Kita Berbeda

Kita Berbeda
Apa Gunanya Sekarang?


__ADS_3

“Mih, papih merasa bersalah setelah mengetahui kehidupan Jaslin selama ini. Hati papih sakit mendengar penderitaan yang dialami anak kita. Sangat besar dosa papih pada Jaslin. Papih takut dia tak memaafkan sikap papih selama ini. Papih tidak ingin meninggal dalam keadaan seperti Daddy, meninggal dalam rasa bersalah dan penyesalan.” Zaina mengusap bahu Gilbert yang sedang menundukkan wajahnya. Gilbert menangis setelah membaca berkas yang diberikan jack padanya, rasa bersalah itu kini kembali menghatuinya, karena merasa gagal menjadi seorang ayah. Gilbert memandang potret-potret meida dari kecil sampai besar dengan air mata berlinang, hati kecilnya menjerit, karena tak menyaksikan tumbuh kembang putrinya sama sekali. Terlalu banyak waktu yang telah terbuang  olehnya dengan kesia-siaan. Penyesalan kembali menggerogoti hatinya, ketika mengingat setiap pertemuan dengan meida yang selalu berakhir dengan menyakiti hati putrinya.


“Jaslin maafkan Daddy! Maaf, Daddy tak pernah memberikan kesan baik di setiap pertemuan kita. Hanya keburukan dan keburukan yang Daddy berikan pada mu. Maaf Daddy selalu berpikiran negatif pada mu Nak. Menghina mu, merendahkan mu pada sesuatu yang tidak pernah kamu perbuat. Maafkan Daddy yang selalu menambah luka hatimu. Maafkan Daddy yang sombong dan angkuh ini. Maafkan Daddy Nak ...” Lirih Gilbert dengan mengusap air matanya. Zaina dengan setia mengusap pundak suaminya dengan lembut, hanya dengan ini cara dia menenangkan hati suaminya yang mulai diliputi rasa penyesalan. Sudah beberapa hari ini Gilbert tidak masuk ke kantor, ia hanya berdiam diri di kamar sambil menatap foto meida yang ia pajang menggunakan pigura. Rasa penyesalannya kini semakin bertambah, ketika semua anaknya pergi meninggalkan dirinya, meninggalkan hunian mewah yang kini terasa tak bernyawa. Zaina mengambil potret meida yang dipeluk suaminya, ia kembali memasang foto itu di dinding kamar mereka. Ia kembali duduk di samping suaminya sambil menyandarkan kepalanya.


“Dari awal, kita yang salah Dad! Kita terlalu ambisius tanpa memikirkan perasaan mereka. Sekarang kita harus memperbaiki diri, harus ekstra sabar untuk mengambil hati mereka. Mungkin ini teguran dari Tuhan untuk kita! Walaupun ini sakit, kita harus menerima jika mereka membenci kita. Andress anak yang paling mengerti kita pun memilih pergi meninggalkan kita. Lambat laun Tuhan pasti membukakan pintu hati mereka untuk memaafkan kita ... “ Gilbert menganggukkan kepalanya. Ia memegang tangan istrinya untuk saling menguatkan, karena sekarang mereka sama-sama dalam keadaan rapuh.


“Mom, seharusnya kita berpikir waras dari dulu. Harta melimpah ruah yang kita kejar, rumah megah yang kita bangun bertingkat-tingkat, kendaraan mewah yang berjejer rapi, pelayan-pelayan yang patuh. Apa gunanya sekarang? Anak kita pergi! Harta itu tak menolong kita sama sekali,  yang ada malah menyengsarakan kita, menutup hati kita untuk tak memperdulikan mereka. Apa gunanya mobil mewah sekarang? Tak ada gunanya mom. Karena anak kita tak memakainya satu pun. Rumah yang kita bangun bertingkat-tingkat megah ini apa gunanya sekarang? Tidak ada mom! Kini rumah ini sepi, rumah ini tak bernyawa. Mereka nyawa-nyawa rumah ini telah pergi. Disaat seperti ini, apa gunanya harta ini? Kita telah menukar mereka dengan harta yang tak berguna ini. Ya Tuhan, sekarang Daddy sadar, kehidupan Johan lebih baik dari Daddy. Daddy mengaku kalah mom ...” Zaina menangis tergugu mendengar ucapan suaminya. Kini ia sadar, nasi sudah menjadi bubur. Yah semua ini salah mereka, akibat terlalu mendewakan harta.


“Mom, rasanya Daddy ingin bersimpuh di kaki Jaslin. Meminta maaf atas semua kesalahan Daddy padanya. Kini Daddy sadar, Jaslin lebih berharga dari segalanya. Anak-anak kita lebih berharga dari semua ini. Daddy sudah tak memperdulikan semua harta ini, yang Daddy inginkan sekarang hanyalah pengampunan dari mereka. Daddy tak menginginkan kekayaan ini lagi, yang Daddy inginkan hanya berkumpul dengan mereka di hari tua Daddy. Menyaksikan mereka menikah, berkumpul dengan menantu,  bermain dengan cucu . Jika seperti ini, Daddy takut tak bisa menyaksikan itu semua ...” Pekik pelan Gilbert yang diangguki kepala oleh istrinya. Zaina memeluk Gilbert, ia merasakan apa yang suaminya rasakan. Hidup jauh dari anak ternyata sangat menyedihkan. Ia berharap semoga Tuhan memberinya kesempatan, untuk bisa berkumpul dengan anaknya. Untuk menebus waktu yang telah banyak terbuang .


“Sekarang kita harus banyak-banyak berdo'a Dad. Dimanapun mereka berada, semoga Tuhan selalu menjaga mereka. Semoga Tuhan meluluhkan hati mereka, untuk memaafkan kesalahan kita. Dan kembali berkumpul di rumah ini ... ” Do'a zaina sambil memejamkan matanya. Tak urung Gilbert mengikutinya istrinya berdoa dengan mengepalkan tangan di depan wajahnya.


-


Subuh ini di apartemen meida cukup ramai. Meida sedang masak besar untuk syukuran Jonathan dan Melvin, bentuk rasa syukur pada Allah karena telah memberi hidayah pada orang yang dicintainya. Melvin sengaja mendatangkan Asisten rumah tangga atas rekomendasi mamihnya untuk membantu meida memasak tanpa sepengetahuan papihnya. Niat mereka setelah pulang shalat Jum’at nanti, mereka akan berbagi rezeki dengan jama'ah sekaligus masyarakat yang berada di sekitar Masjid Agung.


Di ruang santai, Jonathan dan Melvin sedang membaca buku kajian Islam yang sengaja meida belikan untuk Jonathan. Mereka mulai mempelajari buku-buku tersebut didampingi Bi Ina, pertanyaan demi pertanyaan yang Jonathan lontarkan di jawab oleh Bi Ina sesuai pengetahuan yang dimilikinya.


Jam 10 pagi, makanan sudah siap dan terbungkus rapi. Beribu-ribu box makanan memenuhi ruang tamu Apartemen meida. Melvin dan Jonathan sudah siap dengan kemeja putih yang mereka kenakan, di tambah peci hitam yang bertengger rapi di kepala mereka. Kharisma ketampan keluar dari wajah mereka, yang tampak tenang dengan aura menyejukkan. Meida dan Bi Ina memakai gamis berwarna putih senada dengan pakaian yang dikenakan Melvin dan Jonathan. Meida tertegun melihat wajah melvin yang baru pertama kali memakai peci, aura ketampanan terpancar  berkali-kali lipat. Ia kembali menundukkan wajahnya ketika melvin melihatnya sambil tersenyum. Kebahagian tampak terpancar di semua wajah orang yang berada di ruang itu.


“Kita berangkat sekarang?” Tanya Bi Ina dengan merapihkan hijab syar’inya. Ia menatap kearah melvin dan Jonathan untuk meminta jawaban. Melvin mengambil ponselnya yang bergetar dari kantong kemejanya, ia tersenyum menatap ke layar ponsel lalu menatap Bi Ina dan Meida bergantian.


“Mari bu. Seseorang sudah menunggu kita di Lobby.” Ujar melvin sambil menyimpan ponselnya kembali. Ia mempersilakan meida dan bi ina jalan terlebih dahulu, ia dan Jonathan berjalan di belakangnya. Tak lupa ia mengintruksikan mbak-mbak asisten rumah tangganya untuk menjaga apartemen meida, karena nanti akan ada beberapa orang yang akan mengambil box makanan disini.


“Siapa yang menunggu kita ko?” Bisik penasaran jonathan yang sedang berjalan disisinya. Melvin tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Ada deh!” Jonathan mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Melvin yang tak memberitahunya. Melvin malah tersenyum dengan mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan keluar dari lift menuju lobby. Beberapa orang memandang aneh kearah mereka karena mengenaikan pakaian yang berwarna sama seperti yang akan pergi Berhaji ke Mekkahh. Di ujung sana terlihat Helena dan Melisa yang sedang berdiri, mereka tersenyum memandang kearah melvin yang sedang berjalan kearahnya.


“Koko tampan yah Mih pake itu!” Helena menganggukkan kepalanya dengan wajah sumringah. Ia menggandeng tangan anaknya.


“Koko mu memang tampan dari dulu! Keturunan mamih gak ada yang gatot! Mamih gak nyangka koko mu mencintai meida. Jika koko mu menikah dengan meida, berarti kita besanan dengan keluarga Atmadja dong? Dunia ini memang sempit yah, kamu yang menyukai putra sulung keluarga Atmadja, ehh koko mu yang malah dapet adiknya.” Kekeh Helena sambil mencubit pipi anaknya yang sudah memerah. Mereka memakai pakaian yang tertutup berwarna senada, dengan selendang biru yang menutupi rambut mereka.


“Jangan bahas itu Mih, aku malu! Sepertinya mereka tak mengenali kita?” Helena menolehkan wajahnya kearah anaknya, lalu menoyor kepalanya pelan sambil tertawa.


“Kamu oon Melisa! Wong kita pake masker, gimana mereka ngenalin kita! Dasarrr ....” Melisa mencebikkan bibirnya menatap kearah mamihnya dengan malas. Ia merapikan rambutnya lalu ia tutup dengan selendang yang tersampir di bahunya.


“Mereka kesini!” Bisik Helena melihat kearah Melvin yang sedang menuntun Bi Ina berjalan kearahnya.


“Mbak Melisa ... Tante ....” Senyum sumringah terlihat di wajah meida, ketika ia bertemu dengan orang baik yang pernah menolongnya. Meida langsung mencium tangan helena dan memeluknya. Setelah itu, ia langsung memeluk melisa dengan erat, bak saudara kembar yang sudah lama terpisah. Melvin bahagia melihat itu, mamih dan adiknya sangat terbuka menerima meida. PR nya sekarang hanyalah restu dari papihnya.


“Bu, perkenalan ini Mamih Melvin. Mih, ini Bu Ina bibinya Meida.” Bi Ina tersenyum kearah helena begitupun Helena. Setelah bercepaka-cepiki, ia pun langsung memeluk bi ina erat.


“Terima kasih telah menjaga anak sulung saya Bu.” Bi Ina tersenyum mendengar ucapan Helena. Ia melerai pelukan Helena lalu memegang tangannya.


“Jonathan, kamu sehat Nak?” Tanya Helena kearah Jonathan yang berada di samping melvin. Jonathan menganggukkan kepalanya lalu mencium tangan helena.


“Alhamdulillah saya sehat Tante.” Bi Ina tersenyum kearah Jonathan sambil mengusap kepalanya. Ia salut pada jonathan yang sudah mengingat satu persatu kata yang diajarkannya tadi. Sementara Melisa dan Meida sedang bercengkrama sesekali mereka tersenyum dan tertawa.


“Kita berangkat sekarang yah, ini sudah pukul 11!” Tunjuk melvin kearah jam tangannya. Mereka semua memadang melvin lalu menganggukkan kepalanya.


“Melvin! Meida sama Mamih yah! Melisa di mobil kamu. Bu, saya pinjam meida nya gak papa Kan?” Bi ina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Silahkan Bu. Saya gak keberatan. Saya duluan yah!” Pamit Bi Ina yang tangannya sudah di gandeng oleh Melisa. Sementara jonathan sudah pergi lebih dulu mengambil mobil melvin di basement. Sementara melvin masih berdiri di samping mamihnya dengan cengengesan.

__ADS_1


“Mih, tolong jagain pujaan hati melvin yah! Awas jangan sampe lecet!” Bisik Melvin ke telinga helena, matanya tak beralih dari wajah meida yang sedang menundukkan kepalanya. Helena langsung mencubit pelan perut anaknya dengan mencebikkan bibirnya agar anaknya segera pergi dari hadapannya.


“Mih aku berangkat duluan!” Pamit Melvin setelah mendengar bunyi lakson mobilnya yang berbunyi beberapa kali. Ia melirik kearah meida yang sedang membuang muka darinya.


“Bae-bae yah sama calon mertua!” Ledek Melvin sambil membalikkan tubuhnya. Tak urung wajah meida kembali memerah, helena yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bucin anaknya.


“Ayoo sayang, kita berangkat!” Helena menggandeng tangan meida untuk masuk ke dalam mobil yang sudah standby di samping Lobby.


Meida duduk bersisian dengan Helena, wanita paruh baya yang memiliki aura kecantikan yang cetar membahana di usianya yang sudah melebihi kepala lima. Helena tersenyum kearah meida sambil memegang sebelah tangannya.


“Terima kasih telah membuat jatuh cinta anak Tante! Terima kasih telah menerima cintanya. Tante harap kamu pun  mencintainya.” Meida menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Wajahnya kembali memerah mendengar ucapan mamihnya melvin. Helena membuka sedikit kaca mobil, supaya angin segar masuk ke dalamnya, ia lebih menyukai AC alam daripada AC mobilnya. Ia terkekeh melihat sikap meida yang nampak masih malu-malu.


“Hey, jangan malu kayak gitu! Sebentar lagi kamu akan menjadi anak Tante! Menjadi bagian dari keluarga Nagara! Menjadi istri melvin sekaligus menantu tante! Tante harap kalau ada sesuatu bilang yah sama tante, jangan sungkan. Apalagi mengenai melvin.” Meida membenarkan posisi duduknya lalu melihat kearah helena. Helena berusaha mencairkan suasana, menghilangkan kegugupan yang meida rasa. Ia tahu apa yang meida rasakan sekarang, ia pun pernah merasakan di posisi tersebut ketika bertemu dengan mertuanya dulu.


“Baik Tante!” Helena menatap kearah driver yang sedang memperhatikan mereka. Driver itu langsung menundukkan kepalanya, ketika helena menatap tajam kearah nya. Karena ia tahu, driver itu merupakan salah satu driver andalan suaminya.


“Bolehkah Tante bicara sesuatu sama kamu?” Meida tersenyum kaku kearah helena lalu menganggukkan kepalanya. Ia bingung apa yang dirasanya sekarang, padahal waktu pertama kali bertemu helena ia biasa aja tak seperti ini, tapi pertemuan kali ini malah membuatnya panas dingin, gugup dan kaku.


“Meida, Tante mohon jangan pernah mengecewakan melvin. Dia benar-benar mencintai kamu. Tante tak ingin melihat Putra tante terluka. Tante yakin kamu bisa menjaga hatinya. Karena kamu pilihannya! Kamu kebahagiaannya! ...


-


-


Bersimbing dulu yah, di lanjut besok😁


Jika suka dengan Novel ini, jangan lupa like, komen, vote, rate sama hadiahnya 🤗♥️♥️♥️

__ADS_1


Otor badmood nih butuh ☕ wkwkw


Hatur nuhun buat kalian yang masih stay di Novel amatiran ini😘😘😘


__ADS_2