
Meida dan melisa sudah sampai di panti asuhan, suasana panti itu sedang ramai seperti ada kunjungan besar. Depan panti terlihat beberapa orang yang sedang membagikan nasi kotak dan bingkisan kepada anak-anak. Melisa berjalan lebih dulu, karena ia ingin menemui pemilik panti terlebih dahulu. Sedangkan meida berjalan dibelakang sambil membawa beberapa paper bag ditangannya.
“Meida ...” Panggil seorang lelaki yang mengagetkan meida. Meida menolehkan wajahnya kesamping untuk melihat wajah lelaki yang memanggilnya.
“Pak zyan.” Lelaki berkacamata itu mengangguk kan kepala kearah meida sambil tersenyum lebar.
“Senang bertemu dengan mu meida. Gimana kabar mu sekarang?” Tanya zyan sambil berdiri disamping meida.
“Alhamduliliah kabar saya baik pak. Gimana kabar bapak?” Jawab meida sambil berjalan bersisian dengan zyan.
“Saya sehat meida. Saya sudah beberapa kali mengunjungi mu ke kafe, tapi saya tak pernah melihat mu. Tapi, setelah ditanya pada anak-anak katanya kamu sudah keluar. Kenapa kamu keluar kerja meida?” Tanya zyan sambil memperbaiki letak kacamatanya.
“Saya keluar karena ada sedikit trouble pak. Pak dani memecat saya karena ada kesalahpahaman dan miss komunikasi." Jawab meida dengan berusaha tersenyum. Padahal hatinya sakit ketika mengingat kejadian itu.
“ohh seperti itu. Sekarang kamu kerja dimana?”
“Saya kerja di Perusahaan Nagara.”
“Woww perusahaan besar itu? keren keren keren, congratsss meida." Sorak zyan sambil menepuk kedua tangannya.
“Iya pak, Alhamdulillah. Kalau boleh tahu, sedang apa bapak disini?” Zyan merapikan jasnya lalu melirik kearah meida.
“Saya sedang mengantar louis untuk bertemu anak panti. Biasa, kegiatan rutinan kita disaat jam kosong, pasti berkeliling ke setiap panti asuhan.” Jelas zyan tersenyum kearah meida.
“Pak louis johan sering berkunjung kesini pak?” Tanya ulang meida sambil menatap takjub kearah lelaki disampingnya.
Ternyata pak louis mempunyai jiwa sosial yang tinggi, sama seperti jonathan. Gumam pelan meida dengan perasaan kagum.
“Dia setiap ada jadwal kosong, pasti menyempatkan diri datang ke panti, untuk mencari keponakannya yang hilang.” Jawab Zyan sambil melirik meida dan langsung mengarahkan pandangannya ke depan.
“Hilang?? Sudah lama pak?” Tanya meida yang diliputi rasa penasaran.
“Lumayan sudah lama. Mungkin sekitar 20 tahunan kalau gak salah,” ucap zyan setelah menghitung jemarinya.
Apa pak louis mencari jaslin? Nama yang sering kudengar disetiap cerita jonathan? Batin meida
“Lama juga yah pak. Berarti jika ditemukan anak itu sudah besar?” Tanya meida lagi, sambil berjalan dilorong menuju ruangan pemilik panti.
“Pastilah meida. Mungkin kalau masih hidup anak itu sudah menikah.” Kekeh zyan sambil menggaruk dagunya.
-
Di dalam ruangan melisa menunggu kedatangan meida yang belum sampai-sampai. Melisa berniat mencari meida, takut meida tersesat di panti itu, karena ini pengalaman pertama meida datang ke panti ini.
“Dek kamu kemana aja? Ayoo masuk! Mbak tungguin kamu dari tadi, mbak takutnya kamu tersesat,” ucap melisa ketika berpapasan dengan meida dipintu ruangan. Meida hanya tersenyum sambil menunjukkan zyan kepada melisa dengan ekor matanya.
“Enggak mbak. Aku ngobrol sebentar dengan atasan ku dulu waktu masih kerja di cafe.” Melisa sontak melihat kearah lelaki paruh baya, yang berdiri disamping meida.
“Ini pak zyan mbak.” Meida memperkenalkan zyan kepada melisa. Melisa langsung mengulurkan tangan kearah zyan dengan senyum ramah.
“Melisa.” Zyan tersenyum sambil membalas uluran tangan melisa.
“Zyan”
“Mari kita masuk kedalam. Gak enak ngobrol diluar.” Kata ibu pengurus panti mengajak mereka masuk keruangannya.
__ADS_1
“Mari pak.” Meida mempersilahkan zyan masuk duluan. Ia berjalan dibelakang zyan dan ibu panti itu.
Acara di Panti Asuhan itu sangat meriah. Meida dan melisa membaur menjadi satu dengan anak panti disana, wajah mereka terlihat bahagia ketika melihat wajah tulus dan polos anak panti itu ketika tertawa, begitupun zyan dan louis. Louis sengaja datang hari ini untuk berbagi kebahagiaan dengan anak panti, karena ia telah resmi membuka restoran barunya diarea kota malang. Di kotanya sendiri.
Meida menepi dari acara itu, ia ingin melihat-lihat setiap bangunan panti ini. Ketika sedang berjalan di sebuah lorong, meida melihat louis yang sedang bersusah payah menjalankan kursi rodanya. Meida langsung berlari kearah louis, dan membatu mendorong kursi rodanya.
Louis mengajak meida berkeliling di panti itu, mereka mengintari setiap sudut panti yang telah direnovasinya dengan begitu besar dan kokohnya. Mereka berhenti disebuah gazebo yang berada dibelakang panti memperlihatkan pemandangan alam terbuka didepannya.
“Meida, saya mencari kamu ketika berkunjung ke cafe itu satu bulan lalu. Saya menunggu mu, tapi tak menemukan mu sama sekali. Saya kembali pulang kerumah, ketika saya tahu dari teman-teman mu katanya kamu sudah resign kerja. Karena kamu sudah keluar kerja, saya jadi malas lagi berkunjung ke kafe itu,” ucap johan membuka pembicaraan sambil melihat kearah meida yang sedang duduk disampingnya.
“Saya dipecat Tuan, karena ada sedikit kesalahpahaman.” Jawab meida sambil memainkan daun ditangannya. Johan dibuat kaget dengan ucapan meida.
“Dipecat?? Siapa yang berani memecat kamu?” Tanya luois menatap dalam wajah meida. Meida langsung kikuk dipandang seperti itu oleh johan.
“Sudahlah tuan. Yang berlalu biarlah berlalu,” ucap meida tersenyum santai kearah johan, menutupi kegugupannya. Ia takut ucapannya tadi berimbas pada nasib orang lain yang bekerja di kafe johan.
“Tapi meida, saya ingin bersikap tegas terhadap orang yang berani memecat kamu. Apalagi tanpa sepengetahuan dan persetujuan saya! Biar kedepannya tidak ada orang yang berani bersikap semena-mena pada karyawan saya!” Ucap tegas johan dengan mata melotot.
“Saya yang salah Tuan, wajar kalau dia memecat saya. Saya mohon tuan jangan memperpanjang masalah ini!" Sahut meida sambil menundukkan kepalanya. Ia takut melihat wajah marah johan.
“Jangan sebut saya Tuan lagi! Karena saya bukan atasan kamu sekarang. Panggillah saya dengan sebutan om atau paman biar kamu mudah mengingatnya.” Meida membelakakan matanya, melirik sebentar kearah johan yang sedang melihatnya.
“Baiklah saya panggil paman saja.” Meida memutuskan menyebut johan dengan sebutan paman, setelah johan tak mengalihkan pandangannya dari wajah meida.
“Nah, bagus seperti itu. Meida kita duduk di sana! Sambil menikmati angin sepoi-sepoi.” Tunjuk louis kearah kursi yang terbuat dari anyaman rotan yang berada dibawah pohon.
“Baik paman, saya antar paman kesana.” Meida mendorong kursi roda louis menuju pohon itu.
“Paman, apa paman kenal jonathan?” Tanya meida sambil mendorong kursi roda johan sampai mereka tiba dibawah kursi rotan yang berada dibawah pohon.
“Saya mengenalnya Tuan. Sekarang dia tetangga saya tinggal di apartemen. Saya sangat menyayangi nya, dia lelaki baik dan penyayang. Saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri,” ucap meida dengan pandangan menerawang keatas, dengan senyum tulus menghiasi bibirnya.
“Di apartemen? Kenapa dia tak tinggal dirumah bersama orang tuanya?” Tanya jonathan membalikan kursi rodanya menatap meida dari arah samping.
“Entahlah... sudah sebulan lebih anak itu tak pulang kerumahnya. Saya tak tahu alasannya, tapi saya merasa jonathan seperti anak yang sedang memendam masalah,” ucap meida dengan suara getir.
“Ya Tuhan, kasian sekali anak itu. Anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya seperti jaslin. Paman lebih tenang dia tinggal dirumah paman, daripada di apartemen. Tahu gini, kemarin paman akan mengajaknya pulang ke rumah,” ujar johan dengan wajah sendu.
“Jaslin keponakan paman yang hilang 20 tahun lalu kan?” Tanya meida memandang wajah johan dengan seksama. Johan kaget mendengar pertanyaan meida.
“Kamu tahu darimana tentang jaslin?” Tanya bingung johan menatap meida tak berkedip.
“Jonathan yang sering cerita ke saya.” Jawab meida sambil tersenyum, lalu pandangan kembali melihat kedepannya. Tiba-tiba wajah johan menjadi keruh sambil menundukkan kepalanya.
“Jaslin pergi karena saya! Saya yang telah membuangnya! Apa Tuhan akan memaafkan kesalahan saya karena telah membuang jaslin?” Tanya getir johan dengan suara parau. Ia tak berani melihat wajah meida, ia malu dengan kelakuan yang telah diperbuatnya.
“Tuhan maha pemaaf paman. Tuhan maha penerima taubat. Asal paman menyesali dosa paman di masa lalu, dan berusaha memperbaiki diri lebih baik lagi untuk kedepannya.” Meida menjawab pertanyaan johan dengan bijak.
“Dulu saya dibutakan rasa dendam dan kasihan. Sehingga saya dengan beraninya membuang bayi yang tak bersalah itu. Padahal saya sangat menyayangi anak itu, tapi perasaan benci saya kepada orang tuanya membuat saya tak berpikir panjang."
“Yang terpenting sekarang, paman sudah menyesali perbuatan paman. Pengampunan Tuhan itu luas paman, asal kita benar-benar tulus meminta pengampunannya.”
“Saya melakukan itu karena saya sangat kecewa pada mereka meida. Pada keluarga saya sendiri, yang telah membuang saya dan ibu saya seperti kotoran.” Johan menundukkan wajahnya, air mata kembali mengalir dipipinya.
“Nasib kita sama paman. Saya pun dibuang oleh orang tua saya, miris sekali nasib kita hehe.” Kekeh getir meida sambil mengusap ujung matanya.
__ADS_1
“Serius meida??” Tanya johan sambil mengangkat kepalanya. Matanya memerah habis menangis.
“Faktanya seperti itu paman. Di buang itu ternyata menyakitkan, merasa hidup kita ini sangat menjijikkan bagai kotoran. Mereka bisa membuang kita kapan aja sesuka hati mereka.” Gurau meida dengan hati yang penuh luka.
“Ya begitulah meida. Ada tapi dianggap tiada, itu yang lebih menyakitkan. Hidup terlunta-lunta, seperti gembel jalanan. Kamu pasti tahu keluarga Atmaja?”
“Tahu paman. Jonathan dan paman berasal dari keluarga itu kan? Pemilik rumah sakit besar yang cabangnya ada di seluruh Indonesia?"
“Yahh begitulah meida. Nama terhormat, perusahaan besar, tapi tak ada kedamaian sedikit pun. Keluarga penuh dengan tipu daya dan serakah, yang sampai kapanpun tak akan menemukan ketentraman jiwa. Keluarga yang penuh dengan kesombongan, dan banyak menyakiti hati orang lain, sampai kapanpun tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka lebih mengutamakan kasta dan harta daripada hati nurani. Ibu ku sendiri adalah korban dari kedzaliman mereka.” Tangis johan kembali pecah ketika mengingat sosok ibunya yang berjuang hidup untuk nya.
“Kau tahu? Ibu saya menantu pertama keluarga itu. Karena perbedaan kasta, mereka tak menerima kehadiran ibu dikeluarga mereka. Mereka malah membuang ibu dan saya, menelantarkan kami berdua ditempat asing, yang dimana kita harus berjuang keras untuk bertahan hidup disana. Tanpa sedikitpun dapat uluran tangan mereka."
-
[Kau mau memiliih istri mu itu dengan konsekuensi kamu bukan anak papih dan mamih lagi, atau menikahi grace dan kamu masih boleh berhubungan dengan istri miskin mu itu?]
[Tapi pih, jangan libatkan mark dalam pilihan sulit ini! Mark sangat mencintai lily tak mungkin mark membagi cintanya.] Jawab lelaki muda itu dengan bercucuran air mata.
[Cinta cinta cinta! Itu yang selalu kau agungkan didepan papih. Papih muak mendengarnya! Apa istimewanya wanita miskin itu hingga membuat kau gelap mata hah! Apa bagusnya dia? Wanita gembel itu kau kejar-kejar seperti tak punya harga diri saja! Masih banyak wanita yang lebih baik dari dia diluaran sana!]
Teriak marah lelaki tua itu sambil melempar vas bunga kearah samping anaknya.
[Dia cinta pertama mark pih, dia wanita yang memiliki hati yang tulus. Mark merasa dipenuhi banyak cinta ketika bersama dia. Mark mohon restuilah pernikahan kami pih, kami saling mencintai.]
Dengan menghiba lelaki muda itu memeluk kaki sang papih. Ia memohon restu dari papihnya untuk merestui pernikahan yang sudah digelarnya secara tertutup. Dan ia ingin, orang tuanya mengakui istrinya sebagai menantu dikeluarganya.
[Papih akan merestui pernikahan kalian, jika kamu menikahi grace anak teman papih yang sudah lama mencintaimu!]
[Yaa Tuhan! Tak ada pilihan lain pih? Kenapa harus dengan menikahi grace? Jika papih butuh pewaris, lily juga pasti memenuhinya pih.]
[Papih tak sudi memiliki keturunan dari wanita miskin itu! Dia sengaja mendekati mu karena mengincar harta kekayaan kita. Kamu harusnya sadar dia itu dari rakyat jelata, menikahi kamu karena dia punya tujuan terselubung untuk menguasai harta kita! Pilihan ada ditangan mu! Papih kasih kamu waktu seminggu untuk memikirkan nya!]
Lelaki itu melepas jeratan tangan anaknya di kakinya. Lalu ia mendorong anaknya agar menjauh darinya, dan ia meninggalkan anaknya sendiri dengan posisi tersungkur.
[Pih! Mark sangat mencintai lily! Mark mohon restuilah pernikahan kami! Tak banyak hal yang mark pinta kecuali itu!”] Teriak keras lelaki muda yang tersungkur di lantai itu, dengan air mata bercucuran dan suara tangis yang memenuhi ruangan itu.
-
“Kupikir dulu orang itu teguh memperjuangkan cintanya! Tapi nyatanya aku salah meida ... lelaki itu kalah oleh keluarganya! Dia rela menelantarkan istri dan anaknya demi istri muda dan keluarganya. Rasanya sakit sekali meida ... Sakit sekali. Aku pikir dia akan menjadi pelindung kami, tapi nyatanya dia sendiri yang perlahan-lahan membunuh kami.”
-
Untuk 2/3 part kedepan alurnya mundur majunya, menceritakan masa lalu johan dan waktu penculikan jaslin😁
Telat up, seperti biasa karena mati lampu, gak ada jaringan😥
Musim hujan guys.
Untuk disini masih banyak pohon besar sama perbukitan yang masih hijau. Alhamdulillah, tak terjadi longsor dan banjir seperti di garut.
Semoga semua saudara kita dimanapun mereka berada, mudah-mudahan selalu ada dalam lindungan Allah dan terbebas dari segala marabahaya. Aamiin..
Happy Monday ♥️
Jangan lupa, like, vote sama hadiahnya mumpung hari senin wkwkwk🤭🤗
__ADS_1
Hatur nuhun baraya sadaya 🤗