
Nanta segera berlari menuju mobil. Samar-samar dia mendenhar bapak yang tadi mengucapkan terima kasih. Nanta merasa hari ini adalah hari terindah dalam hidupnya. Sesampainya dia di mobil bus, Nanta membagikan foto-foto itu sama-sama empat.
"Loh kok banyak banget?". tanya Eza
"Iya ini aku pilih empat foto dan masing-masing foto di cetak jadi lima". jelas Nanta.
"Ini buat aku, ini buat Kak Nency, Ini buat Ibu buat di taruh di rumah, ini buat Feby dan ini buat Sila". ucap Nanta sambil membagikan foto satu orang empat foto.
"Indah ya Bu.." ucap Aira pada Ibunya.
"Iya.." jawab Ibu Ida.
"Kok aku nggak kebagian?". tanya Eza
"Ini sama saja, emang kamu nggak aatu rumah sama Ibu". ucap Ibu Ida.
"Hehehe.. Iya Bu." jawab Eza.
Mereka segera duduk di kursi masing-masing dan melajukan mobilnya.
Piknik singkat namun sangat berarti dan ini akan jadi memori yang tidak akan pernah terlupakan untuk mereka. Bahagia itu memang sangat sederhana, Nanta tidak bisa mendeskripsikan bagaimana bahagianya dia saat ini begitu pun dengan yang lain.
Mungkin karena lelah, tidak lama perjalanan mereka semua tertidur kecuali sang sopir tentunya.
*****
__ADS_1
Hari senin adalah hari yang sangat sibuk karena awal untuk memulai kembali semua kegiatan setelah libur akhir pekan.
Ananta sudah rapi dengan setelan jasnya dan sudah di tunggu assisten pribadinya di bawah. Dengan langkah santai namun pasti, Nanta menuju ruang makan untuk sarapan.
"Selamat pagi Kak". sapa Nanta pada Nency.
"Pagi Nan, ayo kita sarapan sekarang. Ayo Dika kita sarapan bersama". ajak Nency yang di balas anggukan keduanya.
Sudah hal biasa bagi Dika untuk ikut bergabung bersama mereka. Dia tidak canggung lagi berada di antara mereka karena mereka sudah anggap Dika sebagai keluarganya sendiri bukan hanya partner kerja begitu juga sebaliknya.
Setelah selesai sarapan, Ananta dan Dika berdiri dan berlalu pergi menuju perusahaannya. Dengan Dika yang di depannya membukakan pintu mobil, setelah Nanta masuk dia menutup kembali pintu mobil dan berlari menuju balik kemudi.
Di kantor suasana hati Nanta sangat baik. Untuk pertama kalinya dia membalas sapaan dari karyawannya dan tersenyum. Hal itu membuat karyawannya ada yang ketakutan ada juga yang terpesona dengan ketampanan sang bos.
"Si bos kenapa?"
"Wahh mimpi apa tadi malam si bos"
"Kok aku malah takut ya, lihat dia senyum kayak tadi".
"Wahh ini harus di rayakan".
"Aku sudah bekerja tujuh tahun lebih dan baru kali ini aku lihat Pak Direktur senyum dan membalas sapaan kita".
Dan masih banyak lagi bisikan bisikan para karyawannya melihat bosnya yang tidak seperti biasa. Memang Keysha membawa banyak perubahan padanya.
__ADS_1
Sesampainya di lantai paling atas tempat ruangannya berada, disana terdapat Shinta sekretarisnya.
"Selamat Pagi Shin". sapa Ananta duluan sebelum Shinta membuatnya kaget.
"Hah? Eh iya Pak. Pagi". balas Shinta gelagapan.
Nanta masuk ke ruangannya masih di ikuti Dika.
"Kamu kenapa?" tanya Dika yang memang tidak tau apa-apa prihal kemarin.
"Kenapa apanya?" tanya Nanta balik.
"Ckck tidak biasanya lo senyam senyum seperti sekarang". ucap Dika.
Ucapan Dika membuat Nanta senyum melamun membayangkan yang kemarin membuat Dika makin merasa heran.
"Lo sudah gila ya?" tanya Dika
Ananta yang mendengar pertanyaan Dika menatapnya tajam.
"Emang nggak boleh gua senyum". ucap Nanta sinis
"Ya nggak, cuma aneh aja". jelas Dika santai.
"Kenapa lo masih disini, udah sana kerja lo". usir Nanta.
__ADS_1
"Ckck.." kesal Dika dan langsung keluar.
*****