
“Bibi kira Non Calon Istrinya Tuan Melvin. Karena 3 minggu yang lalu, Tuan Melvin pernah cerita kepada Bapaknya anak-anak kalau dia sudah menemukan tambatan hatinya, tapi ia tak menyebutkan namanya siapa. Tapi Bibi yakin wanita yang dimaksud tuan Melvin adalah Non deh!” Ucap Bi sri sambil mengamati dalam wajah meida.
“Mana mungkin bi. Mana mungkin Tuan Melvin menyukai saya.” Kilah Meida. Padahal pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.
“Itu sih feeling bibi. Bibi dapat melihat pancaran cinta dari mata Tuan Melvin ketika menyebut nama Non Meida. Bibi merasa non memiliki tempat istimewa di hati Tuan Melvin.” Goda Bi Sri yang tersenyum melihat wajah meida yang semakin memerah, sampai menundukkan wajahnya.
“Bibi jangan gitu ahh…” Ucap meida yang cemberut. Bi Sri malah terkekeh melihat wajah malu meida.
“Bi kita masak yuk buat makan Malam! Saya bosen tiduran terus!” Ajak meida mengalihkan pembicaraan sambil menyingkab selimutnya.
“Emang Non sudah mendingan?” Tanya Bi Sri sambil mengusap dahi meida menggunakan punggung tangannya.
“Saya sudah mendingan bi. Lagian saya gak papa.” Meida berjalan keluar kamar dengan kaki yang sedikit masih pincang.
“Non Tunggu! Biar bibi gandeng Non!” Teriak Bi Sri mengejar meida dari belakang.
“Gak udah bi. Saya bisa jalan sendiri!”
-
Ini sudah pukul 10 malam. Katanya Tuan Melvin mau pulang, tapi sampai jam segini belum pulang juga. Mana di luar hujan lebat lagi. Yaa Allah, dimanapun Tuan Melvin berada semoga dia baik-baik saja. Meida berjalan dari ruang tamu menuju kamarnya, tiba-tiba ia terhenyak melihat seseorang yang sedang berdiri didepannya.
-
-
Sinyalnya jelek guys 🥺
Jangan lupa vote sama hadiahnya yah😘
Like, komen, ratenya di tunggu😁🤗
Di tunggu ☕ nya wkwkwk
__ADS_1
Hatur nuhun😘🤗🤗♥️♥️♥️♥️